
Hai, jadi menurut kalian lebih greget kalau Dimitri selingkuh beneran atau nggak? Komen, ya^^
Setelah berdebat dengan Dimitri, aku akhirnya bisa kembali mendatangi toko bunga milikku. Aku rindu memiliki kesibukan, dan hamil bukan suatu hambatan. Tubuhku cenderung jadi mudah lelah jika tak melakukan kegiatan apapun, dan tak ada yang bisa kugunakan juga untuk mendistraksi pikiranku.
Apalagi setelah pertemuanku yang tak di sengaja itu, atau mungkin semua itu adalah kesengajaan yang di buat agar terlihat alami dan membodohiku. Sampai sekarang aku belum menemukan jawaban apapun, jawaban untuk semua pikiranku yang terus menerus bertumpuk ini.
Siang kemarin menjadi siang yang sangat buruk untukku. Setiap kali aku sedang merasakan perasaan bahagia, selalu ada satu ataupun dua hal yang akan meruntuhkan kebahagiaan itu. Apa Jakarta sesempit ini hingga aku bisa bertemu dengan Evelyn, dengan tanpa kesengajaan? Dan Dimitri sama sekali tak mengerti tentang hal itu.
Karena pada akhirnya, siang itu kami berakhir dengan makan siang bersama. Bisa kalian bayangkan bagaimana rasanya ada di posisiku, kan? Aktingku harus semakin ku maksimalkan lebih keras lagi, dan ya, itu adalah yang terburuk.
“Kalian sering makan di sini?” tanya Evelyn siang itu. Semua obrolan dan pertanyaan Evelyn hanya di tujukan untuk Dimitri, aku hanya menjadi pelengkap saja di sana.
“Ini pertama kalinya, sepupu yang rekomendasiin,” jawab Dimitri.
“Makanan di sini udah terkenal karena rasanya yang enak banget.”
“Soalnya Lili ngidam mau makanan Sunda.”
Aku benar-benar hanya menikmati makananku, dengan sesekali melirik Dimitri dan juga Evelyn. Rasa makanan di sini memang sangat enak, tapi mungkin akan semakin enak jika tak ada Evelyn di sini. Apa wanita ini sadar apa yang saat ini dia lakukan? Tertawa dan akrab dengan suami orang lain, padahal sang istri itu sendiri ada di sampingnya.
Sepertinya wanita seperti Evelyn ini sangat tak tahu malu, walaupun ia memiliki perusahaan sekalipun, mungkin inilah cara yang ia tempuh untuk membangun perusahaannya. Sangat memalukan.
“Kamu mau tambah lagi, sayang?” tanya Dimitri.
Dan aku lebih tak mengerti dengan apa yang Dimitri pikirkan. Aku sangat mengenal pria ini, tapi sekarang rasanya ia bukanlah pria yang kunikahi dulu. Walaupun ia menunjukkan senyum yang paling manis sekalipun dan penuh cinta, tapi itu seperti tak bisa mengubah semuanya.
“Udah cukup, aku mau pulang. Makanan di sini gak enak, suasananya juga bikin gak nyaman, sepupu kamu kayaknya sama sekali gak ngerti soal makanan.”
Raut wajah Evelyn berubah, begitupun dengan Dimitri. Aku sudah tak peduli, tentang kesopanan ataupun yang lainnya, karena aku di sini yang mendapatkan kerugian, dan itu sangat besar. Sebelumnya aku tak pernah berbicara dengan nada sesinis ini, mungkin pernah beberapa tahun yang lalu ketika Dimitri tak jujur padaku soal Michelle.
Aku hanya menunjukkan ketidaksukaanku pada orang yang memang benar-benar tak kusukai, dan aku menunjukkannya walau hanya dengan sindiran. Tapi, biasanya itu sangat tak mempan. Aku bangkit dari dudukku dan berjalan meninggalkan mereka berdua. Kali ini sepertinya sudah sangat keterlaluan, dan aku tak bisa berpura-pura lagi, aku takut akan mendapatkan piala citra karena peranku ini.
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, tak ada satupun dari kami yang berbicara. Aku juga tak memiliki niat untuk buka suara, aku hanya perlu penjelasan Dimitri tanpa kuminta. Aku ingin dia yang menyadari sendiri kesalahan yang ia lakukan, tapi ia bersikap seolah tak terjadi apapun. Brengsek, kan?
“Lili.”
Aku menghentikan langkahku di ujung tangga. Setelah mobil berhenti tadi, aku langsung keluar tanpa menagatakan apapun. Dah harusnya setelah ini Dimitri sadar tentang apa kesalahannya dan dengan suka rela menjelaskan tanpa harus kuminta.
“Evelyn bukan seperti yang kamu pikirkan, kami gak punya hubungan apapun,” lanjut Dimitri.
Aku mencoba mengatur nafasku sebelum berbalik menghadapinya, mungkin aku harus mengeluarkan semua emosi yang selama ini sudah kupendam.
“Oh ya? Jadi seperti apa hubungan kalian?”
“Dia hanya klien, dan kebetulan obrolan kami cocok, itu aja. Dia juga udah punya suami, Li, aku gak mungkin ngelakuin hal kayak gitu sama klien sendiri.”
“Dan kalian selalu kebetulan ketemu kayak gini? Ini bukan kebetulan pertama, kan? Kamu pikir aku bakal percaya sama semua omongan kamu?”
Wajah Dimitri terlihat mengeras, apa benar yang baru saja kukatakan? “Wanita manapun juga akan berpikir hal yang sama kayak aku kalau ngeliat kedekatan kalian. Jadi aku harus gimana? Ramah sama wanita itu, sementara dia sama sekali mengabaikan aku yang ada di samping kamu. Kamu minta aku ngelakuin itu?”
Dimitri melangkah mendekatiku, wajahnya sangat mirip seseorang yang tertangkap basah berselingkuh dengan orang lain. Sepertinya kali ini aku tak salah.
“Tolong percaya sama aku, Li,” ucapnya ketika sampai di hadapanku.
Aku berusaha sangat keras untuk tak meledak, aku masih sangat menahan emosiku. Bukan karena menjaga perasaannya, aku perlu menjaga bayiku. Stres sangat tak baik untuk Ibu hamil, aku tak akan membahayakan bayiku demi sebuah emosi sesaat.
“Kamu masih bisa ngomong kayak gitu di saat kayak gini? Kalau begitu, aku juga akan ngelakuin apapun sesukaku, dan aku harap kamu bisa percaya sama aku. Yang di perlukan dalam hubungan adalah kepercayaan, kan?”
Aku langsung berbalik melanjutkan langkahku tanpa sekalipun melihat Dimitri.
**
Sudah hampir satu jam aku berkutat dengan bunga-bunga di hadapanku mencoba melupakan perdebatan kami kemarin. Mungkin itu adalah perdebatan hebat kami yang pertama, biasanya hanya tentang permasalahan keci dan cukup sepele. Tapi, kali ini adalah besar, cukup besar bahkan.
Aku mengelus perut rataku, apa aku bisa melewati badai kali ini lagi? Ini terlihat sangat berat untukku, emosiku juga sangat tak stabil.
“Lili, makan dulu, udah hampir lewat dari jam makan siang,” ucap Tari. Usianya tiga tahun lebih tua dariku, karenanya aku memintanya memanggil dengan nama saja. Aku tak ingin menciptakan lingkungan kerja yang kaku, lagipula ini hanya toko bunga kecil.
Aku memang meminta Mbak Tari untuk mengingatkanku tentang jam makan siang, aku takut lupa diri dan melupakan nutrisi untuk bayiku sendiri. Walaupun aku sedang dalam keadaan emosi yang tak bagus, setidaknya bayiku tak perlu terkena efeknya. Mbak Tari juga sudah tahu tentang kehamilanku, jadi sudah di pastikan aku tak akan melupakan jam makan.
Dimitri dan aku kembali bersikap dingin setelah kejadian kemarin, anggap saja kami sedang menenangkan diri masing-masing agar tak terjadi perdebatan yang semakin sengit. Kami saling intropkesi diri agar semakin dewasa dalam menjalani masalah. Anggap saja seperti itu.
Aku menikmati makan siangku dengan dengan tenang, aku hanya harus kuat untuk bayiku saat ini. Karena di balik semua masalah baru yang menimpaku, ada rezeki kecil yang sangat kusyukuri kehadirannya.
“Permisi,”
Mbak Tari dan aku sama-sama menoleh ke pintu depan, sepertinya ada pelanggan. “Mbak lanjutin aja makannya, biar aku yang ke depan.”
“Ada yang bisa saya bantu?” ucapku ketika menemuinya yang sedang melihat-lihat berbagai jenis bunga yang ada. Pria itu berbalik, dan aku sangat terkejut mengetahui siapa pria ini.
“Richard?” tanyaku memastikan.
Pria itu hanya tersenyum menatapku. “Hai, Lili.”
“Kamu sengaja datang kesini?” tanyaku.
“Aku cuman tertarik sama nama toko ini, aku jadi inget sama seseorang, dan aku gak nyangka kalau bakal ketemu kamu di sini,” ujar Richard. Senyumnya sangat lebar saat ini, seperti mampu untuk merobek mulutnya.
“Kamu mau beli bunga?”
“Karena aku ketemu seseorang yang gak terduga di sini, kenapa kita gak reunian aja? sambil minum kopi mungkin?”
Tanpa perlu menunggu lama, aku langsung menyetujuinya. Ini hanya Richard, aku juga sudah mengatakan pada Dimitri kalau akan melakukan semuanya sesukaku.
**
“Kamu di Jakarta sekarang?” tanyaku.
Kami sudah berada di salah satu kafe yang tak jauh dari toko bunga milikku. Akan sangat merepotkan jika kami harus menempuh perjalanan jauh untuk mengobrol. Jika secara tak sengaja aku kembali bertemu dengan Evelyn dan juga Dimitri, aku akan menganggap mereka benar-benar berselingkuh.
“Aku masih di Singapor, sesekali aku ke Jakarta untuk ngurusin kantor cabang perusahaan Papa di sini.”
“Paket lengkap banget ya, kamu. Dokter dan pengusaha, gak ngebayangin berapa banyak perempuan yang ngejar-ngejar kamu di luar sana.”
Richard tertawa mendengar ucapanku. Selalu seperti ini, padahal aku sama sekali tak berniat untuk membuat lelucon. Aku bahkan tak merasa kalimatku lucu, tapi Richard selalu tertawa jika mendengar ucapanku, sejak dulu di pertemuan pertama kami.
“Well, ya, tapi aku tetap gagal mendapatkan wanita yang kusukai.” Richard menatapku penuh arti.
Apa yang ia maksud adalah aku? “Kamu kurang kerja keras buat dapetin aku, atau kamu memang terlalu baik hati dan mengalah sama sahabatmu sendiri?”
Richard mengangkat bahu. “Setidaknya dia bisa dapetin kebahagiaan yang seharusnya ia dapat sejak dulu, aku gak masalah.”
Lalu, kenapa semuanya jadi serumit ini jika aku adalah kebahagiaan yang Richard maksud? Tapi manusia memang selalu berubah, kan? Aku hanya tak tahu kalau akan kembali menghadapi badai seperti ini, padahal belum setahun sejak pernikahan kami.
“Kamu bahagia sama Dimitri, kan?” tanya Richard.
Aku bahagia, dulu, sebelum muncul wanita bernama Evelyn. Aku akan menganggap ini sebagai bagian dari ujian rumah tangga kami. Walaupun aku lelah secara emosional dan juga fisik, aku akan tetap bertahan.
“Kamu berharap aku gak bahagia?” tanyaku dengan nada penuh canda.
“Seharusnya kamu bilang gitu, jadi aku bisa ngerebut kamu dari Dimitri. Kalau di pikir-pikir, dia juga gak lebih baik dari aku, aku juga gak kalah ganteng dari dia. Apa yang kamu lihat dari dia?”
Aku tertawa mendengar kalimat yang berisi tingkat kepedean seorang Richard Jagratara. Aku hanya akan setuju untuk hal itu, karena memang Richard tampan, aku harus mengatakan apa untuk tak mengakui ketampanan seorang Richard. Wajar saja jika orang tampan menyadari ketampanannya sendiri.
“Aku gak bisa bilang nggak, kan?”
Kami kembali tertawa. Setidaknya aku bisa merasakan tawa hari ini, aku juga lelah dengan semua emosi yang ada.
**
Aku pulang sedikit terlambat, ketika toko akan tutup, mendadak ada salah satu pelanggan yang datang dan memesan beberapa rangkaian bunga. Tadinya aku ingin menolak, tapi pria itu mengatakan akan memberikan bunga ini kepada kekasihnya yang sedang di rumah sakit dan ingin melamarnya hari ini.
Well, aku cukup tersentuh dengan alasan pria itu. Walaupun sebenarnya itu adalah alasan yang sangat biasa. Siapa yang tahu, berkat bunga yang kubuatkan itu, si kekasih akan menerima lamarannya. Setidaknya itu untuk kepentingan yang baik. Sepertinya hal-hal kecil seperti ini mampu membuatku bahagia karena mampu turut andil dalam kebahagiaan itu.
Sepertinya kini, aku memiliki alasan yang cukup kuat untuk mempertahankan toko bunga itu. Kebanyakan yang datang ke toko bunga, adalah mereka dengan senyuman paling lebar yang ingin memberi sesuatu yang spesial untuk orang terkasihnya. Lalu mereka akan semakin tersenyum semakin lebar ketika aku menjelaskan makna dari
bunga yang akan mereka pilih.
Intinya, itu seperti kebahagiaan tersendiri ketika aku bisa melakukan semua itu untuk mereka.
“Kenapa kamu baru pulang?” tanya Dimitri. Dia sudah berdiri di undakan tangga dengan wajah dingin.
“Itu urusanku ingin pulang jam berapa, kamu keberatan?”
“Sampai kapan kamu mau kayak gini?”
Aku mengedikkan bahu tak acuh. “Mungkin sampai hubungan kamu dengan wanita itu selesai. Kamu tenang aja, aku bisa mengurus diriku dan juga bayi ini ini dengan baik, kamu gak perlu khawatir.”
“Dan ngebiarin kamu ketemu sama Richard kayak tadi siang?”
Oh, jadi dia tahu. Aku sudah tak perlu heran, karena kantornya juga terletak di dekat toko bunga milikku. Dan aku tak merasa bersalah untuk hal itu, aku tak melakukan hal yang salah ataupun melewati batas.
“Ada yang salah? Kamu bahkan bisa ketemu wanita itu sesuka kamu, dan aku juga gak boleh ketemu sama Richard yang temen kamu sendiri dan kamu udah kenal sama dia? Aku udah bilang aku akan ngelakuin semuanya sesukaku, kamu hanya perlu percaya sama aku. Sesulit itu?” ucapku dengan dingin.
“Richard suka sama kamu dari dulu, kamu gak sadar itu? Aku percaya sama kamu, tapi gak sama Richard.” Nada bicara Dimitri mulai meninggi.
Yah, sepertinya tetap aku yang di salahkan dalam situasi seperti sekarang, dan aku masih merasa egoku besar. Ego Dimitri jauh lebih besar kalau begitu.
“Kalau aku melarang kamu berhubungan dengan wanita itu, apa kamu mau menuruti? Kamu hanya menjelaskan kalian gak punya hubungan apa-apa, tapi selalu bertemu di belakangku. Dan sekarang kamu bersikap seolah-olah aku yang bersalah di sini?!” teriakku.
Bahkan Dimitri terkejut dengan teriakanku. Aku juga tak tahu datangnya dari mana teriakan itu, mungkin dari semua rasa frustrasi ini. Aku berbalik, aku sepertinya tak akan bisa tinggal di sini untuk mala mini. Semua rasa kecewaku
sudah semakin menggunung. Tapi, baru beberapa langkah aku sudah merasakan ruangan ini berputar, dan aku tak bisa berdiri dengan tegak sebelum semuanya menjadi gelap.
“Lili!”
**