Rich Man And Poor Woman

Rich Man And Poor Woman
34



1 bulan berlalu, tapi gue masih belum bisa suka sama si Iren. Hari ini gue mau ngajakin si Khansa ketemuan, kangen. Mumpung lagi ga ada kerjaan, hehe.


Tut.. Tut...


"Ya? Halo?"


"Sa, ke taman yu? Kita main"


"..Um.. Engga deh Ar, makasih. Lo sama Iren aja"


"Sa, masa Lo ga kasian sama gue? Gue mau cerita juga nih, ya? Mau ya?"


"..Yaudah, iya"


"Sekarang bisa ga? Gue jemput ya? Lo di mana?"


"Bisa, gue di rumah, ga usah jemput, langsung ketemuan di taman aja"


"Gue langsung otw"


Gue mematikan telepon dan berlari menuju mobil.


Taman


Gue duduk di bangku taman, ga sabar rasa nya pengen ketemu sama si Khansa, udah sebulan kaga ketemu.


"Hai Ar, ko kamu di sini?"


Astaga...


Tiba tiba aja si Iren dateng nyamperin gue, gue nengok ke sana dan ke sini takut takut si Khansa udah dateng, bahaya kalau sampe dia liat.


"Gue.. Janjian sama temen"


"Oo.. Cewe atau cowo?"


"Cowo"


"Hm.. Aku boleh ikutan ga?"


"He? Ga ga ga, ini urusan cowo, Lo pulang sana"


"Ih gemes"


Iren mendekat dan memeluk gue, gue ga bisa menghindar karena dia tiba tiba aja meluk gue, gue aja kaget. Dan yang bikin gue lebih kaget, Khansa liat gue sama Iren lagi pelukan. Dia natap gue tanpa ekspresi, wajahnya memerah, air mata nya mulai keluar. Aduh..


Dia tersenyum dan berbalik pergi. Dengan cepat gue melepaskan pelukan Iren dan berjalan beberapa langkah, tapi Khansa udah lari jauh.


"Hm? Kenapa Ar?"


Ingin berkata kasar... Tolong...


Gue berbalik dan meninggalkan Iren.


"Gue balik!"


"Loh? Temen nya?"


"Ga jadi! Jangan ganggu gue!"


"Loh, kenapa sih?"


Sial.. Gue harus ngomong apa ke si Khansa?!


Gue berhenti sejenak karena merasakan getaran di saku celana gue, ponsel gue.


"Hm? Apa ni?"


Ada SMS masuk dari Rafa, kata nya ada reuni di sekolah.


Berarti, Khansa ikut dong?


Reuni akan di adakan lusa, buat seluruh angkatan yang udah lulus boleh datang, mantul.


"Aduh Ar, jangan cepet cepet dong"


"Hehe"


"Lo kenapa Ar?"


"Eh? Hm? Ga papa. Yu ah pulang"


Gue ga sabar pengen cepet cepet reuni!


Lusa


Indonesia High School


Gue masuk ke dalam gedung dan di sambut oleh para sobat gue.


"Wiiih ganteng nyaa"


"Oh selalu"


"Gue kangen sekolah ya ampun"


"Iya ya, masa masa nakal nya kita tuh"


"Eh makan yu?"


"Makan mulu Lo Fa"


Tiba tiba datang lah seorang wanita dengan dress ungu selutut menggandeng tangan Farhan, dan itu membuat gue dan Rafa syok.


"Udah makan belum?"


"Hayu makan"


"Tunggu dulu..."


"Fan, siapa?"


"O iya, lupa gue. Kenalin, ini Bela, pacar gue"


"Bela? Kaya kenal ya"


"Lo.. Temen nya Khansa kan?"


"Yup, hehe"


"Ya ampun ga nyangka gue selera Lo serendah ini" Celetuk Rafa seraya menggelengkan kepalanya.


"Ya ampun Faa"


"Tapi ko kalian bisa jadian?" Tanya Arga masih tak percaya.


"Cerita nya panjaaaang"


"Yaudah dah ya ga usah"


Gue melihat ke sana dan ke sini mencari sosok Khansa, berjalan ke sana dan kemari, sampai akhirnya gue ngeliat dia yang lagi ngambil minuman sama cemilan. Gue segera menghampiri dia.


"Um.. Hai"


Dia seperti terkejut dan sedikit menjaga jarak.


"Oh.. Hai"


"Sendirian aja?"


"Tadi sama Bela"


"Lo udah tau belum? Dia jadian sama Farhan loh"


"Hah? Iya kah? Ko gue ga tau ya?"


"Kaya nya mereka baru aja deh, mungkin belum sempet cerita ke Lo"


"Hm, iya.."


"..Bisa ngobrol sebentar?"


"Ngomong aja"


"Setelah satu bulan ini gue coba buat suka sama Iren, ternyata ga bisa Sa... Gue kebayang Lo terus"


"Kan baru sebulan, waktu kalian buat saling suka masih banyak, mending Lo lupain gue"


"Sa tapi gue ga bisa"


"Ar, Iren itu sahabat gue.. Gue ga mau dia kecewa, kita sampe sini aja, oke?"


"Tapi.."


"Lo mau gimana pun akhirnya ya kita bakal selesai, ini yang terbaik"


Dia melangkahkan kaki nya, ingin pergi menjauh. Tapi aku memegang tangannya dan menarik nya mendekat.


"Sa, gue ga bisa lupain Lo"


"Ya jadi Lo mau gimana? Gue yakin Lo bisa, Iren lebih baik dari gue"


"Engga, ga ada yang lebih baik dari Lo.. Lo masih sayang kan sama gue? Hah?"


"Ar denger, mau sebesar apapun sayang gue ke Lo, gue ga punya apa apa, gue ga bisa dapet restu bunda Lo. Gue ga punya mobil, gue ga punya emas, tas mewah, gue juga bukan sarjana! Gue ga bisaa!"


Yang Khansa omongin emang bener, jalan kita terhalang sama uang.


Gue menarik nya ke pelukan gue, gue merasakan ada air yang membasahi baju gue, dia nangis.


"Ar, please.. Tinggalin gue sekarang, lupain gue.."


Gue diam tak menjawab. Gue udah ga bisa ngapa ngapain Sa...


Dia melepaskan pelukan gue, dan mendorong gue menjauh. Dia menatap gue lalu berlari meninggalkan gue.


21.00


Acara reuni selesai, pulang pulang.


Saat di parkiran, gue melihat Iren berdiri di depan mobil.


"Halo sayang"


"Hm"


"Ko gitu sih?"


Dia memeluk gue dan mengelus punggung gue.


"Kamu cape?"


Namun tiba tiba ada yang narik kerah baju gue dari belakang.


"Ikut gue"


BERSAMBUNG...