PLAYBOY

PLAYBOY
Engagement



Pesta


pertunangan Kevin dan wanita misterius akhirnya diadakan. Acara ini diadakan di


salah satu hotel terbesar di Jakarta. Aku sangat penasaran dengan wanita yang


menjadi bahan keluh kesah Kevin padaku, aku harap ia secantik harapan Kevin.


Aku sudah menyapa Rudi Aldino dan sang Istri yang merupakan Ayah Dimitri dan


juga Baskara Aldino dan istri—orang tua Kevin.


Aku


dekat dengan kedua keluarga, mereka kadang mempercayakan anaknya padaku. aku


saja tak mempercayai diriku sendiri, bagaimana bisa mereka mempercayakan


anaknya padaku. aku bukan pengasuh mereka.


Anehnya,


aku belum melihat Dimitri sejak tadi. Ibunya bilang Dimitri akan terlambat


karena ia akan menyelesaikan urusannya dahulu. Apa urusannya kali ini


berhubungan dengan wanita lagi? Harusnya memang ia yang di jodohkan agar ia tak


semakin liar.


“Bagaimana


perasaanmu?” tanyaku pada Kevin yang sejak tadi mengekoriku.


“Aku


akan benar-benar menarikmu lari jika wanita itu tak sesuai harapanku.”


Aku


hanya menggelengkan kepalaku. Kevin tetaplah Kevin dengan seluruh sifat


kekanakannya, walaupun usianya sudah dua empat. “Apa wajah sangat penting


untukmu?”


“Hanya


jika aku di berikan fotonya. Aku bahkan sama sekali tak memiliki petunjuk


apapun, Dimitri itu juga tak membantuku.”


Masuk


akal juga, bagaimana bisa pertunangan tanpa tahu wajah mana yang akan menjadi


pasangan kita. Tiba-tiba mikrofon di atas panggung berbunyi, dan sang pembawa


acara sudah siap untuk memimpin malam imi.


Aku


segera mendorong Kevin menuju panggung, ia harus menyambut sang wanita yang


sudah satu bulan ini mengganggunya, dan juga aku yang selalu jadi korban semua


gangguannya. Yah, semoga wanita itu tak terlalu buruk.


Aku


tersentak ketika seseorang menarik tanganku, ia menyeretku menuju pilar di


pojok yang tak di datangi orang lain. Para tamu undangan sibuk menyaksikan sang


Raja dan Ratu malam ini yang akan meresmikan hubungan itu.


“Al,


ada apa?” Pria yang bisa seenaknya denganku hanya Dimitri. “Aku ingin melihat


wanita yang menjadi tunangan Kevin.


“Kamu


juga bisa melihatnya dari sini.” Ia memutar tubuhku, dan memang aku bisa melihat


Kevin dari sini, tapi tak sejelas ketika aku berdiri didepan tadi. “Ada apa?”


tanyaku.


Ia


tak menjawab, ia hanya memelukku dari belakang. Menyandarkan kepalanya di


bahuku, sedikit mencuri kecupan di leherku yang terbuka. Malam ini aku


mengenakan gaun yang tertutup tanpa belahan di manapun. Panjang gaun ini sampai


dibawah lutut dan berlengan panjang. Mungkin hanya leherku yang sedikit


terbuka, hanya Dimitri saja yang suka menyentuhku seenaknya.


Aku


melihat seorang wanita dengan gaun panjang berwarna putih muncul dari tangga


menuju podium tempat Kevin berdiri. Apa wanita itu yang akan menjadi tunangan


Kevin? Kalau iya, aku sangat yakin seratus persen Kevin tak akan pernah


memikirkan niat untuk lari. Lihat saja ia yang sudah ternganga melihat wanita


itu.


Wanita


itu sangat cantik, wajahnya oriental, matanya sipit, aku yakin ia tak


mengenakan riasan berlebihan. Kecantikan di wajahnya benar-benar natural, tapi


kenapa wajah itu familiar untukku. Seperti aku pernah bertemu dengannya sebelum


ini, tapi aku sama sekali tak mengingatnya.


Bukankah


wanita itu teman Dimitri? Kenapa wajahnya terlihat lebih muda? Mungkin ia


melakukan perawatan seperti wanita kebanyakan, sehingga wajah itu tak menua


sedikitpun. Pelukan di perutku tiba-tiba mengerat, Dimitri semakin menyembunyikan


wajahnya di lekukan leherku. Pria ini sangat aneh, apa dia pikir tak akan ada


yang melihat keadaan kami yang seperti ini?


Ah,


inilah alasan ia menarikku ke sudut. “Al, kudengar wanita itu temanmu?” tanyaku


Tak


ada jawaban, ia malah mengecup leherku. Aku tak menghiraukannya, pandanganku


fokus pada pasangan di depan sana. Sepertinya aku tak sadar, aku menggenggam


tangan Dimitri yang memeluk perutku.


**


Michelle


Laura Jagratara. Bahkan nama wanita itu sangat indah. Sepertinya wanita itu


mengambil semua keindahan yang di miliki ketika di lahirkan kedunia ini. Aku


benar-benar takjub dengan tunangan Kevin. Bukan berarti aku cemburu karena itu,


kecantikan wanita itu hanya membuatku kagum. Mungkin jika aku terlahir sebagai


pria, aku akan mengencani wanita sepertinya.


Jadi


setelah kedua pasangan tadi resmi menjadi tunangan, Dimitri langsung menyeretku


ke kamar yang ia sewa di hotel ini. Kami tak melakukan apapun, Dimitri langsung


berbaring di tempat tidur, dan aku masih memandangi pemandangan malam Jakarta


yang penuh kerlip lampu dari balkon.


Aku


merasa ada yang aneh dengan Dimitri, aku tak tahu ini berawal dari mana. Mungkin


sejak aku dekat dengan Richard? Dimitri bukan pria yang suka menceritakan


masalahnya dengan terbuka walaupun aku adalah sahabatnya. Ia juga tak akan


berbicara walaupun di paksa, ia akan menceritakannya sendiri pada akhirnya.


“Nanti,


ketika waktunya sudah tepat aku akan menceritakannya.” Itu yang di ucapkan


ketika ia mulai dengan sukarela menceritakan masalahnya.


Karena


aku sudah terbiasa dengan semua itu, aku tak mempermasalahkan apapun. Aku adalah


ssahabat yang pengertian. Ah, harusnya Nabila juga menghadiri acara ini, tapi


ia sedang berada di Singapor. Jika aku bersamanya mugkin akan lebih baik, kami


akan menggosipkan wanita yang menjadi tunangan Kevin sepanjang malam.


Aku


mengintip kedalam, melihat apakah Dimitri masih tidur. Ia sudah terduduk di


kasur, dan juga sedang menatapku. Ia beranjak mendekatiku, kami berdiri


bersisian saling menatap lampu dengan gemerlap yang indah itu.


“Bukankah


sangat berat?” ucapku memecah keheningan.


Ia


kembali tak menjawabku, hanya menatapku tak mengerti. “Apapun yang sedang kamu


lalui itu, pasti sangat berat.”


Aku


sebenarnya sangat tak menyukai ketika orang terdekatku menyimpan rahasia,


memiliki masalah berat tapi sama sekali tak ingin membaginya denganku. Apa


gunanya sahabat jika tak bisa saling berbagi? Tapi aku selalu menyimpan keluhan


itu dalam hati. Jika usiaku masih delapan belas atau sembilan belas, aku akan


dengan lantang meneriakkan hal itu pada Dimitri saat ini.


Semakin


aku dewasa, semakin aku menyadari jika tak semua hal bisa kita bagi. Terkadang diam


lebih baik daripada menceritakan masalah kita pada orang yang belum tentu akan


mendengarnya. Sahabat juga bisa berkhianat, hati manusia sama sekali tak bisa


di tebak.


“Aku


lebih baik kebawah, tenangkan pikiranmu sebanyak yang kamu mau,” ucapku.


“Temani


aku di sini,” pintanya. Ia mencekal tanganku, menahanku yang hampir beranjak.


“Aku


akan memaksamu menceritakan semuanya jika aku tetap di sini.”


“Kalau


begitu hibur aku,” ucapnya sambil memamerkan senyum manisnya itu. Ia manis,


tampan, brengsek, dan juga sulit di pahami.


“Apa


aku harus striptease di sini?”


“Kamu


bisa melakukannya?” tanyanya berbinar, apa hanya ada wanita di otak pintarnya


itu?


Aku


kami kembali memandangi pemandangan lampu itu. Ia memerangkapku di antara besi pembatas


balkon. Harusnya aku melakukan ini bersama pria masa depanku, bukan dengan pria


yang menjadi sahabat seperti ini.


“Aku


harap bisa melakukan ini kelak dengan suamiku,” ucapku yang mulai berkhayal.


“Rasanya


pasti tak akan sama denganku.”


Aku


mengerucutkan bibirku, tentu saja akan berbeda. Jika sama justru sangat aneh. Aku


menyandarkan kepalaku di dadanya. Aku selalu tak beruntung jika itu menyangkut


pria, itulah kenapa aku sudah memutuskan untuk berhenti mencari. Aku hanya akan


fokus pada karirku.


Richard?


Dia


pria yang baik, manis, sikapnya juga baik. Pria itu juga sangat sempurna, tapi


aku belum seyakin itu untuk menjalin hubungan dengannya. Bukan karena Dimitri,


karena diriku sendiri. Bukan juga karena aku mulai mencintai Dimitri. Hanya,


aku sudah merusak diriku terlalu dalam.


Dimitri


mencium puncak kepalaku, apapun yang terjadi, aku juga tak bisa bersama


Dimitri. “Kudengar kamu menolak perjodohan ini, jadi Kevin yang menggantikanmu.”


Jeda


agak lama sebelum Dimitri menananggapi ucapanku. “Tidak, itu memang perjodohan


Kevin.


Aku


menghela napas. “Beruntung sekali Kevin, karena tunangannya sangat cantik. Ia sudah


di pastikan tak akan mengejarku lagi.”


“Kamu


juga cantik.”


Aku


menoleh, menatapnya tak percaya. “ Kamu mau imbalan apa karena udah muji aku?”


Ia


mengecup bibirku singkat. “Aku harus mengatakan apa lagi agar bisa menciummu?”


Seorang


Dimitri tak pernah memujiku secara langsung, kecuali ketika kami bercinta. Terdengar


aneh ketika ia memujiku tadi. “Sudah kamu lakukan barusan, jangan mengatakan


apapun lagi.”


“Itu


hanya kecupan, Li.”


Aku


membalikkan tubuh, menatapnya yang sedang tersenyum geli melihat keksalan di wajahku.


“Kenapa tak sekalian saja memintaku bercinta di sini?”


“Aku


tak perlu melakukannya, kamu akan memintanya sendiri.”


Ah,


aku memang sangat lemah jika sudah terpesona dengannya. Aku kembali membalikkan


tubuhku membelakanginya. Aku masih terperangkap diantara lengan, tubuhnya, dan


pembatas balkon, jika tidak aku pasti akan langsung melarikan diri.


“Tapi


aku sedang tak ingin bercinta.”


Ia


memeluk perutku dengan erat, semakin merapatkan tubuh kami hingga tak ada jarak


lagi sama sekali. Dimitri mencium leherku, dan aku hanya menikmati apa yang ia


lakukan. Benar-benar tak ada sentuhan sensual untuk menggodaku.


**


Aku


kembali bertemu dengan Nabila setelah kepulangannya dari Singapor. Sahabatku ini


juga sedang merencanakan pernikahannya dengan Reno. Mereka sudah berpacaran


selama tiga tahun ini, jadi sangat wajar jika mereka menikah.


“Kamu


gak ketemu Richard di sana?” tanyanya.


“Memangnya


Richard kenal dengan keluarga Aldino, kenapa dia harus di sana?” tanyaku tak


mengerti.


“Michelle


itu adik Richard, tak mungkin Richard tak hadir.”


Aku


terdiam. Tunangan Kevin adalah adik Richard? “Richard tak pernah mengatakan


apapun tentang adiknya.”


“Kupikir


kalian sudah dekat, kenapa ia tak menceritakannya?”


Ah,


jadi itu yang membuat wajah Michelle sangat familiar. Karena dia adalah adik


Richard, bahkan hanya dalam bayanganku, dan wajah mereka sudah sangat mirip. Malam


itu aku memang tak menemukan Richard, atau aku yang tak melihatnya? Apa ia


melihatku berpelukan di sudut itu dengan Dimitri?


Apa


Dimitri sudah mengetahui kalau Michelle adalah adik Richard sehingga malam itu


ia memelukku? Membawaku ke kamar sewaannya, menatap lampu gedung, lampu jalanan


semalaman. Apa Dimitri mengetahui semuanya?


“Kenapa,


Li?” tanya Nabila melihat diamku.


Aku


hanya memberinya senyum. Semua dugaanku terasa sangat masuk akal, dan aku yakin


kalau Richard dan Dimitri saling mengenal.


“Apa


mungkin kalau Dimitri sama Richard saling kenal, Bil?”


“Aku


gak tahu, yang jelas Richard sama Reno itu satu kampus di Singapor. Jadi kayaknya


gak mungkin kalau mereka saling kenal. Apa Dimitri marah kalau kamu ketemu


Richard?”


Aku


hanya diam, karena Nabila sudah tahu jawabannya. “Kamu gak pernah coba memastikan


hubungan yang kamu buat sama Dimitri?”


“Kami


cuma sahabat, Bil. Apa lagi yang harus di pastiin?”


“Sahabat


gak mungkin tidur bareng, Li. Sahabat gak ngelakuin seperti kalian. Kenapa kamu


bersikeras kalau itu persahabatan?”


Aku


diam. Berbagai dugaan sudah berlari-lari di kepalaku, aku tak bisa berpikir


dengan jernih. Aku juga sudah lelah menjelaskan tentang hubunganku dengan


Dimitri. Kami memang hanya sahabat, bukankah di luar negeri sana banyak yang


seperti kami? Kenapa harus mempermasalahkannya?


“Kalian


melebihi orang pacaran, kamu gak sadar itu, Li? Atau kamu memang menutup mata? Aku


sengaja mengenalkanmu pada Richard agar kamu bisa lepas dari Dimitri. Kalian harus


menghentikan apapun yang sedang terjadi di antara kalian.”


“Aku…gak


tahu,” lirihku.


Aku


juga ingin berhenti, tapi aku sudah terlalu jauh seperti ini. Apa yang akan


kudapatkan ketika berhenti? Apa Richard akan menerimaku yang sudah seperti ini?


Aku yakin tak ada pria lain lagi yang menginginkanku.


“Apa


Richard bisa menerimaku setelah aku berhenti?” tanyaku.


“Kamu


hanya perlu berhenti, Li. Kamu bisa bersahabat seperti seharusnya bersama


dengan Dimitri. Kecuali kamu memang mencintai sahabatmu itu.”


Cinta?


Aku bahkan ragu jika cinta seperti ini. Hubungan aneh ini baru berlangsung


lebih dari enam bulan yang lalu, sisanya kami benar-benar menjalin persahabatan


yang normal. Semua ini berawal dariku, tapi semakin lama aku semakin terlena. Aku


tetaplah wanita bodoh yang mencoba memanfaatkan keadaan.


Jadi


aku harus menghentikannya, kan? Sebelum semua ini semakin rusak. Aku yakin


perubahan Dimitri sejak kemarin juga karenaku. Jika lebih lama lagi pasti


semuanya akan memburuk.


**


untuk semua chapter ini, kalau kalian menemukan typo aku minta maaf ya. karena cerita ini aku tulis dan langsung aku publish , terkadang aku gak terlalu baca ulang, jadi aku minta maaf sama typo yang bertebaran.


selamat membaca^^^