
karena tanggalnya cantik, ini hadiah buat kalian yang udah sabar nungguin. Aku selalu ketawa setiap baca komenan kalian. Sabar terus nungguin cerita ini ya :)
“Kamu yakin aku harus kembali sama Dimitri? Kamu tahu, kan, apa yang udah dia lakuin selama ini sama aku?” tanyaku pada Nabila.
Kalau kalian mengatakan aku masih mencintai Dimitri, maka jawabannya ‘ya’. Tapi, jika untuk kembali percaya,
jawabannya ‘tidak’. Aku adalah wanita yang sangat memegang teguh kepercayaan seseorang, jika kepercayaan itu sudah hancur, hal itu tak akan kembali utuh lagi walaupun banyak orang yang mulai mencoba untuk menyatukan
kepingan-kepingan yang sudah hancur itu.
Anggap saja aku terlalu kolot atau apapun, nyatanya inilah aku. Jika kalian sudah di khianati sekali, kalian pasti
akan tahu apa yang aku rasakan. Setidaknya kalian harus mengalami apa yang aku alami dahulu agar kalian bisa mengerti. Aku seperti ini bukan karena keinginanku, tapi hatiku memang tak bisa menerima lagi. Walaupun aku sangat mencintainya.
“Aku yakin dia udah berubah, Li. Selama kamu pergi, dia kayak orang gila karena gak bisa nemuin kamu, dia gila kerja. Coba deh, perhatiin gimana kurusnya badan dia, wajahnya yang keliatan lebih tirus. Aku yakin kamu tahu apa yang aku maksud,” ucap Nabila.
“Kamu yakin semua itu bisa jamin dia bisa berubah? Aku kenal dia lebih lama, dan aku yakin penyakit pemain cewek itu gak mungkin berhenti gitu aja cuman karena aku.”
Ini adalah perdebatan pertamaku dengan Nabila karena Dimitri. Beberapa hari yang lalu aku sudah menerima kembali Dimitri. Aku memang sudah memaafkannya, tapi bukan berarti aku bisa lupa begitu saja dengan semua hal yang sudah ia lakukan.
“Kamu juga tahu cerita tentang Michelle, Dimitri terpaksa dan Michelle manfaatin semua itu. Richard juga ngomong hal yang sama, kan?”
Ya, aku tahu masalah itu. Oke, Dimitri mencintaiku. Dia sudah tak pernah tidur dengan perempuan acak lagi setelah
mendapatkan harta berharga milikku. Dimitri juga sosok yang sangat maskulin dan lembut pada perempuan, aku juga sangat tahu hal itu. Dan ia mencintaiku, lalu aku juga mencintainya.
Jika di sederhanakan, aku hanya harus menerima lamarannya dan kami hidup bahagia selamanya. Itu yang akan terjadi di sebuah film romantis yang kebetulan pernah ku tonton. Tapi, kenyataannya tak semudah itu. Aku bahkan harus lari hanya untuk melupakan Dimitri dan semua perbuatannya, yang tentu saja gagal.
“Kamu di bayar berapa sama Dimitri sampai kamu mau mati-matian bela dia, alih-alih aku?” tanyaku ketus.
Nabila menghela napas. Dia yang paling tahu seberapa keras kepalanya aku ketika berdebat, dan Nabila tak pernah bosan melakukan hal ini. “Aku cuman mau kamu bahagia, Li. Aku tahu seberapa menderitanya kamu dengan lari dari kenyataan, berharap bisa lupain Dimitri, tapi gak bisa, kan?”
Hubungan asmara Nabila dan Reno terbilang damai dan minim konflik. Bahkan sampai sekarang ketika mereka sudah memiliki anak, keluarga kecil mereka. Kami sama-sama tahu apa yang sudah kami jalani untuk mencapai titik ini. Tapi, untuk kali ini saja, aku akan menentang pendapat Nabila.
Memaafkan bukan berarti harus kembali pada Dimitri. Anggap saja kemarin aku kembali terbutakan oleh setan yang selalu merasukiku dulu ketika aku pertama kali jatuh cinta pada Dimitri.
“Kamu cinta sama dia, sampai kapan kamu akan bohongin perasaan kamu dengan ngulang-ngulang kalimat yang sama di otak kamu? Terima aja, Liliana. aku tahu hati kamu butuh Dimitri. Ini takdir kamu, karena kalau nggak, nggak mungkin kamu kembali ketemu dia,” lanjut Nabila.
Bisa saja kami di pertemukan kembali untuk saling belajar pada kesalahan masing-masing, agar di kemudian hari kami tak melakukan hal yang sama. Tapi bukan berarti harus kembali bersama. Aku lebih memilih untuk sendiri seumur hidupku, jika harus kembali pada Dimitri lagi. Walau hatiku menerima, tapi tidak dengan pikiran warasku. Karena selama ini yang membantuku untuk terus hidup adalah pikiran warasku. Cinta tak selalu bisa membahagiakanku.
Aku tak menjawab kalimat panjang Nabila, karena aku tak ingin kami terus bertengkar. Aku hanya berjalan keluar
meninggalkannya sendiri, hal yang dulu tak akan mungkin kulakukan, apalagi ini Nabila. Lain kali aku akan minta maaf padanya.
**
Aku kembali mengingat kenangan lamaku, hanya selang beberapa hari setelah aku bermaksud untuk menerima Dimitri kembali. Setelah di pikir lagi saat ini, aku seharusnya mendengarkan hal-hal buruk yang berlarian di kepalaku, bukan malah mengikuti kata hatiku untuk menerima lamarannya dan menikah.
Apa hanya aku yang sepertinya sangat menyesali pernikahanku sendiri? Kuharap tidak.
Ini karena semua sikap Dimitri belakangan ini, andai saja aku tak menemukan Evelyn bersamanya, atau tak menunggunya setiap malam. Aku tak seharusnya memikirkan semua ini. Tapi siapa yang bisa di salahkan di sini? Aku tentunya tak ingin menjadi yang bersalah di sini. Biarkan aku egois, bukan aku yang menciptakan ego ini.
“Lho, kok kamu sendiri, sayang. Dimitri kemana?” tanya Ibu ketika aku baru turun dari taksi.
Ya, akhirnya aku pulang ke rumah orang tuaku sendirian. Aku tak memberitahu Dimitri, kekanakan, kan? Aku meninggalkan rumah tanpa pesan apapun, hanya meminta Tari—pegawai toko bunga—untuk melanjutkan pekerjaan tanpa ku. Setidaknya selama satu minggu.
“Kalo Lili nungguin Dimitri, mungkin sampai tahun depan Lili gak akan pulang,” ucapku. Aku mengerucutkan bibir dengan (tidak) imutnya agar Ayah dan Ibuku tak curiga.
“Gak boleh gitu ngomongin suami sendiri,” ucap Bapak.
Aku hanya tertawa saja, lalu kami saling merangkul masuk ke dalam rumah. Wangi makanan sudah tercium walau hanya dari pintu saja. Masakan Ibuku memang yang terbaik, aku bahkan tak bisa sedikit saja meniru masakannya. Mungkin bentuknya bisa sama, tapi soal rasa sangat jauh dari sama.
“Menu hari ini apa, Bu?” tanyaku. Aku merangkul lengan Ibu dengan manja, sepertinya sudah sangat lama sejak aku bermanja-manja seperti ini.
Aku keluar dari rumah sejak lulus SMA, jadi bisa di bilang kebersamaanku bersama orang tua sangat singkat. Aku termasuk kuat untuk ukuran anak tunggal, yang kutahu anak tunggal identik dengan tak pernah jauh dari orang tua dan selalu bermanja-manja. Mungkin tergantung kepribadian masing-masing juga, karena pasti tak semuanya seperti itu, aku hanya mengatakan garis besarnya saja.
“Makanan favorit anak kesayangan Ibu.” Ibu tersenyum padaku setelah kami sampai di meja makan.
Meja makan sudah penuh dengan berbagai makanan. Ada ikan asin, tahu dan tempe goreng, lalu ayam goreng, lalapan, dan jangan lupakan sambal terasi khas Ibuku. Ini semua memang makanan favoritku. Walaupun aku bisa menemukannya di manapun di sudut kota Jakarta, rasanya kalah dengan buatan Ibuku.
Kami makan dengan khidmat siang itu, di sertai dengan obrolan serta candaan. Ayah dan Ibu sama sekali tak bertanya tentang Dimitri ataupun kehidupan rumah tanggaku. Kami hanya mengobrol seperti biasa, seperti dulu ketika aku belum memutuskan untuk merantau ke Jakarta suasana hangat yang sangat kurindukan.
Dan ingatanku langsung menuju pada Dimitri, andai kami bisa menua seperti Ayah dan Ibu, pasti sangat membahagiakan. Kedua orang tuaku adalah contoh keluarga yang ingin ku bangun di masa depan.
Selesai makan siang, aku memutuskan untuk istirahat di kamar sebentar. Aku juga harus menghubungi Dimitri, aku tak menghidupkan ponselku sejak pagi tadi ketika dalam penerbangan. Aku juga tak yakin Dimitri akan menghubungi, pekerjaannya lebih penting dari apapun. Oh, dan jangan lupakan ‘pekerjaan barunya’.
“Hai,” sapaku.
“Kamu kemana?” tanyanya dengan nada sedikit khawatir. Dia memang seharusnya merasakan itu.
“Aku ke rumah Ibu.”
“Kamu ke rumah Ibu kamu?! Tanpa bilang sama aku?”
Aku memejamkan mataku. Seperti merasakan dejavu, aku juga dulu kabur seperti ini, bedanya Dimitri tak menanyakan sesuatu dengan nada se khawatir ini. Apa aku sudah keterlaluan? Atau terlalu kekanakan?
“Kamu yang bilang sendiri kalau aku boleh kesini kapanpun, karena kamu masih sibuk sama kerjaan kamu.”
Aku tak menyindir sama sekali, aku hanya menyampaikan yang ia katakan padaku sebelumnya. Aku bukan sedang ingin menjadi tak dewasa, aku benar-benar sangat rindu dengan kedua orang tuaku. Walaupun pergi tanpa izin dari suami sangat salah, aku hanya mengikuti apa yang terlintas di pikiranku tadi malam.
“Tapi kamu seharusnya bilang, sayang. Aku suami kamu.”
Terdengar helaan nafas lelah di seberang sana. Ya, mungkin hanya aku saja yang terlalu kekanakan dengan melarikan diri seperti ini. “Aku minta maaf, aku…,”
Aku bahkan tak bisa memberikan alasan untuk perbuatanku ini. Pikiranku benar-benar kacau belakangan ini. Emosiku juga sangat tak stabil dan pikiran tentang Dimitri yang mungkin saja bermain belakang dariku sangat melelahkan. Aku tak ingin terus-terusan memkirkan hal itu, tapi secara tak sengaja, hal itu tak bisa di hindari.
“Aku tutup, ya? Kamu jangan lupa makan siang, aku kabarin kamu lagi kalau aku pulang ke Jakarta.”
Aku langsung memutus sambungan telepon secara sepihak. Aku sepertinya memang butuh istirahat, perjalanan lebih dari satu jam tadi cukup menguras tenagaku.
**
Aku membuka mata secara perlahan, rasanya sangat berat untuk membuka kelopak mata ini. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling, ini bukan kamarku, dan bau alkohol sangat menyengat hidungku. Bahkan ada selang infus di sisi tempat tidurku, apa aku di rumah sakit? Ada apa dengaku?
Mataku berhenti di sisi ranjang, ada Ibuku yang sedang tidur dengan posisi duduk. Aku menggerakkan jemariku yang bertautan dengan milik Ibuku. Ibu bergerak sedikit, lalu mendongakkan wajahnya menatapku.
“Kamu sudah sadar, Nak?” tanya Ibu dengan khawatir.
Aku hanya tersenyum tipis untuk menjawab pertanyaan Ibu, tenggorokanku terasa sangat kering saat ini. “A…Air, Bu,” ucapku lirih.
Dengan gesit, Ibu segera membawa gelas yang ada di nakas samping tempat tidurku menuju mulutku, beruntung ada sedotan.
“Lili dimana, Bu?” tanyaku setelah meneguk air putih tadi.
“Kamu di rumah sakit, kamu pingsan di kamar kamu sendiri,” ucap Ibu.
Aku pingsan? Tapi hal terakhir kali yang kulakukan adalah menelepon Dimitri lalu tertidur. Ah, benar, Dimitri.
“Ibu nelpon Dimitri?”
“Belum, kamu mau Ibu telepon Dimitri sekarang?”
Aku menggeleng lemah. Akan lebih baik kalau Dimitri tak mengetahui hal ini. “Jangan kasih tahu Dimitri, Bu, takutnya dia khawatir.”
Ibu menggelengkan kepalanya tak percaya, anaknya yang sudah memiliki suami ini memilih untuk tak memberi tahu suaminya sendiri kalau dia pingsan. Aku mengerti bagaimana perasaan Ibu saat ini.
“Kamu tetap harus kasih kabar untuk suami kamu, karena kamu sudah gak sendirian lagi sekarang…,”
Tentu saja aku tak sendirian sekarang, ada Ibu yang bersamaku. Ayah mungkin masih menyiapkan barang-barang kami di rumah. “Iya, Lili tahu, ada Ibu sama Bapak di sini. Dimitri pasti gak akan khawatir.” Aku memberikan senyum terbaikku pada Ibu.
“Kamu hamil, Nak. Kamu akan jadi Ibu.”
Aku hanya menatap Ibu tak percaya. Aku? Hamil? “Ah, Ibu hampir lupa. Ibu harus panggil Dokter setelah kamu sadar, Ibu keluar dulu, ya?”
Ibu menghilang di balik pintu kamar. Sementara aku masih terkejut dengan berita yang sangat tiba-tiba itu. Bahkan sebelum ini aku tak memiliki gejala hamil sama sekali, aku melakukan semuanya seperti biasa. Juga tak ada mual-mual. Apa mungkin emosi yang aku rasakan baru-baru ini karena aku hamil.
Tak lama kemudian, Ibuku muncul bersama seorang Dokter wanita. Kutebak usianya sama seperti Ibu, karena guratan-guratan usia itu terlukis jelas di wajahnya. Dokter wanita itu segera melakukan prosedur pengecekan di tubuhku.
“Bagaimana perasaan kamu saat ini?” tanya sang Dokter.
Aku mencoba merasakan tubuhku sendiri, tak ada yang aneh, tak ada nyeri juga. Tapi ketika aku menggerakkan pinggulku sedikit, ada rasa kram yang kurasakan. “Area pinggang ke bawah saya sedikit kram,” ucapku.
Dokter wanita itu hanya tersenyum menatapku. “Itu hal biasa untuk kehamilan trisemester pertama, kamu hanya terlalu lelah. Umurnya baru tiga minggu, jadi sebaiknya kamu tak melakukan kegiatan yang bisa membuat kamu terlalu lelah, karena hal itu sangat rentan dan beresiko. Saya sudah meresepkan vitamin yang aman untuk kamu konsumsi.”
Setelah mengatakan kalimat itu, Dokter wanita tadi dan juga Ibu keluar dari ruanganku. Aku menyentuh perutku secara perlahan, belum ada perubahan, masih datar. Tapi, sudah ada satu nyawa di dalam sana. Air mataku perlahan mengalir, aku tak tahu ini untuk kesedihan atau kebahagiaan, karena yang kurasakan saat ini sangat
bercampur aduk.
Dalam kurun waktu tak lebih dari sembilan bulan lagi, aku akan memiliki malaikat kecil di hidupku. Tapi aku belum memiliki kehidupan yang baik untuk malaikat kecilku. Entah bagaimana reaksi Dimitri nanti. Dan air mata itu semakin mengalir deras ketika mengingat Dimitri, ini seharusnya menjadi berita baik untuk keduanya, kan?
**