Rich Man And Poor Woman

Rich Man And Poor Woman
19



"Eh? Tidak usah. Sebentar lagi bus nya datang. Sebelumnya terimakasih banyak" Tolak Khansa.


"Jangan menolak, aku tidak suka di tolak. Dan lagi, ini sudah mau malam. Kau mau sampai di rumah jam berapa" Kata pria itu.


"Um.. Apa tidak merepotkan?" Tanya Khansa merasa tidak enak.


"Kalau merepotkan untuk apa aku menawarimu? Ayo cepat, kita ke mobil" Ajak pria itu.


"Ah ya, tunjukkan jalan nya ya? Aku belum tahu rumah mu" Tambah nya.


"Iya.. Terimakasih ya"


🏎️🏎️🏎️ MOBIL 🏎️🏎️🏎️


"Apa yang kau lakukan sampai pulang sesore ini?" Tanya pria yang duduk di samping Khansa.


"Um, tadi.. Aku.. Aku habis.. Habis membersihkan loker!"


"Membersihkan loker?"


"Iya, loker. Tadi kotor sekali, haha" Tambah Khansa tertawa garing.


"Kenapa ya, aku merasa kau berbohong"


"Ap-apa nya?? Aku jujur ini, aku habis dari loker tadi" Khansa berusaha meyakinkan.


"Ya sudah"


"Tapi Fa, kau mau ke mana tadi? Bukan dari sekolah kan?" Tanya Khansa.


"Bukan. Aku tadi sudah pulang ke rumah. Aku mau melatih"


"Hm? Melatih apa?" Tanya Khansa.


"Melatih karate, apalagi? Masa menari" Jawab Rafa.


"Oh.. Eh tapi, apa kau tidak akan terlambat jika mengantar ku pulang? Kau bisa menurunkan ku di sini" Ucap Khansa tak enak.


"Jika aku menurunkan mu di sini, bagaimana kau akan pulang? Lagipula aku datang 1 jam lebih cepat, jadi jangan khawatir" Jelas Rafa.


"Kenapa datang cepat sekali?" Tanya Khansa.


"Aku bosan di rumah, jadi ya berangkat saja. Di depan itu belok ke mana?" Tanya Rafa.


"Ke kanan"


"Oke"


Tak lama, mereka sampai di kediaman Khansa.


"Um.. Mau mampir dulu?" Tanya Khansa sebelum membuka pintu mobil.


".. Boleh?"


"Ya boleh dong. Sebenarnya aku yang merasa tidak enak. Rumah ku biasa saja dan-"


"Dan apa? Apa masalah nya kalau sederhana? Aku tidak masalah dengan itu. Jadi, aku boleh mampir?"


"Boleh. Masih setengah jam lagi kan ngelatih nya? Dari pada di jalan ga jelas mending masuk, kita makan" Ajak Khansa.


"Hah? Makan? Apa orang tua mu-"


"Sudah, ayo masuk dulu. Nanti kau salam pada mereka ya" Titah Khansa.


"Hm, aku tahu itu" Jawab Rafa seraya keluar dari mobil.


Khansa mengetuk pintu dan tak lama muncul seorang wanita paruh baya membukakan pintu.


"Assalamualaikum Bu, Khansa pulang" Kata Khansa seraya mencium tangan sang ibu.


"Waalaikumsalam.. Dari mana saja nak? Kok pulang nya telat ga ngabarin ibu?" Tanya ibu.


"Iya Bu, tadi Khansa ada kerjaan di sekolah, ada yang di bersihin, hehe.. Terus lupa ngabarin ibu, maaf ya Bu..."


"Yaudah ga papa. Ini teman kamu nak?" Tanya ibu menatap Rafa ramah.


"Iya Bu, teman Khansa. Dia yang antar Khansa pulang" Jelas Khansa.


"Saya teman nya Khansa Bu, nama saya Rafa. Salam kenal bu" Ucap Rafa sedikit membungkuk.


"Oh gitu.. Iya iya... Terimakasih ya nak sudah mengantar Khansa. Ayo masuk dulu, mari mari" Ibu mempersilahkan.


"Baik Bu, terimakasih. Permisi..."


"Duduk dulu nak, ibu buatkan minum"


"Khansa aja Bu yang buat minum, ibu sudah makan?" Tanya Khansa.


"Belum, nanti kita makan sama sama ya. Kamu ganti baju saja, biar ibu yang buat minum"


"Iya Bu"


"Nak Rafa, sudah makan belum?" Tanya ibu.


"Um.. Belum Bu"


"Makan dulu ya? Ibu sudah masak" Tawar ibu.


"Aduh, saya jadi merepotkan Bu" Kata Rafa sungkan.


"Loh, ga papa. Ibu masak banyak loh, makan ya?"


"Ya sudah Bu, boleh.. Terimakasih banyak ya Bu, maaf merepotkan" Kata Rafa.


"Ga ngerepotin kok, sebentar ya"


"Um, ada yang perlu saya bantuin Bu?" Tawar Rafa.


"Ga usah nak, di sini saja ya. Sebentar ibu siapkan makanannya"


"Iya Bu, terimakasih"


Rafa memperhatikan setiap sudut rumah Khansa. Rumah nya sederhana, tapi sangat nyaman. Tak lama ia melihat seorang perempuan mengenakan kaos berwarna biru dan celana training berwarna hitam menuruni tangga.


"Nak, ayo makan dulu" Panggil ibu dari dapur.


"Wiz makan. Ayo Fa makan? Masakan ibu tuh wenak nya poll, hahahaha" Ucap Khansa seraya tertawa.


Rafa mengikuti Khansa dan sampai di ruang makan yang terhubung dengan dapur.


"Wah, ada siapa ini?" Tanya seorang pria paruh baya yang baru saja masuk dari pintu belakang.


"Yeaaay makaaan!" Seru anak kecil yang juga baru masuk dari pintu belakang.


"Ini teman Khansa yah"


"Selamat sore om, saya teman nya Khansa om. Nama saya Rafa" Rafa sedikit membungkuk.


"Oh.. Iya iya... Perkenalkan, nama om Fahri, ini Ken, adik nya Khansa" Jelas ayah seraya memegang pundak Ken.


"Kalau yang lagi beresin piring ini istri om, nama nya Aisyah" Tambah ayah.


"Iya om"


"Nah ayo ayo makan, sudah siap"


"Wazeeeeg" Seru Khansa seraya menarik kursi makan dan duduk.


"Makan aja terus biar gendut!" Gerutu Ken.


"Dih, sirik aja" Balas Khansa.


"Huh. Ini pokok nya punya Ken!" Kata Ken seraya menunjuk dada ayam goreng yang ada di piring.


"Ow tidak bisa. Yang banyak kulit nya buat kakak" Tolak Khansa.


"Ga boleee ini buat Ken!"


"Sudah sudah, kok ribut.. Ayo di makan" Ucap papah membuat Khansa dan Ken berhenti bicara.


"Nih Ken, buat Ken" Kata Khansa seraya meletakkan kulit ayam di piring Ken.


Ken dengan puppy eyes nya menatap Khansa dalam. "Huwaa makasih kak.. Habis makan ini kita pelukan ya??" Pinta Keli membuat mereka tertawa.


"Hahaha dasar"


Meskipun tinggal di rumah yang sederhana dan makana makanan yang sederhana pula, tapi entah mengapa Rafa merasa benar benar senang dan nyaman. Hingga nasi di piring nya habis.


"Terimakasih om, tapi saya sudah kenyang. Terimakasih banyak"


"Oh iya, ayah lupa! Khansa tolong ambilkan ponsel ayah di belakang ya? Ayah meninggalkan nya di pondok tadi" Pinta ayah.


"Iya ayah" Jawab Khansa seraya berdiri dan mengambilkan ponsel ayah nya di belakang rumah.


Ibu mulai mengumpulkan piring piring yang kotor.


"Bu, biar saya bantu.." Kata Rafa seraya berdiri dan memunguti piring kotor.


"Eh, ga usah nak.. Biar ibu aja" Tolak ibu.


"Ga papa Bu.. Saya malah ga enak kalau ga ngapa ngapain.. Saya bantu ya?" Tawar Rafa lagi.


"Ya sudah nak, terimakasih banyak ya"


"Saya yang terimakasih Bu, hehe" Balas Rafa.


Ibu menaruh semua piring kotor di tempat pencucian piring.


"Ibu mau cuci ini semua sekarang?" Tanya Rafa.


"Engga nak, Khansa yang cuci. Nanti kalau ibu yang cuci dia marah haha" Jawab ibu tertawa kecil.


"Kenapa dia marah Bu?" Tanya Rafa.


"Dia memang hobi ngerjain tugas rumah, ibu nya ga di bolehin kerja. Dia takut ibu kecapekan" Jelas ibu.


"Ibu ada penyakit?" Tanya Rafa.


"Alhamdulillah ga ada. Ibu juga heran sama Khansa haha"


"Ayah.." Panggil Khansa yang baru saja masuk dari pintu belakang.


"Sudah dapat? Wah terimakasih ya sayang" Kata ayah seraya mencium kening Khansa.


"Jangan lupa lagi ya yah.. Nanti hilang loh" Khansa mengingatkan.


"Siyap bos, hehe" Balas ayah.


"Um.. Bu, pak.. Sepertinya saya harus pergi sekarang" Kata Rafa seraya melirik jam di tangan nya.


"Yasudah, hati hati ya nak.. Kapan kapan ke sini lagi ya? Hehe"


"Iya Bu, nanti kapan kapan saya ke sini lagi. Terimakasih banyak ya Bu, pak"


"Sama sama nak" Ucap ayah dan ibu bersamaan.


"Ayo Fa aku antar ke depan?" Tawar Khansa.


Khansa berdiri di depan pintu memperhatikan Rafa melangkahkan kakinya menuju mobil. Namun belum sampai di mobil, Rafa diam sebentar dan berbalik.


"Ada yang ketinggalan?" Tanya Khansa.


"Bukan"


"Jadi?"


"Kau boleh datang ke tempat latihan jika kau mau" Kata Rafa.


".. Bagaimana?" Tanya Khansa bingung.


"Kau bisa datang ke tempat ku melatih kalau kau mau" Ulang Rafa.


"Tempat melatih.. Karate?"


"Hm"


"Yang benar aku boleh ke sana?!" Tanya Khansa tak percaya.


"Ya. Tapi lain kali. Aku tak mungkin harus menunggu mu bersiap lagi kan"


"Ya tentu saja. Terimakasih banyak" Ucap Khansa sedikit membungkuk.


".. Aku pulang"


"Hati hati"


Rafa masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya. Setelah hilang dari pandangan nya, Khansa masuk ke dalam rumah.


Keesokan harinya, Khansa berjalan menyusuri koridor sekolah, seperti biasa. Tak lama, mata nya menangkap sosok Bela. Ia ingin sekali menghampiri nya, tapi ia takut kalau Bela juga akan menjauhi nya. Tapi akhirnya, Ia mencoba untuk memberanikan diri menemui Bela yang sedang duduk memainkan ponselnya.


".. Bel... Pagi" Sapa Khansa.


"Eh, pagi juga Sa" Balas Bela.


"Kamu kok.. Masih ramah sama aku??" Tanya Khansa tak percaya.


"Loh, memang kenapa?" Tanya Bela.


"Kemarin.."


"Jangan di pikirkan ya.. Aku kan sudah bilang, aku tak akan meninggalkan mu apapun yang terjadi. Lagi pula, aku begitu karena aku terkejut kemarin, bukan karena tertekan atau apa. Ah ya, aku akan menceritakan detail nya nanti" Jelas Bela.


"Terimakasih banyak ya Bel.. Aku sangat beruntung mempunyai sahabat seperti mu..." Ujar Khansa.


"Iya beb.. Udah yu ah, kita ke kelas yu?" Ajak Bela.


"Lah kamu ngapain di sini? Biasa nya langsung ke kelas" Tanya Khansa.


"Tadi habis dari kantin. Sekalian nungguin kamu aja, jadi duduk di sini dulu" Jelas Bela.


"Oh gitu.. Iya iya"


Mereka melewati mading sekolah yang saat itu keadaan nya sangat ramai, entah apa yang terjadi.


"Ada apaan sih? Ramai banget" Tanya Bela penasaran.


"Ga tau juga. Ini dari tadi Bel?" Tanya Khansa.


"Tadi sih ga seramai ini, maka nya aku ga gitu tertarik buat ikutan lihat ada apa di mading. Mau coba lihat?" Tanya Bela.


"Boleh"


Khansa dan Bela mendekati kerumunan dan berusaha melihat hal apa yang ada di mading dan membuat banyak siswa berkumpul di sini.


"Gila.. Mesum banget" Kata salah satu dari mereka.


"Ga ada tempat lain selain di sekolah apa? Wkwkwk" Balas yang lain.


"Duh kasihan, my prince ternodai tuh"


"Eh eh, orang nya dateng" Bisik mereka.


"Permisi..."


Saat Khansa dan Bela masuk di kerumunan itu, mereka tiba tiba membubarkan diri dan pergi dari sana. Hanya tersisa Khansa dan Bela.


"Apa apaan sih??" Tanya Bela penasaran.


Khansa membelalakkan matanya melihat sebuah foto yang di pajang di mading.


"Sa, ini kamu? Ini.. Kemarin kan?" Tanya Bela yang juga kaget.


".. Iya..."


"Kamu ngapain? Itu kamu mau mukul dia kan?" Tanya Bela.


"Iya. Itu aku lagi megang kerah baju nya dia dan dorong dia ke loker.. Tapi Bel, aku ga ngapa ngapain Bel! Aku berani sumpah!" Jelas Khansa.


"Iya Sa.. Aku percaya kok.. Tapi, aku khawatir sama si Karin itu. Gimana kalau dia sudah lihat ini dan gangguin kamu lagi??" Tanya Bela seraya mencabut foto itu dari mading.


"Siapa juga sih yang bikin bikin beginian? Bikin masalah aja" Tambahnya.


Khansa teringat dengan kedua siswa yang masuk ke loker kemarin. Ia juga sekilas mendengar suara ponsel memotret.


"Sudah Bel, ga papa.. Semoga saja ga ada apa apa ya.."


"Iya Sa.. Ayo ke kelas?" Ajak Bela.


"Nah ini nih si mesum!" Bentak seseorang yang tak asing bagi Khansa dan Bela.


"Hedeuuuh" Batin Khansa.


BERSAMBUNG...