PLAYBOY

PLAYBOY
Bonus : First Time



Hai, maaf udah bikin kalian nunggu lama. Kerjaan aku bener-bener gak bisa dikondisikan dan aku harus pulang kerumah ortuku. Jadi selama waktu itu aku bener-bener gak pegang laptop dan nulis, aku minta maaf banget. Setelah part ini kalian bisa nagih aku buat ingetin aku kalau-kalau aku lupa dan telat update.


Timeline part ini adalah pas pertama kali Dimitri sama Lili ketemu dan adegan ehem-ehem pertama mereka. Sudut pandang part ini adalah orang ketiga, jadi jangan bingung ya. Dan aku jug mau jelasin sedikit kalo sebenernya Lili itu udah dua tahunan jadi manajer dan kejadian ehem-ehem pertama mereka itu enam bulan sebelum masa sekarang, supaya kalian gak bingung pas bacanya.


Oke, segitu aja cuap-cuapnya, semoga kalian gak kecewa ya, happy reading^^


- - -


“Kamu lagi deket sama Dimitri?” Nabila bertanya pada Liliana ketika mereka sedang berada di kantin, menikmati makan siang mereka.


Karena fakultas mereka yang berbeda, mereka selalu bergantian untuk saling bertemu di masing-masing kantin. Itupun jika mereka sedang memiliki kelas di jam yang sama, tapi karena ini masih semester dua, mereka masih bisa sedikit bersantai. Tugas memang selalu menumpuk, tapi sebisa mungkin mereka mencari waktu untuk sekedar bertemu dan ngobrol seperti yang mereka lakukan sekarang ini.


“Dimitri siapa?” Liliana bertanya dengan bingung, sepertinya ia sedang tidak dekat dengan pria manapun.


Nabila menepuk keningnya, sahabatnya ini memang terkenal acuh dengan sekitarnya, tapi untuk hal seperti ini sahabatnya sudah keterlaluan. Dimitri sangat terkenal seantero kampus, siapa yang tidak mengenal pria tampan itu?


“Dia itu satu jurusan sama kamu, dan katanya kalian satu kelompok tugas.”


“Oh, cowok itu namanya Dimitri. Kami, kan Cuma satu kelompok, kenapa bisa di bilang deket?”


Nabila menggelengkan kepalanya, pantas saja sahabatnya ini jomblo sejak lahir, dia sangat acuh terhadap makhluk berjenis kelamin laki-laki. Kalau saja para penggemar Dimitri tahu ucapan Liliana barusan, sudah pasti akan terjadi pengeroyokan massa.


“Harusnya kamu lebih tahu, kamu beneran gak tahu siapa Dimitri ini?”


Liliana menggelengkan kepalanya sambil mengunyah siomay pesanannya. “Dia itu anak dari keluarga Aldino, dia pengusaha terkenal dan perusahaannya udah sampai generasi ketiga. Dimitri ini sejak lulus SMA udah mulai kerja di perusahaan keluarganya itu. Dia itu terkenal seantero kampus dan penggemar ceweknya banyak. Kamu hati-hati aja kalo ngomongin dia, bisa-bisa di keroyok sama fansnya itu.”


“Segitunya banget, kayaknya dia biasa-biasa aja, deh. Apa karena dia keturunan orang kaya makanya banyak yang deketin?”


“Wah, kamu cewek pertama yang bilang dia biasa-biasa aja. Kamu gak pernah mikir seganteng apa dia?”


Liliana tampak berpikir sebentar. Pria itu tampan, tapi tak sampai bisa menarik perhatiannya. “Biasa aja kayaknya. Gantengan juga Bapak di kampung.”


Nabila kembali menggelengkan kepalanya, sahabatnya ini terlalu giat belajar sampai tak bisa memperhatikan pria tampan yang ada di dekatnya. Kalau Dimitri saja tidak tampan menurutnya, lalu tampan dalam bayangannya seperti apa?


“Tapi aku kayaknya memang gak suka, deh, sama dia. Bukan tipe yang bisa di ajak buat temenan, aku aja gak tahu kenapa bisa satu kelompok sama dia.” Liliana mengangkat bahunya acuh.


Liliana hanya tak tahu kalau ucapannya sesaat tadi sudah menjadi boomerang untuknya, dan ia juga tak mengetahui kalau pria yang sedang di bicarakannya sedang duduk membelakanginya sambil menikmati semangkuk bakso. Pria itu hanya tersenyum, ia tak pernah melihat ada gadis yang mampu mengatakan itu padanya. Biasanya mereka akan berteriak kegirangan hanya dengan menatap wajahnya, tapi gadis yang ini sangat berbeda. Dan mereka berada di kelompok yang sama. Entah ini keajaiban atau takdir.


**


“Kenapa aku selalu melihat Dimitri selalu menggandeng wanita yang berbeda? Apa diam-diam dia selingkuh dari Joana?” tanya Liliana pada teman makan siangnya. Deby, karena jam kuliahnya hari ini dengan Nabila berbeda, jadi ia belum bertemu dengannya seharian ini.


Joana adalah mahasiswi Fakultas Manajemen Bisnis, yang katanya merupakan mahasiswi tercantik di fakultas mereka. Yah, gadis itu memang terlihat cantik dan juga tua, wajahnya itu sangat boros. Liliana mencoba menilai dari pemandangan di luar kantin itu.


“Itu memang kebiasaannya, Dimitri itu pemain wanita. Dari yang kudengar, hampir seluruh mahasiswi di sini pernah berkencan dengannya.”


Liliana membelalakkan mata mendengar kalimat Deby. Mereka bahkan baru semester dua, itu berarti sejak awal Dimitri masuk ia sudah mulai berkencan dengan para mahasiswi, dan sudah pasti ia melakukan itu setiap hari. Sungguh pria yang luar biasa, kasihan sekali gadis-gadis itu. Liliana berdoa dalam hati semoga Tuhan mengampuni dosa Dimitri dan juga gadis-gadisnya.


“Kamu, kan, satu kelompok bersamanya, kamu tak tertarik padanya?” tanya Deby lagi.


Liliana menggelengkan kepalanya. Yang benar saja, seorang Liliana melakukan hal itu? Bisa rusak semua imej polos yang ia bangun. “Bukan berarti aku menyukainya, jika pindah kelompok semudah itu, maka aku lebih baik pindah kelompok.”


“Padahal banyak dari mereka yang berlomba-lomba agar bisa satu kelompok dengan Dimitri.”


Liliana hanya mengangkat bahunya acuh. Memangnya apa kelebihan Dimitri itu sampai banyak gadis-gadis menggilainya. Mungkin dari sekian banyak mahasiswi di kampus ini, hanya Liliana yang tak menyukai atau belum menyukai Dimitri. Ia hanyalah gadis acuh yang sibuk dengan dunianya, tak ingin dunianya terkontaminasi oleh


apapun yang mampu membuyarkan semua itu.


Setelah selesai makan siang, Liliana memutuskan untuk mengunjungi perpustakaan untuk mencari referensi dari tugas selanjutnya. Tugas kelompoknya dengan Dimitri sudah selesai sejak dua minggu yang lalu. Liliana cukup bersyukur sebenarnya karena berada di kelompok yang sama dengan Dimitri. Pria itu tak seburuk pikirannya, bahkan cukup pintar. Wajar saja jika pria itu sudah bekerja di perusahaannya di usia ini.


Liliana mengelilingi rak yang menampilkan buku-buku berbasis akuntansi, ia mencoba mencari dengan teliti buku yang menjadi referensinya.


“Apa kamu begitu benci padaku?”


Liliana membalikkan tubuhnya mendengar suara itu. Di ujung rak, Dimitri berdiri dengan angkuhnya sambil menyandar pada rak sembari melipat tangannya di dada. “Kamu berbicara denganku?” tanya Liliana.


Dimitri berjalan mendekati Liliana. Sebenarnya Liliana ini adalah gadis yang sangat polos, berbeda dengan para gadis yang sering ia temui dan pernah menjadi teman kencannya. Gadis ini sangat jujur, bahkan tak mengenalnya. Entah kenapa Dimitri sangat tertarik dengan fakta itu.


“Apa yang membuatmu begitu membenciku?” tanya Dimitri lagi. Kali ini Dimitri sudah berada di hadapan Liliana. Dimitri bukan ingin mengkonfrontasi Liliana, ia hanya ingin menanyakan alasan gadis itu begitu membencinya.


Liliana menatap sekelilingnya, dan hanya ada mereka berdua di dekat rak ini. “Aku tak membencimu.” Liliana menatap Dimitri tepat di matanya, ia jujur. Sebenarnya bukan membenci, tapi lebih seperti heran, kenapa ia begitu di gilai oleh para mahasiswa dan sangat terkenal seantero kampus.


“Tapi sepertinya kamu membenciku, kamu bahkan tak mengenalku.”


“Apa itu masalah jika tak mengenalmu, lalu kamu menyimpulkan kalau aku membencimu?” Liliana bukan tipe wanita yang lemah lembut. Dia cenderung ceplas ceplos dan mengatai sesuatu dengan jujur. Ia hanya pernah menyukai kakak kelasnya dulu ketika SMA, setelah itu ia menganggap semua pria hanya biasa saja.


“Kamu sangat sinis terhadapku, sangat berbeda dengan gadis kebanyakan yang biasanya histeris melihatku.”


Liliana menggelengkan kepalanya tak percaya, jadi ia harus bermanis-manis di hadapan pria ini? Memangnya siapa pria ini? Terserah dirinya ingin bersikap seperti apa pada siapapun, walaupun banyak yang akan membencinya ia tak peduli. Ia merantau ke Jakarta untuk menggapai impiannya, bukan untuk menarik perhatian seorang pria.


“Maaf sebelumnya kalau aku tak seperti mereka, aku hanya akan bersikap seperti apa adanya. Aku memang seperti ini, jangan salah artikan sikap sinisku padamu, aku tak membencimu.”


Liliana memilih untuk menyingkir dari hadapan pria ini, mau di jelaskan seperti apapun juga pria ini tak mengerti. Ia memang terlahir dengan sikap yang seperti sekarang ini, karena itu Liliana tak banyak memiliki teman, sejauh ini hanya Nabila yang menjadi teman dekatnya.


Langkah Liliana terhenti, ia berbalik menatap pria itu yang tersenyum padanya. Setelah menanyainya sedemikian rupa, pria ini ingin menjadi temannya, Liliana benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran pria ini. Liliana tak mengiyakan, tak juga menolak, ia hanya menatap Dimitri sebentar lalu beranjak pergi.


**


Liliana tersenyum haru ketika ia baru saja menyelesaikan wisuda pasca sarjananya. Sekitar dua tahun yang lalu Liliana memutuskan untuk melanjutkan pendidikan pasca sarjananya setelah tiga tahun lulus kuliah. Ia ingin meningkatkan jenjang karir di perusahaannya, dan langkah awalnya adalah dengan melanjutkan pendidikannya. Banyak tantangan yang ia hadapi, apalagi di tengah jadwal bekerjanya yang sangat padat.


Awalnya Liliana pesimis tak mampu menyelesaikan pendidikannya sesuai dengan target yang diinginkannya. Tapi berkat kerja kerasnya, dalam waktu satu tahun setengah ia sudah menyelesaikannya. Ia menatap kedua orang tuanya dengan senyuman lebar, kedua orang tuanya pun menatap Liliana dengan bangga.


Anak gadis satu-satunya mereka ini sangat keras kepala dan juga gigih, merantau sendirian di kota besar, menyelesaikan pendidikan pasca sarjana, pekerjaan yang bagus. Hal itu adalah kebanggaan tersendiri yang mereka miliki sebagai orang tua. Bahkan rasanya kalimat pujian yang akan mereka lontarkan tak terlalu berpengaruh, senyuman itu sudah mengatakan segalanya.


“Bapak bangga sama kamu, Nduk.” Bapak kembali memeluk Liliana erat, diikuti dengan Ibunya yang juga ikut memeluk dua orang yang sangat di cintainya.


Liliana melepaskan pelukan kedua orang tuanya ketika melihat Dimitri sudah berdiri di belakang kedua orang tuanya dengan satu buket besar bunga lili berwarna putih, bunga favorit Liliana yang juga sesuai dengan namanya. Pria itu berjalan ke hadapan orang tua Liliana dan tersenyum.


Walaupun Liliana dulu sangat ketus padanya, toh pada akhirnya mereka tetap berteman bahkan sudah menjadi sahabat. Liliana juga tak pernah mengucapkan secara langsung kalau ia tak ingin berteman dengan Dimitri. Hanya seperti itu, dan semuanya terjadi begitu saja. Dimitri juga cukup akrab dengan keluarga Liliana, bahkan Ayah Liliana sudah mempercayakan Liliana pada pria ini, sedekat itu hubungan mereka.


Dimitri menyerahkan buket bunga yang di bawanya kepada Ibu Liliana. “Kok buat Ibu bunganya, Nak?” tanya sang Ibu bingung.


“Bukan buat aku?” Liliana juga bertanya tak kalah herannya.


“Lili udah dapet banyak bunga, jadi ini buat Ibu aja, boleh, kan, Pak?”


Bapak hanya tertawa lalu menepuk bahu Dimitri, mereka berpelukan sebentar. Dimitri juga tertawa karena hal itu, hanya Liliana yang masih setia menunjukkan wajah cemberutnya.


“Hadiah kamu ada di kantor, sekarang nikmatin dulu, deh, waktu kamu bareng Ibu sama Bapak. Telpon aku kalo ada apa-apa, ya?”


Dimitri menepuk-nepuk pelan puncak kepala Liliana, lalu berlalu setelah berpamitan dengan kedua orang tua Liliana.


**


Dimitri benar-benar menepati ucapannya, hadiah kelulusan Liliana memang benar berada di kantor. Promosi Manajer yang di janjikan Dimitri enam bulan sebelum kelulusannya benar-benar menjadi nyata. Promosi itu memang atas rekomendasi Dimitri, tapi yang menilai kinerja calon yang di promosikan adalah Dewan Direksi, lagipula ada dua kandidat lainnya dan Liliana memang lebih unggul di banding dua calon lainnya.


Bisa di bilang, Dimitri hanya membukakan jalan untuk karir Liliana, dan kerja kerasnya tetap berasal dari Liliana sendiri. Gadis itu sangat bahagia, di usianya yang baru menginjak dua enam ia sudah bisa menempati posisi Manajer. Tapi, lagi-lagi, semakin tinggi jabatan seseorang maka semakin tinggi pula tanggung jawab yang ia emban.


Ini sudah melewati tahun pertama ia menjabat sebagai Manajer, pekerjaannya memang semakin banyak dan ia menjadi sering lembur. Ia memang memiliki bawahan di kantornya, tapi ia ingin bertanggung jawab dengan jabatan baru yang ia miliki sekarang. Liliana terbiasa melakukan semua itu, bekerja terlalu keras untuk dirinya sendiri.


Malam itu, setelah Liliana menyelesaikan semua pekerjaannya, ia memutuskan untuk menenggak beberapa kaleng bir. Besok hari sabtu dan ia ingin melupakan sejenak pekerjaannya. Ia sadar ia terlalu bekerja keras, tapi inilah Liliana, ia sangat mencintai pekerjaannya melebihi apapun.


Ia akan pulang dengan menggunakan taksi saja nanti, lagipula ini masih pukul sembilan tiga puluh malam, belum terlalu malam untuknya pulang dengan menggunakan taksi. Ia berencana mengunjungi klub saja tadi, tapi klub rasanya sangat berisik dan pasti banyak tangan-tangan nakal di sana, ia tak ingin mengambil resiko.


Liliana sudah akan membuka kaleng ketiganya ketika mendengar pintu ruangannya di buka. Dimitri berdiri di sana. Liliana tersenyum kepada Dimitri dan meminta pria itu duduk di sampingnya. Terkadang pria itu terlihat sangat tampan di matanya, sangat di sayangkan karena pria itu sering tidur dengan wanita berbeda setiap pria itu ingin.


Dimitri menatap Liliana yang hampir sempoyongan itu, sudah ada dua kaleng bir yang kosong. Ia sedikit menyesali ketika mengiyakan gadis ini untuk mencicipi minuman pahit ini, ia sebenarnya tak ingin merusak kepolosan yang dimiliki gadis ini, tapi jangan lupakan kalau gadis ini sangat keras kepala. Hanya dengan rengekan Liliana, ia akhirnya mengijinkan gadisnya untuk mencicipi bir.


Gadisnya?


Entah kenapa sejak Liliana bersikap cuek padanya, ia sudah mengklaim bahwa Liliana adalah gadisnya, terlepas dari hubungan mereka yang hanya sebatas sahabat. Wanita-wanita berbeda yang sering menghangatkan ranjangnya kebanyakan adalah pelampiasannya. Jika ia di minta untuk jujur, maka ia memang memiliki perasaan terhadap gadis ini.


‘Tak ada persahabatan antara pria dan wanita, salah satunya pasti menyimpan rasa’, dan Dimitri meyakini kalimat itu. Awalnya ia memang hanya ingin menjadi sahabat gadis ini, tapi siapa yang tahu kalau lama kelamaan perasaannya semakin ingin lebih. Itulah alasan dari semua sikap posesifnya terhadap gadis ini.


Panggil saja ia pengecut karena tak menyatakan perasaannya kepada Liliana, ia hanya tak ingin merusak hubungan yang sedang mereka jalani saat ini. Mereka bisa saja berpacaran, tapi hubungan tak selalu berjalan mulus. Jika mereka nanti putus, maka Dimitri akan kehilangan dua hal, persahabatan dan juga kekasih. Ia hanya


ingin menempati zona nyamannya dulu.


“Al, cium aku.”


Dimitri menatap Liliana tak percaya, padahal baru dua kaleng bir yang kosong, tapi sepertinya otak Liliana mulai tak waras. Ia sangat tahu bagaimana kebiasaan mabuk Liliana, gadis itu hanya akan pingsan, jika masih mampu mengatakan hal tak masuk akal seperti ini, gadis ini masih sadar.


“Kamu akan menyesalinya, Li. Aku tak bisa berhenti ketika sudah memulai.” Kobaran nafsu itu sudah membayangi matanya. Dimitri benar-benar tak pernah menyentuh Liliana di tempat yang tak seharusnya, mereka hanya berpelukan dan Dimitri yang beberapa kali mengecup puncak kepala Liliana. Ia sangat menjaga Liliana, tapi jika sudah seperti ini, Dimitri tak bisa menolak kekeraskepalaan Liliana atau gadis itu akan melampiaskannya pada hal lain.


“Just shut up your mouth and kiss me!”


Dimitri benar-benar mencium Liliana. Keras, intens, penuh hasrat, tapi tetap ada kelembutan dalam ciuman itu. Bibir gadis itu terasa sangat manis, dan Dimitri sudah memastikan kalau ia akan kecanduan dengan rasa gadis ini.


“Aku benar-benar berharap kamu tak akan menyesalinya setelah ini, Li.”


Ia tak tahu kalau rasanya akan semabuk ini, bahkan lebih memabukkan di banding dua kaleng bir yang ia minum tadi. Dimitri benar-benar ahli dalam memanjakan perempuan, tak heran banyak wanita yang rela melemparkan dirinya pada pria ini.


Dimitri menatap Liliana dengan rasa bersalah, tak seharusnya ia melakukan hal tersebut pada sahabatnya. Ia bahkan sudah berjanji pada kedua orang tua Liliana untuk menjaga gadis ini di perantauan. Sudah hampir lima tahun, dan selama itu ia berhasil, tapi kenapa hari ini ia tak bisa menolak permintaan gadis itu?


“Katakan kalau kamu ingin berhenti, Li, sebelum semuanya terlambat.”


Dimitri menyatukan kedua kening mereka, ia menatap Liliana dalam. Nafsu memang sudah menguasai tubuhnya, tapi ini Liliana, sahabatnya yang sangat ia jaga. Dan ini di kantor, kalaupun Dimitri ingin melakukannya, ia pasti akan menyewa satu kamar suite dan membuat pengalaman pertama Liliana menjadi lebih indah.


“Kamu sendiri yang bilang kalau tak akan berhenti, dan aku juga tak akan menghentikanmu.” Liliana tersenyum menatap Dimitri.


“Ini akan sangat sakit, katakan jika ini menyakitimu.” Dimitri menatap Liliana dalam sebelum kembali melumat bibir gadis itu yang memerah karena ulahnya, dan mulai menyatukan tubuh mereka.


Liliana sadar ini salah, tapi entah kenapa ia tak ingin berhenti. Setelah ini, ia berjanji pada dirinya kalau tak akan ada pria lain yang mampu menyentuhnya seperti yang Dimitri lakukan. Sahabatnya ini adalah yang pertama dan juga yang terakhir.


**