
Kami
benar-benar berkencan malam itu, kencan ala Dimitri Rahagi Aldino. Makan malam
romantis di salah satu restoran bintang lima dengan pelayanan yang sangat
mewah. Seorang Aldino sangat mampu melakukan hal itu, hartanya tak akan habis
sampai tujuh turunan. Beruntung? Itu sudah sangat biasa untukku, jadi aku tak
tahu harus bagaimana menyikapinya.
Apa
setelah malam itu aku mulai menyadari perasaanku? Aku sudah terbiasa dengannya,
jadi perasaan itu seperti tercampur. Aku juga tak bisa menebak apa yang sedang
di pikirkan Dimitri, kami terlihat seperti pasangan pada umumnya, bercengkerama,
menertawakan lelucon garing yang bahkan terdengar aneh.
Jadi
apa aku jatuh cinta?
Apa
aku harus pura-pura mencintainya agar bisa merasakan perasaan cinta yang
sebenarnya?
“Kenapa
kamu tak pernah mengajakku kesini sebelumnya? Apa aku harus memintamu terlebih
dahulu?” tanyaku.
“Kamu
lebih suka makanan pinggir jalan, aku tak bisa memaksamu,” ucapnya santai.
Aku
memang tak menyukai makan di tempat seperti ini, tak bisa bebas dan harus
berpakaian formal. Jika di pinggir jalan aku bisa sesuka hati melakukan apapun,
tak perlu menjaga sikap. Bisa di bilang seleraku sangat rendah untuk soal
makanan.
“Lain
kali aku akan mengajakmu kencan dengan caraku.”
“Aku
bisa mengharapkan lain waktu? Aku pikir hanya ini kesempatanku.”
Ya,
aku juga tak tahu kenapa mengatakan itu. Aku melakukan segalanya seolah-olah
tak ada masalah di antara kami. Aku sedikit pengecut untuk satu hal itu, bahkan
untuk bertanya ‘apa yang sedang kita lakukan saat ini?’ tak mampu keluar dari
bibirku.
Aku
mungkin orang yang sangat blak-blakan dan jujur, hanya saja ada satu waktu
ketika aku tak bisa melakukan hal itu. Aku sangat optimis untuk masalah
karirku, aku bisa menaklukan klien manapun, tapi untuk urusan cinta dan pria
aku lebih memilih mundur. Aku sudah tahu akan seperti apa akhirnya, lalu kenapa
harus mencoba lagi dan mengorbankan hatiku? Lebih baik berada di zona nyamanku.
“Kamu
tak tertarik dengan pernikahan?” tanyaku pada Dimitri.
“Aku
masih terlalu muda untuk memikirkan pernikahan, itu sama saja dengan menjual
kebebasanku.”
“Bagaimana
jika kamu bertemu cinta pertamamu atau mantan pacar ketika masa sekolah?” Aku
ingin dengan halus bertanya tentang Michelle. Dia tak tahu jika aku sudah
berkenalan dengan tunangan Kevin itu.
“Aku
sudah memilikimu, kenapa harus mencari yang lain,” ucapnya tersenyum.
Jika
itu di katakan oleh pria yang mencintaiku dengan benar, maka aku akan sangat
bahagia. Ini adalah Dimitri, bisakah aku mempercayai kalimat seorang pecinta
wanita yang notabene adalah sahabatku? Dalam mimpiku pun aku tak pernah
membayangkan hal itu, tapi aku tetap memberikan senyumku.
Aku
tak berani mengungkapkan, ‘apa ia mencintaiku?’, ‘kenapa ia ingin mengajakku
pacaran?’. Semua pertanyaan itu tak mampu kutanyakan padanya, aku takut dengan
jawaban yang akan ia berikan, lalu kami akan berakhir menjadi orang asing yang
tak bertegur sapa. Aku terlalu takut menghadapi jawabannya di banding
menghadapi hatiku sendiri.
“Jadi
kencan kita akan berakhir seperti ini saja? Kamu tak akan melakukan hal lain?”
tanyaku dengan nada menggoda.
“Mendengarmu
menanyakan hal itu, membuatku mulai berpikiran aneh-aneh…,”
Aku
meraba kakinya dengan heels yang
kukenakan, mencoba untuk menggodanya. Tanganku melepas kancing blusku, sehingga
memperlihatkan belahan dadaku. “Apa kita bisa melakukannya di sini?” tanyaku.
Dimitri
memesan ruangan VIP yang memiliki ruangan sendiri, jadi bisa saja jika kami
ingin melakukan apa yang kami inginkan, dan otakku sungguh sangat liar karena
bisa berpikir sejauh ini. Anggap saja aku sedang mabuk sekarang, esok aku tak
akan mengingat sikapku ini yang sudah sangat mirip dengan pelacur.
Aku
kembali membuka kancing blusku, dan dadaku yang terlapisi bra sudah terpampang
di hadapannya. Kaitan bra itu ada di depan, dan aku dengan gilanya langsung
melepas kaitan itu.
“Shit, Leena!”
**
Richard
mengajakku bertemu malam ini, setelah sekian lama dan ia baru menghubungiku
lagi. Aku sedikit berpikir sebelum mengiyakan ajakan itu, aku tak tahu apa ia
tahu apa yang sedang terjadi denganku dan Michelle. Kupikir Michelle tak akan
memberitahukan ide gilanya pada sang kakak yang kupikir tak menyukai Dimitri.
Kami
sudah duduk berhadapan di salah satu kafe yang tak jauh dari apartemenku. Aku
sedang tak ingin berkendara, karena pasti akan macet, jadi kafe ini adalah
pilihan terbaik. Hanya tinggal berjalan selama sepuluh menit dari gedung
apartemenku. Aku yakin ini bukan kencan.
“Apa
kabar?” tanyanya.
Aku
tersenyum. “Aku baik, bagaimana denganmu?”
“Seperti
yang kamu lihat sekarang ini.”
Ada
bulu-bulu halus yang mulai tumbuh di sekitar rahang dan dagunya, sepertinya ia
belum bercukur. Rambutnya juga hanya di tata seadanya. Ia masih setampan
biasanya, senyumnya juga masih sama seperti terakhir kali aku bertemu
dengannya. Hanya saja penampilannya terlihat sedikit berantakan, mungkin karena
ia sibuk bekerja.
“Kamu
sepertinya sangat giat bekerja,” ucapku sedikit ragu.
Dia
tertawa. “Ya, aku harus bekerja ekstra karena sekarang ada adikku di sini, dia
sedikit merepotkan. Apalagi dengan pertunangan itu.”
Aku
menaikkan alis dengan pernyataannya. Aku tak menyangka dia akan mengatakan hal
itu padaku. Maksudku, aku juga tak terlalu peduli dengan apa yang dilakukan
adiknya. Aku sudah terlanjur tak menyukai Michelle, tapi aku tak mengatakan itu
tentu saja, aku masih paham dengan sopan santun.
“Harusnya
kamu bahagia karena kehadiran adikmu…,”
“Tolong
jauhi Dimitri,” potongnya.
Aku
tak percaya dengan kalimat yang baru ia sampaikan itu, sekarang ia sudah
menyebut Dimitri, apa aku akan tahu apa yang sebenarnya terjadi?
“Adikku
bisa saja melakukan hal buruk untuk mendapatkan Dimitri, aku tak ingin kamu
terluka.”
Apa
lagi ini? Apa adiknya psikopat? “Aku tak mengerti dengan semua yang kamu
ucapkan,” ucapku jujur.
“Dimitri
yang membuat adikku seperti itu, dan Michelle sangat mencintainya. Aku tak
ingin kamu terluka, jadi sebaiknya jauhi Dimitri.”
Kenapa
semua orang selalu memintaku untuk menjauhi pria ini, menjauhi pria itu tanpa
memberiku alasan yang jelas? Apa mereka pikir aku sebodoh itu? Kenapa tak
menceritakannya padaku dan kita bisa mencari solusinya?
“Aku
sangat membenci kalian yang selalu membuatku melakukan sesuatu tanpa alasan
jelas. Berikan saja aku alasan dan aku akan melakukannya dengan senang hati.”
Richard
diam, dan diamnya itu sangat membuatku kesal.
ada masalah apa dengan Michelle, kenapa
seolah-olah semua orang ingin menutupi masalah itu dariku? Benar-benar gadis
yang beruntung, ya? Semuanya seolah sedang membelanya, dan ada aku di sini yang
masih tak mengerti dengan yang sebenarnya terjadi.
“Richard…aku
tak mengerti dengan apa yang terjadi, kenapa tak menjelaskannya padaku? Agar
aku mengerti,” pintaku. Aku tak ingin stres memikirkan masalah ini lagi, tapi
aku hanya menghindarinya sejak kemarin, sama sekali tak berniat ingin
menghadapinya.
“Kamu
wanita yang berarti untukku, dan aku tak ingin terjadi sesuatu padamu dan juga
adikku. Jauhi saja pria brengsek itu, aku benar-benar muak dengannya.”
Aku
belum pernah melihat sisi Richard yang seperti ini, dia marah dan raut wajah
itu sangat dingin. Sepertinya masalah yang ia miliki dengan Dimitri bukan
masalah kecil seperti yang kubayangkan.
“Aku
akan melakukan apapun yang kuinginkan, aku tak peduli dengan masalah apapun
yang terjadi pada kalian.”
**
Kalimat
Richard memang tak mampu kulupakan, tapi bukan berarti aku akan melakukan apa
yang ia minta. Aku akan menjauhi Dimitri jika aku ingin, yang terjadi padaku
tak pernah sekalipun itu menjadi urusan mereka.
Hubunganku
dengan Dimitri, masih dekat seperti sedia kala. Hanya Kevin yang sedikit
menjauhiku, kami belum mulai berbicara seperti sahabat pada umumnya. Aku belum
berpacaran dengan Dimitri, kenapa harus?
Cinta
yang kucoba rasakan pada Dimitri tak pernah muncul, aku sudah mencoba tapi tak ada
yang berubah. Apa aku sudah sedikit berharap pada pria itu? Aku memang percaya
cinta bisa tumbuh karena rasa nyaman, tapi kurasa itu belum terjadi padaku,
atau sudah dan aku belum menyadarinya.
Aku
ingin mencoba percaya pada opsi kedua, bahwa aku belum menyadarinya, dan aku
sangat ingin tahu kapan hal itu akan terjadi padaku. Jadi, mari tunggu saja.
Aku
sedang menikmati kopi dinginku di kafe yang tak jauh dari kantorku, ini bukan
jam makan siang atau aku ingin bertemu seseorang. Ini sudah pukul tiga, aku
biasa mengerjakan pekerjaanku di sini jika bosan dengan suasana kantor. Aku selalu
memilih kursi yang berada di samping dinding kaca, aku bisa melihat pemandangan
jalan raya dan mobil yang berlalu lalang, kadang aku juga menyaksikan pasangan
yang bertengkar di jalan.
Pemandangan
itu entah kenapa memberi hiburan tersendiri untukku. Aku sepertinya terlalu
kesepian, atau hanya aku yang memisahkan diri dari keramaian. Entahlah. Aku hanya
menyukai kesendirian ini, taka da yang mengusikku.
Pandanganku
tiba-tiba terpusat pada seorang pria dan wanita yang sedang bertengkar di depan
mobil. Aku seperti mengenali mobil itu, dan pria itu, Dimitri? Aku menajamkan
pandanganku lagi, sepertinya aku harus mengganti kacamataku lagi, karena kedua
orang itu berada tak jauh dari kafe ini.
Apa
itu Michelle? Ya, wanita itu sangat mirip Michelle. Aku menutup mulutku dengan
kedua tangan ketika Michelle mencium Dimitri, yang benar saja! Itu di jalan
umum, dan semua orang melihat, apa wanita itu gila?
Aku
langsung mengalihkan pandangan secepat mungkin, pemandangan seperti itu
membuatku muak. Apa yang mereka pikirkan ketika bertengkar di tempat umum
seperti itu? Apa harus sampai berciuman seperti itu? Dan Dimitri sama sekali
tak menolak. Ah, aku lupa, Dimitri hanyalah seorang pria yang tak bisa menahan
napsunya dimana pun. Michelle cantik, dan mereka pernah berbagi masa lalu
indah.
Sedangkan
aku, walaupun sudah lebih dari lima tahun mengenalnya, kami tetap hanyalah
sahabat apapun keadaannya. Bukankah sangat menyedihkan?
Aku
membereskan barang-barangku, aku tak bisa tinggal lebih lama lagi karena pasti
mereka akan menginvasi pikiranku. Beberapa detik kemudian aku menghentikan
aktifitasku, apa yang kulakukan? Kenapa aku harus pergi karena melihat mereka? Apa
ini bentuk kecemburuanku? Apa aku sudah mulai menunjukkan rasa cintaku? Apa seperti
ini rasanya?
Sudah
pernah kukatakan, kalau cinta rasanya seperti ini maka aku tak akan mencobanya.
Seorang Liliana tak pernah terkecoh seperti ini. Aku terkenal dengan hati
dinginku. Ketika mengajak Dimitri berkencan kemarin, aku hanya menciptakan
perasaan itu, itu bukan tulus dari hatiku.
Lalu
kenapa aku sekarang seperti ini?
Aku
mencoba menghalau segala pikiran yang bersarang di otakku. Aku akan
meninggalkan kafe ini, bukan karena Dimitri dan Michelle, tapi karena aku ingin
pulang. Kristal es yang ada di dalam kopiku sudah mencair, dan rasanya sangat
mengerikan.
**
Harusnya
aku kembali ke kantor setelah dari kafe, tapi jabatan Manajer membuatku sedikit
tinggi hati dan memutuskan untuk pulang. Aku sudah tak peduli jika akan di pecat,
toh aku sudah memiliki banyak koneksi untuk membangun karirku. Aku sesombong
itu, dan tak peduli.
Aku
membanting diriku di sofa, rasa lelah dan kesal bercampur di tubuhku saat ini. Aku
memijat pelipisku untuk mengurangi pusing yang menderaku. Beruntungnya pekerjaanku
sedang tak banyak dan aku tak terlalu stress dengan hal itu. Proyek perusahaan
telekomunikasi itu berjalan dengan baik dan mereka sangat puas dengan hasilnya.
Ada
kerja kerasku di proyek itu, dan itu terbayar dengan bonus yang masuk ke rekeningku.
Aku bahagia, tapi hanya itu, aku sudah terbiasa dengan hal itu dan memang sudah
seharusnya aku melakukan itu. Kadang aku berpikir, untuk apa semua kerja
kerasku. Hidupku tercukupi degan baik, aku bisa pergi kemanapun yang
kuinginkan, hanya saja saat ini aku merasa hampa.
Mungkin
dosaku sudah sangat menumpuk, dan sudah seharusnya aku bertobat. Atau mungkin
lain kali ketika aku sudah benar-benar merenungkan semua kesalahanku, dan aku
tak tahu kapan akan melakukan hal itu.
Aku
bangkit dari dudukku ketika mendengar bunyi pintu apartemenku terbuka. Setahuku
aku sudah mengganti kata sandi apartemen, dan tak ada seorangpun yang tahu,
Dimitri sekalipun. Apa aku memberitahukannya ketika mabuk? Sangat terdengar
masuk akal.
“Bagaimana
kamu tahu kata sandinya?” tanyaku ketika ia muncul di balik pintu itu.
“Kamu
memberitahukannya ketika kamu mabuk di rumah Nabila.” Ia mengucapkan dengan
raut bingung.
Well,
aku akan mengingat-ingat dengan baik untuk tak mabuk dengan sembarangan. Itu di
rumah Nabila, dan Nabila masalahnya. Jika saja ia membiarkan aku menginap di
apartemennya, maka tak akan seperti ini.
“Kamu
marah?”
Mungkin
ini hanya perasaanku saja, tapi Dimitri terlihat berhati-hati padaku. Pada
beberapa hal yang sangat tak perlu, ia akan meminta izinku sebelum
melakukannya. Aku hanya merasa satu dua hal sudah berubah di antara kami.
Aku
memberikan senyum padanya. “Ada apa?” tanyaku.
“Hanya
merindukanmu.”
Dimitri
menghampiriku dan langsung memberi pelukan. Baru beberapa jam yang lalu aku
melihatnya berciuman dengan Michelle, lalu sekarang ia dengan mudahnya
mengatakan kalau ia merindukanku.
“Al,
kita ini apa?”
**
Haiii maaf bikin kalian nunggu lama^^
Semoga terhibur ya, selamat membaca ^^^