
Aku
masih merasa sedikit bersalah setelah melihat raut kaget yang di tunjukkan
Dimitri ketika membantuku pasca rapat kemarin. Aku tak pernah menolak apapun
yang ia lakukan padaku sebelumnya, tapi waktu itu pikiranku benar-benar sedang
tak pada tempatnya. Menghindari Dimitri adalah hal yang bisa kupikirkan saat
itu.
Kejadian
itu sudah berlalu selama dua minggu, dan selama itu pula aku masih tetap
mendiamkan Dimitri. Aku malah semakin menghindarinya. Eka yang selalu
mewakiliku untuk menghadiri rapat yang juga di hadiri oleh Dimitri. Mungkin aku
terlalu berlebihan, tapi aku benar-benar belum bisa menghadapi Dimitri, aku
juga melakukan hal yang sama pada Kevin.
“Dan
karena adik Richard itu, kamu mulai menghindari Dimitri?”
Aku
sedang berada di apartemen Nabila, ia bersedia mendengar seluruh curhatku malam
ini, ia juga membatalkan janji makan malamnya dengan Reno karenaku. Aku sudah
menceritakan semua yang terjadi Nabila. Aku bukan tipe orang yang bisa memendam
semua masalahku seorang diri, aku akan sangat lega jika mampu membaginya pada
orang terdekatku.
Aku
hanya menganggukkan kepala, sudah ada bir yang di sediakan Nabila untuk sesiku malam
ini. Ia tahu seberapa frustrasinya aku karena masalah ini. “Kenapa kamu gak
comblangin aja Dimitri sama Michelle?”
“Dia
udah tunangan sama Kevin, Bil, gimana aku bisa jodohin mereka.”
“Tunangan
gak akan menjamin mereka akan menikah, lagian Kevin juga gak cinta, kan? Kalau memang
dia cintanya sama Dimitri, mau gimana lagi?” Nabila menanggapi semua itu dengan
sangat santai, seolah itu hanya masalah kecil yang tak perlu di besar-besarkan.
“Tapi
tetep aja, Bil, itu gak bener.”
“Kamu
suka sama Dimitri?”
Aku
menatap Nabila horor, kenapa ia selalu menyimpulkan kalau aku menyukai Dimitri?
“Udah berapa kali aku bilang, Bil, aku—“
“Apa
kamu gak punya alasan lain selain kalian bersahabat? Toh, sekarang persahabatan
kalian udah hancur. Berhenti sembunyi di balik hubungan persahabatan gak masuk
akal kalian itu.”
Aku
diam. Mungkin ini adalah rasa jengkel yang Nabila pendam karena hubungan
persahabatan anehku dengan Dimitri. Aku juga berpendapat yang sama, tapi apa
iya aku menyukai Dimitri sebagai seorang pria?
“Kamu
gak punya alasan lain, kan? Akui kalau kamu memang suka sama Dimitri, gak ada
yang salah dari sahabat yang tiba-tiba pacaran,” ucap Nabila lagi.
“Memang
cinta kayak gini? Definisi cinta buat aku gak kayak gini, Bil.” Aku masih
berpegang teguh pada pendirianku, kalau aku tak mencintai Dimitri. Aku pernah
mengatakan, kalau memang cinta itu seperti ini maka lebih baik aku tak
merasakannya.
“Definisi
cinta untuk semua ornag memang beda, cinta juga bisa tumbuh dari rasa nyaman.
Sekarang aku tanya, kenapa kamu bisa tidur sama Dimitri? Kenapa kamu juga gak
tidur sama Kevin? Kalian bertiga sahabat, Kevin juga gak kalah perhatian sama
kamu. Kenapa?”
Pertanyaan
jebakan lagi. Aku tahu Nabila sangat bersikeras untuk membuatku mengakui
perasaan, tapi bukan perasaan semacam itu yang kumiliki. “Karena kebutuhan?”
ucapku ragu.
“Dimitri
punya lusinan wanita yang bisa dia pakai, kenapa juga harus kamu yang
sahabatnya?”
“Karena
aku yang memintanya, itu kesalahanku, Bil.”
“Dan
kamu menikmatinya sampai kali terakhir. Apa susahnya mengakui perasaanmu
sendiri, Li?”
Nabila
sudah menunjukkan raut kesalnya menghadapiku yang masih keras kepala. “Aku
bahkan gak tahu kalau ini cinta, Bil,” lirihku. Ini jujur, aku tak tahu apa
yang kurasakan sebenarnya.
“Kamu
cuma belum menyadarinya, Li. Aku yakin perasaan itu ada di dalam hati kamu.”
“Percuma
kalau aku merasakannya, tapi Dimitri juga tak merasakan hal yang sama. Aku tak
ingin persahabatan ini hancur karena keegoisanku.”
Aku
membuka kaleng bir kelimaku, aku berencana untuk minum sampai mabuk, agar
ketika aku bangun keesokan harinya, semua masalahku sudah hilang. Andai aku
bisa menghapus semua masalah ini seperti memori komputer, aku tak perlu seperti
ini.
“Terkadang
kamu butuh bersikap egois, Li.”
**
Aku
terbangun dengan kepala yang sangat pusing. Aku mengedarkan pandanganku, dan
mendapati kalau ini adalah kamarku. Bagaimana aku bisa pulang? Nabila tak
mungkin dengan senang hati mengantarkan aku pulang, ia pasti lebih memilih Reno
di banding aku. Aku bangkit, dan menyandarkan tubuhku pada kepala ranjang. Pakaianku
masih lengkap, tak mungkin aku pulang sendirian.
Pandanganku
tertuju pada air minum dan aspirin di nakas samping ranjang, tak ada pesan
apapun yang tertulis. Tiba-tiba pintu kamarku terbuka, dan Dimitri berdiri di
sana dengan raut kaget, mungkin ia berpikir aku masih tertidur.
Ini
situasi yang tak kuharapkan, aku belum menyiapkan apapun ketika bertemu
dengannya. Aku perlu menyusun kalimatku lebih dulu setidaknya. “Nabila
meneleponku, dia bilang dia ada urusan dan tak bisa membiarkanmu sendirian di
apartemennya,” ucapnya dengan tetap masih memandangku.
Aku
mengalihkan pandanganku ke arah lain. Pintar sekali Nabila itu merangkai
cerita, padahal mungkin saat ini ia sedang bermesraan dengan Reno. Kenapa juga
Dimitri harus menuruti Nabila? Pria ini bisa saja menolaknya.
“Aku
udah siapin aspirin biar pusing kamu berkurang, ini aku juga baru bikini kamu
nasi goreng biar perut kamu gak kosong.” Dimitri menghampiriku dan meletakkan
nampan berisi nasi goreng di nakas. “Aku pulang dulu, kamu makan itu abis itu
istirahat.”
Apa
benar pria ini Dimitri? Kenapa ia tiba-tiba melembut seperti ini? Aku curiga
Nabila mengatakan hal aneh pada Dimitri. Dimitri memang biasanya bersikap
lembut, tapi kami sedang dalam kondisi bertengkar.
“Al.”
Aku
akan sangat merasa lebih bersalah jika membiarkan Dimitri pulang begitu saja. Maksudku,
ia sudah menjemputku, bahkan menyiapkan nasi goreng, dan sudah bersikap lembut
seperti itu. Dimitri membalikkan tubuhnya, menatapku.
“Kamu
bisa menemaniku sebentar.”
Aku
tak tahu harus berkata apa, dan itu bukan pertanyaan. Aku juga tak tahu apa
yang sedang kulakukan kali ini, tak ada bahan obrolan yang bisa kuangkat. Aku tak
mungkin hanya menanyakan kabarnya secara tiba-tiba kan, atau membicarakan cuaca
dini hari ini yang sangat cerah, atau tiba-tiba berpelukan lagi sembari menatap
kerlip lampu seperti malam itu.
Dimitri
tampak ragu sebelum mulai melangkah mendekati ranjangku. Ia duduk di ujung
ranjang, seperti menjauhiku. Aku belum menatapnya sedari tadi, tapi aku tahu
kalau matanya mengawasiku sejak tadi. Benar-benar suasana yang canggung.
Aku
sangat ingin bertanya, ‘kenapa ia duduk sangat jauh seperti itu?’ tapi aku juga
tahu jawabannya. Bagaimana ia bisa duduk di dekatku jika keadaan kami masih
seperti ini?
“Kupikir
aku belum muntah, kenapa kamu duduk sangat jauh?” tanyaku pada akhirnya. Nabila
berkata kalau aku bisa egois sesekali, aku akan melakukannya kali ini.
“Kamu
ingin aku duduk di mana?”
Sekarang
aku baru berani menatapnya setelah ia bertanya seperti itu. Apa ia perlu
bertanya?
“Lupakan,
aku akan makan di balkon.”
Aku
beranjak dari ranjang, tapi tubuhku sedikit oleng, mungkin efek bir itu masih
tersisa di tubuhku. Aku menatap lenganku yang di tahan oleh Dimitri. Ia hanya
seperti ini? Apa hangover ini masih
belum hilang?
“Aku
bisa sendiri.” Aku melepaskan tanganku lalu membawa nasi goreng dan air minum
itu menuju balkonku. Ini pukul tiga dini hari, dan untungnya besok hari minggu,
aku tak perlu khawatir untuk terlambat bangun.
“Aku
bersyukur kamu gak pergi ke klub,” ucapnya.
“Apa
pedulimu?” tanyaku ketus.
Oke,
harusnya aku bersikap sedikit lembut, tapi yang kukatakan justru kalimat jahat
seperti itu. Ini benar-benar bukan Liliana yang seharusnya. Liliana terbiasa
tenang dalam segala situasi.
Dimitri
tersenyum dan duduk di hadapanku, ia sepertinya sudah sedikit santai berada di
dekatku. Itu bagus, jadi aku tak perlu canggung lagi. “Kamu gak cocok ketus
kayak gitu,” ucapnya geli.
Aku
tak menanggapinya, aku mulai menyuapkan nasi goreng itu. Rasanya tak seenak
nasi goreng langgananku, tapi tak buruk juga. Untuk kalian tahu, Dimitri ini
cukup bisa memasak, resep yang sederhana seperti nasi goreng ini, sandwich, dan untukku itu cukup hebat
untuk ukuran pria sepertinya. Aku tak tahu siapa saja yang sudah merasakan
makanan buatannya, tapi aku cukup sering menjadi penikmat makanannya.
“Berhenti
menatapku!” Aku membentaknya yang sedari tadi tak mengalihkan pandangannya
dariku.
“Aku
merindukanmu.”
Dan
aku tersedak. Ia buru-buru menyodorkan air minum yang ada di hadapanku,
wajahnya mendadak khawatir. Ah, sialan sekali pria ini, kenapa ia bisa dengan
santainya mengatakan kalimat seperti itu?
Setelah
merasa baikan dan menghabiskan satu gelas air minum itu, aku melanjutkan
menyuapkan nasi goreng itu lagi. Aku bisa merasakan wajahku yang memanas. Kenapa
sikapku bisa sangat memalukan seperti ini? Aku dulu juga sering mendengar
kalimat itu darinya dan juga Kevin, tapi tak pernah sampai salah tingkah
seperti ini.
Aku
masih bisa merasakan tatapannya, dan sekarang aku merasa menyesal karena sudah
memintanya untuk tinggal. Kalimat Nabila tentang mengakui perasaanku mulai
berputar di otakku, apa aku memang sebenarnya menyukai Dimitri? Aku sudah
sering mengetahui bahwa pacaran dengan sahabat lebih menguntungkan di banding
orang asing, tapi apa harus dengan pria ini?
Satu
piring nasi goreng itu sudah habis tak tersisa sedikitpun, ternyata aku selapar
itu. Padahal ketika menenggak beberapa kaleng bir tadi, rasanya aku sudah
sangat kenyang. “Apa kamu tak bisa mengurusi dirimu sendiri dengan baik? Kenapa
kamu terlihat kurus?”
Aku
tak menghiraukan ucapannya, aku memilih berdiri dan menikmati lampu gemerlap
dini hari dari tepi balkon. Udaranya cukup dingin, dan menusuk tulangku karena
kaos yang kukenakan sangat tipis, tapi rasanya menyegarkan.
“Kenapa
kamu selalu mengabaikanku?” Dimitri tiba-tiba sudah berdiri di sampingku.
Aku
sudah cukup merasa lebih baik sekarang, mungkin karena kehadiran Dimitri? Mungkin
tanpa aku sadari, pria ini menempati tempat spesial di hatiku, melebihi seorang
sahabat dan juga pria. Aku wanita yang kurang peka dan selalu terlambat
menyadari sesuatu. Terkadang aku bisa bertindak sangat gegabah, yang pada
akhirnya selalu kusesali. Atau ketika aku berbicara dengan sangat menyakitkan,
aku bukan tipe wanita lembut yang mudah tersentuh.
Sangat
sulit membuatku jatuh cinta, itulah kenapa aku selalu terlambat menyadari untuk
perasaan emosional seperti ini. Tapi apalagi yang bisa kulakukan, aku memang
terlahir seperti ini, untuk mengubahnya aku harus mengubah semua aspek dalam
hidupku dan tentunya tak akan semudah yang aku pikirkan.
“Al,
peluk aku,” pintaku pada Dimitri yang masih melihat lampu-lampu di bawah sana. Bahkan
lampu itu lebih indah dari diriku.
Dimitri
menatapku bingung. Aku merentangkan kedua tanganku di hadapannya. Ia tetap
memelukku dengan raut wajah bingung itu. “Peluk aku dengan erat, seolah kamu
tak akan melepasku,” ucapku lagi.
**
Michelle
masih gencar menghubungiku perihal permintaan yang ia tujukan padaku tempo hari
lalu, tentang mendekatkan ia dengan Dimitri. Aku mengabaikan semua panggilan
itu. Selain aku tak ingin mengangkat panggilan itu, aku juga tak ingin
mengabulkan permintaannya.
Aku
ingin sedikit egois sebentar saja. Lagipula hubungan mereka sudah ada di masa
lalu dan sudah sangat lama, jika perasaan itu memang tumbuh di hati mereka, aku
hanya akan egois. Aku tak akan mengakui tentang perasaanku pada Dimitri, aku
hanya ingin menikmatinya. Aku juga tak yakin Dimitri memang masih menyukai
gadis itu. Dimitri hanya bercinta, bukan berkencan.
Keputusan
yang kuambil ini sudah bulat, aku benar-benar sudah memikirkannya dengan
matang, tentang resiko yang akan kuterima. Aku sudah yakin ini akan berakhir
buruk, aku hanya ingin mencobanya. Beberapa patah hati tak masalah, aku selalu
lebih kuat di banding apapun.
“Apa
penawaranmu masih berlaku?”
Aku
berada di ruangan Dimitri siang ini, aku berdalih mengantarkan berkas yang sebenarnya
bisa di lakukan Eka.
“Penawaran
yang mana?” Dimitri bertanya dengan bingung.
“Tentang
menjadi kekasihmu.” Aku sudah benar-benar berada pada pikiran tak warasku. Aku yang
dulu selalu berkoar-koar tentang persahabatan yang akan hancur karena keduanya
pacaran, sekarang malah memintanya secara langsung pada pria ini.
“Kamu
beneran Liliana Almira Leena yang kukenal? Karena wanita yang kukenal itu tak
akan mengatakan tentang ini.”
Ya,
aku bukan Liliana yang sama lagi, mungkin ada makhluk tak kasat mata yang
merasukiku. Jadi anggap saja kalau aku orang lain. “Aku pergi saja,” ancamku
“Kenapa
kamu suka sekali mengancamku belakangan ini?”
Aku
membalikkan tubuhku yang baru saja ingin beranjak pergi. Aku belum bisa
mengakui perasaanku, aku ingin membuktikan sendiri perasaan itu, baru
setelahnya aku akan mengakuinya. Well, aku tak tahu tapi kejadian yang terjadi
belakangan ini membuatku merasa persahabatan kami tak bisa terus berjalan, tapi
hal itu tak lantas menginginkanku untuk berpacaran dengannya. Ada beberapa hal
yang membuatku ragu walau aku ingin.
“Aku
hanya ingin sebuah kencan, aku hanya memintamu, jika kamu tak menyetujuinya
maka tak masalah,” balasku datar.
“Kenapa?”
“Kamu
bahkan tak memberiku alasan ketika bersikap posesif.”
Skakmat. Aku juga bisa
melakukan apa yang ia lakukan padaku, aku hanya tak pernah mengatakannya saja. “Baiklah,
kencan. Kapan kamu ingin melakukannya?”
“Malam
ini?”
“Baiklah.
Berdandanlah secantik mungkin, aku akan membuatmu terkesima nanti,” ucapnya
dengan senyuman dan kerlingan di matanya.
Aku
tersenyum juga, aku tak tahu apa ini yang terbaik, aku hanya akan mengikuti
instingku. Aku berjalan menghampirinya yang masih duduk di kursi kebasaran
dengan tangan yang terlipat. Aku meraih wajahnya dengan kedua tanganku, lalu
mencium bibirnya dengan lembut. Ini pertama kalinya semenjak kami bertengkar,
aku mengecupnya dengan sepenuh hati, berharap mampu menemukan apa yang kucari.
Ia
membalas, sama lembutnya, membuatku terbuai. Ia sudah mendudukkanku di
pangkuannya agar ciuman kami semakin dalam. Aku segera melepaskan pagutan kami
ketika napasku sudah hampir habis karena ciumannya yang semakin dalam itu.
“Kencan,
malam ini.” Aku berbisik di depan bibirnya.
**
Haiii semoga kalian masih nungguin cerita ini ya
Selamat membaca^^^