
Suasana hatiku belum terlalu membaik sejak kunjungan Dimitri ke ruanganku pagi itu. Walaupun aku sudah menemukan secercah cahaya dari semua masalah yang sangat kelabu itu, tetap saja ada yang mengganjal pikiranku. Jadi di hari sabtu yang mendadak gerimis ini, aku memutuskan untuk bertemu Richard.
Aku sudah mengaturnya sejak beberapa hari yang lalu dengan Richard dan ia menyetujuinya. Hanya pria itu yang bisa menjelaskan semuanya, aku tak bisa berharap pada Kevin, karena ia sudah pasti berada di pihak Dimitri. Tak ada yang berada di pihakku, aku harus bertahan seorang diri menghadapi semua ini.
Kedai kopi dengan gaya rumahan kupilih menjadi tempat kami bertemu. Aku belum pernah bercerita, tapi aku sangat mencintai kopi. Aku suka rasa pahit yang melewati tenggorokanku, seperti memberi sensasi tersendiri, aku bahkan bisa merasakan tenang ketika menghirup aroma kopi yang sangat kuat.
Kedai kopi sederhana ini menawarkan semua itu, dekorasi kafe ini sangat homey, dengan harum kopi yang tercium
sampai ke sudut ruangan. Pengunjungnya tak banyak, kebanyakan anak muda lebih memilih Starbucks di banding kafe sederhana. Branding dari sebuah merek selalu memberikan prestis sendiri bagi yang mengkonsumsinya.
Ada yang berbeda siang ini, karena suasana gerimis yang membuat suasana menjadi sendu, dan aku belum menyentuh amerikano yang kupesan sejak tadi. Richard sudah datang sejak lima belas menit yang lalu, dan kami belum berbicara sejak itu.
Tak ada kalimat yang kupersiapkan ketika bertemu pria ini. Aku hanya…ingin bertemu dengannya. Aku merasa akan gila jika memikirkan semua ini, dan aku tak ingin hal itu terjadi, belum. Nanti pasti akan terjadi.
“Apa yang ingin kamu ketahui?” tanya Richard. Ia sudah tak sering tersenyum seperti dulu. Waktu sangat mengubah banyak hal.
“Aku hanya ingin bertemu denganmu, aku bisa mencerahkan isi pikiranku denganmu.”
“Kamu terlihat kurus dan…murung. Aku selalu merasa bersalah karena hal itu, aku juga tak menginginkan semua akan jadi seperti ini.”
Aku tersenyum pada Richard. Pria ini juga tak bersalah, hanya posisinya saja yang salah. “Pendekatan yang kamu lakukan dulu padaku, apa itu hanya pura-pura? Atau mungkin kamu sengaja melakukannya untuk membalaskan dendam adikmu?”
Richard menatapku dengan sendu, dan tanpa ia menjawab aku seperti sudah tahu jawabannya. “Ah, sayang sekali, padahal aku menyukaimu waktu itu.” Aku tertawa. Entah apa yang kutertawakan, tapi situasi ini sangat lucu dan membuatku selalu menertawakan diriku sendiri. Ternyata aku sepolos itu dan tak mengetahui segalanya.
“Li…,”
“Aku tak akan bohong, rasanya memang sakit, apalagi setelah semuanya. Aku bahkan sampai berpikir, hal buruk apa yang kulakukan di masa lalu sampai membuatku seperti ini. Aku akan baik-baik saja sekarang, gantinya kamu harus menceritakan
semuanya.”
Richard mengalihkan tatapannya ke arah lain. Ia menghindari tatapan dan senyum yang kuberikan. Aku tak akan merasa bersalah, aku hanya korban yang sedang menyampaikan perasaanku saat ini.
Richard terlihat menghela napasnya perlahan sebelum memulai ceritanya. “Aku tak tahu harus memulai ini dari mana, ini akan menjadi kisah yang sangat panjang.”
“Tak masalah, aku hanya akan mendengarkannya.”
**
Richard dan Dimitri adalah sahabat sejak SMP, mereka selalu bersama dan akrab sampai SMA. Mereka sangat akrab, karena Kevin juga sepupu Dimitri, mereka juga berteman, hanya saja tak seakrab Richard dan Dimitri. Mereka tetap akrab sampai tahun kedua mereka di SMA, tapi mulai berubah ketika seorang anak baru masuk ke kelas mereka. Arumi namanya.
“Setidaknya pada saat itu Arumi adalah gadis tercantik di seluruh sekolah kami, dan Dimitri menyukai gadis itu. Dia selalu semangat tiap kali bahas Arumi. Dimitri coba semua cara buat dapetin hati Arumi, tapi gadis itu tak mudah luluh.”
Itu ucapan Richard tadi ketika di kafe, dari raut wajahnya aku bisa melihat kalau ia sangat menyukai persahabatannya dengan Dimitri.
Semua berawal dari Arumi ini, Dimitri mencoba menyatakan perasaannya pada gadis itu namun di tolak. Aku sangat bisa mengerti bagaimana sakit hatinya Dimitri ketika di tolak gadis tercantik di sekolahnya. Dua hari kemudian, Dimitri memergoki Arumi dan Richard sedang berada di sebuah mal, hanya berdua.
Awal dari sebuah kesalahpahaman yang mampu menghancurkan persahabatan yang kental di antara mereka. “Aku tak bisa menyalahkan Dimitri, di usia itu kita memang sedang dalam masa transisi menuju kedewasaan dan pasti sangat labil. Apalagi aku sangat tahu sepak terjang Dimitri di dunia percintaan, ia sangat cemburu hanya dengan melihatku dan Arumi. Aku tak sengaja bertemu dengannya di mal karena ingin bertemu Michelle, kami memutuskan untuk berjalan bersama agar tak seperti orang asing. Tapi, Dimitri mengartikan hal itu dalam hal lain.”
Aku sangat tahu Dimitri yang itu, ternyata sejak dulu ia sudah memiliki sifat posesif itu, dan menurutku ia sangat cocok jika menjadi pemain wanita. Jadi tak ada yang perlu tersakiti.
“Lalu dimana Arumi sekarang?” tanyaku.
“Aku tak tahu, sejak hubunganku memburuk dengan Dimitri, aku mulai menjauhi gadis itu. Sepertinya sudah lewat bertahun-tahun dan aku tak pernah mendapatkan kabar lagi.”
Aku hanya menganggukkan kepalaku mengerti. “Lalu apa hubungannya dengan Michelle?”
Richard terlihat berpikir beberapa saat sebelum kembali berbicara. Sepertinya mengungkap masa lalu memang seberat itu, apalagi itu bukan jenis masa lalu yang indah. Semua kenangan indah itu tertutupi karena masalah kecil yang langsung mengubah segalanya.
“Aku sangat marah besar pada Dimitri saat itu, tapi ia sama sekali tak peduli, ia tak percaya padaku sama sekali. Ia hanya percaya pada pemahamannya kalau aku ingin merebut Arumi darinya, dan mengkhianati persahabatan kami. Ia mengatakan akan melakukan hal yang sama pada Michelle.”
Aku menutup mulutku mendengar penjelasan Richard, sangat terkejut tentu saja. KenapaDimitri bisa sejahat itu ketika ia hanya menjadi murid SMA?
“Kedua orang tuaku bukan jenis orang tua yang penyayang, mereka lebih mementingkan bisnis di banding apapun. Kami besar melalui tangan pengasuh, dan tak pernah merasakan kasih sayang keluarga yang harmonis. Aku bisa mengerti kenapa Michelle begitu mudah luluh dengan Dimitri, pria itu memberikan apapun yang tak mampu kedua orang tuaku berikan, dan aku juga. Michelle sangat mencintai Dimitri, ia sangat mencintainya, dan ketika rasa cinta Michelle semakin membesar, Dimitri meninggalkan adikku begitu saja. Tanpa penjelasan apapun. Yang kupikirkan saat itu hanyalah bagaimana memusnahkan bajingan sepertinya.”
Aku tak menyangka kisahnya akan seperti ini, aku bahkan tak bisa memberikan reaksi apapun. Tak ada kalimat yang mampu kupikirkan sebagai reaksi.
“Maaf mengatakan ini, tapi memang itu yang sebenarnya terjadi. Michelle bahkan beberapa kali mencoba bunuh diri karena Dimitri yang meninggalkannya begitu saja, ia sempat di rawat di psikiater, rutin menjalani terapi untuk memulihkan kondisinya. Tapi kurasa ingatan Michelle tentang Dimitri sangat kuat, tak mudah baginya. Dua tahun belakangan ini, ia sudah membaik dan melakukan aktivitas seperti biasa. Lalu tiba-tiba orang tua kami memutuskan menjodohkan Michelle untuk menguatkan bisnis mereka. Aku tahu kalau Dimitri bekerja di sini dan dekat denganmu, tapi aku tak tahu kalau yang akan di jodohkan dengan Michelle adalah Kevin.
“Ia bahkan mengusulkan sendiri pembatalan pertunangan dengan Kevin dan meminta untuk di tunangkan dengan Dimitri agar posisi Ayahku semakin kuat. Aku tahu itu hanya alasan yang ia cari, ia tak ingin menceritakan padaku alasan sebenarnya membatalkan pertunangan itu.”
Aku menyetir mobilku dengan perasaan yang kacau, semua penjelasan Richard sangat sulit untuk kulupakan begitu saja. Mungkin jika aku meminta Dimitri yang menjelaskan, kisahnya akan berbeda. Tapi penyebab Michelle seperti ini memang Dimitri, pria itu mengakuinya sendiri padaku.
Anggap saja Dimitri sedang menikmati karmanya di masa lalu, aku tak tahu harus merasakan seperti apa. Aku bukan siapa-siapa di dalam kisah mereka, aku hanyalah wanita yang tiba-tiba hadir di antara mereka. Aku tak bisa menyalahkan siapapun di sini, di mataku mereka semua bersalah dan sedang menjalani hukuman mereka.
**
Lalu bagaimana dengan perasaanku pada Dimitri? Aku ingin menjadi jahat dan egois sekali saja, tapi aku merasa tak pantas melakukan itu. Di lihat dari berbagai sisipun, Michelle yang lebih pantas. Gadis itu sudah melewati fase terberat dalam hidupnya, bahkan di usia semuda itu. Michelle pasti masih merasakan sakit itu, dan jika aku menjadi egois, aku hanya semakin melukainya.
Aku menyembunyikan kepalaku dalam tekukan lututku. Aku memilih menginap di hotel selama beberapa hari, aku sama sekali tak ingin mengambil resiko dengan berpapasan atau yang lebih gila, bertemu dengan Michelle. Entahlah, rasanya aku belum siap.
Begitupun dengan Dimitri dan Kevin. Aku kembali menghindari kedua pria itu sehalus mungkin, bagaimanapun aku harus bekerja dan profesional pada atasanku. Saat ini aku tak terlalu memperlihatkan perasaanku yang sebenarnya. Pertemuan dengan Richard benar-benar sudah mengubah pola pikirku.
Aku lebih sering terlihat melamun atau dengan pandangan kosong, aku tak menyadari semua itu, tapi Eka mengatakan semuanya padaku. Terkadang aku merasa ngeri pada diri sendiri, tapi ketika aku kembali menanyai diriku sendiri, ‘apa yang seharusnya kulakukan?’ aku juga tak menemukan jawaban itu.
Michelle juga sudah tak mendekatiku lagi, aku lebih bersyukur lagi karena hal itu. Aku juga tak memiliki niat untuk berbicara dengan Michelle. Sejak pertemuan terakhir dengan Richard, aku sekarang lebih mengandalkannya, dan lebih sering bertemu dengannya, karena hanya pria itu yang mengetahui apa yang sedang kurasakan. Lebih
aman jika bersamanya.
Ada kebiasaan baru yang sepertinya cukup bagus untuk pola hidupku, tapi tak sebagus itu juga, hanya baik. Aku tak pernah lembur lagi di kantor, aku selalu pulang tepat waktu. Aku tak ingin mengambil resiko dengan bertemu Dimitri secara tak sengaja di kantor ini. Itu hal baik, tapi sebenarnya aku lembur di hotel.
Belakangan aku selalu mengalami insomnia, cara terbaik adalah dengan bekerja. Jika aku tak melakukan itu, pikiranku akan melayang kembali pada Dimitri dan Michelle. Jadi, tak bisa dikatakan baik juga, karena itu berarti aku tak memiliki bonus lembur dan gajiku akan berkurang. Aku masih bisa memikirkan uang dalam keadaan seperti
ini, luar biasa sekali aku ini.
Aku mendongak ketika mendengar bunyi klakson mobil, dan tersenyum tipis ketika Richard menurunkan kaca jendelanya. Kami memang memiliki janji sore ini, hanya makan malam seperti biasa, dan bercerita. Richard yang mengusulkan hal itu, ia sangat mengerti betapa perih yang kurasakan saat ini.
“Bagaimana hari ini?” tanyanya. Kami sudah berada di jalan raya, yang sudah pasti akan macet karena ini jam pulang kantor.
“Masih seperti biasa, tak ada yang spesial. Rapat, berkas, tanda tangan, terus berulang-ulang sampai rasanya kepalaku ingin pecah.”
“Itu memang tugasmu.”
Aku hanya mengangguk dan tak menanggapi lagi. Jangan salah sangka dengan berpikir kalau kami sangat akrab karena sering bertemu. Kami masih sangat canggung tapi berusaha menghilangkan kecanggungan itu.
“Aku ingin bertanya sesuatu padamu,” ucapku setelah melihat macet yang sangat panjang di depan sana. Untuk dua puluh menit kemudian sudah di pastikan kami akan terjebak di sini. “Ketika pertama kali bertemu, apa kamu memiliki perasaan lain padaku selain rasa ingin balas dendammu itu?”
Richard masih menatap kendaraan yang mengular di sana, ia masih terdiam sampai beberapa menit kemudian. “Tentu saja ada, tapi sepertinya keinginanku menghancurkan Dimitri lebih besar.”
**
Ini kayaknya pendek banget, dan sebenarnya belum mau di up tapi takutnya kalian kelamaan nunggu jadi aku up aja. Selamat membaca^^