
“Ijinkan putri Angelia mencarinya dewa Antonio?” Ucap Angelia membungkuk.
Semua perwakilan klan pun menyingkir melihat Angelia membungkuk.
‘Angelia ini, sok baik,’ batin pangeran Vanaya.
“Pergilah Angelia,” Ucap dewa Antonio.
Angelia pun melangkah memasuki Mension. Tujuan Angelia adalah keluar mengejar putri Lily.
‘Apakah dia tau?’ batin pangeran Vanaya.
“Kami juga ikut mencari dewa Antonio,” Ucap Echa dan Meicha, membungkuk.
“Baiklah,” Sahut dewa Antonio.
Echa dan Meicha pun melangkah, mengikuti Angelia.
Tanpa ada yang sadar, pangeran Vanaya membaca mantra.
“Komat-kamit baca mantra.. Dengan segelas air putih, ku di sembur.. Buuurr”
‘Bawalah putri Lily sesegera mungkin ke dimensi manusia Lorjo,’ kontak batin pangeran Vanaya.
‘Baik pangeran,’ kontak batin Lorjo.
“Ada lagi?” Tanya dewa Antonio, melirik pangeran Virga.
“Pangeran Virga, akan ikut mencari dewa Antonio,” Ucap pangeran Virga, membungkuk.
“Mencari siapa Pangeran Virga?” Tanya dewa Antonio, meyakinkan.
Pangeran Virga pun terkejut dengan pertanyaan dewa Antonio. Lalu, ia tersenyum. Kemudian, pangeran Vanaya pun membaca mantra kembali tanpa sepengetahuan mereka.
“Komat-kamit baca mantra.. Dengan segelas air putih, ku di sembur.. Buuurr”
‘Bantulah Lorjo, dari para putri dan pangeran yang menyusul nantinya Kunak,” Kontak batin pangeran Vanaya.
‘Baik pangeran, Kunak siap’ kontak batin Kunak.
"Baiklah, ada lagi?” Sahut dewa Antonio.
Pangeran Virga pun melangkah menyusul Echa, Meicha dan Angelia.
Tiba-tiba, pangeran Lexus pun melangkah menyusul, tanpa ada sepatah kata.
“Baiklah, saya rasa cukup, yang lain tolong mencari di sekitar Mension” Ucap dewa Antonio.
“Baik dewa Antonio,” Ucap perwakilan klan.
Mereka semua pun menyebar ke segala arah, mencari sumber masalah.
Di sisi lain perbatasan hutan terlarang dan hutan kabut,
“Apakah kau lelah putri Lily?” Tanya Lorjo.
“Tidak, hanya terlalu letih.” Sahut putri Lily.
“Aku akan menggendongmu putri Lily,” Ucap Lorjo, menggendong putri Lily.
Putri Lily pun tersenyum.
‘Dasar putri Kelinci, lihat tampangku yang tampan ini pun tak bisa membedakan’ batin Lorjo.
Setelah beberapa saat, Mereka pun akhirnya tiba di hutan kabut.
‘Pulas sekali tidurnya? Emang gak berat apa?’ batin Lorjo.
~~~~~~~~~~~ ¤¤¤¤ ~~~~~~~~~~~
Di sisi lain,
“Angelia? Apakah kau yakin? Kita keluar gerbang Mension ini?” Tanya Echa, berjalan di samping kanan Angelia.
“Iya Angelia,” Sahut Meicha berjalan di samping kanan Echa.
Tak ada sahutan.
“Kalian cepat sekali,” Tanya pangeran Virga, berjalan dengan kecepatannya sejajar dengan Angelia.
“Kau mengikuti kami?” Tanya Echa terkejut.
“Lihatlah di belakang masih ada lagi,” Sahut pangeran Virga.
Echa dan Meicha pun menengok ke belakang.
“Pangeran Lexus??” ucap Meicha.
‘Kenapa pangeran Lexus pun mengikuti juga?’ batin Echa, terkejut.
Sedangkan, pangeran Lexus yang tengah berjalan mengejar, pun bingung. ‘Kenapa mereka menoleh ke belakang? Apakah aku terlalu tampan?’ batin pangeran Lexus, tersenyum.
‘Kenapa pangeran Lexus tersenyum?’ batin Echa, lalu menengok Meicha. ‘Kenapa Meicha juga tersenyum? Mereka ini!!’ batin Echa, kesal.
“Kita tertinggal Meicha,” Tegas Echa, kembali ke arah Angelia yang sudah di luar gerbang Mension.
“Baiklah,” Sahut Meicha, tersenyum dan kembali ke arah Angelia.
Setelah beberapa saat, mereka melihat hutan, tanda sebentar lagi sampai di perbatasan. Lalu, mereka semua terbang dengan sayap mereka masing\-masing.
Setelah beberapa saat kemudian, Mereka pun sampai di perbatasan hutan terlarang dan hutan kabut.
~~~~~~~~~~~~ ¤¤¤¤ ~~~~~~~~~~~
Di sisi lain dalam Mension,
“Pangeran? Bagaimana ini?” Tanya pangeran Yixer, duduk di kursi koridor Mension.
“Tenanglah, mereka sudah tak ada dalam dimensi ini, hahaha,” Sahut pangeran Vanaya, duduk di samping kanan pangeran Yixer.
“Bagus sekali, haha,” Sahut pangeran Yixer.
“Bahagia sekali kalian?” Tanya dewa Antonio, tiba\-tiba muncul dan berdiri di depan mereka.
“Apakah aku harus bersedih dewa Antonio?” Tanya pangeran Vanaya.
“Tidak ada yang melarang, bukankah sebaiknya pangeran Vanaya mencari keberadaan putri Lily?” Sahut dewa Antonio.
“Baiklah, aku akan mencarinya,” Jawab pangeran Vanaya, berdiri dan melangkah pergi menuju taman surga.
“Dengan senang hati dewa Antonio,” Sahut pangeran Yixer, mengikuti pangeran Vanaya.
Sedangkan, dewa Antonio hanya bisa melihat mereka tanpa berkata apapun.
Setelah beberapa saat,
“Apakah kau menemukannya Dewa Antonio?” Tanya dewi Grasela.
“Belum, namun,” Ucap dewa Antonio, berdiri di koridor.
“Ada apa? Apa ada petunjuk?” Tanya dewi Grasela, berdiri di depannya.
“Hmm.. Belum,” Sahut dewa Antonio, mengalihkan pembicaraan setelah ia melihat ada mata\-mata di ujung koridor.
“Lalu, apa yang akan dewa Antonio bicarakan?” Tanya dewi Grasela.
“Aku lapar,” Ucap dewa Grasela, mengedipkan matanya.
“Laparmu sungguh terlalu dewa Antonio,” Sahut dewi Grasela, berbalik dan melangkah menuju taman surga.
Dewa Antonio pun mengikuti dewi Grasela. Sedangkan, mata\-mata tadi sudah pergi. Namun, dewi Grasela berhasil membuat angin untuk mengikuti mata\-mata itu.
~~~~~~~~~~~~ ¤¤¤¤ ~~~~~~~~~~
“Kita di mana ini Pangeran Albino?” Tanya putri Lily, bangun dari tidurnya.
“Kita sudah berada di Hutan Kabut Putri,” Sahut Lorjo, meletakkan putri Lily yang masih di gendong.
“Kenapa kita kemari?” Tanya Lorjo, duduk di samping Lorjo.
“Aku akan membawamu pergi, bersiaplah,” Ucap Lorjo, duduk di samping kanan putri Lily.
“Kemana?” Tanya putri Lily lagi.
“Kau akan tau,” Sahut Lorjo.
Lorjo pun menggandeng tangan kanan putri Lily dengan tangan kirinya. Sedangkan, tangan kanannya mengeluarkan asap hitam, dan muncullah sebuah lubang di udara seperti portal atau dimensi.
“Apa itu?” Tanya Putri Lily, terkejut.
Tak ada sahutan.
Lorjo pun berdiri dan menarik putri Lily untuk masuk ke dalam lubang dimensi itu.
“Aku takut,” Ucap putri Lily.
“Bukankah aku bersamamu?” Sahut Lorjo.
Putri Lily dan Lorjo pun mulai masuk ke lubang itu, hingga mereka hilang dan portal dimensi itu menghilang.
~~~~~~~~~~~ ¤¤¤¤ ~~~~~~~~~~
Di sisi hutan kabut,
“Angelia, Kau tau kan? Hutan ini sangat berbahaya,” Tanya Echa, berdiri di samping kanannya.
“Mereka disini,” Ucap Angelia, melihat ke arah depan.
“Mereka siapa Angelia?” Tanya Meicha, berdiri di samping kanan Echa.
“Auranya seperti salah satu pengawal pangeran Vanaya,” Ucap pangeran Virga.
“Apa maksudmu pangeran Virga?” Tanya Echa.
“Itu hanya dugaanku,” Jawab pangeran Virga.
“Hihihi..” Tawa seseorang.
“Suara apa itu?” Tanya Echa.
“Itu suara salah satu pengawal pangeran Vanaya” Sahut pangeran Lexus, berdiri di samping kanan Meicha.
Sreeett..
Cakar Kunak menyerang pangeran Lexus.
“Ahh..” teriak seseorang.
Angelia menghadang Kunak itu, hingga membuat Kunak terpental.
"Apa yang terjadi? ah, kabut ini mengganggu," Ucap Echa kesal.
“Angelia, Kau tak apa?” Tanya Meicha, terkejut melihat Angelia di depan pangeran Lexus.
“Apakah kau baik\-baik saja?” Tanya pangeran Virga.
“Echa, Meicha lindungi mereka” Ucap Angelia.
“Baik,” Sahut Echa.
“Tenanglah, aku yakin bisa melawannya” Ucap pangeran Virga, percaya diri.
“Ini kekuasaan mereka,” Sahut Angelia.
Mendengar ucapan Angelia, pangeran Virga hanya diam dan tersenyum.
Ctik
Echa dan Meicha menjentikkan jarinya secara bersamaan.
Cling
Cincin bulan milik Echa dan Meicha terbang keluar membentuk ruang lingkup untuk melindungi mereka berlima.
“Hihihi” Tawa Kunak.
Ctik
Angelia menjentikkan jarinya.
Cling
Cakram bintang milik Angelia terbang mengganda menuju Kunak berada.
Wuss..
Wuss..
Suara cakram Angelia berpindah\-pindah tempat.
“Hihihi” Tawa Kunak.
“Dia lincah juga,” Ucap pangeran Virga, terheran.
“Apakah kamu pernah berhadapan dengannya?” Tanya Echa.
“Tidak,” Sahut pangeran Virga.
“Aku pernah menghadapi para pengawalnya,” Sahut Meicha.
“Hihihi” Tawa Kunak.
Mereka semua pun terdiam, melihat cakram bintang milik Angelia masih mengejar Kunak.
~~~~~~~~~~~~ ¤¤¤¤ ~~~~~~~~~~
Note : Maaf jika bahasa dan cara penulisan saya kurang rapi. Selamat membaca dan jangan lupa Like dan Coment ☺. Jangan lupa Vote sebanyak\-banyaknya.