Princess Moon and Prince Vampires

Princess Moon and Prince Vampires
Putri Lily



Ruang pertemuan,


Para perwakilan klan pun berkumpul di ruang pertemuan.


“Selamat kepada Pangeran Vanaya,” Ucap dewa Antonio.


“Terima kasih.. Hehe” Sahut pangeran Vanaya, duduk di bangkunya.


“Terimalah ini Pangeran,” Ucap dewi Grasela.


Dewi Grasela menerbangkan sebuah liontin perak menuju pangeran Vanaya.


“Apa ini?” Tanya pangeran Vanaya.


“Ini hadiah bagi yang berhasil mengalahkan semua perwakilan klan” Ucap dewa Antonio.


‘Dewi Grasela kenapa tak bilang? Jika ada hadiah.. Huh’ batin pangeran Radoz.


“Baiklah,” Sahut pangeran Vanaya, memakainya.


Dewi Grasela dan dewa Antonio pun tersenyum.


‘Bagus sekali, dengan ini kemampuannya akan di segel sebagian’ batin dewi Grasela.


Para perwakilan klan pun bertepuk tangan.


‘Angelia? Apa pendapatmu mengenai liontin itu’ kotak batin Echa.


‘Kau tak perlu kawatir Echa.’ Kotak batin Angelia.


“Selamat sayang,” Ucap putri Binca, berdiri mendekat dan mencium pipi kanan pangeran Vanaya.


‘Apa yang mereka lakukan?’ batin putri Lily.


‘Generasi klan Devil memang tak punya aturan’ batin dewi Grasela.


“He’em” Batuk jaim dewa Antonio.


“Pergilah,” Ucap pangeran Vanaya.


“Baiklah sayang,” Sahut putri Binca, kembali duduk di kursinya.


“Baiklah, selamat bersenang-senang” Ucap dewi Grasela, berdiri dan melangkah keluar ruangan.


Dewa Antonio pun melangkah mengikuti dewi Grasela.


Para perwakilan klan pun mulai sibuk berbincang dan melangkah ke luar ruangan.


“Tunggu” Teriak pangeran Vanaya, duduk di kursinya.


Para perwakilan klan pun berhenti melangkah.


“Putri Lily, kemarilah.” Ucap pangeran Vanaya.


‘Apa yang telah ku perbuat dengan pangeran Devil itu?’ batin putri Lily, gemeteran.


“Ada apa sayang? Kenapa menyuruh putri Lily tinggal?” Tanya putri Binca, berdiri dan mendekati pangeran Vanaya.


“Kalian semua pergilah!!” Tegas pangeran Vanaya.


“Baiklah, aku pergi sayang.” Ucap putri Binca, mencium pipi kanan pangeran Vanaya dan melangkah keluar ruangan.


Para perwakilan klan pun melangkah keluar kecuali putri Lily. Bahkan, Angelia, Echa, Meicha, pangeran Virga dan pangeran Lexus pun keluar ruangan.




Di sisi luar Mension,



Angelia, Echa dan Meicha berdiri di teras belakang Mension.



“Apa yang terjadi? Kenapa pangeran Vanaya ingin bersama putri Lily?” Tanya Echa, berdiri di samping Angelia.



“Iya, kenapa dengan mereka?” Sahut Meicha, berdiri di samping Echa.



Tak ada sahutan.



~~~~~~~~~~~~ ¤¤¤¤ ~~~~~~~~~~



Di sisi lain ruang pertemuan,



Putri Lily berdiri di dekat kursi duduknya dekat pintu.



“Halo Putri Lily?” Ucap pangeran Vanaya, melangkah mendekati putri Lily.



“Ja\-ngan mendekat!!” Sahut putri Lily, mundur perlahan.



Pangeran Vanaya pun melangkah semakin mendekat.



“Ada apa Putri Lily?” Tanya pangeran Vanaya, tersenyum dan menutup pintu dengan kekuatannya.



Braaakk..



Pintu pun tertutup dan terkunci.



“A\-pa yang kau la\-ku\-kan pa\-nge\-ran Vanaya?” tanya putri Lily, gemeteran dan melangkah mundur sampai di pintu.



Pangeran Vanaya pun semakin dekat tinggal dua langkah lagi dari putri Lily. Namun, ia berhenti melangkah.



Sedangkan, putri Lily ketakutan dan duduk di lantai, menutup matanya.



“Lihatlah aku Putri Lily?” Ucap pangeran Vanaya, merubah penampilannya menjadi orang lain.



Puttri Lily pun masih menutup matanya.



“Putri Lily?” Ucap Pangeran Vanaya lembut, merubah suara menjadi suara orang lain.



Putri Lily pun kaget mendengar suara yang memanggilnya, dan ia pun membuka matanya dan melihat ada seseorang yang ia sangat rindukan.



Putri Lily pun berdiri dan berlari ke seseorang itu dan memeluknya.



‘Bagus putri Lily’ batin pangeran Vanaya.



“Pangeran Albino? Aku sangat merindukanmu.” Ucap putri Lily, masuk memeluk erat pangeran Vanaya yang merubah diri.



“Aku juga merindukanmu Putri Lily,” Sahut pangeran Vanaya, membalas pelukan putri Lily.



“Bagaimana kamu bisa keluar dari perang seratus tahun yang lalu?” Tanya putri Lily, melepas pelukannya.



“Bukankah kamu bahagia? Jika aku berada di sini?” Tanya pangeran Vanaya, menggenggam kedua tangan putri Lily.



“Aku sangat bahagia pangeran Albino” Jawab putri Lily, memeluk pangeran Vanaya kembali.



Pangeran Vanaya pun membalas pelukan putri Lily.



Setelah beberapa saat, mereka melepas pelukan mereka.



“Maukah kau ikut denganku putri Lily?” Tanya pangeran Vanaya.



“Kemana pangeran Albino?” Sahut putri Lily, tersenyum.



“Kita akan bersenang\-senang putri Lily,” Ucap pangeran Vanaya.



“Baiklah,” Sahut putri Lily.



“Minumlah ini Putri.” Ucap pangeran Vanaya, memberikan sebotol minuman dari saku celananya.



“Apa ini pangeran?” Tanya putri Lily, mengambil botol minuman tadi.



"Bukankah kau sangat ingin kita bahagia selamanya?” Sahut pangeran Vanaya.



“Baiklah pangeran Albino,” Jawab putri Lily, tersenyum dan membuka botol itu dan meminumnya.



Glek..



Minuman itu pun masuk ke dalam tubuh putri Lily.



Ctar..



Suara botol jatuh dan pecah dari genggaman putri Lily.



Braaakk..



Pintu ruang pertemuan pun terbuka.



Putri Lily pun melangkah pergi tanpa sepatah kata keluar menuju gerbang utama Mension.



‘Bagus sekali putri Lily, bagus juga pangeran Albino itu ku bunuh dan ku ambil memorinya’ batin pangeran Vanaya.



Pangeran Vanaya pun keluar mencari pangeran Yixer.



~~~~~~~~~~~~ ¤¤¤¤ ~~~~~~~~~~



Di sisi lain luar Mension,




“Angelia?” Panggil Echa duduk di samping kanan Angelia.



“Hmmm” Sahut Angelia, duduk di samping kiri Echa.



“Apa sebenarnya terjadi?” Tanya Echa.



Tak ada sahutan.



“Kau pasti tau hal ini kan? Angelia,” Ucap Meicha, duduk di samping kanan Echa.



~~~~~~~~~~~~ ¤¤¤¤ ~~~~~~~~~~



Di sisi lain,



Di bawah pohon dekat taman surga.



Pangeran Vanaya pun mendekati pangeran Yixer yang tengah duduk bersama pangeran Radoz, putri Binca dan putri Kety.



“Ikutlah denganku pangeran Yixer” Ucap pangeran Vanaya, berdiri di depan pangeran Yixer.



“Ada apa sayang? Kenapa kau mengacuhkanku hari ini?” Ucap putri Binca, berdiri dan lari ke pelukan pangeran Vanaya.



“Bisakah tuan putri Binca bersabar?” Tanya pangeran Vanaya, melepas pelukan putri Binca.



Putri Binca pun kesal, dan kembali duduk lagi.



‘Semua ini pasti ada kaitannya dengan putri Angelia huh..’ batin putri Binca.



Pangeran Yixer pun berdiri dan melangkah bersama pangeran Vanaya menuju ruang pertemuan.



~~~~~~~~~~~~ ¤¤¤¤ ~~~~~~~~~~~



Di ruang pertemuan,



Pangeran Vanaya dan pangeran Yixer pun duduk di kursi mereka masing\-masing.



“Ada apa pangeran?” Tanya pangeran Yixer.



Tak ada sahutan.



Pangeran Vanaya tiba\-tiba membaca mantra.



“Komat\-kamit baca mantra.. Dengan segelas air putih, ku di sembur.. Buuurr”



Lorjo pun datang berupa asap hitam di dekat pangeran Vanaya.



“Hahaha, hamba datang pangeran,” Ucap Lorjo.



“Lorjo, jadilah diriku dan pergilah temui putri Lily dan rubahlah menjadi pangeran Albino, bawalah putri Lily ke hutan kabut” Ucap pangeran Vanaya.



“Baik pangeran,” Jawab Lorjo, berubah diri menjadi pangeran Vanaya.



Lorjo pun melangkah keluar ruang pertemuan menuju gerbang utama Mension.



Pangeran Yixer pun sedikit kaget, ada dua pangeran Vanaya di depan matanya.



“Kau pasti terkejut bukan?” Tanya pangeran Vanaya.



“Tentu pangeran,” Sahut pangeran Yixer.



“Kau akan tau pangeran Yixer.” Jawab pangeran Vanaya, tersenyum.



~~~~~~~~~~~~~ ¤¤¤¤ ~~~~~~~~~~



Di gerbang utama Mension,



Putri Lily tengah berdiri di tengah\-tengah gerbang menunggu pangeran Albino.



Lorjo yang sudah melihat putri Lily tengah menunggunya, ia segera merubah dirinya menjadi pangeran Albino dan melangkah mendekati putri Lily.



“Maafkan aku putri Lily, atas keterlambatanku ini,” Ucap pangeran Lorjo, berdiri di samping Putri Lily.



“Tak apa pangeran Albino,” Sahut putri Lily.



Mereka berdua pun keluar gerbang, menuju perbatasan hutan terlarang dan hutan kabut.



~~~~~~~~~~~~ ¤¤¤¤ ~~~~~~~~~~~



Tong



Tong



Tong



Suara gong berbunyi.



“Apa yang terjadi?” Tanya Echa, berdiri.



“Iya, ada apa ya?” Sahut Meicha, berdiri.



“Ayo kita pergi,” Ucap Angelia, berdiri dan melangkah pergi.



Mereka pun keluar taman surga, menuju mension. Namun, di tengah perjalanan, para perwakilan klan berkumpul di luar Mension.



“Apa yang terjadi?” Tanya Echa, melangkah mendekati perkumpulan.



“Entahlah,” Sahut Meicha, mengikuti Echa dan Angelia.



~~~~~~~~~~~~~ ¤¤¤¤ ~~~~~~~~~~



Perwakilan klan pun semua sudah berkumpul, berdiri di luar Mension. Sedangkan, dewa Antonio dan dewi Grasela pun mengumumkan sesuatu.



“Semua nya di harapkan tenang,” Ucap dewi Grasela.



“Apakah ada salah satu di antara kalian meninggalkan Mension tanpa izin? Atau ada penyusup masuk ke hutan terlarang?” Tanya dewa Antonio.



Para perwakilan klan mulai panik, terkecuali Angelia, pangeran Virga dan pangeran Vanaya.



Dewi Grasela pun menghitung dan mengingat semua perwakilan klan.



“Di mana putri Lily?” Tanya Dewi Grasela.



“Putri Lily?” Sahut putri Kety.



“Iya, kemana dia?” Tegas pangeran Radoz.



“Aku akan mencarinya,” Ucap Dewa Antonio.



“Tunggu!!” Ucap Angelia.



“Ada apa Angelia?” Tanya dewi Grasela.



‘Kenapa juga putri Angelia itu menghalanginya, apakah dia tau?’ batin pangeran Vanaya.



~~~~~~~~~~~ ¤¤¤¤ ~~~~~~~~~~~



Note : Maaf Jika Bahasa dan Penulisan Saya Kurang Rapi. Selamat Membaca☺. Jangan Lupa Like dan Vote. Serta, Dukung terus karya aku. Terimakasih.