
Aku sangat menyukai bunga lily. Mungkin karena namaku Liliana jadi aku menyukai bunga lily, atau mungkin namaku dulu terinspirasi dari bunga lily. Entahlah, aku tak pernah menanyakan secara pasti pada kedua orang tuaku tentang hal itu. Yang pasti aku sangat suka dengan keindahan bunga itu sendiri, terkhusus lily putih.
Aku pernah membaca sejarah tentang bunga lily secara tak sengaja di sebuah buku, dan itu memiliki kisah yang sangat indah.
Di zaman Yunani Kuno, di sebutkan dalam sebuah legenda Yunani bahwa bunga Lily berasal dari susu yang di tumpahkan Dewi Hera. Konon katanya, pada saat Dewi Hera menyusui putranya, Hercules, ia secara tak sengaja menumpahkan air susunya ke bumi. Itulah awal mula tumbuhnya bunga lily di bumi.
Itu hanya legenda, aku juga tak tahu secara pastinya. Lily sendiri punya arti kesucian, kemurnian, dan kesopanan. Bunga Lily favoritku adalah lily putih dengan jenis Casablanca Lily. Mungkin aku menyukainya karena jenis itu memiliki arti yang benar-benar sangat indah. Casablanca Lily melambangkan sesuatu yang suci, bersih, dan sangat menawan.
Mungkin kalau kalian ingin mengahdiahi kekasih atau istri, bisa memberikan bunga lily. Mawar sedikit terlalu biasa. Aku praktis menyukai semua jenis bunga, padahal Dimitri tak pernah memberiku bunga. Mungkin bunga terlalu murah untuknya, yang bisa membeli sesuatu yang lebih mahal.
Aku sudah berbaikan dengannya. Lebih baik berdamai di bandingkan membiarkan masalah ini sampai berlarut-larut. Aku mencoba untuk mengerti posisinya, tapi juga tetap waspada. Untuk orang yang pernah patah hati sepertiku, kejadian ini selalu membuatku berhati-hati terhadap segala hal.
Cinta tak pernah bertahan lama jika kalian tak merawatnya. Mungkin aku lebih cocok menjadi motivator di banding membuka toko bunga seperti ini, karena saking banyaknya kalimat-kalimat bijak yang ku ungkapkan. Itu hanya bagian dari perjalanan kisahku, bukan sesuatu yang mengada-ada. Jadi, kalau kalian ingin menerapkannya atau menjadikan referensi, tak masalah.
Jadi, hari ini adalah peresmian toko bunga milikku. Aku menolak semua bentuk acara mewah yang Dimitri tawarkan padaku. Sejak dulu, aku tak pernah menyukai acara-acara mewah yang sering di adakan oleh perusahaan besar yang hanya di isi oleh orang kaya
Jadi hanya ada teman-temanku saja yang hadir. Tapi kalian pasti tahu kalau temanku hanya Nabila dan juga suaminya. Aku juga punya Kevin dan Ayu, lalu, sepertinya hanya itu saja. Aku tak punya banyak teman, mungkin itu sebabnya Dimitri sangat ingin mengadakan pesta mewah seperti seharusnya. Tapi ini hanya toko bunga, aku juga hanya memilih bangunan yang kecil dan minimalis.
Coba tebak apa yang kami lakukan?
Kami hanya mengobrol. Itu saja. Aneh, kan? Setidaknya aku sudah merangkai beberapa bunga, dan akan kulakukan lagi ketika ada pelanggan datang.
“Aku gak nyangka kamu tertarik sama hal yang cukup sentimental kayak gini,” ucap Nabila.
Aku tertawa mendengar ucapannya. Seperti sangat bukan diriku, tapi waktu terus berjalan, dan manusia juga berubah. Mungkin aku juga harus sering menunjukkan sisi emosionalku. Aku sudah terlalu lama terpendam dalam sifat acuhku yang sangat luar biasa itu.
“Nikah bikin sisi sentimentilku keluar.”
Hanya ada aku, Nabila, dan juga Ayu di sini. Para pria sedang menikmati waktu lainnya, mungkin membicarakan bisnis, yang jelas tak akan cocok dengan kami. “Kamu kapan nyusul, Yu. Kevin udah siap kayaknya?” tanyaku.
Ayu tertawa kering. Biasanya jika aku membahas Kevin, Ayu akan tersenyum malu-malu. Sepertinya ada yang beda dengan Ayu. “Belum kepikiran, Mbak. Aku juga kayaknya belum siap juga, secara mental.”
Ayu adalah gadis yang sangat ku percaya di antara banyak kenalanku. Dia sangat mengingatkanku tentang diriku ketika seumurannya. Bersemangat, polos, malu-malu, seperti tak ada hal buruk yang bisa di cari untuk menjatuhkannya. Sejak kedatangannya tadi, aku merasa ada yang lain, seperti ada yang lain. Senyum polo situ bahkan belum kulihat sejak tadi.
“Kamu ada masalah sama Kevin?” tanyaku lagi.
“Gak ada kok, Mbak.”
“Kamu udah ngelakuin ‘itu’ sama Kevin?” tanya Nabila.
Ayu menatap Nabila dengan bingung. Tentu saja Ayu tak akan tahu hal yang seperti itu. Dan aku sangat tahu apa ‘itu’ yang di maksud Nabila. “Jangan racunin Ayu sama hal aneh-aneh, Bil.”
“Kamu juga gitu waktu pertama kali sama Dimitri. Aku inget banget—“
“Yu, jangan pernah dengerin omongan Nabila, ya? Dia udah punya anak gini, tapi otaknya gak pernah bener,” potongku. Aku tak ingin Nabila mengatakan hal aneh di depan Ayu. Walaupun itu kebenarannya, tapi akan sangat aneh jika hal seperti itu di bicarakan di tempat terbuka seperti ini.
**
Aku sedang menyiapkan makan malam di rumah seperti biasa, siang tadi acara pembukaan toko bungaku berjalan lancar seperti biasa. Belum ada pelanggan yang benar-benar datang untuk membeli bunga, tapi tak masalah. Bukankah wajar untuk pembukaan pertama kali?
Dimitri dan aku sudah memutuskan untuk tak memperpanjang masalah kami karena Evelyn tentu saja. Bukan berarti aku mempercayai sepenuhnya, bisa saja ada kebohongan di kalimat itu. Trauma masa lalu mengajarkan aku banyak hal, termasuk dalam hal kepercayaan. Itu salah satu masalah yang sangat sensitive untuk kuterima.
“Kamu masak apa?” tanya Dimitri.
Aku menoleh dan menemukan Dimitri sedang menatapku dari pintu dapur. “Spagheti kesukaan kamu, sebentar lagi selesai, kamu duduk aja.” Aku memberikan senyum terbaikku pada pria yang sudah menjadi suamiku ini.
Tak ada kisah menarik dalam rumah tangga kami, kami hanya menjalaninya seperti pasangan kebanyakan. Sejak dulu aku selalu mempercayainya, dan karena masalah Michelle aku memandangnya sebagai pria lain yang tak pernah kukenal sebelumnya.
Sejak aku memutuskan untuk memaafkan dan menerimanya, kepercayaanku sedikit berkurang padanya. Ini juga sulit untukku, aku seharusnya mempercayai suamiku semdiri. Apalagi karena kemunculan Evelyn yang menurutku sangat acak, dan Dimitri yang melakukan sesuatu hal yang sangat bukan dirinya hanya karena wanita itu Evelyn.
Aku meletakkan dua piring spageti di meja makan. Kemampuan memasakku sudah cukup mahir, tapi aku juga tak terlalu bisa jika harus memasak sesuatu yang sangat rumit. Spageti cukup mudah, dan kami berdua menyukainya, masakan sederhana seperti ini sangat mudah untukku.
“Gimana proyek kamu sama Evelyn?” tanyaku.
“Dia udah tanda tangan kontraknya, dan aku udah minta Pak Surya untuk ngurus semuanya.”
Setelah kami menikah, Dimitri tak lagi mengurus perusahaan keluarganya. Ia memiliki satu perusahaan atas namanya di bidang properti, yang ia urus saat ini. Sedangkan perusahaan keluarga Aldino sudah resmi di alihkan kepada Kevin. Keluarga pengusaha yang memang sangat menjanjikan, kalian hanya perlu di rumah menanti suami pulang, tapi dengan resiko suami kalian yang bisa saja selingkuh dengan pria lain.
“Kamu masih belum percaya kalau Evelyn itu bener-bener klien aku?” tanya Dimitri.
“Aku berusaha, Al, tapi memang untuk saat ini aku belum bisa,” ucapku. Aku memang sangat sering mengungkapkan kejujuranku, dan ya, untukku sendiri yang mengatakan hal itu saja sudah merasa kalau hal itu sangat kejam. Bagaimana dengan Dimitri yang selalu menerima semua kejujuranku?
“Aku gak akan ngulangin kesalahan yang sama lagi, aku janji, Li.”
Aku menatap Dimitri yang terlihat sungguh-sungguh dengan kalimatnya. Jika suami bosan pada kita, apa itu hal yang wajar? Maksudku, mungkin saja Dimitri merasa bosan padaku yang selalu bersikap jujur, kan?
“Kamu bisa jujur tentang apapun sama aku, itu gak pernah jadi permasalahan buatku. Kamu tahu aku benci di bohongi, kan?”
Mimpi yang belakangan sangat sering menghampiriku, tapi aku tetap berpikir positif. Dimitri tak mungkin mencurangiku begitu saja. Dia selalu berjanji akan selalu menjagaku, dan aku akan percaya pada janjinya kali ini. Aku bisa melewati ini.
**
“Gimana kabar kamu di sana, nak?” ucap Ibuku yang baru saja menelepon.
Sudah lewat dua jam dari aku membuka toko bunga milikku, dan Ibu baru saja menelepon. Kalau di hitung, aku belum pulang ke rumah orang tuaku sejak menikah. Ciri-ciri anak yang sangat durhaka, padahal bisa di bilang aku memiliki banyak waktu luang setelah berhenti dari pekerjaanku. Tapi, tak mungkin aku pulang ke rumah orang tuaku tanpa Dimitri, kan?
Dimitri yang masih sangat sibuk mengurusi perusahaannya, dan aku akan dengan sangat sabar menunggu sampai ia memiliki waktu luang untuk melakukan cuti.
“Lili baik, Bu. Ibu sama Bapak apa kabar di sana?”
“Ibu sama Bapak baik. Gimana toko bunga kamu di sana? Lancar?”
“Lancar juga, Bu. Sayang banget Ibu gak bisa datang kemarin, padahal banyak bunga-bunga cantik di sini. Ibu pasti suka kalau liat di sini.”
Ibuku sangat menyukai bunga. Pekarangan rumah orang tuaku penuh dengan tanaman hias serta bunga-bunga, hasil dari kegiatan Ayah dan Ibuku selama ini. Itu juga alasanku membuka toko bunga, jika ada hal yang tak kumengerti, aku bisa menanyakan pada Ibuku. Dan bunga juga merupakan hal yang familiar untukku, selain kertas dan juga laporan-laporan.
Ketika aku memberitahu tentang rencana membuka toko bunga, Ibuku sangat antusias. Tapi sayang, ia tak bisa hadir kemarin. Ibu dan Ayahku sudah memiliki rencana lain di hari itu.
“Nanti Ibu jengukin toko bunga kamu di sana. Kabar Dimitri gimana? Kalian akur-akur aja?”
Ingin sekali kukatakan kalau kami tak baik-baik saja, walaupun lebih terlihat kalau kami tak memiliki masalah. Tapi sebenarnya, ada yang belum selesai di antara kami, dan kupaksa untuk selesai. Kebiasaan burukku.
“Ibu tenang aja, kami akur kok. Ayah mana, Bu?”
“Ayah kamu masih ada urusan di kantornya, padahal udah Ibu bilangin berkali-kali supaya gak usah capek-capek. Tapi, tetep aja Ayahmu selalu dateng kalau di panggil lagi ke kantornya, Ayahmu itu, persis banget sama kamu.”
Aku tertawa mendengar omelan Ibu. Aku dan Ayah memang contoh Ayah dan anak yang serupa, kami sangat pekerja keras. Bekerja melebihi batas kemampuan sendiri. Ayah sudah pensiun sejak dua tahun yang lalu dari kantornya, tapi sesekali ia masih datang bekerja jika di minta.
“Selama Ayah masih bisa, kenapa gak di kerjain? Di rumah terus bikin tulang-tulang Ayah semakin keropos.” Itu yang di ucapkan Ayah ketika aku bertanya alasannya masih bekerja walau sudah pensiun. Otak Ayah masih di butuhkan di kantor itu, pegawai baru tak akan bisa menggantikan betapa cerdasnya pemikiran Ayah.
“Jangan di marahin terus Ayahnya, Bu, Ayah juga butuh gerak,” ucapku dengan geli. Aku membayangkan bagaimana ekspresi Ayah ketika Ibu mulai dengan ceramahnya.
“Ayah kamu kalau gak di ingetin bisa-bisa lupa dan gak berhenti kerja. Ibu yang jadinya kesepian di tinggal sendirian di rumah terus.”
Resiko menjadi anak tunggal, aku tak memiliki adik, lalu ketika aku sudah menikah dan keluar dari rumah Ibuku, kedua orang tuaku akan kesepian. Jika jarak kota ini tak memerlukan pesawat terbang, mungkin aku sudah menyusul Ibuku di rumah dengan mobil dan membawanya kemari.
“Ya udah, Ibu tutup dulu, ya? Kamu lanjut kerjanya, salamin buat suami kamu. Jangan lupa buat main kesini kalau ada waktu luang.”
Aku menekan tanda merah di ponselku dan sambungan kami terputus. Sepertinya secara tiba-tiba, aku merindukan Ibuku dan juga Ayah. Mungkin benar kalau anak tunggal adalah anak yang manja, sejak dulu aku tak pernah menunjukkan sifat itu, tapi sekarang aku begitu merindukan mereka.
Menikah adalah takdir setiap manusia, karena sejatinya kita sudah di pilihkan pasangan oleh Yang Maha Kuasa. Aku tak menyesali keputusan untuk menikah, aku hanya tiba-tiba merasa sendu karena hal yang tak kutahu. Mungkin sejak mengetahui perbuatan Dimitri. Aku sangat sensitif dengan kepercayaan, dan saat ini kepercayaanku tengah goyah.
**
“Tadi Ibu nelpon, nitip salam buat kamu,” ucapku. Aku baru saja meletakkan sayur sop yang baru saja matang ke atas meja makan.
Setidaknya Dimitri pulang tepat waktu, ia tak pulang larut malam seperti kemarin. Mungkin aku hanya terlalu paranoid dengan pengalaman yang pernah terjadi. Bagaimana mungkin aku tak mempercayai suamiku sendiri?
Dimitri tersenyum menatapku, bergantian menatap menu yang baru selesain kubuat di meja makan. “Salam balik buat Ibu, aku juga udah lama gak nelpon Ibu kamu.”
Ini sedikit berlebihan, aku bahkan meneliti wajah Dimitri dengan seksama. Aku bisa tahu kebohongan yang ia ucapkan dalam sekejap, aku sudah lebih dari lama untuk mengenal pria ini.
“Kamu kapan cuti? Aku mau ke rumah Ibu bareng sama kamu.”
Senyum di wajah Dimitri pudar, begitupun dengan aku yang menatap wajah itu. “Ini belum satu tahun setelah cuti pernikahan kita, dan aku juga punya beberapa kerjaan yang agak telat di siapkan karena anak baru. Jadi aku belum bisa ikut kamu.”
Dimitri adalah pemilik perusahaan, ia bisa berlibur untuk sebentar dan Dimitri pasti bisa melakukan itu. Dimitri yang mengatur semuanya, kenapa ia harus takut hanya untuk mengajukan cuti?
“Tapi kalau memang kamu mau pergi, aku bisa pesenin tiket pesawatnya. Kerjaanku beneran gak bisa di tinggal,” ucap Dimitri lagi. Wajah kecewaku mungkin sangat terlihat penuh kekecewaan.
Dimitri ini memang pekerja keras, tapi tetap saja ini sangat tak masuk akal untukku. “Kamu gak masalah aku pergi sendirian?” tanyaku.
“Aku bisa sesuain sama jadwal kamu, jadi kita bisa pergi sama-sama.”
Entah pekerjaan Dimitri yang memang sedang banyak, atau dia memiliki pekerjaan lain untuk di selesaikan. Selingkuh, misalnya. Semua hal buruk yang ada di otakku sudah hampir keluar semua, tinggal menunggu sampai Dimitri kembali dengan semua kejujurannya, tapi aku tak tahu kapan.
Ini semakin meyakinkanku kalau ada yang salah dengan Dimitri. Apa kalian percaya kalau manusia bisa sepenuhnya berubah menjadi lebih baik?
Aku percaya, hanya saja, ada beberapa kebiasaan dan juga sifat yang memang akan sulit untuk di ubah kalau bukan karena keinginan orang itu sendiri. Dimitri, aku percaya pada usahanya memenangkan hatiku, aku hanya tak percaya kalau ia mencintaiku dengan tulus. Maaf kalau aku terlalu berprasangka buruk, tapi hatiku terus mengatakan hal yang sama.
**