Princess Moon and Prince Vampires

Princess Moon and Prince Vampires
Memori Putri Lily



Di dalam Mension,


Pangeran Vanaya, pangeran Yixer, putri Binca, pangeran Radoz dan putri Kety yang tengah duduk bersantai di dalam ruang pertemuan.


Tiba-tiba,


Dewa Antonio dan dewi Grasela masuk ke dalam ruang pertemuan, serta pangeran Zio, putri Zia, pangeran Zimba, putri Rimba dan pangeran Alfin di belakang mengikuti dewa Antonio dan dewi Grasela. Mereka semua pun duduk di kursi pertemuan mereka masing-masing.


“Bagaimana pangeran Vanaya? Apakah kau sudah menemukan putri Lily?” Tanya dewa Antonio.


“Belum,” Sahut pangeran Vanaya, dengan santainya.


“Lalu, apa yang kau lakukan di sini? Hingga saat ini,” Tanya dewi Grasela.


“Seperti yang dewi lihat,” Jawab pangeran Vanaya, duduk menyilangkan kaki dan tangannya di saku celananya.


“Hais,” Ucap dewi Grasela, membuang muka.


Tiba-tiba,


Angelia di depan pintu masuk ruang pertemuan, beserta Echa, Meicha, pangeran Virga dan pangeran Lexus.


“Angelia, kau sudah kembali?” Tanya dewa Antonio, melihat Angelia.


Semua perwakilan klan pun melihat Angelia memasuki ruang pertemuan.


“Apakah kau sudah menemukan putri Lily, Angelia?” Tanya dewi Grasela.


Angelia hanya mengangguk.


Ctik


Angelia menjentikkan jarinya.


Ting


Terlihatlah sebuah kantong jenazah milik putri Lily.


“Apa ini Angelia?” Tanya dewa Antonio dan dewi Grasela bersamaan.


Ctik


Angelia menjentikkan jarinya.


Sreeett..


Seleting kantong jenazah pun terbuka dan terlihatlah putri Lily, membuat semua perwakilan klan mendekat. Kecuali, pangeran Vanaya. Semua perwakilan klan pun terkejut dengan kondisi putri Lily, tubuhnya sudah membeku.


“Apa yang terjadi?” Tanya putri Rimba.


“Apa yang terjadi Angelia?” Tanya dewa Antonio.


Tak ada sahutan.


“Kami pun tidak mengetahuinya dewa Antonio,” Sahut Echa, berdiri di sebelah kanan Angelia.


“Keji sekali pelakunya,” Ucap putri Zia.


Sedangkan, pangeran Vanaya hanya diam di duduknya. ‘Bagus sekali Lorjo, Bujo dan Kunak,’ batin pangeran Vanaya, tersenyum.


“Apa yang membuatmu tersenyum pangeran Vanaya?” Tanya dewi Grasela, melihat pangeran Vanaya tersenyum senang.


Semua perwakilan klan pun menengok, melihat pangeran Vanaya yang tengah tersenyum.


“Ada apa?” Tanya pangeran Vanaya, dengan santainya.


“Bukankah wajar, jika aku tersenyum melihat putri Lily sudah di temukan.” Ucap pangeran Vanaya.


“Iya, kami semua pun juga senang,” ucap putri Rimba.


“Kenapa kalian tak memeriksanya?” Tanya pangeran Vanaya.


“Benar apa yang di katakannya,” Sahut putri Rimba.


“Segera bawalah putri Lily itu ke ruang pengobatan, aku ingin istirahat.” Ucap pangeran Vanaya, dengan santainya.


“Ayo kita segera membawa putri Lily ke ruang perawatan,” Ucap putri Zia.


“Iya, kita harus segera membawanya,” Sahut pangeran Alfin.


“Baiklah,” Ucap dewa Antonio.


Ting


Dewa Antonio membuat kantong jenazah menghilang.


“Apa yang terjadi?” Tanya putri Kety.


“Diamlah!” Sahut pangeran Radoz.


Dewa Antonio pun bergegas melangkah keluar ruang pertemuan, di ikuti dewi Grasela.


Melihat dewa Antonio dan dewi Grasela pergi meninggalkan ruang pertemuan, mereka pun mengikuti langkah kaki mereka. Kecuali, pangeran Vanaya, pangeran Yixer, putri Binca, putri Kety, dan pangeran Radoz.




Ruang Perawatan Mension,



Terletak di sebelah kiri koridor utama. Kantong jenazah putri Lily tergeletak di meja persegi panjang, yang terletak di tengah ruang perawatan.



Kreeekk..



Suara pintu terbuka.



Dewa Antonio dan dewi Grasela pun masuk ke ruang perawatan, di ikuti Angelia, Echa, Meicha, pangeran Virga dan pangeran Lexus yang masuk di belakang. Sedangkan, pangeran Zio, putri Zia, pangeran Zimba, putri Rimba dan pangeran Alfin duduk di luar ruang perawatan.



“apa yang terjadi dengan putri Lily?” tanya dewi Grasela.



“Aku akan mencoba melihat apa yang terjadi, melalui memori putri Lily” ucap Angelia.



“Baiklah,” sahut dewa Antonio.



Ctik



Angelia menjentikkan jarinya.



Sreeett..



Suara kancing kantong jenazah putri Lily terbuka.



Ctik



Angelia menjentikkan jarinya kembali.



Cling




Ting



Seberkas cahaya memancar dari mata bintang milik Angelia dan memperlihatkan kejadian yang menimpa putri Lily saat di Mension sampai ke dunia manusia.



Dewa Antonio, dewi Grasela, Echa dan Meicha pun terkejut dengan apa yang putri Lily alami.



“Sungguh keji perbuatannya,” geram Dewi Grasela.



“Ini harus di sembunyikan kebenarannya. Jika tidak, kita akan celaka. Karena raja Devil sangat kuat dan mereka masih belum membuat kerusuhan yang melibatkan kita.” Ucap dewa Antonio.



“Baiklah, aku akan merekayasa kematiannya.” Sahut Angelia.



Mereka semua pun mengangguk. Lalu, Angelia menjentikkan jarinya.



Ctik



Ting



Seluruh tubuh putri Lily yang terluka, kembali sembuh, tanpa bekas luka. Akan tetapi, Angelia membuat seluruh tubuh putri Lily ada sedikit kebiruan.



“Baiklah, karena semua beres, semua yang di sini, di harapkan menutup rapat\-rapat rahasia ini. Kalian mengerti?” Ucap Dewa Antonio.



“Kami mengerti dewa Antonio,” Jawab Echa, Meicha, pangeran Virga dan pangeran Lexus.



“Kalian keluarlah, aku akan mengirimkan jenazah putri Lily ke kerajaan kelinci.” Perintah dewa Antonio.



“Baik dewa Antonio,” Sahut Echa dan Meicha.



Sedangkan, pangeran Virga dan pangeran Lexus hanya mengangguk.



Lalu, mereka semua pun keluar, kecuali dewa Antonio dan dewi Grasela.



~~~~~~~~~~~ ¤¤¤¤ ~~~~~~~~~~~



Di sisi lain,



“Sayang, kamu lihat tadi, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa putri Lily malang sekali.” Tanya putri Kety, penasaran.



“Sudahlah, itu bukanlah urusan kita.” Sahut pangeran Radoz.



Putri Binca yang mendengar ucapan putri Kety pun mulai penasaran.



“Sayang?” Panggil putri Binca, mendekati pangeran Vanaya.



“Hmm” Sahut pangeran Vanaya.



“Aku ingin kita bicara, berdua saja.” Ucap putri Binca, dengan manjanya.



“Kalian pergilah!” Ucap pangeran Vanaya.



‘Pasti, mereka mau berduaan,’ batin pangeran Radoz.



‘Akhirnya, ada saatnya aku juga berkencan dengan pangeran Radoz’ batin putri Kety.



Pangeran Yixer pun melangkah pergi keluar ruang pertemuan. Melihat pangeran Yixer bergegas, pangeran Radoz dan putri Kety pun ikut melangkah di belakangnya.



“Apa yang ingin kau ketahui sayang?” Tanya pangeran Vanaya, berdiri dari duduknya.



“Sayang, coba kau ulangi lagi ucapan sayang tadi?” Minta putri Binca, memandang pangeran Vanaya penuh harap.



“Sayang, kau nakal ya?” Ucap pangeran Vanaya, tersenyum licik.



“Sayang, kita kencan yuk? Aku kangen,” Ucap putri Binca, manja.



“Baiklah,” Jawab pangeran Vanaya, dengan memeluk putri Binca.



‘Akhirnya, kau mendahuluinya memelukku sayang,’ batin putri Binca bahagia dan mempererat pelukannya.



Ting



Mereka pun menghilang.



~~~~~~~~~~~ ¤¤¤¤ ~~~~~~~~~~~



Note : Maaf Jika Bahasa dan Penulisan Saya Kurang Rapi. Selamat Membaca☺. Jangan Lupa Like dan Vote. Serta, Dukung terus karya aku. Terimakasih.