PLAYBOY

PLAYBOY
Bonus Chapter : After Marriage



Hai, maaf ya aku munculnya malah bawa cerita yang bertolak belakang. Tadinya mau nulis yg happy2, eh kepleset nulis konflik lagi. Maafkan ya, yang penting aku muncul 😁 Happy reading deh 😉


Tenang, aku bakal tanggung jawab buat lanjutin kok. Tungguin aja, ya


**


Bagaimana pendapat kalian tentang kehidupan setelah pernikahan? Ada baik dan juga buruknya, aku menikmati peran baruku sebagai seorang istri. Rasanya setelah perjalanan panjang kami, ini adalah awal baru dari segalanya. Dimitri yang sudah sah kumiliki, dan aku tak perlu takut berdosa lagi karena sudah melakukan hal yang tak seharusnya kami lakukan. Kalian tahu maksudku, kan?


Aku juga sudah resmi mengundurkan diri dari pekerjaanku sebagai Manajer, atas permintaan Dimitri dan juga inisiatifku sendiri. Aku sudah bekerja keras selama ini, ini seperti hadiah atas kerja kerasku selama ini. Dan, aku sedang menekuni hobi baru yang juga baru saja kutemukan. Merangkai bunga.


Agak aneh, aku tahu. Tiba-tiba saja aku tertarik dengan bunga, apalagi halaman belakang rumah kami yang di tanami berbagai macam bunga. Ini adalah rumah yang di bangun oleh Dimitri sendiri, aku tak tahu bagaimana ia bisa berpikiran untuk menanami halaman belakang dengan berbagai macam bunga.


“Kenapa kamu kepikiran untuk menanami bunga di sini?” tanyaku.


Itu adalah pertama kalinya kami pindah ke rumah ini. Hal pertama yang Dimitri tunjukkan padaku adalah kebun bunga ini.


“Mungkin karena aku tahu bakal punya istri secantik kamu, jadi halaman belakang ini harus setara dengan kamu cantiknya,” jawabnya. Ia sudah memelukku dari belakang dan mengistirahatkan dagunya di bahuku.


Aku hanya tertawa saja mendengar jawabannya. Dimitri ini memang sejak dulu sangat menyukai ketika menggoda wanita, dan aku harus berbangga karena menjadi satu-satunya wanita yang di goda olehnya.


Setelah menekuni hobi baruku selama enam bulan, aku mulai memiliki inisiatif untuk membuka toko bunga. Tak ada salahnya, kan?


Aku bisa bekerja dari rumah dan tetap menjalankan peranku sebagai istri. Dimitri tak keberatan, ia bahkan sangat mendukung, secara moril dan juga finansial. Menjadi istri seorang Direktur sangat menyenangkan, tapi juga merepotkan.


Oke, sebelum membahas tentang toko bungaku, aku ingin menceritakan sedikit tentang perubahan apa saja yang terjadi dalam kehidupan kami setelah menikah.


Pertama, Dimitri menjadi semakin posesif. Kalian sudah tahu, kan, bagaimana posesifnya ia kettika kami masih bersahabat? Kali ini posesifnya bertambah seiring status kami yang berubah. Waktu itu kami menghadiri undangan makan malam salah satu kolega Dimitri, dan ia memintaku mengenakan baju yang tertutup, terutama di bagian punggung, paha, dada, dan bahkan lengan. Intinya baju itu harus tertutup.


Aku akan maklum dengan hal itu, lalu walaupun aku sudah mengenakan gaun yang menutupi seluruh tubuh, ia akan memeluk pinggangku dengan posesif. Ia benar-benar tak melepaskanku, kecuali aku akan menggunakan toilet. Bagaimana menurut kalian?


Kedua, ia akan menyewa pengurus rumah tangga untuk merawat dan membersihkan seisi rumah. Lalu apa gunanya aku sebagai istri yang sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya?


“Aku gak mau kamu capek-capek. Cukup santai-santai aja di rumah dan tunggu aku pulang.”


Itu yang di katakan Dimitri ketika aku menanyakan alasannya. Dia sangat berlebihan. Aku juga awalnya adalah wanita mandiri yang akan sangat uring-uringan ketika tak memiliki pekerjaan apapun, lalu sekarang harus berdiam di rumah. Bayangkan akan segila apa aku ketika benar-benar melakukan hal itu?


Tapi, pada akhirnya aku tetap memenangi adu pendapat itu. Sepertinya hanya itu saja yang berubah, sisanya kami masih melakukan semuanya seperti biasa. Kalau kalian bertanya seberapa romantis kami, aku akan menjawab, Dimitri hanya akan bersikap romantis ketika menginginkan sesuatu. Dimitri tetap sama seperti pria lainnya, dan masih gila kerja juga.


Belakangan ini ia lebih suka pulang lebih malam dari biasanya dan meninggalkanku sendirian di kamar, lalu ia akan mengurung diri di ruang kerjanya. Entah apa yang membuatnya seperti itu.


**


“Pak Dimitri-nya lagi rapat, Bu,” ucap sekretaris Dimitri ketika aku mengunjungi kantor suamiku untuk mengantarkan kotak makan siang.


Beberapa kali aku sering melakukan hal kecil seperti ini setelah mencoba resep baru. Selain bunga, aku juga sedang giat-giatnya belajar memasak, dan jika hasilnya cukup baik, aku akan mengantarkan itu ke kantor Dimitri. Siang ini aku mencoba resep ayam rica-rica, dan rasanya cukup baik, jadi aku memutuskan untuk datang.


“Saya nunggu di dalam boleh, kan? Tolong kabarin Pak Dimitri kalau saya nunggu, ya?” ucapku pada wanita di hadapanku ini.


Namanya Vika, kami seumuran. Dan aku cukup tak tenang ketika tahu sekretaris Dimitri adalah wanita muda lajang yang juga seumuranku. Sekarang pelakor bisa di temukan di mana saja, aku tak ingin berpikir buruk, tapi bisa saja, kan wanita ini mencoba menggoda Dimitri walau tahu aku istrinya?


Vika tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Aku segera berjalan menuju ruangan suamiku. Bahkan setelah enam bulan berlalu, rasanya masih sedikit aneh menyebut Dimitri ‘suamiku’. Lidahku belum terlalu biasa dengan sebutan kepemilikan itu.


Aku sudah cukup sering mengunjungi kantor Dimitri, jadi aku sudah khatam dengan semua perabotan yang ada di ruangan ini. Jadi aku hanya duduk di sofa, menunggu Dimitri menyelesaikan rapatnya. Tapi, baru sepuluh menit aku duduk di sofa, pintu ruangan sudah terbuka dan Dimitri muncul bersama seorang wanita. Jangan tanyakan apa ia cantik, karena ia memang cantik, dan mereka masuk ke ruangan dengan tawa akrab. Siapa wanita ini?


Begitu melihatku, Dimitri langsung tersenyum, tapi masih ada yang beda dari pria ini.


“Ah, Evelyn, kenalin ini istriku,” ucapnya. Tak ada pelukan seperti biasanya. Beginikah caranya memperkenalkan istrinya pada wanita lain?


Aku terpaksa menunjukkan senyumku dan menjabat tangan wanita di depanku. Ku tebak umurnya sedikit lebih tua dariku, atau seumuranku. Dia hanya cantik dan penampilannya sangat mencerminkan wanita karier yang sudah sangat sukses. Itu saja yang mampu kukatakan, aku tak mungkin memuji wanita lain yang di perkenalkan oleh suamiku sendiri.


“Dimitri banyak menceritakan tentang kamu, dan ternyata kamu secantik yang ia ceritakan,” ucap Evelyn. Entah itu senyum palsu atau tulus di wajahnya, aku hanya memberinya senyum tipis.


“Kayaknya aku harus lanjut rapat di luar lagi sambil makan siang, kamu mau nunggu di sini atau ikut kami?” tanya Dimitri.


Dimitri ini, apa benar ia suamiku? Atau mungkin ia baru saja di rasuki makhluk lain. Tak ada panggilan ‘sayang’ dan sangat tak acuh walau ia tersenyum padaku. Apa ia tak melihat kotak makan siang yang kubawa? Aku tak mungkin mengatakan hal aneh di depan wanita elegan ini, kan?


“Atau kita barengan aja?” usul Evelyn.


Yang benar saja! Aku mungkin akan berakhir menjambak wanita (sok) elegan ini.


“Aku ada janji sama Nabila, kalian duluan aja.” Aku menatap Dimitri yang beberapa menit lalu baru menjadi pria asing. Ekspresinya bahkan tak terbaca, entah senyuman itu di tujukan untuk siapa.


“Aku pergi, ya?” Dimitri mencium keningku lalu berlalu bersama wanita itu.


Apa aku baru saja di kerjai? Tapi ini bukan ulang tahunku, dan setahuku hari ini juga bukan hari spesial. Jika Dimitri akan menyiapkan kejutan dengan bersikap seperti itu, maka aku bisa maklum. Masalahnya, tak ada perayaan spesial hari ini. Jangan-jangan Dimitri mulai selingkuh di belakangku?


Aku menatap kotak makan siang yang ku letakkan di atas meja. Hasil masakanku sia-sia hari ini. Suamiku lebih memilih wanita dewasa tadi. Kutinggalkan kotak makan siang itu begitu saja, aku tak peduli jika akan basi. Karena suamiku juga tak peduli dengan hasil kerja kerasku hari ini.


**


Sudah pukul sebelas malam, dan belum ada tanda-tanda Dimitri akan pulang. Sangat tak biasa. Jam delapan malam adalah waktu terlama yang di habiskan Dimitri di kantor.


Jika ia memang selingkuh, maka sikapnya belakangan ini memang sangat wajar. Ini pertama kalinya Dimitri mengabaikanku setelah kami menjadi suami istri.


Wajar, kan, kalau aku berpikiran buruk? Karena suamiku juga tak menjelaskan apapun. Ah, aku bahkan lupa untuk menceritakan tentang usahaku membuat toko bunga. Aku akan menceritakannya lain kali, saat ini aku benar-benar sudah tak memiliki mood untuk memikirkan hal lain selain berprasangka buruk pada suamiku sendiri.


Tak lama kemudian terdengar suara mesin mobil, itu mobil Dimitri. Aku mengecek ponselku. Pukul 23.15.


Aku langsug memejamkan mataku. Aku ingin tahu apa yang akan di lakukannya ketika aku sudah tidur seperti ini. Malam ini benar-benar sunyi karena aku bisa mendengar suara langkah kaki Dimitri yang menaiki tangga, lalu memasuki kamar. Ada suara gemerisik yang cukup kencang sebelum sisi kasur kosong di sebelahku berderit.


Dimitri langsung memelukku dari belakang. Pria ini bahkan tak membersihkan diri dulu sebelum naik ke kasur.


“Maafin aku,” ucapnya lirih.


Aku bisa mencium bau parfum manis di belakangku. Maaf untuk apa? Dan bau ini jelas bukan parfum Dimitri. Dimitri tak pernah menggunakan parfum, bau tubuhnya sangat khas bahkan tanpa bantuan parfum.


Hanya sebentar saja pelukan Dimitri yang terasa dingin itu, karena setelahnya ia bangkit dari kasur. Aku tak tahu ia pergi kemana, aku hanya mendengar suara pintu yang terbuka lalu tertutup kembali. Aku tak ingin menjadi wanita yang melankolis, tapi air mata ini mengalir dengan sendirinya setelah kepergian Dimitri.


Jadi, apa ini? Ujian rumah tangga? Anggap saja seperti itu, bahkan pernikahan pun juga tak selalu berjalan dengan mulus.


**


“Ayam rica-rica yang kamu bawa kemarin enak rasanya,” ucap Dimitri.


Bahkan sarapan kami terasa sangat dingin saat ini. Yah, mungkin kalau benar Dimitri sedang berselingkuh di belakangku, aku akan langsung mengajukan gugatan cerai. Bukan aku menganggap remeh pernikahan, tapi aku tak bisa bertahan dalam hubungan yang penuh pengkhianatan ini.


“Oh, kamu makan itu? Aku pikir kamu buang,” ucapku sarkas.


Dimitri terlihat kaget dengan balasanku. Mungkin ini pertama kalinya juga aku mengatakan hal sedingin itu. Dia juga tak menjelaskan apapun padaku, wajar saja aku seperti ini.


“Sayang…,”


“Sekarang aku ‘sayang’ lagi? Kemarin di hadapan Evelyn aku bukan ‘sayang’.”


Biar kutunjukkan seberapa jauh aku bisa melampaui batas.


“Evelyn cuman klien, kenapa kamu berlebihan kayak gini?” tanyanya sedikit tak terima.


Jadi dia bisa bersikap posesif padaku seenaknya, tapi aku yang hanya menanyakan soal wanita tempo hari di anggap berlebihan? Siapa yang berlebihan di sini?


Aku memilih bungkam saja, jika di lanjutkan aku akan semakin meledak. Aku seperti tersangka di sini, padahal akulah korbannya. Ah, sedari dulu juga aku hanya korban yang terlihat seperti yang paling bersalah. Jadi, ini akan terulang lagi?


Tak salah jika aku menanyakan tentang Evelyn itu, kan? Aku istrinya sekarang, dan hanya ingin tahu sebelum ini menjadi masalah besar. Aku akan menyelesaikan dengan kepala dingin jika Dimitri juga bisa bekerja sama. Rumah tangga adalah tentang komunikasi dan kepercayaan, tapi apa yang dia lakukan sekarang?


Aku semakin yakin kalau ada sesuatu tentang Evelyn ini.


**