PLAYBOY

PLAYBOY
Bonus Chapter : A Woman, A Wife



Dimitri akhirnya mengetahui kehamilanku, setelah kepulanganku dari rumah orang tuaku. Butuh usaha keras untuk meyakinkan Ibu dan Bapak agar tak memberitahu Dimitri lebih dahulu. Aku ingin melihat ekspresinya secara langsung ketika aku menyampaikan berita bahagia ini. Dimitri terkejut pada awalnya, tapi ia langsung tersenyum lebar ketika sudah mampu mencerna berita itu dengan baik.


Ekspresi yang memang ku harapkan. Sebesar apapun ego milikku, aku tetap bahagia ketika melihat mata Dimitri yang berbinar bahagia. Tak ada hal lain yang terlintas di benakku saat ini, hanya kebahagiaan kecilku karena akan menyambut anggota keluarga baru, walau itu masih sangat lama.


“Kamu mau di bawain apa nanti?” tanya Dimitri.


Ini adalah kebiasaan baru dari Dimitri ketika ia akan berangkat ke kantor, menanyakan apa yang aku inginkan. Dan ia selalu pulang lebih cepat dari biasanya. Aku sangat menyukai perhatian-perhatian kecil seperti ini.


“Gak perlu, cukup kamu pulang lebih cepat aja.” Aku membelai pipinya lembut. “Oh, ya, nanti Nabila ngajak ketemuan. Gak apa-apa kalau aku pergi, kan?” lanjutku.


“Asal Nabila yang jemput kamu kesini, dan jangan ke toko bunga kamu dulu, jangan terlalu capek, kamu bawa anak kita di sini.” Dimitri membelai perut rataku, lalu menatapku dengan sayang.


Sejak memberitahunya kalau aku sedang hamil, Dimitri menjadi suami yang sangat protektif. Bahkan sudah ada Bibi yang membantu pekerjaan rumahku, dan juga supir yang selalu siap siaga mengantarku kemanapun. Dan aku belum di perbolehkan untuk mengunjungi toko bunga milikku, padahal di sana aku juga hanya duduk dan tak melakukan pekerjaan berat, tapi Dimitri tetap melarangku.


Kandunganku sehat, masalah di rumah orang tuaku kemarin hanya karena aku terlalu lelah. Selebihnya semua baik-baik saja, tapi karena kehamilanku ini masih sangat muda, aku juga harus menjaganya dengan baik. Kehamilan muda sangat rentan, kan?


“Padahal aku baik-baik aja sendirian, kamu gak perlu sekhawatir itu,” ucapku memberengut.


Mungkin ini adalah bentuk kasih sayang Dimitri, tapi terkadang aku merasa sangat aneh. Aku terbiasa menjadi wanita mandiri, aku bahkan bisa melakukan hal yang lebih besar di banding hanya mengurus toko bunga. Tapi, Dimitri memperlakukanku seperti seseorang yang butuh bantuan khusus.


“Pokoknya kamu gak boleh kemana-mana sendirian. Aku pergi dulu, ya?” Dimitri menundukkan tubuhnya agar sejajar dengan perutku. “Papa pergi dulu, ya, sayang? Baik-baik di dalam sini.” Dimitri mengakhirinya dengan kecupan lembut, lalu kembali berdiri di hadapanku dan mengecup keningku sebelum masuk ke dalam mobilnya.


Bagaimana mungkin aku tak mempercayai pria sebaik Dimitri? Semua yang baru saja ia lakukan terlihat sangat tulus, tapi aku masih saja ragu padanya..


Aku melambaikan tangan pada mobil Dimitri yang sudah meninggalkan pekarangan. Apa semua yang aku pikirkan belakangan ini adalah bawaan emosi karena aku sedang mengandung? Bisa saja, kan? Apapun itu, aku tak akan terlalu memikirkan hal itu. Dokter sudah menyuruhku untuk tak memikirkan banyak hal agar tidak stres, karena itu juga akan mempengaruhi kandunganku. Jadi, sebisa mungkin aku tak memikirkan banyak hal.


**


Nabila benar-benar menjemputku seperti yang di katakan Dimitri, padahal jika hanya menyetir aku masih bisa melakukannya. Aku hanya hamil, bukan sakit keras. Tapi perintah Dimitri juga sangat mutlak, agar aku terhindar dari segala bentuk perdebatan, aku akan menurutinya saja tanpa memikirkan apapun.


“Kayaknya Dimitri jadi lebih protektif, ya? Aku bahkan masih kerja waktu hamil,” ucap Nabila.


Kami sudah duduk di salah satu restoran yang ada di dalam mal, kami sudah memesan beberapa makanan untuk makan siang kami. Tak ada rencana khusus, mungkin kami hanya akan mengobrol di sini, lalu berbelanja sebentar dan pulang. Sebagai seorang Ibu, dan calon Ibu, kami sudah tak bisa sebebas dulu ketika lajang.


Nabila bahkan menitipkan anak lelakinya yang berusia satu setengah tahun di rumah mertuanya agar bisa keluar bersamaku. Dan ia tentu saja tak bisa meninggalkan untuk waktu lama, sedangkan aku, tentu saja aku harus menunggu suamiku pulang di rumah. Dimitri akan menjadi singa yang sedang kelaparan jika tahu aku belum ada di rumah, maksudku kemarahan Dimitri akan setara dengan singa yang kelaparan.


“Karena kamu yang memang gak mau berhenti kerja sampai melahirkan, padahal Reno juga udah sering minta kamu untuk berhenti, kan?”


Nabila hanya menunjukkan cengirannya. Tak lama kemudian pesanan kami datang, setelahnya kami hanya diam menikmati makanan yang tersaji. Aku tak terlalu lapar ketika sampai di sini, tapi ketika masuk ke restoran dan mencium harum masakan, seketika aku lupa dengan semua hal dan hanya ingin segera menikmati makanan yang ada.


Mungkin itu bagian dari hormon, wajar wanita hamil merasa kelaparan setiap saat, karena ada nyawa lain di tubuhnya. Asalkan tetap memperhatikan porsi dan tak berlebihan. Belum banyak yang ku pelajari tentang kehamilan, aku akan bertanya lebih jauh dengan Nabila hari ini.


“Kamu udah ngidam aja sejak hamil?” tanya Nabila.


“Kayaknya gak ada deh, aku sendiri bahkan ngerasa gak kayak hamil. Aku gak mual, aku belum ngidam, emosi aku aja sih, yang naik turun. Selebihnya aku gak ada masalah apapun,” jawabku.


“Setiap orang emang beda-beda sih gejalanya, dan kamu cukup beruntung kalau gitu. Bulan pertama aku hamil, aku cukup kesusahan karena mual-mual, tapi untungnya aku gak sampai harus bed rest.”


Aku mendengarkan kisah kehamilan Nabila dengan seksama. Aku sudah pernah mendengarnya, tapi itu sudah sangat lama. Jadi aku ingin mengulangnya kembali. Aku sudah menghabiskan sebagian makanan di hadapanku sembari mendengarkan cerita dari Nabila. Pandanganku tiba-tiba tertuju pada seseorang di seberang restoran ini.


Kuperhatikan lagi seseorang itu lebih lekat, dan itu terlihat seperti Dimitri, dan Evelyn?


“Lagi liatin apa, Li?” tanya Nabila.


Beruntung Nabila tak menatap ke arah yang sama, ia masih terlihat fokus pada ponselnya setelah bercerita dari tadi. “Itu ada anak SMA pacaran, agak geli liatnya.”


“Kamu kayak gak pernah kayak gitu aja,” ucap Nabila dengan sama gelinya.


Aku langsung membuka ponselku dan mengirimi Dimitri pesan. Setelah itu aku kembali menatap ke arah tadi untuk memperhatikan apa yang di lakukan oleh mereka. Aku benar-benar tidak salah lihat kalau wanita itu memang Evelyn. Jika aku tak menyukai seseorang, wajah orang tersebut akan tertanam di kepalaku, dan aku juga tak mungkin salah kalau itu Evelyn dan Dimitri sedang makan siang.


Dentingan ponselku menandakan balasan dari Dimitri, karena aku sempat melihat ia mengetik sesuatu di ponselnya.


Aku lagi rapat sama klien, kamu udah makan siang?


Oh, jadi mereka sedang rapat sembari menikmati makan siang, aku dulu terbiasa melakukan hal itu. Itu hal yang wajar, karena aku juga pernah berada di bidang yang sama dengan Dimitri saat ini.


Jarak restoran tempatku makan siang dan juga Dimitri makan siang hanya berseberangan, walau agak sedikit jauh. Tapi karena dinding kaca yang menjadi penghalang, aku bisa melihat semuanya dengan jelas. Mataku juga cukup baik dengan bantuan lensa kontak, jadi tak ada yang salah denganku.


Yang salah adalah Dimitri dan Evelyn yang sedang menikmati makanan di sana dengan tawa dari keduanya. Jika mereka memang rapat, kenapa aku tak melihat satupun dari mereka membawa map atau setidaknya laptop? Apa saat ini rapat tak memerlukan kedua benda tersebut lagi?


Aku tetap ingin berpikir dengan positif dan tak memiliki prasangka buruk lagi pada suamiku sendiri, tapi bagaimana caranya melakukan hal itu ketika yang ada di hadapanku justru seperti ini?


“Kamu kenapa, Li? Ada yang sakit, atau kamu mual?” tanya Nabila. Wajahnya terlihat khawatir menatapku.


“Kayaknya aku mau pulang, Bil,” ucapku lirih. Mungkin wajahku terlihat pucat dan kesakitan karena sibuk menahan rasa sakit itu sendiri, sakit hati.


“Kita gak jadi belanja, nih?”


Akhirnya Nabila mengalah dan bangkit dari duduknya. Aku mengikutinya dengan tersenyum, lalu untuk terakhir kalinya aku menatap lagi ke arah Dimitri. Mereka terlihat sangat asyik mengobrol berdua seperti itu, membuat hatiku kembali nyeri.


**


Aku sudah duduk di sofa ruang depan menanti kepulangan Dimitri. Ini sudah pukul lima, dan biasanya Dimitri sudah sampai. Bayangan siang tadi masih tersimpan dengan baik di pikiranku, bagaimana aku bisa lupa?


Kalaupun aku memang salah paham dengan yang di lakukan Dimitri, aku yakin itu bukan sepenuhnya salahku. Wanita lain pun juga pasti akan memikirkan hal yang sama jika melihat pemandangan seperti tadi. Mereka berdua tertawa bersamaan seperti teman dekat, sedangkan Dimitri memberi tahu kalau mereka sama sekali tak ada hubungan apapun kecuali rekan kerja dan Evelyn adalah klien. Bahkan Dimitri mengatakan sendiri kalau sudah ada Pak Surya yang menangani Evelyn, lalu kenapa mereka harus keluar berdua lagi?


Suara deru mesin mobil masuk ke pendengaranku, dan aku yakin itu Dimitri. Aku sudah jago untuk menunjukkan raut bahagiaku di hadapan suamiku sendiri, tapi sampai kapan akan seperti ini. Apa ada yang salah dariku sampai Dimitri membuatku seperti ini?


Aku memfokuskan pandangan pada layar televisi, mencoba untuk menenangkan diri sebelum bersikap biasa saja di hadapan Dimitri. Aku bahkan tak menoleh ketika pintu depan di buka, dan suara langkah kaki Dimitri yang berjalan mendekatiku.


“Kamu udah pulang?” tanyaku berpura-pura kaget.


“Baru aja, kamu fokus banget nontonnya sampe gak tahu kalau aku pulang.” Dimitri tersenyum dan mengacak rambutku dengan pelan.


Percayalah, keluarga kecil kami sudah sangat sempurna saat ini. Aku bahagia dengan semua perhatian-perhatian kecil yang di berikan Dimitri, serta candaan kami. Aku tak ingin memikirkan kalau suamiku selingkuh dengan kliennya, tapi juga hal itu semakin ingin kubuang jauh, semakin aku mengingatnya.


Serta beberapa ketidak sengajaan yang terjadi seperti hari ini. Sampai aku bercengkerama dengan Nabila tadi, semuanya baik-baik saja, aku bahkan sama sekali tak memikirkan Dimitri, sampai secara tak sengaja aku menemukan sendiri.


“Gimana sama Nabila tadi?”


“Biasa aja, dia iri sama aku, katanya waktu dia hamil Reno masih ngebolehin dia kerja. Padahal emang Nabilanya aja yang mau kerja, bukan karena paksaan Reno.”


Dimitri tertawa mendengar ucapanku. Kami saling berhadapan di sofa, dia yang masih membelai pipiku dengan lembut dan menatapku dengan sayang. Tatapan matanya belum berubah ketika ia mengatakan cinta padaku, tapi kenapa?


“Kamu mandi dulu, gih, Bibi tadi udah siapin makanan sebelum pulang,” perintahku.


Hanya senyuman yang di berikan Dimitri sebagai jawaban, ia menunduk untuk mengecup perutku, lalu menegakkan tubuhnya lagi untuk mengecup keningku sebelum berlalu ke lantai atas.


Aku tersenyum dengan semua hal yang Dimitri berikan padaku, aku merasa bersyukur, bahkan aku sangat bersyukur ketika akhirnya aku menikah. Aku merasa semua penderitaanku berakhir dengan aku menikah, tapi lagi-lagi aku salah. Aku juga tak tahu bagaimana menjelaskan semua ini, Dimitri yang masih menatapku dengan penuh


cinta, tapi tanpa kuketahui ia juga melakukan hal lain pada wanita di luar sana.


Sangat lucu sekali jika membayangkan apa yang sedang terjadi padaku saat ini.


**


Siang ini, kami sudah berada di rumah makan sunda untuk menikmati makan siang. Sangat jarang Dimitri melakukan hal ini di akhir minggu. Biasanya ia masih bergelut dengan pekerjaannya, dan kami hanya akan menghabiskan hari kami di rumah atau sekedar menghabiskan waktu di taman kompleks rumah kami.


Aku mengerti dengan kesibukan Dimitri, aku juga tak keberatan. Di sisi lain kadang itu cukup menguntungkanku, aku bisa melatih keahlian memasakku dan Dimitri sebagai orang yang mencoba seluruh hasil kreatifku. Aku kadang tertawa sendiri melihat reaksi Dimitri jika mencoba masakan buatanku. Kami bisa tertawa dengan sangat keras karena hal itu.


Ini juga bukan pertama kalinya, hanya saja tak sering, dan aku tiba-tiba sangat ingin memakan makanan sunda. Ini adalah ngidam pertamaku.


“Kevin bilang ini rumah makan sunda yang paling terkenal, masakannya juga udah terbukti enak, jadi kamu gak akan nyesel kalau makan di sini,” ucap Dimitri.


“Kevin yang rekomendasiin?” tanyaku.


“Iya, kenapa?”


“Aku gak yakin lidah Kevin cukup baik buat ngerasain masakan enak, dia jagonya milih cewek mana yang paling bagus.”


Dimitri tertawa mendengar jawabanku. “Jangan-jangan dia kesini buat nyari cewek sunda lagi,” ucap Dimitri.


Aku juga ikut tertawa mendengar ucapan Dimitri. “Awas aja dia kalau sampai nyakitin Ayu, aku bakalan bikin dia jadi ayam rica-rica.”


“Gak boleh ngomong kayak gitu, kamu lagi hamil.


Aku secara refleks langsung mengelus perutku. Membicarakan Kevin membuatku teringat pada Ayu, terakhir kali bertemu dengan Ayu, gadis itu tak terlihat seperti biasanya. Jadi aku berpikir kalau itu pasti ada hubungannya dengan Kevin, perasaanku jadi tak enak ketika mengingat Ayu.


“Oh iya, nanti kita mampir ke rumah Mama, ya? Mereka udah kangen sama menantu juga calon cucunya ini.”


Aku hanya mengiyakan ucapan Dimitri, aku sudah tak sabar menunggu makanan kami datang. Karena hamil, aku sangat mudah sekali untuk lapar, apalagi karena sudah mencium aroma masakan yang sangat menggoda indra penciuman sejak tadi.


“Dimitri?”


Aku menatap sumber suara yang memanggil suamiku. Dan aku sangat tak menyangka kalau akan bertemu secara tak sengaja seperti ini dengan Evelyn. Lagi.


Dia tersenyum sangat manis pada Dimitri dan juga aku. Kebahagiaanku seperti baru saja di renggut dengan paksa untuk kesekian kalinya. Dari sekian banyaknya restoran, kenapa kami harus bertemu di sini?


Dimitri menatapku dengan raut wajah tak enak, aku seperti sedang menangkap basah pasangan yang berselingkuh, secara tak sengaja. Aku penasaran, bagaimana Dimitri akan menjelaskan situasi ini?


**