
Pintu ruanganku tiba-tiba terbuka tanpa ketukan terlebih dahulu, dan pelakunya adalah Kevin yang dengan lesu langsung duduk di depan meja kerjaku. Ini masih pukul tiga sore dan wajahnya sangat kusut. Kupikir tak ada proyek yang memusingkan sejauh ini, tapi wajahnya itu menunjukkan kalau ia baru saja menyelesaikan lima rapat sekaligus.
“Ada masalah?” tanyaku, masih berkutat dengan laptop di hadapanku. Hari ini aku ingin pulang tepat waktu, aku sangat mengantuk.
“Masalah besar, Kak.” Kevin memandangi langit-langit ruang kerjaku. Apa ini yang terjadi ketika kalian memutuskan untuk di tunangkan? Kupikir tunangannya cantik, lalu apa masalahnya?
Apa Kevin baru saja ketularan keanehan Dimitri? Kevin baru saja mengikuti reaksi yang selalu di tunjukkan Dimitri belakangan ini. Ada apa dengan kedua pria ini?
“Apa karena pertunangan itu?”
“Aku masih bingung kenapa harus wanita itu yang menjadi tunanganku, ini yang sedang jadi masalah,” keluhnya.
“Jadi kamu mengenal wanita itu?”
Kevin hanya mengangguk. Jika Kevin mengenalnya, maka Dimitri juga mengenalnya. Wanita itu benar-benar teman Dimitri sepertinya. Aku terdiam, sebenarnya mereka berdua memiliki masalah, tapi tak menceritakannya padaku.
“Setidaknya wanita itu cantik, Vin, kamu tak perlu melarikan diri.” Dari sekin banyak pertanyaan yang berlari-lari di kepalaku, justru kalimat itu yang terlontar.
“Aku tetap lebih memilih Kakak di banding wanita manapun.”
Entah ini hanya perasaanku saja, tapi aku merasa menjadi pihak yang tak tahu apa-apa di sini. Kedua pria ini juga tak memberitahu apapun, seolah aku ini orang lain. “Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyaku.
Kevin menatapku. “Aku juga gak tahu, kalau Dimitri dari awal tahu siapa wanita yang menjadi tunanganku, harusnya dia mencegahku. Bukan malah menghilang.”
“Dimitri bersamaku kemarin.”
Wajah Kevin masih belum membaik sedikitpun, ia malah terlihat semakin frustasi. “Aku sebenarnya tak boleh memberitahu Kakak masalah ini, tapi Dimitri itu juga pasti tak akan memberitahu Kakak,” ucapnya.
Aku hanya memandangnya, meminta penjelasan lebih lanjut. Aku butuh sedikit mengerti pokok permasalahan ini. Masalah Dimitri, aku akan mencoba menyelesaikan secara perlahan. “Wanita itu adalah mantan kekasih Dimitri.”
Aku benar-benar menganga mendengar kalimat Kevin. Michelle adalah mantan kekasih Dimitri, dan Michelle adalah adik Richard. Lalu kenapa ia bisa bertunangan dengan Kevin?
“Aku cuma bisa kasih tahu itu aja, Kak. Bukan hakku untuk kasih tahu semua cerita itu.”
Kepalaku benar-benar sakit sekarang karena memikirkan semua ini. Jadi Richard dan Dimitri saling mengenal? Itulah kenapa mereka berdua mengatakan hal yang sama. Ini terdengar sedikit masuk akal sekarang, ketika kemarin aku menanyakan tentang Michelle pada Dimitri, ia sama sekali tak menjawab apapun.
Sekarang ini rasanya aku sedang terjebak dalam dua dinding yang mencoba memojokkanku. Mungkin aku tak seharusnya seperti ini, aku harus mendengarkan cerita dari Dimitri juga, dan kupikir Richard juga. Apa ini semacam kebetulan? Kenapa aku bisa terkait dengan pria-pria itu?
**
Sore ini aku benar-benar pulang tepat waktu, pukul lima dan aku sedang berada di dalam lift untuk turun ke lobi. Aku ingin tidur, karena waktu tidurku di korbankan secara paksa kemarin malam oleh Dimitri yang dengan konyolnya hanya menghabiskan malam di balkon dengan memandangi lampu gedung dan juga jalanan yang sangat gemerlap.
Pintu lift terbuka dan aku segera keluar. Aku menghentikan langkahku ketika melihat Dimitri sedang berdiri di tengah-tengah lobi dengan seorang wanita, tunangan Kevin. Jadi benar jika mereka mantan kekasih. Kenapa rasanya sedikit sakit ketika menghadapi pemandangan ini. Aku tak mungkin begitu saja mengabaikan mereka lalu berlalu begitu saja, kan?
Aku menatap ponsel di tanganku, ini bisa menjadi alasan. Kurasa Dimitri belum melihatku karena jarak kami cukup jauh. Aku segera memasang wajah datar dan sibuk men-scroll feeds instagram yang sebenarnya sama sekali tak ada yang menarik. Aku benar-benar tak melihat jalanku sampai aku bertabrakan dengan seseorang, dan kami jatuh secara bersamaan.
Barang-barang bawaan orang yang kutabrak berserakan, aku membantu memungutinya karena aku merasa bersalah. “Maafkan aku,” ucapku sembari merapikan map yang di bawanya.
“Saya yang minta maaf, sepertinya saya tak memperhatikan jalan,” ucapnya masih menunddukkan kepala sambil membereskan map yang kubereskan juga.
Kami berdiri bersamaan, sepertinya pria ini masih muda. Aku tak pernah melihatnya di kantor ini. Pria muda itu akhirnya menatapku, yang juga sedang menatapnya dengan senyuman. “Kamu karyawan baru?”
Pipinya merona. Benarkah itu? Hanya karena melihatku tersenyum? Yang benar saja. Aku menertawakan itu dalam hati. Apa aku masih memiliki efek itu untuk pria muda sepertinya? Kenapa ini sangat konyol sekali?
“Iya, saya karyawan magang bagian multimedia.” Pria muda ini masih menundukkan kepalanya, entah karena merasa bersalah atau malu. Hal itu terlihat sangat imut.
Aku melihat tanda pengenal yang ia gantungkan di leher. Liam. Aku akan mengingat namanya. “Salam kenal kalau begitu.” Aku mengulurkan tanganku di hadapannya.
Pria itu menatap tanganku lalu wajahku bergantian, sedikit ragu untuk menjabat tanganku. Aku memberinya kode dari wajahku untuk meraih tanganku. “Lain kali aku juga akan berhati-hati ketika berjalan,” ucapku ketika ia sudah menjabat tanganku.
Liam mengangguk lalu segera berlalu. Aku hanya menatap punggungnya yang membelakangiku dengan tersenyum. Dulu ketika aku masih menjadi karyawan magang juga canggung sama sepertinya. Melihatnya membuatku mengenang masa-masa mudaku yang membahagiakan. Yah, andai saja waktu bisa berputar maka aku akan kembali ke masa mudaku, dan tak merusak hubungan persahabatanku dengan Dimitri dengan memintanya tidur denganku.
Itu bagian dari penyesalan yang sepertinya akan selalu kusesali. Padahal aku sudah setua ini dan masih melakukan kesalahan seperti gadis remaja. Aku tahu tak pernah ada jalan kembali untuk semua itu. Aku membalikkan tubuhku untuk kembali berjalan sebelum seseorang menghadangku.
Dimitri.
Ia pasti mendengar keributan tadi dan menyadari kehadiranku. Harusnya aku langsung ke basement tanpa harus melewati lobi dan bertemu Dimitri. Setelah mengetahui kalimat Kevin tadi, entah kenapa rasanya sedikit canggung ketika bertemu langsung seperti ini. Aku tak tahu apa yang salah denganku.
“Hai, Al. Kamu di sini juga?” sapaku seceria mungkin. Memberinya senyum palsu terbaikku. Aku belum pernah melakukannya, semoga saja wajahku tak semengerikan yang kubayangkan.
“Aku antar pulang,” ucapnya tegas.
“Gak perlu, Al. Aku mau langsung istirahat.” Aku mencoba melepaskan tanganku yang ia genggam.
“Kamu pikir aku akan berbuat apa?” tanyanya dengan geli, tapi wajahnya itu lebih pas jika di sebut dengan seringai. Apa ini karena pertemuannya dengan mantan pacar yang aku tak tahu kapan terjadinya. Mungkin SMA.
Aku kembali mengulas senyum. “Aku tak berpikir apapun, aku hanya ingin waktuku sendiri. Aku akan pulang sendiri.” Aku segera berlalu ketika genggaman tangannya terlepas begitu saja. Genggaman itu tak seerat biasanya, sangat mudah terlepas bahkan tanpa tenaga ekstra.
**
Pada akhirnya sepulang kerja tadi, aku tak pulang kerumah. Pikiranku tak bisa tenang ketika bertemu Dimitri tadi, ia terlihat marah, dan juga kesal. Setidaknya ketika ia bertemu atau bersamaku, ia tak pernah menunjukkan raut wajah seperti itu. Apa ini karena wanita itu?
Terlalu banyak pertanyaan yang berlarian di kepalaku, yang aku sama sekali tak tahu jawabannya. Bahkan novel yang kubeli ketika mampir di toko buku tadi tak kusentuh sama sekali. Aku hanya mampu menyelesaikan sampai tiga halaman, lalu pikiran tentang Dimitri kembali merasuki pikiranku.
Aku tak mungkin sedang jatuh cinta, kan? Aku tak pernah merasa segelisah ini sebelumnya jika memikirkan Dimitri. Yang kutahu ketika jatuh cinta, jantungmu akan berdebar, dan hatimu berbunga-bunga ketika melihat pria yang kita cintai. Aku tak termasuk dalam dua kategori itu. Lagipula untuk apa aku berpikir tentang jatuh cinta? Aku tak akan jatuh cinta pada sahabatku sendiri.
Ponselku berdering. Satu pesan masuk.
Richard
Aku tersenyum. Harusnya aku jatuh cinta pada pria seperti Richard, tapi pria ini juga sama menyimpan rahasia seperti Dimitri. Mereka tak lebih baik, jadi aku tak ingin memilih mereka.
Sedang memikirkanmu.
Aku kembali tersenyum lagi, aku tak tahu apa yang sedang kulakukan, hatiku seolah menolak semua yang tanganku kerjakan. Balasan Richard sangat cepat.
Richard
Wah, aku jadi semakin merindukanmu jika begini. Aku ingin meneleponmu, tapi aku sedang rapat. Aku sangat bosan mendengar pria tua itu berceloteh.
Sebenarnya hubungan apa yang kujalani dengan Richard? Pria itu tak pernah mengakui perasaannya, kami hanya saling melemparkan rayuan dan kata-kata manis. Dia pria baik, tapi semakin aku menemuinya, rasanya semakin salah.
Ada apa?
Jika aku tak bisa menjelaskan hubungan yang kujalani saat ini, maka aku sebaiknya mundur.
Richard
Aku ingin mengenalkan adikku padamu. Dia baru pulang dari Singapor, sebenarnya aku ingin langsung mengenalkan kalian, tapi ada urusan lain yang harus kukerjakan ketika adikku sampai di Jakarta. Kapan kamu ada waktu?
Ya, urusannya adalah bertunangan dengan Kevin. Kenapa aku merasa di bodohi saat ini? Lucu sekali. Aku meletakkan ponsel itu di meja samping ranjang, aku takkan membalas pesan itu. Aku berterima kasih pada Nabila yang mengenalkanku pada pria hebat seperti Richard, tapi sepertinya aku tak cocok dengannya.
Tak ada kesedihan yang kurasakan, hanya kesal dan muak. Mungkin ini karena aku selalu merasa bahagia di tengah kedua sahabat priaku. Aku berpikir aku bisa terus bersahabat dengan mereka sampai kami berumah tangga nanti. Impian yang klise dan konyol.
Aku belum menemukan kebenaran dari semua ini. Aku hanya tahu hubungan Dimitri dan Michelle di masa lalu, lalu apa setelahnya? Dan yang sudah sangat jelas adalah alasan di balik Dimitri melarangku menemui Richard. Apa mereka pikir aku anak kecil yang belum boleh mengetahui kejamnya dunia?
Aku benci ketika tak mengetahui apapun seperti ini. Mungkin itu memang privasi mereka, tapi aku bukan orang lain di antara mereka. Tak bisakah mereka menceritakan padaku yang sebenarnya saja?
Ini sudah pukul delapan malam, dan aku belum memejamkan mata sama sekali, padahal rasa kantukku sudah membuat kepalaku semakin sakit. Aku memilih bangkit dari ranjang, lalu berjalan menuju kotak obat yang kusediakan di dekat dapur. Aku pernah menyimpan obat tidur di sana. Dulu ketika aku terlalu banyak bekerja dan sulit tidur, aku akan mengkonsumsi obat ini agar bisa beristirahat.
Kebiasaan buruk yang sudah kuhindari, tapi rasanya aku harus mencobanya lagi. Aku tak pernah stress di luar pekerjaanku. Bisa di bilang kehidupan pribadiku sangat bersih, tak pernah ada riwayat kebiasaan buruk, kecuali mengkonsumsi alkohol dan bercinta dengan Dimitri. Selebihnya, aku hidup selayaknya wanita normal.
Kedua orang tuaku juga sangat menyayangiku, aku tak pernah kekurangan kasih sayang sedikitpun, walau aku tinggal jauh dari mereka. Temanku memang hanya Nabila, Kevin, dan Dimitri, tapi aku bahagia memiliki mereka. Aku lebih berpikir tentang kualitas di banding kuantitas, lagipula aku sibuk kerja.
Aku mengambil dua kapsul sekaligus, dan segera meminumnya. Dosis obat ini sangat tinggi, bahkan dokter menyarankanku untuk tak mengonsumsi obat sejenis ini lagi. Aku adalah tipe orang yang mudah memikirkan apapun dengan ekstra. Aku akan stress jika tak menemukan jawaban dari suatu permasalahan, itulah yang membuatku memilih fakultas Ekonomi, karena angka memberi jawaban yang pasti.
Di saat seperti ini, aku sangat merindukan kedua orang tuaku. Apa pendapat mereka ketika tahu anaknya hidup seperti ini? Aku harap mereka akan selalu menyayangiku apapun keadaanku. Aku bersandar di meja dapur, lampu ruangan sengaja tak kunyalakan, aku tak suka cahayanya yang terlalu terang menyinariku.
Perlahan air mata itu mengalir, aku bahkan tak tahu penyebabnya, air mata itu hanya mengalir begitu saja. Mungkin aku terlalu lelah, aku terlalu banyak berpikir, rasanya hanya terlalu sesak. Jadi aku hanya mengeluarkannya saja, aku akan lebih baik setelah mengeluarkan semua air mata ini.
Aku bukan tipe orang yang bisa menangis dengan mudah, ketika aku sudah menangis seperti ini, maka aku benar-benar lelah dengan semuanya. Tubuhku merosot ke lantai, dan air mata itu belum mau berhenti, beruntung aku hanya sendiri mala mini. Aku tak suka ketika orang lain melihatku menangis, apapun penyebabnya, membuatku terlihat lemah di mata orang lain.
Keberuntunganku ternyata tak bertahan lama, samar-samar aku bisa mendengar suara pintu apartemenku yang terbuka. Itu pasti Dimitri, karena hanya dia yang tau kode apartemenku. Ah, air mata sialan ini bekum mau juga berhenti.
“Li,” panggilnya.
“Liliana!”
Aku masih duduk di lantai, aku tak bisa menjawab panggilannya, atau suara sesenggukanku akan terdengar jelas. Aku membekap mulutku dengan kedua tanganku. Aku tahu hal ini tak akan membantu, pria itu pasti akan menemukanku.
“Kamu kenapa?” tanyanya. Aku tak bisa melihat wajahnya karena ruangan yang gelap.
Dengan sigap, ia segera menggendong tubuhku, lalu membaringkan tubuhku di ranjang dengan air mataku yang masih menggenang. Air mata sialan ini.
“Ada apa?” Dimitri duduk di tepi ranjang, menghapus air mataku yang masih tersisa di pipiku. Tak ada raut kemarahan di wajahnya, hanya ada kelembutan seperti biasanya.
Aku hanya menggeleng, dan menatapnya.
“Ada apa kesini?” tanyaku dengan sisa sesenggukan yang masih belum hilang juga.
“Merindukanmu mungkin?” ucapnya dengan tersenyum.
Ucapan Nabila segera berputar di kepalaku. Aku bisa terus bersahabat dengannya, tapi aku tak bisa melanjutkan hubungan aneh ini. Aku menepuk sisi tempat tidurku yang kosong, memintanya untuk berbaring di sampingku. Ia menurutiku, dan segera tidurdi sampingku. Aku langsung memeluknya dan menyembunyikan wajahku di dadanya. Dimitri membalas dengan semakin erat memelukku.
“Kenapa kamu menangis?” tanyanya lagi.
Aku menggeleng. Aku tak tahu kenapa aku menangis, apa yang akan kuceritakan padanya kalau begitu?
“Apa karena pria itu?”
Aku mendongak menatap wajahnya yang sedang mengamatiku. “Kamu juga tak akan memberitahuku masalahmu, kan? Jadi kurasa kita impas.”
“Aku tak memiliki masalah apapun, Li.”
“Ya, kamu akan terus berkata seperti itu sampai kamu merasa harus memberitahuku. Tapi, jika nanti kamu akan menceritakannya padaku, kuharap kita bisa tetap menjadi sahabat.”
**
Haii 😁 maaf kalau part ini sedikit membosankan. semoga kalian tetep nikmatin ya.
Makasih buat yang udah menyempatkan baca, love u pokoknya 😘
Happy reading 😊