Rich Man And Poor Woman

Rich Man And Poor Woman
11



"Ga mungkin deh ya. Secara, siapa sih yang ga suka sama Arga? Kamu pasti cuma modus kan? Supaya bisa lebih dekat sama Arga?" Tuduh mereka.


"Kak, saya benar benar ga ada niatan apa apa. Dia yang selalu gangguin saya, saya cuma membela diri" Jelas Khansa.


"Mana mungkin my prince Arga mengganggu tanpa ada alasan. Kau pasti membuat nya kesal kan?" Tanya salah satu dari mereka.


"Tidak kak.."


Mereka yang berada paling dekat dengan Khansa menarik rambut Khansa dengan kuat ke arah mereka.


"Khansa!!" Teriak Bela yang sedang di tahan oleh yang lain.


"Uh.."


"Dengar ya, sekali lagi aku melihat mu mencari masalah dengan my prince Arga, aku akan mencabut semua rambut mu dan membuat mu tak bisa bertingkah lagi. Mengerti?" Ancam mereka.


Mereka melepaskan Khansa dan Bela kemudian pergi. Bela yang lepas dari cengkraman para kakak kelas itu segera menghampiri Khansa dan memeluk nya.


"Kamu baik baik saja?!" Tanya Bela khawatir seraya meneteskan air mata nya.


"Hm, aku baik baik saja. Apa tangan mu terluka?" Tanya Khansa.


"Jangan pedulikan aku! Aku baik baik saja huweee" Jawab Bela masih dalam tangisan nya.


"Aku baik baik saja Bel.." Jawab Khansa tersenyum kecil.


"Rambut mu jadi berantakan.."


"Ah, ini tak penting. Ayo ke kelas?" Ajak Khansa.


Hari demi hari berlalu, Arga tak pernah menampakkan batang hidungnya pada Khansa. Namun, masalah lain datang. Tiap kali Khansa bertemu dengan penggemar Arga, ia selalu di jahili. Namun siang ini...


"Bel, aku mau ke perpustakaan.. Kamu ikut?" Tanya Khansa.


"Waduh, aku di panggil guru ke kantor Sa" Jawab Bela yang kini duduk di samping Khansa.


"Oh gitu, yaudah ga papa"


"Nanti aku nyusul ya kalau sudah? Kamu mau ngapain si ke perpustakaan? Jangan keseringan belajar ah, ntar nular ke aku" Ujar nya.


"Hahaha, dasar.. Ini loh, ada soal yang jawaban nya misteri, ga ada di buku paket ini. Aku mau cari ke perpustakaan" Jelas Khansa.


"Ajegilee pake misteri segala ga tuh, yaudah silahkan mencari hehe"


"Siyap. Aku duluan ya?" Pamit Khansa kemudian keluar dari kelas dan masuk ke perpustakaan.


Ia masuk ke rak buku dan mengambil beberapa buku matematika kemudian duduk di bangku perpustakaan yang berada di sudut ruangan.


Tak lama, ia tersenyum bahagia karena akhirnya jawaban yang mengganjal hati nya itu di temukan. Ia segera menyalin nya ke buku.


"Haaah.. Sumpah" Keluh seseorang membuat Khansa kaget.


Sejak tadi Khansa sibuk dan tak memperhatikan keadaan sekitar nya, siapa yang datang dan siapa yang pergi. Ia melihat ke kanan dan menangkap sosok pria menyebalkan yang tak pernah ingin ia temui.


"Padahal mood lagi bagus, lihat dia jadi jelek lagi" Batin Khansa menggerutu.


Khansa tak memperdulikan nya dan kembali mengerjakan soal soal latihan di depan nya.


"Woy, anak beasiswa" Panggil Arga namun tak di hiraukan oleh Khansa.


"Budek ya?" Tanya Arga lagi lagi tak mendapat jawaban dari Khansa.


Geram, akhirnya Arga mengambil buku yang ada di tangan Khansa.


"Ah! Apa sih?!" Tanya Khansa kesal.


"Kau ada masalah dengan telinga mu?" Tanya Arga.


"Kamu siapa ya? Ga kenal!" Jawab Khansa kemudian mengambil buku nya yang ada di tangan Arga secara paksa.


"Wah, sombong sekali anda"


Arga memperhatikan Khansa yang sedang menulis, kemudian melempar pandangan nya pada buku yang sedang di tulis oleh Khansa.


"Hei, bisa kau ajari aku?" Tanya Arga.


".. Aku adik kelas, tak banyak mengerti. Sana minta pada yang lain! Aku sibuk. Jangan ganggu aku" Titah Khansa.


"Tapi aku ingin mengganggu. Cepat ajari aku, kau anak pintar kan? Baca ini satu menit paling langsung mengerti. Cepat!" Titah Arga lagi.


"Hais! Berapa kali aku harus bilang? Aku sibuk!" Tolak Khansa.


"Ayolah, aku akan membayar mu. Satu jam lagi aku quis, aku bisa mati jika nilai ku jelek" Keluh Arga.


"Ah kau ini. Sekali ini saja, cepat! Kau mau berapa? Jika nilai ku di atas rata rata aku akan berikan apa yang kau mau" Ujar Arga.


"Kau ini kenapa sih? Kau pikir semua bisa di beli dengan uang? Jahat iya, bodoh iya. Sumpah deh" Hardik Khansa.


"Memang begitu kan? Tanpa uang kita tak bisa bahagia" Jawab Arga.


"Begitu? Apa kau bahagia dengan kekuasaan mu itu dan menindas orang lain? Hah? Menyebalkan" Ujar Khansa.


".. Ya, tentu saja. Aku mendapatkan semua yang aku mau.. Aku bahagia" Jawab Arga.


"Hah, tidak ada guna nya bicara dengan mu. Merusak mood ku saja" Ujar Khansa.


"Sudahlah cepat ajari aku! Aku benar benar butuh di ajari sekarang" Pinta Arga lagi.


"Hais! Dasar berisik! Kemari! Mana buku nya?" Arga memberikan buku nya pada Khansa.


"Astaga.. Tulisan apa ini? Tulisan nenek ku lebih baik!" Hardik Khansa.


"Hei hei, kalau tulisan itu di jual kau bisa membeli sebuah mobil tahu"


"Apa apaan.."


Khansa mempelajari nya sebentar, setelah cukup paham akhirnya ia menjelaskan secara perlahan pada Arga.


"Sudah mengerti kan? Sekarang coba kerjakan soal ini dengan teliti, aku akan memeriksa nya nanti" Titah Khansa.


"Ah! Kenapa soal nya berbeda dengan contoh yang kau jelaskan tadi?!" Tanya Arga kesal.


"Hei, gunakan mata mu dengan baik. Hanya berbeda sedikit, tapi tetap sama. Teliti maka nya, teliti" Ujar Khansa membuat Arga semakin berpikir keras.


30 menit berlalu...


"Yah, baguslah.. Ini sudah lumayan. Sekarang pergi sana, jangan ganggu aku" Titah Khansa.


"Baiklah. Aku akan transfer uang nya, berikan nomor rekening mu" Titah Arga.


"Ha? Apa maksud mu? Kau berpikir aku akan meminta uang setelah mengajari mu tadi?" Tanya Khansa.


"Ya, kenapa tidak?" Tanya Arga.


"Orang kaya, dengar ya. Tidak semua hal perlu kau bayar dengan uang. Aku tak butuh uang mu, terimakasih" Jelas Khansa.


"Lalu aku harus membayar mu dengan apa?" Tanya Arga.


"Hah.. Masih saja ya.. Kau mengucapkan terimakasih saja sudah cukup" Ujar Khansa.


".. Kenapa kau tak ingin uang?" Tanya Arga namun dengan suara kecil.


"Hm? Kau bicara sesuatu?" Tanya Khansa.


"Kenapa kau tak menginginkan uang?" Tanya Arga menatap Khansa.


"Di dunia ini siapa yang tidak menginginkan uang? Siapa? Aku juga mencintai uang, tapi tidak sampai harus mengemis pada orang" Jawab Khansa.


"Aku kau mengemis pada ku tadi? Tidak kan? Aku yang memberi mu"


"Aku membantu mu ikhlas, kau tak perlu membayar ku. Sudah ya, pergi sana. Aku juga akan ke kelas" Titah Khansa.


Arga diam sesaat menatap Khansa.


"Apa?" Tanya Khansa menyadari sedang di tatap oleh Arga.


Arga mendekat pada Khansa, tangan nya menyentuh telinga Khansa dan menepis rambut yang menghalangi wajah Khansa.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Khansa.


"Rambut mu kotor, tadi pagi kau keramas?" Tanya Arga masih di posisi yang sama.


"Iya lah. Sana! Menjauh" Titah Khansa membuat Arga menjauh.


"Maaf.."


"Apa? Kau meminta maaf?! Benarkah?! Wow, amazing" Ujar Khansa terkejut.


"Aku tidak seburuk itu ya.."


"Sudah sudah, aku akan ke kelas, seperti nya Bela tidak jadi menyusul ke sini. Kau kalau masih mau di sini, silahkan" Ucap Khansa kemudian berdiri dan meninggalkan Arga.


BERSAMBUNG...