
Hutan kabut,
Angelia, Echa dan Meicha, serta pangeran Virga dan pangeran Lexus berhenti setelah mendengar dua suara tawa yang berbeda.
Kabut di hutan kabut semakin tebal hingga mereka sulit melihat pepohonan sekitar.
“Hihihi..”
“Hahaha..”
Tawa Kunak dan Bujo menggelegar di hutan kabut.
“Angelia? Bagaimana ini?” Tanya Echa, berdiri di belakang Angelia.
Tak ada sahutan.
“Kita harus istirahat di sini, jika melanjutkan pencarian, takutnya mereka melukai salah satu dari kita” Ucap pangeran Lexus, berdiri di samping putri Meicha.
Mereka pun bertatapan, kecuali Angelia yang tengah fokus ke depan.
“Tidak, kita harus melanjutkannya.” Ucap Angelia, melangkah pergi.
Ctik
Angelia menjentikkan jarinya.
Cling
Cincin bulan terbang keluar, membesar melindungi mereka semua.
Mereka pun bergegas melanjutkan pencarian, melihat Angelia yang memimpin jalannya.
Di sisi lain hutan kabut,
Kantong jenazah putri Lily, mengeluarkan bau amis yang menyengat, membuat hewan\-hewan di hutan ini mulai berdatangan. Namun, hewan\-hewan itu tak bisa membuka kantong jenazah itu.
Hewan yang datang berupa ular, harimau, buaya dan lain sebagainya.
~~~~~~~~~~~ ¤¤¤¤ ~~~~~~~~~~~
Di istana langit,
“Sebenarnya kemana putri Lily? Keberadaannya selalu sangat sulit terdeteksi? Bahkan, cermin ajaibku hanya melihatnya ia berjalan keluar hutan terlarang seorang diri, setelah bertemu pangeran Vanaya” Ucap dewi Grasela, berdiri di depan cermin ajaib di taman istana rumahnya.
‘Tunggu, pangeran Vanaya, kenapa ada dua pangeran Vanaya? Namun, setelah itu menghilang setelah melewati koridor Mension. Ini aneh sekali’ batin dewi Grasela.
“Saat putri Lily keluar, ia sebelumnya berdiri lama, seperti menunggu seseorang. Di saat yang sama, pangeran Vanaya menghilang. Mungkinkah??” Ucap dewi Grasela, bergegas terbang turun menemui dewa Antonio.
~~~~~~~~~~~~ ¤¤¤¤ ~~~~~~~~~~~
Di sisi lain,
“Kemana perginya Putri Lily?” Ucap dewa Antonio, berjalan dalam hutan terlarang.
‘Kemana sebenarnya ia pergi? Ia putri yang imut. Namun, sangat cerewet, huh’ batin dewa Antonio.
Dewa Antonio pun berhenti dan duduk di pohon yang tumbang.
Tiba\-tiba,
Terdengar suara banyak orang tertawa dan berbincang. Suara itu semakin terdengar membuat dewa Antonio bersembunyi masuk ke dalam tanah dan menghilang tanpa jejak.
“Apakah kau lelah adik?” Tanya pangeran Zio, berjalan santai di samping kanan Putri Zia.
“Tidak kakak,” Sahut putri Zia, wajahnya berkeringat dan sedikit pucat.
“Tapi, wajahmu tak bisa membohongiku,” Ucap pangeran Zio, melihat wajah putri Zia.
“Kak, kita berhenti dulu, kasihan mereka terlihat lelah.” Ucap putri Rimba, berjalan di samping kanan pangeran Zimba.
“Baiklah,” Sahut pangeran Zimba, berhenti dan duduk di pohon yang tumbang.
Mereka pun berhenti dan duduk di pohon yang tumbang, kecuali pangeran Alfin. Ia lebih suka di atas pohon dan kepalanya bersandar di pohon.
“Ah, rupanya kalian,” Ucap dewa Antonio, muncul tiba\-tiba di depan pangeran dan putri.
Putri Rimba, putri Zia, pangeran Zio, pangeran Zimba pun terkejut. Kecuali, pangeran Alfin, karena pangeran Alfin memejamkan matanya mencoba untuk tidur.
“Huaaa...” Teriak putri Rimba, ketakutan.
Sedangkan, putri Zia pun pingsan.
“Dewa Antonio?!” Ucap pangeran Zimba.
“Adik Zia? Dik? Kamu kenapa?” Teriak pangeran Zio, melihat putri Zia pingsan di pelukan pangeran Zio.
“Putri Zia?” Sahut putri Rimba, melihat putri Zia pingsan, ia mengecek denut nadinya.
“Putri Zia hanya pingsan,” Ucap dewa Antonio.
“Dewa Antonio?!!” Teriak semua orang, kecuali putri Zia dan pangeran Alfin.
“Hehe, ayo kita harus bergegas pulang,” Ucap dewa Antonio, melangkah pergi.
Mereka pun ikut melangkah pergi. Putri Zia di gendong pangeran Zio. Sedangkan, pangeran Alfin merubah wujudnya menjadi Tupai, meloncat ke satu pohon ke pohon yang lain.
Saat di pertengahan jalan pulang, dewi Grasela turun dari langit.
“Akhirnya aku menemukanmu Dewa Antonio,” Ucap dewi Grasela.
“Ada apa Dewi mencariku?” Tanya dewa Antonio, mendekati dewi Grasela.
“Kenapa mereka bersamamu?” Tanya dewi Grasela, melihat perwakilan klan.
“Aku bertemu mereka di perjalanan dalam hutan ini. Kenapa dewi mencariku?” Sahut dewa Antonio.
“Ada hal yang ingin aku sampaikan setelah kita semua sampai di Mension” Jawab dewi Grasela, melihat para perwakilan klan.
“Baiklah,” Ucap dewa Antonio.
Mereka semua pun melangkah melanjutkan perjalanan mereka menuju Mension.
~~~~~~~~~~~~ ¤¤¤¤ ~~~~~~~~~~~
Di sisi lain dalam Mension,
“Sayang? Kapan kita akan berkencan?” Tanya putri Kety, menatap pangeran Radoz.
“Nanti aku akan memikirkannya sayang,” Sahut pangeran Radoz, menoleh ke pangeran Yixer.
“Huh, saat inikan pangeran Vanaya masih sama putri Binca, ayolah” Keluh putri Kety, memasang muka sedih.
“Huh, baiklah,” Jawab pangeran Radoz, berdiri dan menarik tangan putri Kety.
“Terima kasih sayang,” Ucap putri Kety bahagia, berdiri dan mencium pipi kanan pangeran Radoz.
“Sayang? Jangan begitu, ada jomblo di sini, hehe,” Sahut pangeran Radoz, melirik pangeran Yixer.
“Kalian pergilah, jika ingin pergi.” Tegas pangeran Yixer.
“Baiklah, kami pergi dulu ya pangeran Yixer yang jomblo, hehe,” Ejek putri Kety, menggandeng tangan kiri pangeran Radoz.
Mereka berdua pun melangkah pergi. Namun, setelah keluar dari pintu, ia melihat putri Binca berjalan ke arahnya.
“Kalian mau kemana?” Ucap putri Binca, kesal.
“Kami mau ...” Ucap putri Kety, takut.
“Ayo masuk?!!” Tegas putri Binca, melangkah masuk ke ruang pertemuan.
“Kalian ini kenapa balik lagi?!!!” Teriak pangeran Yixer, duduk di kursinya dengan menutup mata.
“Apa\-apa’an kamu ini pangeran Yixer?!!” Tegas putri Binca, emosi.
‘Waduh, gawat ini, gunung bakal meletus nih,’ batin putri Kety.
‘Kayanya, nenek sihir bakal menghajarnya, mantap, hehe’ batin pangeran Radoz, cengengesan.
“Apa maksud kalian?” Ucap pangeran Yixer, membuka mata.
“Putri Binca??” Ucap pangeran Yixer, terkejut dan berdiri.
“Apa? Kau sudah membuatku marah jadi tambah marah!!” Sahut putri Binca, mulai menyerang pangeran Yixer.
‘Wah seru nih,’ batin pangeran Radoz, berdiri di samping kiri putri Kety. Sedangkan, putri Kety masih melingkarkan tangannya di tangan pangeran Radoz.
Tiba\-tiba,
“Apa\-apa’an ini??” Ucap pangeran Vanaya, muncul di samping putri Kety.
“Eh,” Jawab pangeran Radoz, menoleh pangeran Vanaya.
Putri Kety dan pangeran Yixer pun menoleh ke sumber suara, kecuali putri Binca yang diam karena masih kesal.
~~~~~~~~~~~~ ¤¤¤¤ ~~~~~~~~~~~
Di sisi lain hutan kabut,
Angelia memimpin perjalanan di ikuti Echa, pangeran Virga, Meicha dan pangeran Lexus.
“Sebenarnya kemana Putri Lily?” Tanya Echa, mulai bosan.
Tak ada sahutan.
‘Aku seperti obat nyamuk, huh’ batin Echa kesal.
Tiba\-tiba,
Angelia berhenti, melihat ada sebuah pohon besar yang penuh dengan kabut hitam pekat dan banyak akar\-akar serabut di pohon itu.
“Ada apa Angelia?” Tanya Echa, berdiri di belakang Angelia.
“Lihatlah, itu seperti pohon besar yang rimbun dan sangat besar. Namun, seperti pintu untuk lima orang, tanpa mengantri” Sahut pangeran Virga, menunjuk pohon besar di depan.
“Itu pohon apa pohon? Seram amat,” Ucap Meicha, berdiri di samping kanan Echa.
“Kalian diamlah!! Mereka tak suka di bicarakan” Sahut pangeran Lexus, berdiri di samping kanan Meicha.
“Apakah kamu pernah kemari?” Tanya Echa.
“Hmm, ten\-tu saja ti\-dak.” Jawab pangeran Lexus terbata\-bata.
‘Sial, aku lupa, semoga mereka tak curiga’ batin pangeran Lexus.
“Echa,” Panggil Angelia, menengok Echa.
“Iya Angelia, ada apa?” Tanya Echa.
“Kalian bersiaplah, aku merasa ada sesuatu dalam pohon itu” Ucap Angelia.
“Baiklah,” Sahut Echa.
“Kami siap,” Jawab pangeran Virga.
“Meicha juga siap Angelia,” Ucap Meicha.
“Aku pun juga siap,” Sahut pangeran Lexus.
Mereka pun mulai melangkah mendekati pohon besar itu.
~~~~~~~~~~~~ ¤¤¤¤ ~~~~~~~~~~~~
Note : Maaf Jika Bahasa dan Penulisan Saya Kurang Rapi. Selamat Membaca☺. Jangan Lupa Like dan Vote. Serta, Dukung terus karya aku. Terimakasih.