PLAYBOY

PLAYBOY
Talk



Haii, aku minta maaf lagi kalo bikin kalian nunggu lama, semoga kalian ngerti ya^^ udah di detik-detik episod terakhir dan aku kadang agak susah buat nulisnya. Kayak gak rela buat namatin, tapi ya harus di tamatin. Oke, happy reading^^



Liliana tak menyadari jika restoran yang mereka datangi ini hanya berjarak beberapa kilo dari kantor Dimitri. Salahkan kliennya yang meminta bertemu di restoran ini, padahal tak masalah jika Liliana yang mengunjungi kliennya itu. Ia hanya berharap kalau ia tak perlu bertemu Dimitri atau Kevin. Restoran ini adalah tempat langganan mereka berdua, dan juga Liliana, dulu.


Ia juga heran kenapa beberapa klien yang ingin bekerja sama selalu meminta bertemu di jam makan siang. Sebenarnya tak ada yang aneh, ia juga sering rapat bersama kliennya pada jam makan siang.


“Kak Lili!”


Langkah Liliana yang ingin cepat-cepat meninggalkan restoran itu seketika terhenti karena mendengar teriakan yang sangat familiar. Tanpa membalikkan tubuhnya pun, Liliana tahu kalau itu suara Kevin. Bolehkah ia berharap kalau tak ada Dimitri yang bersama Kevin sekarang ini?


Perlahan Liliana menoleh ke belakang, dan mendapati Kevin yang menatapnya dengan riang, dan juga Dimitri. Sepertinya Tuhan sedang tak ingin berbaik hati padanya. Liliana hanya menyunggingkan senyumnya, beruntung ada Ayu di sampingnya saat ini.


Kevin setengah berlari mendekati Liliana diikuti Dimitri yang berjalan secara perlahan di belakang Kevin. Bahkan baru tiga hari yang lalu Liliana bertemu Dimitri saat persalinan Nabila, dan sekarang ia sudah bertemu Dimitri lagi.


Tuhan benar-benar sedang memainkan takdirnya dan juga hatinya.


“Kapan Kakak kembali? Kok aku gak tahu?” ucap Kevin ketika sudah berada di hadapan Liliana. Ia sebenarnya sangat ingin memeluk wanita yang sudah menghilang lebih dari setengah tahun itu, tapi ia tak mungkin melakukannya di sini.


“Surprise?” ucap Liliana dengan senyum lebar. Yah, bagaimanapun Kevin hanyalah Kevin, ia harusnya tak perlu canggung ataupun gugup. Atau mungkin ini hanya karena pria yang berdiri di belakang Kevin, yang saat ini tengah menatapi Liliana seolah ia takkan bertemu lagi.


“Oh ya, kenalkan ini Ayu. Dia sekretarisku, kami tadi ada rapat di sini.”


Ayu menjabat kedua tangan pria di depannya dan tersenyum sopan. Rasa canggung masih menyelimuti mereka. Walaupun tekad Liliana sudah besar untuk menyelesaikan masalahnya dengan Dimitri, tapi tetap saja ia hanyalah pengecut yang masih belum berani mengatakan satu kalimat pun di hadapan pria itu.


“Kayaknya aku duluan, ya, soalnya masih ada yang harus di urus lagi.” Liliana hanya menatap Kevin, dan tersenyum padanya. Ia tak seberani itu hanya untuk menatap Dimitri. “Yuk, Yu.”


“Kak Lili.”


Liliana membalikkan tubuhnya dan menatap Kevin penuh tanya. “Kita bisa ketemu lagi lain waktu, kan?”


Liliana hanya menyunggingkan senyumnya dan menganggukkan kepalanya, setelahnya ia segera meninggalkan Kevin dan juga Dimitri yang masih berdiri di sana menatap punggung Liliana yang menjauh.


“Aku masih bertanya-tanya, sampai kapan kalian akan canggung seperti ini,” ucap Kevin pada Dimitri yang berada satu langkah di belakangnya.


“Aku juga masih bertanya-tanya tentang hal itu.” Dimitri mengangkat bahunya acuh.


**


Siang itu, entah setan apa yang sedang merasuki Liliana hingga ia memutuskan untuk mendatangi sebuah mal. Wajar memang jika orang lain di hari sabtu seperti ini berjalan-jalan di mal atau tempat rekreasi lain untuk sedikit menyegarkan pikiran setelah satu minggu bekerja. Tapi, Liliana tak biasanya melakukan hal itu. Ia lebih suka berkutat dengan pekerjaannya di rumah atau menonton drama seharian.


Liliana mengelilingi semua toko yang ada di dalam mal, dari lantai satu sampai lantai terakhir mal tersebut. Tak ada yang terlewatkan sedikitpun, setelah bulan pertamanya yang penuh kejutan itu, pikirannya mulai terditraksi lagi. Siapa lagi kalau bukan Dimitri. Ia sudah berusaha untuk meyakinkan dirinya untuk menemui pria itu lalu berbicara padanya.


Ia juga tak mengerti kenapa ia bisa sepengecut itu. Cinta benar-benar bisa mengubah sifat seseorang, dan Liliana harus setuju untuk hal itu. Alasan apalagi yang mampu membuatnya menjadi seperti itu jika bukan karena cintanya


pada Dimitri.


Sebenarnya tak ada hal lain yang ingin ia lakukan di mal sebesar ini, ia hanya ingin menenangkan dirinya. Ia bahkan belum menghubungi Nabila lagi, ataupun Mela. Ia ingin menyelesaikan semuanya, tapi hanya dengan menatap wajah Dimitri, semua kalimat yang sudah ia ucapkan seolah menghilang begitu saja. Perpaduan antara canggung dan takut merupakan kombinasi yang sangat memuakkan.


Sudah pukul dua tiga puluh dan Liliana belum mengkonsumsi makanan apapun sejak pagi tadi kecuali jus apel kemasan yang selalu tersedia di kulkasnya. Dari semua restoran yang ada di dalam mal itu, ia hanya tertarik pada restoran ramen Jepang yang sangat ramai itu. Belakangan ia sedang tak tertarik mengkonsumsi nasi, biasa ia hanya mengkonsumsi roti, spageti ataupun mi.


Liliana kurang suka keramaian sebenarnya, tapi kali ini ia akan mencoba restoran itu. Siapa yang tahu kalau ada meja kosong untuknya di dalam sana.


“Apa masih ada meja kosong?” tanya Liliana ramah pada pegawai yang menyapanya di pintu masuk restoran.


“Sepertinya sudah penuh semua, Mbak. Apa mungkin Mbak mau menunggu sebentar?” ucap pegawai itu ramah.


Liliana menatap seluruh tempat duduk di dalam restoran itu yang memang sudah penuh semua. Sepertinya ia membuat kesalahan dengan mendatangi mal di hari sabtu, ketika semua orang sedang mendapatkan jatah liburnya lalu berbondong-bondong mengunjungi tempat-tempat yang mampu membuat mereka menghabiskan waktu bersama orang-orang tercinta.


“Apa pria itu sendirian? Saya tak keberatan jika harus berbagi tempat duduk.” Telunjuk Liliana mengarah pada punggung pria yang duduk sendirian di sebuah meja, yang sepertinya mampu menampung tiga orang tamu lagi.


Sejak memasuki mal tadi, Liliana hanya tertarik pada restoran ini dan ia tak ingin kembali berkeliling lagi. Sangat membuang tenaganya dan juga percuma, jadi ia tak masalah jika harus duduk dengan pria asing.


“Mari, Mbak, akan saya tanyakan terlebih dahulu.”


Liliana mengikuti pegawai wanita itu yang mendatangi meja yang Liliana tunjuk. Liliana tak memikirkan kemungkinan jika tamu itu menolak atau sebenarnya ia sedang menunggu kekasihnya, atau yang lebih parahnya pria itu ingin sendirian dan sengaja mengosongkan kursi-kursi lainnya.


Mungkin Liliana justru hanya menyusahkan pegawai ramah yang sedang memperjuangkan kursi untuknya. Lagipula ia membayar untuk makanannya nanti, beserta pajaknya. Nanti ingatkan dia untuk memberikan tip juga pada wanita ini.


“Permisi, maaf mengganggu waktunya sebentar, Pak,” ucap pegawai wanita itu ramah. Pria yang sedang sibuk dengan ponselnya sekettika menatap pegawai yang menyapanya, dan Liliana sangat terkejut ketika menatap pria itu. Dimitri.


“Apa Bapak tak keberatan untuk berbagi tempat duduk dengan Mbak ini? Maaf sebelumnya, karena semua meja sudah penuh, Pak.”


Dimitri tak kalah terkejut dengan Liliana. Ia tak memikirkan apapun ketika mendatangi mal ini dan juga restoran ini, tapi sepertinya takdir seolah memang sedang mempermainkan mereka atau memang sudah seharusnya seperti ini?


“Ah, saya tak masalah. Saya juga sendirian,” ucap Dimitri dengan susah payah menenangkan detak jantungnya dan juga pikirannya. Kenapa mereka harus selalu bertemu dalam keadaan yang tiba-tiba dan tanpa persiapan?


**


Mereka menyantap makanan mereka dalam diam. Benar-benar seperti orang asing yang baru saja bertemu. Orang asing pun terkadang masih mampu melemparkan kalimat atau terkadang pertanyaan untuk saling berkenalan.


“Aku sudah selesai, aku permisi dulu.” Dimitri juga tak tahu kenapa ia malah mengatakan hal itu. Sebagai pria harusnya ia yang memiliki inisiatif untuk menyelesaikan masalah yang ada di antara mereka, tapi ia terlalu takut untuk mengusik Liliana lagi, ia cukup tahu diri dan juga batasan atas kesalahan yang ia perbuat.


“Al,” panggil Liliana lirih, tapi mampu di dengar oleh Dimitri.


Ini pertama kalinya sejak pertemuan mereka, Liliana memanggil namanya. Bolehkah ia tersenyum sekarang?


“Sepertinya kita perlu bicara,” ucap Liliana lagi.


Dimitri menatap Liliana yang juga sedang menatapnya. Sangat banyak kerinduan dalam tatapan mereka, rindu yang terpendam sekian lama tapi tak pernah terucap oleh bibir keduanya. Rindu yang menyiksa keduanya, tapi mereka selalu membiarkannya begitu saja. Berharap waktu mampu menghapus rindu itu, tapi terkadang waktu pun


tak mampu menghapus segalanya.


“Aku pengecut, kan?” tanya Dimitri. Ia menatap mangkuk kosong di hadapannyamalih-alih Liliana. “Harusnya aku yang mengatakan kalimat itu, tapi aku takut kembali menyakitimu dengan semua ucapan yang keluar dari mulutku.”


Liliana hanya diam, sepertinya banyak yang ingin di ucapkan pria itu.


“Aku minta maaf, untuk semuanya. Aku tahu ini takkan mengubah apapun, tapi aku benar-benar minta maaf untuk semuanya. Tak masalah jika kamu tak memaafkanku, aku sudah sangat bahagia melihatmu duduk di hadapanku.”


Tatapan mereka kembali bertemu. Liliana tak pernah mengetahui sisi lain dari Dimitri yang seperti ini. Pria itu terlihat rapuh, tapi juga tulus mengatakan semua kalimatnya barusan. Dimitri tak pernah seperti ini sebelumnya.


Sejujurnya, Liliana tak tahu harus mengatakan apa. Ia tak menyangka akan menerima ucapan maaf itu dari Dimitri. Pria itu memang sudah menyakiti hatinya sangat dalam, tapi jauh di dalam lubuk hatinya ia bisa mengerti masalah yang di hadapi pria ini. Ia pergi untuk melindungi hatinya, agar tak terlalu sakit ketika sudah jatuh terlalu dalam pada pria ini.


“Aku merindukanmu.” Liliana mengalihkan tatapannya. Dari semua kalimat yang ada di kepalanya, justru kalimat itu yang berhasil ia ucapkan.


Dimitri sangat terkejut dengan pilihan kalimat Liliana, apa ia boleh membalas kalimat itu? Karena ia juga merasakan hal yang sama, bahkan lebih. Rasa rindunya sudah menumpuk hampir delapan bulan ini.


“Aku minta maaf, aku tak bermaksud—“


Ucapan Liliana terhenti ketika Dimitri menyentuh jemarinya yang berada di atas meja. Ada getaran seperti efek kejut listrik ketika jemari pria itu menyentuhnya. “Apa aku boleh merindukanmu juga?”


Liliana hanya menatap mata hitam Dimitri, mata yang dulunya selalu bisa menghipnotis Liliana. “Seharusnya aku yang bertanya, kamu sudah bertunangan,” ucap Liliana lirih. Ada senyum tipis yang terselip dalam ucapannya, itu bukan senyum bahagianya.


Dimitri menatap lekat wanita yang ada di hadapannya. Liliana sama sekali tak mengetahui apapun yang terjadi padanya selama delapan bulan ini. Entah ia harus bahagia, lega, atau malah kecewa. Itu bisa berarti kalau gadis ini sama sekali tak berniat kembali, atau yang lebih parah ia sudah benar-benar tak peduli pda Dimitri. Pria itu mengeratkan genggamannya di jemari Liliana, ia ingin sekali saja mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki segalanya dan berdiri di samping Liliana sebagai pria yang di cintainya.


Apa ia boleh melakukan hal itu?


“Aku dan Michelle sudah memutuskan pertunangan kami.”


Liliana hanya menatap genggaman jemari Dimitri. Ia sangat ingin menangis mendengar kalimat itu. Apa arti semua itu?


Cintanya bisa terbalas oleh Dimitri jika begitu, tapi kenapa ia justru tak bisa merasakan kebahagiaan di hatinya. Ia pergi untuk melindungi hatinya dan memperbaiki semuanya, ketika ia kembali, masih tersisa rasa sakit dari semua


itu lalu ia di hadapkan pada kenyataan ini. Apa yang harus ia lakukan? Apa yang harus ia rasakan?


“Aku akan menceritakan semua padamu, walaupun rasanya sudah sangat terlambat, aku berharap bisa memperbaiki semuanya,” ucap Dimitri lagi.


Genggaman tangan itu sama sekali tak di tolak Liliana, ia bisa menganggapnya sebagai jalan dari semua rasa yang sudah ia tahan dan kesakitannya karena kehilangan wanitanya.


“Aku takut.”


Dimitri diam, ia tahu masih ada kelanjutan dari kalimat Liliana.


“Aku memaafkanmu. Aku juga pergi karena keinginanku, ini bukan salahmu. Aku ingin melindungi diriku sebelum terluka semakin dalam, mencintaimu membuatku takut, dan aku tak yakin bisa melaluinya dengan tegar,” ucap Liliana.


Liliana akhirnya menceritakan perasaannya pada pria ini. Kemarin ia tak yakin bisa mengungkapkan semuanya, tapi entah keberanian darimana yang ia dapatkan hingga mampu mengatakan semua itu. Ia tak tahu bagaimana pertunangan Dimitri dan Michelle berakhir, ia juga sepertinya tak ingin tahu.


Walau ia tahu bagaimana kondisi Michelle terakhir kali seperti yang pernah Richard katakan padanya, tapi semua ini tentang Dimitri, bukan Michelle. Itu memang terjadi di masa lalu, dan ia yakin Dimitri sudah berubah, terbukti dari sifat lembutnya saat ini. Dimitri tak pernah berucap selembut ini, ia hanya tahu menggodanya dulu.


Liliana hanya sudah terlanjur memberi perisai pada hatinya yang tak ingin di tembus siapapun. Ia berharap dengan adanya perisai itu, hatinya akan aman, tapi di sisi lain ia juga sangat merindukan pria ini. Ia sangat ingin kembali pada masa-masa membahagiakan mereka dulu, sebelum Michelle muncul lalu mengacaukan semuanya.


Otak dan hatinya selalu berselisih paham karena hal itu, alasan ia tak pernah siap menghadapi pria ini. Munngkin setelah pertemuan ini, Liliana akan mendapatkan pencerahan atas hati dan juga otaknya.


“Aku sangat ingin mencintaimu, tapi hal itu selalu membuatku ragu, dan semua itu selalu berakhir dengan aku yang memikirkan semuanya dengan keras. Aku hanya ingin mencintaimu seperti ini saja, tapi bagian hatiku yang lain seolah tak mengizinkannya,” ucap Liliana.


“Aku akan menunggumu. Gunakan seluruh waktumu, aku akan selalu di sini untuk menunggumu.”


**


Tamat gak nih?