Rich Man And Poor Woman

Rich Man And Poor Woman
31



Khansa:


"Makasih Fa udah nganterin"


"Yo sama sama"


Saat aku melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam rumah, Rafa memegang tanganku.


"Kenapa?"


Ia menunjukkan ekspresi sedih.


"Hm? Kenapa Faa?"


".."


"Lah malah diem"


"..Gue suka sama Lo Sa"


"Hm? Maksud nya?"


"Masa ga ngerti? Gue suka sama Lo"


"Sebagai sahabat?"


"Lebih dari sahabat"


"Lo.. Kenapa dah? Ultah gue masih lama, ga usah ngeprank"


"Menurut Lo gue lagi ngeprank?"


"..Jadi.. Lo serius?"


Dia menjawab dengan anggukan.


"Terus ini maksud Lo apa?"


"Ayo jadian sama gue?"


"Ha? Maksud Lo apa sih Fa? Lo lagi kenapa sih? Sakit? Aneh ah"


"Menurut Lo gue main main? Gue serius"


"Tapi Lo kan tau gue pacar nya Arga, tapi kenapa Lo.."


"Kenapa Lo ga tinggalin aja sih si Arga? Terus jadian sama gue"


"Lo apa apaan sih Fa?!"


"Gue udah suka sama Lo sejak lama, tapi gue baru berani ungkapin sekarang karena tau sikap Arga ke lo. Sebelum nya gue coba buat move on juga ko, tapi ga bisa"


"Maaf Fa, tapi gue udah ga ada perasaan apa apa sama Lo, gue udah anggep Lo sebagai kakak gue sendiri"


"Kenapa ga jalanin dulu aja? Siapa tau bisa tumbuh lagi rasanya"


"Kita kan udah sama sama sejak dulu Fa"


"Kasih gue kesempatan please?"


"Maaf Fa, ga bisa. Selain gue udah ga ada rasa apa apa lagi sama lo, gue juga masih terikat sama Arga. Gue minta tolong Lo buat ngerti"


"..Kenapa kita ga pacaran diem diem aja?"


"Gila Lo, ga akan. Udah ya, jangan bahas ini lagi, gue masuk dulu, Lo hati hati"


Aku berbalik dan masuk ke dalam rumah.


Apasih maksud nya? Bisa bisa nya dia ngomong gitu padahal dia tau kalau aku pacar sahabat nya. Kesambet apa sih?


Rafa:


Gila gila gila!!


Kenapa gue tiba tiba ngungkapin sih! Kalau besok jadi canggung gimana?!! Mana kesan nya kaya maksa gitu.. Mati gue...


Mungkin karena liat perlakuan Arga ke Khansa, gue ga tahan, gue ga suka, gue ga mau liat Khansa menderita gara gara nungguin si Arga kampret itu.


Gue tanpa pikir panjang langsung ngungkapin perasaan gue yang seharusnya ga pernah gue ungkapin ke dia. Haduh.. Semoga besok ga jadi canggung.


Pagi


Seperti biasa gue dateng pagi pagi ke rumah Khansa buat jemput dia.


Gue masuk sebentar untuk berpamitan pada orang tua Khansa, setelah itu kami berangkat.


"Sa, naik motor ga papa? Mobil gue lagi di bengkel"


"..Ga papa"


"Pelan pelan naik nya, awas"


Perlahan dia menaiki motor gue. Kami pun berangkat.


"Sa!!"


"Hm?"


"Gue minta maaf ya!! Yang semalem!!"


"Iya ga papa"


"Lo ga marah kan?"


"Engga la Fa, ngapain marah?"


"Hehe, sorry ya"


"Iya ih"


Baguslah, dia ga marah


Setelah itu, kami kembali seperti biasa, seperti tidak terjadi apapun. Gue, Farhan, dan Khansa menjadi semakin dekat. Hingga tak terasa, 4 tahun berlalu. Arga masih belum bisa di hubungi.


Khansa juga sudah lulus sekolah, dia tidak melanjutkan kuliah, tapi bekerja. Hari ini kami bertiga janjian buat makan siang bareng di tempat biasa, Luxury cafe.


"Kenapa Lo Sa? Muka Lo ko kusut? Kaya cucian di kamar gue"


"Maksudnya?"


"Gue di pecat, di ganti sama anak bos gue. Kata nya kerja nya lebih bagus dia lah, apa lah, kesel gue"


"Loh kok gitu, jangan jangan nih"


"Ga tau ah, ntar nyari kerja lagi aja"


"Lo pikir gampang Sa nyari kerja? Gue sama si Farhan aja kaga dapet dapet"


"Susah sih, tapi ya usaha aja lah dulu"


"Eh hari ini gue yang traktir yak"


"Oh harus itu"


"Cie, makin tua"


Hari ini si Farhan ulang tahun, makanya kita ngumpul buat makan. Setelah acara makan makan selesai, kami berencana pergi ke mall dan berbelanja. Yah, sekalian ngehibur si Khansa lah. Kami selesai membayar dan keluar menuju parkiran.


25 menit kemudian kami sampai di tempat tujuan.


"Wuih ke mana dulu nih?"


"Time zone dulu yok?"


"Ayo ayo"


Khansa sempat berhenti dan menunduk.


"Kenapa Sa?"


"Hm? Ga papa"


"Yang bener, jangan boong. Kita kan udah sahabatan lama"


"Iya, Lo kenapa?"


"Hehe, ga papa ko. Gue cuma ke inget Arga, dulu gue pernah ke sini sama dia"


Gue dan Farhan saling menatap dengan ekspresi sedih.


"Udah ah, ayo, masuk"


Kami masuk dan bermain.


Setelah bermain, kami pergi ke toko tas, sepatu, boneka, pokok nya keliling keliling. Sampai akhirnya kami selesai dan pulang.


Parkiran


"Heh, mana ya kunci?"


"Kunci apaan?"


"Ya mobil lah, ya kali motor"


"Lo nyimpen di mana?"


"Kalau gue tau ga bakal gue nanya onta"


"Coba cari yang bener, dasar pikun"


"Ketinggalan apa ya?"


"Yah, jangan dong"


Gue membantu Farhan mencari kunci mobil di tas nya.


"Ini apaan?"


"Apaan? Lah, ko ada?"


"Dudul"


Saat gue mengangkat kepala dan melihat ke arah Khansa, gue ngeliat ada seseorang yang berlari ke arah nya, belum sempat gue bergerak ke arah Khansa, gue bisa melihat sosok itu, ia berlari dan memeluk Khansa dari belakang. Khansa nampak terkejut dan dengan cepat menoleh ke belakang. Wajahnya memerah, membeku tak bergerak.


Sosok yang selama ini Khansa tunggu tunggu, menghilang entah berapa tahun, tiba tiba muncul di hadapan nya dengan seragam polisi nya, itu berarti mimpi nya terwujud. Seketika gue merasakan sakit di dada gue, tapi harus nya gue seneng, Khansa ga bakal nangis lagi, dan sahabat gue balik.


"Khansaaaa" Teriak Arga dengan wajah yang sangat gembira.


"L-lo.."


Arga memegang lengan Khansa dan membuat mereka berhadapan.


"Long time no see, my sweet heart"


Farhan yang tau kalau gue selama ini suka sama Khansa menepuk nepuk bahu gue, seakan tahu apa yang gue rasakan sekarang.


"Sabar bro"


Kemudian Arga melangkahkan kaki berdiri di hadapan gue dan Farhan.


"Hai guys, kangen ga?"


Farhan dengan cepat memukul pelan kepala Arga.


"Awww apaan sih Han?!"


"Bocah gundul! Kemana aja lu?! Kita sibuk buat hubungin Lo tau!"


"Sorry sorry, hp gue di sita bunda selama sekolah"


"Gila"


"Jahat parah"


"Tapi sekarang udah balik ko, gue udah chat nomor kalian satu satu. Duh gue kangen banget sama kalian!"


Arga maju dan memeluk kami berdua. Gue mengusap punggung nya dan melihat wajah Khansa yang mulai mengeluarkan air mata.


Sa.. Lo seneng kan? Arga balik.. Selamet ya. Sekarang tinggal gue aja yang tabah tabahin hati ngeliat lo sama Arga. Jangan nangis lagi yak.


BERSAMBUNG...