Rich Man And Poor Woman

Rich Man And Poor Woman
22



"Ya, anak anak, bapak harap kalian membeli buku ini (Memegang buku paket). Karena ini akan membantu pembelajaran kita kedepannya. Ada soal latihan dan bla bla bla"


Beli buku lagi?


"Sa, Lo udah punya?"


"Belum. Lo udah?"


"Belum juga. Gimana kalau ntar sore kita ke toko buku? Kayanya di toko deket warung soto ada"


"Hm, boleh boleh. Ntar gue izin dulu"


"Wokeh"


Setelah jam pelajaran berakhir, kami mendapat free class karena guru yang mengajar selanjutnya berhalangan hadir.


Aku membuka ponsel karena merasa bosan. Tenyata ada pesan, dari Arga.


"Sa, belajar?"


Ya iyalah belajar 😅


"Iya belajar, kenapa?"


Tak lama dia membalas.


"Ko main hp?"


"Ga ada guru"


"Owh"


"Kenapa? Gabut?"


"Iya, pelajaran nya bikin ngantuk sumpah, sejarah"


" 😑"


"Sa jalan yu ntar sore?"


"Ga bisa, gue mau cari buku sama Bela"


"Ikut"


"Mau ikut? Mau cari buku Lo, ga main"


"Ga papa, pen ikut"


"Bentar tanya Bela dulu"


"Ish"


"Bel bel"


"Apaan?"


"Ntar sore, kalau si Arga ikut boleh ga?"


"Cieee nempel mulu"


"Apaan si Bel"


"Yaudah, ikut aja~"


"Sip"


"Boleh kata nya"


"Sip, nanti kalian naik mobil gue aja, gue bawa mobil"


"Ga mau coba naik angkot?"


"Udah pernah kek nya, gosah. Naik mobil gue aja, wangi"


" 😐 "


"Eh Sa ya ampun! Gue ke gep bapak gundul main hp, udah yak. Sampe ketemu nanti sore"


"Hahahaha, dasar"


"Dia jadi ikut?"


"Jadi. Nanti naik mobil dia katanya"


"Sip, gue bilang papah dulu"


Pulang


Aku dan Bela berjalan menuju kelas nya Arga. Tapi sebelum sampai di kelas nya, kami berpapasan di koridor.


"Duh Sa, hp gue di sitaa"


"Mampos, makanya jangan main hp pas belajar"


"Hah~"


"O iya, kenalin. Ini Bela, sahabat gue"


Mereka bersalaman dan berkenalan.


Saat sampai di parkiran, kami segera masuk ke dalam mobil dan berangkat.


Toko buku


Setelah berkeliling akhirnya kami mendapatkan buku yang kami cari. Tapi lagi lagi, ketika melewati rak komik kami berhenti dan melihat lihat. Setelah cukup lama melihat lihat, kami keluar dari toko dan bersiap pulang.


"Gue ambil mobil bentar, lo berdua tunggu di sini bentar ya"


Sambil menunggu Arga mengambil mobil, aku dan Bela sedikit mengobrol. Namun, ada seorang laki laki dengan pakaian seperti preman, menghampiri kami.


"Heh! Mana uang?!"


"Uang?"


Kami di palak.


"Cepet serahin uang nya! Serahin semua barang barang kalian kalau masih sayang nyawa!!"


"Saa gue takut"


"Ga papa Bel, lagian ni orang ga mungkin berani nyakitin kita di tempat umum kaya gini"


"Ih Saa gimana ini???"


"Malah ngobrol! Cepet serahin!!"


"Heh bang, maaf ya. Orang kerja susah susah, malah Abang palak dengan santai nya. Abang pikir gampang nyari duit?"


"Halah! Banyak omong lo! Serahin uang Lo! Jangan macem macem!"


Dia mengeluarkan pisau dari dalam baju nya, dan ketika melihat pisau itu, rasa takut ku mulai muncul.


"Saa.."


"Bang, maaf ya. Ga usah pakai pakai pisau kaya gini, mending Abang kerja cari duit yang bener, berkah bang"


"Halah? Banyak b*cot Lo!!"


Orang itu berlari ke arah ku sambil menghunuskan pisau nya ke arah ku.


"Kyaaaaaaaa"


"Arga!!!"


"Tolooooooonggggggg"


Bela berteriak meminta tolong, hingga tak lama orang orang mulai berdatangan. Orang itu melarikan diri.


Aku terduduk dan menggoyangkan tubuh Arga. Air mata ku tumpah, rasa nya sakit sekali melihat Arga dengan Darah di sekitar perut nya.


"Tolong tolong, ambulans"


"Pak telepon ambulans"


"Ar.. Bangun.. Hik.."


Arga membuka matanya dan menggenggam tanganku.


"..Lo.. Kenapa nangis?"


"Udah diam, jangan ngomong dulu!"


"Sa.. Jangan kasih tau orang tua gue dulu ya.. Mereka lagi di luar kota.. Kasih.. Tau Rafa juga.."


"Iya iya, udah Lo diam! Jangan banyak ngomong! Hik.."


Setelah beberapa menit, ambulans datang. Aku dan Bela ikut naik di ambulans.


"Ar.. Tahan ya, kita lagi ke rumah sakit"


"Sabar Sa.."


Arga mulai kehilangan kesadaran nya. Aku memeluk Bela dan menangis.


"Sabar Sa.."


"..Hik.. Gue kira tu preman ga bakal berani macem macem.. Gue kira Arga ga bakal datang kaya tadi.. Kenapa dia dateng?! Harus nya gue yang lagi rebahan di ambulans, kenapa dia?!"


"Sabar Sa.. Kita doain aja yang terbaik buat dia.. Ya?"


"Hik.. Belaa.."


Bela mengusap punggung ku dan berusaha menenangkan ku. Dan akhirnya kami tiba di rumah sakit.


Kami mengurus semua keperluan Arga di rumah sakit. Aku juga menelfon Rafa dan Farhan agar mereka segera datang.


Aku dan Bela sudah setengah jam menunggu, tapi dokter yang memeriksa Arga belum juga keluar.


kenapa lama sekali?!


CKLEK


"Dokter!"


"Dokter gimana Arga?!"


"Pasien masih dalam pengaruh bius. Mungkin 15 menit lagi pasien akan bangun. Sudah boleh di jenguk"


"Terimakasih dokter"


Aku dan Bela masuk ke dalam. Air mata ku tak bisa berhenti melihat keadaan Arga yang sekarang. Arga yang biasa nya jahil, penuh tawa, kuat, kini terbaring lemah tak sadarkan diri di ranjang rumah sakit.


Bela duduk di sofa dan aku duduk di kursi jaga yang ada di sebelah ranjang.


"Dasar bodoh! Kenapa Lo nyelametin gue?! Kenapa Lo harus lari dan gantiin gue di tusuk?! Harus nya gue yang lagi rebahan di situ, bukan Lo! Hik.."


"Sabar Sa.. Dia pasti kuat ko.."


"Lo harus bangun ya! Harus kuat!"


"Doain aja Sa.. Lo udah solat belum? Belum kan? Yu solat dulu?"


"Iya.."


Selesai solat, kami pergi ke kantin rumah sakit untuk membeli makanan. Setelah itu kembali ke kamar.


Aku masih menunggu Arga membuka matanya... Dan akhirnya dia membuka matanya perlahan lahan.


"Bel bel! Arga kayanya bangun.. Panggil dokter?"


"Iya bentar ya"


Dokter memeriksa keadaan Arga dan mengatakan bahwa dia masih belum stabil. Tapi sudah membaik.


"Lo kenapa nangis Sa?"


"Pake nanya! Ini gue ga ada berenti nangis tau! Gara-gara Lo!"


"Lah ko gue?"


"Kenapa tadi Lo nolongin gue?! Kenapa Lo ga biarin gue yang ketusuk?! Hah?!"


"Mana mungkin gue biarin orang yang gue sayang luka"


"..Hik.. Kenapa sih Ar.. Lo sampe segitu nya.. Gue aja ga pernah ngelakuin apa pun buat Lo.. Gue malah nyakitin Lo terus.. Hik.. Huwaaaaa"


Dia bergerak dan berusaha untuk duduk.


"Sa bantuin gue"


"Mau ngapain? Jangan banyak gerak duluu!"


"Ga papa, bentar doang"


Aku membantu nya untuk duduk.


Dia menghapus air mata di pipiku.


"Udah ah, jangan nangis terus. Lo kan kuat, sejak kapan jadi cengeng?"


"Ah Lo mah! Masih sempet aja ledekin gue!"


"Hehe~


Sa.. Lo kapan sih nyakitin gue?"


"Gantungin Lo?"


"Loh, katanya sayang ga perlu status, kita kan temen rasa pacar"


Aku memukul pelan lengan Arga.


"Apaan si ah!"


"..Mau buat status?"


"Maksud?"


"Lo mau ga jadi pacar gue?"


"Hah? Hik.."


"Lah malah nangis, jawab wey"


"..Ga tau.."


"Yaudah ga papa.. Ga usah di jawab sekarang, nanti aja kalau Lo udah suka sama gue"


Aku hanya menatapnya dengan perasaan bersalah. Dia yang sebaik ini, tapi malah gue gantung ga jelas kaya gini... Maafin gue Ar... Tapi gue belum bisa...


BERSAMBUNG...