Rich Man And Poor Woman

Rich Man And Poor Woman
37



Saat ini Arga sedang berada di salah satu taman yang berada tak jauh dari restoran tempat Khansa bekerja. Ia merebahkan tubuhnya di atas rerumputan dan memejamkan matanya.


"Ar"


Ia membuka matanya saat mendengar suara sahabat nya, Rafa.


"Oh, Lo.. Kenapa?"


"Duduk Lo"


Mendengar nada bicara Rafa yang serius, ia segera duduk tanpa mengatakan apapun.


"Kenapa Fa?"


"Harusnya gue yang nanya kenapa Ar! Khansa Lo apain lagi?"


Arga menundukkan kepalanya, dan itu membuat Rafa semakin geram.


"Ar! Jawab!"


"Gue.. Mau bikin dia benci sama gue Fa.."


"Maksud Lo?"


***


"Lo yakin dengan cara kaya gini? Kenapa kalian ga pisah baik baik sih? Heran gue"


"Ga semudah itu Fa. Gue ga bisa ngelepas dia"


"..Jadi Lo mau nya kaya gimana?"


"..Fa"


"Apaan?"


"Gue ada permintaan"


"Bilang aja"


***


"Apaan sih Ar?! Lo jangan main main"


"Menurut Lo gue lagi main main?"


"..Engga sih.. Tapi Ar, ga bisa gini.."


"Cuma Lo yang gue percaya.. Lo cowo baik Fa. Udah ya gue balik"


"Lah Ar ntar dulu"


Arga menepuk bahu Rafa dan melangkahkan kaki nya menuju mobil.


Arga sampai di rumahnya. Terparkir mobil mewah di garasi, orang tua Iren datang.


"Arga pulaaang"


"Eh, sini nak, duduk. Ada yang mau kita bicarakan"


Apa lagi sih... Males sumpah...


"Yang, aku mau kita tunangan dulu, biar bisa lama lama pacaran nya hehe"


"Iya nak, gimana?"


"Aku ngikut"


"Yaudah, lusa kalian ke butik kenalan Tante ya? Pilih pilih baju"


".. Baik Tante"


"Yeaay"


Tuhan.. Ini kah yang terbaik?


.. Terimakasih...


"Yang, kita ke cafe yu? Atau ke restoran gitu, di tungguin temen-temen aku nih, janjian"


"Loh, aku kan baru pulang"


"Ga papa nak, pergi sana"


Usir aja aku usir


"Yaudah hayok"


"Berangkat ya Dady"


"Hati hati sayang"


"Ar, kamu ada motor kan? Naik motor ya?"


"Hm"


Arga mengambil motor nya yang terparkir di garasi, dan berangkat menuju tempat yang ia tidak ketahui di mana. Iren yang menunjukkan jalan nya.


Tapi ia merasa tidak asing dengan jalan ini, dan benar saja, ia sampai di tempat Khansa bekerja.


"Ko ke sini?"


"Ya aku kan janjian nya di sini"


"Yaudah turun"


Mereka masuk ke dalam dan menghampiri meja yang di penuhi dengan teman teman Iren. Mata Arga tertuju pada seorang perempuan yang sedang membersihkan meja meja yang kotor.


"Eh yang, ayo duduk"


"Hm? Ya"


Khansa berada tak jauh dari meja Arga. Ia sama sekali tak mendengarkan apa yang di bicarakan oleh Iren dan teman teman nya, ia hanya fokus pada Khansa. Hingga Khansa membalas tatapannya.


"Eh guys, gue ada cerita nih" Iren memulai pembicaraan.


"Apaan?"


"Nih ya, cerita nya tuh ada anak pembantu, miskin, jelek. Naksir sama pacar majikan nya, parah ga?"


"Ih parah"


"Terus ya, ada juga cerita cewe miskin yang ngerebut cowo sahabat nya. Cowo nya sih tajir"


"Ih ga punya harga diri ya? Jangan jangan..."


Mendengar pembicaraan seperti itu, Arga memotong nya.


"Ko pada ngomongin orang, cari topik yang lain dong"


"Ih apa sih yang, obrolan cewe tuh emang gini, kalau ga mau denger pisah sana"


Arga segera berdiri dan menuju meja kosong di dekat jendela.


Dari tadi kek, dengan senang hati gue mah pindah.


Namun, Arga baru ngeh dengan topik yang di bicarakan oleh Iren dan teman teman nya. Seperti menyindir?


"Eh, mba nya! Yang ngelep meja!"


"..Ya mba?"


Saat ini, pandangan Arga tertuju pada Khansa.


"Aiih maaf ya"


Ia merasa geram melihat Iren dengan sengaja menumpahkan minuman pada Khansa.


"Maaf ya mba ya.."


"Iya mba ga papa.. Nanti saya bersihkan ya mba"


"Iya iya buruan"


Tak lama Khansa kembali ke meja Iren dengan lap, kemudian ia mulai membersihkan meja.


"Kyaaaaaaaa"


"Ada apa mba?"


"Ini ko di minuman ada rambut sih?! Lo kalau kerja yang bener dong!"


"Maaf mba, tapi saya hanya bertugas mengantar. Untuk proses pembuatan di lakukan oleh koki di dapur"


"Ini pasti gara gara Lo yang ga bener kerja nya! Sampe rambut Lo masuk di sini!"


"Lo dandan ya?! Bener benerin rambut biar di lirik sama om om?! Gue sih malu!!"


"Astaghfirullah mba, saya ga-"


"Yang?"


"Kalian kelewatan! Kalau mau protes sana ke manajer nya sekalian! Dia kan cuma nganter, lagian emang dari tadi kalian liat dia bener benerin rambut?! Engga kan? Dia ga kaya kalian!"


"Buat apa juga kita merhatiin dia? Ga ada kerjaan"


"Lagian ngapain sih kamu belain dia yang?"


"Aku bukan belain? Emang kalian yang salah!"


"Ar udah"


"Ga papa Sa"


"Lo hati hati deh Ren, takut cowo Lo di ambil sama ni cewe"


"Iya ya, bahaya nih"


Arga melihat wajah Khansa yang mulai memerah, ia akan menangis. Arga menarik Khansa menuju dapur.


"Yang!!"


"Ar tolong, lepas! Lo ga boleh sembarangan masuk ke sini"


"Ntar gue ijin"


Dapur


"Loh, Sa lu kenape?"


"Siapa tuh?"


"Lo nangis Sa?"


"Engga mas, cuma aga flu"


"Jangan bohong"


"Beneran maas"


"Yaudah, kenapa? Siapa nih?"


"Maaf mas, saya temen nya. Boleh ajak dia ngobrol di sini?" Tanya Arga.


"Bawa keluar aja mas, udah jam istirahat ko. Takut bos ke sini"


"Boleh di bawa mas?"


"Balikin tapi yak, adik gue tuh, hahaha"


"Hahaha, siap bang"


Arga dan Khansa keluar lewat pintu belakang, menuju taman yang berada tak jauh dari restoran.


"Duduk dulu Sa"


"Ar! Lo ngapain sih ngelakuin hal kaya tadi? Gue ga papaaaa Lo begitu justru mereka lebih benci sama gue"


"Tapi gue ga bisa liat Lo di gituin"


"Bisain dong! Gue mau kita putus! Lo belum mutusin gue kan?! Lo mau giniin gue sampe kapaan Ar?!"


"Hm... Oke.. Hari ini.. Saat ini, gue dan Lo.. Aduh gue ga bisa!"


"Ayo Ar! Bilang!"


Arga menatap Khansa dalam dalam, dan ikut mengeluarkan air mata.


"..Segini nya Lo mau putus dari gue Sa?"


"Lo pikir ini gue yang mau?! Gue ga bisa apa apa Ar! Lo malah nyakitin gue kalau gini!!"


".. Sorry.."


"..Hiks.."


".. Gue ada satu permintaan sebelum putus"


"..Apa?"


"Gue mau peluk Lo, untuk yang terakhir kalinya.. Boleh?"


"Dasar bucin! Lo sadar ga selama ini kita bucin? Gue jiji"


"Please"


Khansa berdiri dan membentang kan tangan nya.


"Haaa... Terakhir kali nya kan?"


Arga berdiri dan memeluk Khansa. Mereka berpelukan cukup lama, tidak peduli siapa yang ada di sekitar mereka.


"Hiks... Cepet ga bilang! Kata nya Lo ga cinta gue kan? Mainin gue aja kan? Cepetan!"


"Lo ko... Ga benci sama gue sih? Lo suka sama gue ya?"


Khansa memukul punggung Arga geram.


"Aduh!"


"Hiks.. Hehehe.."


"Ih.."


Mereka melepas pelukan mereka.


"Oke! Khansa.. Fariza Khansa Yuan.."


"Hadir"


"..Mulai hari ini.. Saat ini.. Gue sama Lo.. Resmi.. Putus.."


Khansa kembali mengeluarkan air mata nya.


"Ih jangan nangis... Gue nanti nangis juga njer!"


"Hahaha sorry, ini tangisan bahagia! Tenang aja!"


Arga melangkah mendekati Khansa, memegang pipi Khansa dan memajukan wajahnya.


"Eh eh?! Lo mau ngapain?! Inget udah putus!"


"Oh jadi kalau ga putus boleh?"


"Ga!!"


Arga mendekatkan wajahnya pada wajah Khansa, dan mencium pipi Khansa.


Saat ia kembali berdiri tegak, ia tertawa geli melihat wajah Khansa yang memerah sedang menutup matanya.


"Hahahaha woi! Ngapain?"


Khansa membuka matanya perlahan dan memukul Arga.


"Aduh duh.. Hahaha, Lo pikir gue mau ngapain hah?"


"Ya.. Ya abis nya! Lo begitu! Udah ah!!"


"Iya iya sorry"


"Udah ya Tan, gue mau lanjut kerja!"


"Ih tan dong"


"Kan mantan!"


"Hahaha iya deh iya. Semangat kerja nya"


"Hm, dah mantan!"


"Dah mantan terindah!!"


"Alaaaay!!!"


Khansa berlari masuk ke dalam restoran.


"Hahahaha dasaar~"


Arga di kejutkan dengan tangan yang menepuk bahunya.


"Eh ayam! Hm? Ren?!"


Arga terkejut melihat Iren sudah ada di belakang nya. Apa Iren melihat semua nya?! Bagaimana kalau ia bilang pada orang tua nya dan perjanjian batal?! Gawat!!


"Gue mau ngomong"


BERSAMBUNG...