PLAYBOY

PLAYBOY
Hurt



“Kita


sahabat, dan akan selamanya begitu, Dimitri.”


Dimitri


menatapku dengan mata dinginnya, aku tak mengerti dengan isi kepalanya saat


ini, tapi aku sangat kesal sekarang. Aku tahu ia tak tulus mengatakan hal itu,


itu yang membuatku kesal.


“Sahabat


tak akan melakukan seks, Leena.”


Ia


hanya memanggilku Leena ketika merasa kesal dan marah, dan aku harus


mendengarnya malam ini. Aku juga tahu kalau tak ada sahabat yang melakukan hal


itu, kenyataan itu semakin menyakitiku. “Itu kesalahanku, dan aku menyesalinya.


Ini tak ada hubungannya dengan kamu memintaku menjadi pacar.”


Dimitri


sangat berbeda malam ini, sorot matanya lebih dingin. Mataku sudah sangat


memanas, dan air mata sudah menggumpal di kelopak mataku. Bukan ini yang kuinginkan.


“Apa


alasanmu untuk semua ini? Agar aku menjauhi Richard? Atau karena masalah lain? Kamu


tak pernah memberiku alasan untuk semua tindakanmu, kamu selalu egois, kamu gak


menyadari itu?!” Aku benar-benar meneriakinya. Aku terlalu muak dengan semua


keingintahuan ini, dan aku kesal karena tak ada satupun yang ingin memberiku


kejelasan.


Hening.


Kami sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing. Kami tak pernah


bertengkar sehebat ini, ini pertama kalinya sejak enam atau tujuh tahun yang


lalu, aku lupa menghitung sudah berapa lama kami bersahabat.


“Kita


sudah saling mengenal, apa yang kamu khawatirkan jika kita pacaran, bukankah


itu hal bagus?” ucapnya. Kali ini ia melembutkan suaranya, tapi aku sudah


terlanjur kecewa. Kecewa karena tak ada ketulusan sama sekali dalam ucapannya. Ini


bukan Dimitri yang kukenal.


“Aku


akan turun. Tenangkan pikiranmu, aku tahu kamu sedang menghadapi banyak


masalah.”


Kali


ini aku benar-benar keluar tanpa cekalan tangannya. Aku merasakan patah hati


untuk pertama kalinya, karena pria yang kuklaim sebagai sahabatku. Entah apa


kami masih bisa di sebut sahabat untuk sekarang. Jalinan persahabatan itu


sepertinya sudah kurusak sejak enam bulan yang lalu, ketika aku dengan sukarela


merelakan tubuhku untuknya, aku hanya tak menyadarinya.


Perasaanku


terasa sangat campur aduk, tak ada satu perasaanpun yang mampu mewakili apa


yang kurasakan. Entah kecewa atau marah, yang jelas hatiku sangat sakit


sekarang.


**


Tak


ada yang berubah dalam pekerjaanku walaupun aku sedang bertengkar dengan


Dimitri. Sudah terhitung hampir dua minggu sejak malam itu, dan sampai sekarang


aku tak berbicara padanya sedikitpun. Ia juga jarang terlihat di kantor,


alasannya rapat di luar atau perjalanan bisnis, aku juga melakukan hal yang


sama. Sangat jelas aku menghindarinya ketika berpapasan atau kebetulan berada


di satu rapat yang sama dengannya.


Kevin


juga seolah mendiamkanku. Kami hanya membicarakan pekerjaan secara profesional,


sama sekali tak ada celah untukku mengatakan pada Kevin apa yang terjadi,


walaupun aku tahu Kevin pasti sudah mengetahui apa yang terjadi.


Richard,


pria itu sudah tak menghubungiku secara intens walau terkadang ia masih


mengirimiku pesan sesekali. Pertemuan kami juga tak seintens biasanya. Aku membiarkan


saja, karena tak ada hal lain yang ingin kubicarakan dengannya.


Michelle,


dia sering berkunjung ke kantor kami, aku sering melihatnya masuk ke ruangan


Kevin. Pernah sekali aku memergokinya masuk ke ruangan Dimitri. Bukan urusanku


memang, tapi ada berbagai perasaan di hatiku ketika melihat pemandangan itu. Rasa


kesal yang sangat mendominasiku saat ini, kenapa gadis yang menjadi masa lalu


mereka mampu dengan mudah membalikkan hubungan persahabatan kami?


“Apa


masih ada jadwal untuk sore ini?” tanyaku pada Eka ketika ia menyerahkan berkas


kekantorku.


“Kosong,


Mbak.”


“Aku


pulang kalau gitu, kalau masih ada berkas yang ketinggalan, kamu kirim ke


apartemen aku aja.”


Eka


hanya menganggukkan kepala dan langsung meninggalkan kantorku. Ini masih pukul


dua siang, dan aku tak pernah pulang di jam ini. Pertama kalinya lagi selama


karirku bekerja. Anggap saja aku sedang beristirahat, aku juga belum mengambil


cutiku untuk tahun ini.


Aku


segera membereskan barang-barang yang perlu kubawa, lalu segera bangkit dari


dudukku. Aku berencana untuk mengunjungi Nabila sebenarnya, hanya saja gadis


itu masih di sibukkan dengan berbagai rapat dan proyek untuk majalah yang akan


terbit. Aku seperti kehilangan semua temanku, dan hanya tersisa diriku sendiri


saat ini.


Tak


ada yang buruk tentang hal itu, tapi karena kami menjauh di sebabkan satu masalah,


itu yang membuatnya buruk. Ada satu kebiasaan baru yang kulakukan selama dua


minggu ini. Aku selalu mengenakan earphone untuk mencegah karyawan lain yang akan menyapaku ketika lewat. Suasana hatiku


sedang buruk, jadi aku tak bisa menyapa karyawan lain dengan ramah. Beginilah caraku


menghindari orang lain.


Aku


sudah berada di dalam lift seorang diri dengan earphone yang terpasang, dan tangan yang sibuk memainkan ponsel,


ini juga bagian dari kamuflaseku. Aku jadi semakin aktif di media sosial karena


hal ini, padahal yang kulakukan hanya melihat feeds instagram yang itu-itu saja.


Selamat


datang pada hidupku yang menyedihkan.


Lift


membawaku menuju basement, aku tak


ingin mengambil resiko dengan bertemu banyak orang. Jika Nabila melihatku saat


ini, ia pasti akan dengan senang hati mengutukku, dan aku hanya akan


menerimanya. Aku butuh Nabila untuk memulihkan kegilaan yang sudah kumulai


sejak dulu, hanya terlambat kusadari.


Aku


berjalan menuju mobilku, yang ternyata bersebelahan dengan mobil Dimitri. Kenanganku


seketika mulai mengingat ketika pertama kalinya aku bercinta dengan Dimitri,


ketika Christian Bagaskara mencoba melecehkanku. Aku menatap mobil itu untuk


sesaat, lalu tersenyum kecut. Kenapa dari sekian banyak kenangan, aku malah


mengingat hal itu?


Mencoba


untuk fokus kembali, aku mulai melanjutkan langkahku, tapi terhenti kembali


ketika mendengar suara desahan dari mobil itu. Aku kembali tersenyum kecut, ia tetaplah


Dimitri pada akhirnya, dan aku cukup pintar untuk mengetahui suara apa barusan.


Lagipula aku bukan wanita pertamanya, aku hanya sahabat yang terlalu ceroboh.


Aku


mmengeraskan volume music di ponselku, dan bergegas menuju mobilku. Ini bukan


pemandangan yang harusnya kutemui, lebih baik melupakannya.


**


Tadinya


aku ingin mengunjungi klub, untuk melepaskan beban pikiran ini, tapi aku


mengurungkan niat itu. Mabuk mungkin akan menyelesaikan masalah, tapi aku bisa


saja menambah masalah baru, dan aku ingin menghindari masalah apapun saat ini. Jadi


aku hanya mengurung diriku di apartemen sejak pulang sore tadi.


Aku


membersihkan seluruh apartemenku seperti orang gila. Aku sudah sangat mirip


orang yang patah hati. Sangat di sayangkan karena aku tak memiliki satupun


orang untuk kuhubungi, mungkin inilah alasan kenapa orang lain selalu mencari


teman sebanyak-banyaknya. Ketika saat seperti ini datang, aku bisa memilih


untuk bersandar pada siapa.


Ini


bukan masalah besar, waktu akan menyembuhkan segalanya. Seluruh rasa sakit ini


akan menghilang, hanya butuh sedikit waktu. Tanpa diminta, air mata ini mulai


mengalir lagi. Liliana, si bodoh yang menangisi masalahnya.


“Cari


aku ketika kamu bersedih, aku akan menghajar siapapun yang menyakitimu.” Itu ucapan


Dimitri ketika mengetahui aku putus dengan pacarku satu-satunya.


Aku


memeluk kedua lututku, air mataku semakin jatuh. Hatiku sangat sakit ketika


aku tak memiliki siapapun lagi di kota ini. Aku ingin menelepon Ibu, tapi aku


tak ingin menambah kekhawatirannya.


Ponselku


tiba-tiba berdering, aku melirik nama pemanggil di ponselku. Kevin. Aku hanya


membiarkan ponsel itu berdering hingga pada akhirnya mati dengan sendirinya. Aku


memutuskan untuk menonaktifkan ponsel itu, aku ingin menghabiskan waktuku


sendirian. Aku menghapus air mataku, aku tak pernah menangis sehebat ini


sebelumnya.


Aku


juga bingung, bagian mana yang kutangisi. Semua hal yang kulakukan adalah


salahku sendiri. Apa karena Dimitri seperti tak terpengaruh karena hal ini? Ia bahkan


bercinta di mobilnya, lalu aku menangis sendirian seperti orang gila. Benar-benar


kegilaan yang tak terdefinisikan.


Setelah


berdebat dengan pikiranku sendiri, aku memutuskan untuk menyelesaikan


pekerjaanku. Itu adalah hal ternetral yang pernah ada, daripada aku yang


mengunjungi klub dan akan menimbulkan masalah baru. Aku sedang menangani salah


satu proyek besar, proposal sudah kukirimkan dan tinggal menunggu persetujuan


dari mereka.


Aku


selalu bersemangat dengan proyek baru, selain bonusnya yang besar, aku juga


akan semakin sibuk. Aku tak akan membiarkan pikiranku memikirkan Dimitri dan


masalah yang sedang mengikutinya.


**


“Aku


ingin Kakak membantuku agar dekat dengan Dimitri.”


Aku


menaikkan alis mendengar permintaan gila yang baru saja di lontarkan Michelle. Dia


sudah bertunangan dengan Kevin, lalu memintaku untuk mendekatkan ia dan


Dimitri, Yang benar saja! Apa gadis ini masih waras?


“Kenapa


aku harus melakukannya?” tanyaku datar.


Gadis


ini memaksaku untuk menemuinya di jam makan siang, yang harusnya kuhabiskan


dengan menikmati makan siang damaiku di kantor. Aku dengan gilanya juga


menuruti permintaan gadis ini. Harusnya aku menolak saja tadi.


“Aku


belum pernah memberitahu Kakak, tapi aku pernah pacaran dengan Dimitri ketika


SMA, dan aku tahu Dimitri masih memiliki perasaan yang sama denganku,” ucapnya


dengan senyuman cerah itu.


“Lalu


kenapa kamu bertunangan dengan Kevin? Kenapa bukan dengan Dimitri?”


“Aku


tak mencintai Kevin, dan juga Kevin tak memiliki perasaan apapun padaku. kevin


tak akan keberatan dengan hal ini.”


Apa


aku sedang berbicara dengan manusia? Kenapa aku sangat kesal dengan nada


bicaranya yang ceria, ia benar-benar tak memiliki perasaan sama sekali. Setidaknya


pikirkan orang tua yang menyusun acara pertunangan itu.


“Dan


kamu yakin Dimitri masih mencintaimu, perasaan kalian sudah berlalu sangat


lama.”


“Aku


sudah membuktikan itu. Kalau ia tak mencintaiku, maka kami tak akan bercinta


siang itu. Kami bahkan harus melakukannya di mobil karena hasratnya itu.”


Ingatanku


berputar ketika kemarin aku mendengar suara desahan dari dalam mobil Dimitri. Jadi


itu mereka berdua. Lucu sekali rasanya, sampai aku tak bisa mengeluarkan tawaku


atau aku hanya harus marah. Aku tahu Dimitri sangat suka bermain wanita, tapi


kenapa harus gadis ini di antara banyak pilihan.


Apa


ia sudah kehabisan stok wanita? Kenapa ia tak datang padaku saja? Oh, kami


bahkan belum berbicara sama sekali, sudah tiga minggu sekarang.


Ponselku


berdering, dan aku melihat nama Eka di layar. Aku segera mengangkatnya. Lalu segera


menutupnya ketika Eka sudah selesai berbicara. “Maaf, tapi aku harus pergi. Aku


yang akan membayar kopi ini.”


Aku


segera beranjak tanpa menunggu jawaban Michelle. Beruntung Eka meneleponku, aku


jadi tak perlu berlama-lama mengobrol dengan gadis ini.


Karena


jarak kafe dan kantorku tak jauh, aku hanya membutuhkan sepuluh menit untuk


sampai pada rapat mendadak ini. Aku bahkan belum menyentuh makan siangku, dan


pagi tadi aku melewatkan sarapan karena terlambat bangun. Kenapa hidupku jadi


berantakan dalam satu waktu seperti ini?


“Mbak


baik-baik aja? Kok pucet banget, Mbak?” Eka menyambutku di pintu ruang rapat


dengan wajah khawatir. Aku juga berpikir sama, asam lambungku sudah sangat


membuat perutku melilit.


“Gak


papa. Siapin aja makan siang kayak biasa di kantor, selesai rapat aku mau


makan,” ucapku padanya.


Eka


hanya menganggukkan kepalanya, masih dengan kekhawatiran itu. Aku segera


memasuki ruang rapat yang tertutup itu setelah menarik napas beberapa kali. Aku


yakin ada Dimitri di dalam ruangan ini. Proyek yang kukatakan semalam, ternyata


sudah di terima dan ini rapat dadakan untuk membahas konsep terkait klien


tersebut


Hadi


Prasetyo, dia adalah pemilik perusahaan telekomunikasi yang sedang berkembang


dengan pesat. Sudah satu minggu yang lalu sejak aku mengirimkan proposal yang


ia minta, kupikir proyek itu akan gagal, ternyata ia sudah menyetujuinya ketika


aku sudah tak berharap banyak terhadap perusahaan itu.


Hanya


ada para Manajer yang mengepalai divisi bagiannya, serta Kevin dan juga Dimitri


yang ada di dalam ruang rapat ini. Aku mengulas senyumku pada peserta rapat


kali ini, aku menghindari tatapan Dimitri terasa menusuk itu.


“Maaf,


saya memiliki pertemuan lain sebelum kemari.” Aku segera duduk di kursi yang


masih tersisa banyak. Jauh dari jarak pandang Dimitri dan Kevin.


**


Rapat


itu ternyata selesai lebih cepat dari perkiraanku. Kupikir akan memakan waktu


berjam-jam, karena klien kali ini adalah klien besar yang kutangani, tapi aku


juga bersyukur aku tak perlu menahan sakit di perutku untuk waktu yang lama..


Aku


bergegas keluar menuju lift. Ketika lift akan menutup, aku kaget ketika ada


tangan lain yang menahan tertutupnya pintu lift. Dan aku lebih kaget lagi


ketika melihat Dimitri yang masuk ke dalam lift. Aku memundurkan tubuhku ke


sudut lift. Ini sangat canggung, dan lift sudah benar-benar menutup.


Aku


mengeratkan pegangan di tali tasku. Perutku terasa semakin melilit, dan aku


juga yakin wajahku semakin memucat. Aku kaget ketika Dimitri tiba-tiba


melingkarkan lengannya di sekeliling pinggangku.


“Apa


yang kamu lakukan seharian ini sampai wajahmu sangat pucat?!” bentaknya.


Aku


tak menjawabnya. Aku hanya fokus pada rasa sakitku yang semakin melilit, tapi


aku sedikit berterima kasih padanya yang menopang tubuhku. Setelah itu, tak ada


lagi obrolan di antara kami.


Lift


terbuka tepat di kantorku. Aku bisa melihat Eka yang langsung berdiri dari


kursinya melihatku yang berada dalam pelukan Dimitri. Aku langsung melepaskan


tubuhku dari pelukan Dimitri dan berganti memegang lengan Eka sebagai topangan.


Dimitri tampak terkejut dengan hal itu.


“Antar


aku ke dalam, Ka.”


Eka


terlihat sungkan dengan Dimitri, dan hanya menganggukkan kepalanya. Aku sudah


tak berbalik lagi untuk melihat Dimitri atau berterima kasih padanya. Aku pikir,


aku tak dalam keadaan akan berterima kasih padanya, aku juga tak memintanya


melakukan hal seperti tadi. Biarkan aku egois untuk diriku sendiri kali ini,


Dimitri tak sepenting itu untukku.


**


Haiiii apa kabar kalian hari ini? Semoga baik ya. Aku barusan denger berita tentang gempa di daerah pulau Jawa. Stay safe semuanya ya, semoga gak terjadi apa-apa.


Semoga part baru ini bisa sedikit menghibur. Selamat membaca semuanya^^^