
Jadi, bagaimana jika kukatakan aku jatuh cinta pada Dimitri? Apa kalian sudah
menduganya? Atau justru kalian ingin mengutukku karena terlambat menyadarinya?
Aku sendiri bahkan tak menduganya.
Malam itu, ketika aku bertanya tentang hubungan kami, ia tak menjawabnya, ia hanya
memelukku semakin erat. Karena itu, aku tak mengatakan apa-apa lagi. Diamnya
Dimitri bisa berarti beberapa hal, dia memang mencintaiku dan kami sudah tak
bisa di sebut sahabat lagi, atau ia masih menanggapku sahabat dan tak ingin
lebih dari itu. Keduanya sangat tak menguntungkan aku, jadi aku takkan memilih
kedua opsi.
Aku lebih memilih bungkam, dan tak bertanya lebih lanjut. Kami juga tak melakukan
apapun lagi, ia hanya pulang setelah memelukku beberapa saat. Mungkin kembali
pada Michelle atau wanita manapun yang ia pilih malam itu.
Bukan tanpa alasan aku mengklaim kalau aku mencintai Dimitri. Aku sudah banyak
berpikir, bahkan terlalu banyak berpikir. Tentang semua kemungkinan yang
mungkin terjadi, tentang hubungan kami kedepannya, apakah tetap sahabat atau
lebih. Bukankah aku sanagt bodoh jika masih mengharapkan kami bisa lebih dari
sahabat?
Tanpa kusadari, aku sudah memasangkan harapan itu pada hatiku, walau hanya sedikit
harapan itu tetap ada. Ketika aku sudah meletakkan harapan itu pada seseorang,
aku juga meletakkan hatiku di sana. Ini sangat melow, tapi kenyataannya memang
seperti ini. Aku tak bisa mengontrol hatiku lebih lama lagi.
Aku tak memberitahukan Dimitri tentu saja, untukku seperti ini sudah cukup. Sangat
bukan aku memang, aku terbiasa mengungkapkan apapun yang ada di hati dan
pikiranku, walaupun akan menyakiti orang lain, itu lebih baik daripada
memendamnya. Toh, aku sudah sejak kemarin melakukan hal ini, aku hanya akan
mengikuti alur yang sudah di tentukan, aku tak akan melakukan apapun.
Jam makan siang kali ini kuhabiskan dengan melamun di atap gedung kantor. Jadi
kalimat itu benar, sepintar apapun kita dulu ketika menempuh pendidikan, akan
kalah dengan cinta yang seketika mampu membuat kita menjadi bodoh. Dulu, aku
tak merasakan hal ini, apa mungkin karena dulu aku terlalu muda dan belum
mengerti apapun?
Saat ini, aku sudah jauh lebih dewasa, sudah mengerti tentang segala hal dan
konsekuensi seperti apa yang kita dapatkan jika melakukan sesuatu. Aku sudah
mengerti segalanya, tapi masih belum mengerti ketika berurusan dengan cinta.
Betapa bodohnya aku.
Angin menerbangkan helaian rambut yang ku gerai, rasanya sangat nyaman, cuaca juga
cukup cerah. Harusnya ini membahagiakanku, tapi justru sebaliknya. Aku menoleh
kebelakang ketika mendengar suara pintu terbuka.
Kevin.
Ia sama terkejutnya denganku. Wajahnya mendadak berubah menjadi canggung, kami
sudah lama tak bertegur sapa selayaknya sahabat, dan aku cukup merindukan hal
kecil itu.
“Sepertinya kamu juga sedang memiliki masalah,” ucapku. Jika ia memang tak ingin berbicara
denganku, maka aku harus melakukannya.
Dengan langkah yang sedikit ragu, ia berjalan mendekatiku. Aku tersenyum padanya, dan
ia memberiku senyum tipis. Sepertinya baru kemarin kami bercengkerama dan
sekarang kami sudah menjadi orang asing, kenapa waktu berjalan dengan cepat?
Kami terdiam cukup lama, hanya berdiri bersisian dan menikmati semilir angin yang
membuat tubuhku nyaman. Aku tak tahu harus memulai obrolan dengan topik apa,
karena semua yang ada di pikiranku adalah topik-topik sensitive yang mungkin
akan membuat kami semakin menjauh.
“Aku…,”
“Kak…,”
Kami saling bertatapan, lalu setelahnya hanya tawa kami yang terdengar. “Kenapa kita
jadi secanggung ini?” tanyaku di sela-sela tawa renyah kami.
“Kayaknya udah lama banget aku gak liat Kakak tertawa selepas ini,” ucapnya yang sudah
menghentikan tawanya.
Ah, benarkah? Aku juga berpikir hal yang sama. Aku adalah wanita yang ceria sebelum
semua masalah ini datang.
“Kakak juga jadi lebih kurus, Kakak gak lagi diet, kan?” tanyanya lagi. Sepertinya Kevin
sudah kembali menjadi sahabatku, karena sifatnya yang cerewet itu dan selalu
menasehatiku.
“Kamu tetap peka, ya? Aku bahkan gak sadar sama semua itu.”
“Aku…rasanya senang bisa seperti ini lagi.”
Aku menatap Kevin yang menghela napas lega lalu kemudian tersenyum. Andai aku
melakukan ini sejak kemarin, apa aku akan tetap menghadapi masalah ini?
“Bagaimana kabarmu?” tanyaku.
“Sedikit lebih baik sekarang, Kakak?”
“Sepertinya sekarang juga sedikit lebih baik.” Aku memberinya senyum. Lalu kami terdiam
lagi.
“Jika aku ingin bertanya bagaimana kabar pertunanganmu, apa kamu akan pergi
meninggalkanku tanpa penjelasan juga?”
Kevin terlihat tenang memandangi gedung-gedung di depan sana, seperti sudah menduga pertanyaan
itu akan muncul.
“Apa Dimitri juga melakukan itu?”
“Bahkan Richard juga melakukan hal yang sama, ia selalu memintaku menjauhi Dimitri
tanpa memberiku alasan.”
“Sepertinya aku juga tak bisa memberi jawaban yang Kakak inginkan.”
Aku mengangguk mengerti, sepertinya aku memang di takdirkan untuk tak mengetahui
masalah ini. Baiklah, aku akan terus diam seperti ini sampai ada yang dengan
sukarela menjelaskan padaku. Aku akan menjadi wanita baik dengan menutup mata
dari semua permasalahan ini.
“Dimitri…aku merasa bersalah padanya,”
Aku hanya diam, tak ingin menanggapi apapun. Aku selalu di penuhi rasa penasaran,
jika aku bertanya apa yang sedang terjadi dengan Dimitri, dan Kevin tak
memberiku jawaban apapun, aku akan sangat frustrasi. Jadi lebih baik jika aku
diam.
**
Jum’at malam, dan Dimitri meminta untuk kencan denganku lagi. Tentu saja aku
mengiyakan hal itu. Aku tak rugi apapun jika berkencan dengannya, ia selalu
berusaha sangat keras untuk kencan kami, seperti menyewa ruang restoran VIP
yang kuyakin harganya sangat mahal. Aku penasaran ia akan melakukan apa lagi.
Pertanyaan yang kutanyakan padanya malam itu tentang hubungan apa yang sedang kami jalani
saat ini, belum mendapatkan jawaban apapun darinya. Aku kecewa tentu saja, tapi
seperti biasa, ia tak akan memberiku jawaban apapun. Kami hanya berkencan,
makan bersama, pulang bersama, sesekali bercinta, tapi tak ada komitmen atau
ungkapan apapun. Hanya seperti ini saja, bukan sahabat, juga bukan pacar.
Jika mengingat hal ini, aku hanya mampu tersenyum kecut. Aku masih sering sesekali
memergoki Dimitri bersama Michelle sedang makan bersama di salah satu kafe,
atau Michelle yang mendatangi kantor Dimitri. Aku tahu semua itu, tapi aku
memilih diam. Mungkin Dimitri berpikir jika aku tak akan mengetahui semua itu.
Dimitri menghentikan mobilnya di salah satu hotel bintang lima. Well, aku penasaran
dengan jenis kamar apa yang di pesannya. Apa mungkin President Suite? Ia sangat mampu melakukan itu dan aku sangat yakin
ia akan terus melakukannya.
Kami hanya berhenti di depan meja resepsionis untuk mengambil kartu akses untuk
memasuki kamar. Sepertinya pria ini sudah menyiapkan segalanya, kami tak perlu
repot check in dan langsung masuk ke
dalam lift.
Sekarang aku yakin kalau Dimitri benar-benar menyewa President
Suite, terbukti hanya satu kamar yang ada di sini. Oke, pria ini…hanya luar
biasa.
Tak ada adegan romantis seperti Dimitri yang akan menutup mataku sebelum kami
memasuki kamar, itu hanya terjadi di dalam drama sepertinya, atau pria itu
benar-benar romantis.
Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku, kamar ini luar biasa. Aku tak tahu apa
yang ada di pikiran Dimitri, tapi ini benar-benar luar biasa. Ranjang queen size dengan empat tiang dan kain
penutupnya, membuatnya sangat mirip kamar para putri kerajaan, dan ada kolam
renang di tengah-tengah ruang keluarga. Harga kamar ini sudah pasti sangat
“Kamu suka?”
“Kamu bercanda? Kamu gak liat aku yang udah terkesima kayak gini,” ucapku. Masih tak
percaya dengan keindahan kamar ini.
Aku tak mempedulikan Dimitri dan segera mengelilingi seluruh ruangan yang ada di
kamar ini. Rasanya seperti semua masalahku hilang karena melihat keindahan
setiap ruangan yang kumasuki. Jika aku sedang perjalanan kerja di luar kota,
aku hanya akan menyewa kamar standart. Aku bisa saja tinggal di kamar suite jika
ingin, tapi menurutku itu terlalau menghamburkan banyak uang.
“Kenapa baru sekarang kamu ngajakin aku ke tempat mahal kayak gini? Dari dulu kamu
kemana aja?” tanyaku ketika ia menghampiriku yang berakhir memandangi
pemandangan langit malam dari balkon.
Dimitri tertawa. “Karena aku ingin?” ucapnya.
Untuk sedetik, aku sedikit terkesima dengan Dimitri. Aku sudah pernah mendeskripsikan
betapa tampannya ia, tapi sekarang aku merasa ia berkali-kali lipat lebih
tampan. Apa ini efek karena aku sudah mengakui perasaanku? Dalam cahaya temaram
ini, aku sangat menyukai cara ia tertawa dan mengucapkan jawabannya.
“Aku jadi ingin menciummu.”
Aku segera tersadar dengan kalimat yang aku ucapkan, kupikir aku hanya mengucapkan
kalimat itu di dalam hatiku, tapi ternyata aku mengucapkannya dengan bibirku. Aku
menutupi bibirku dengan kedua telapak tanganku. Dimitri sudah menatapku dengan
alis yang terangkat.
“Ah, bukankah pemandangan malam ini begitu indah?” ucapku. Mencoba mengalihkan
topik, tapi justru terdengar sangat canggung untuk pendengaranku sendiri.
Dimitri mulai mendekatkan jaraknya, yang sejak tadi pun juga tak jauh. “A—Apa yang kamu
lakukan?”
Dimitri tak mengatakan apapun, dan ia sudah memerangkapku dengan lengannya yang
bertumpu pada pagar pembatas balkon. Aku tak bisa kabur kemanapun lagi. “Ucapkan
lagi kalimatmu tadi,” bisiknya di telingaku.
Wajahku memanas mendengar suaranya, dan jarak kami yang sudah tak memiliki jarak lagi
membuat jantungku berdetak kencang. Dulu aku juga merasakan hal yang sama,
hanya saja kali ini detakannya berkali lipat lebih kencang. “A—Aku tak
mengatakan apapun.”
Dimitri mencari kedua mataku yang menghindari tatapannya, dan ia mengambil daguku
dengan lembut, memaksa wajahku untuk menatapnya. “Aku sangat menyukaimu ketika
kamu sedang merona seperti ini.”
Kami benar-benar sudah tak berjarak, dan tatapan Dimitri itu sangat membakarku. Ia mengelus
tepi bibirku lembut dengan jempolnya, dan aku hanya bisa memejamkan mataku. Aku
benar-benar akan pingsan jika ia menatapku seperti itu. “Tatap aku, Li,”
pintanya.
Aku menurutinya dengan membuka mataku perlahan, hal pertama yang kulihat adalah
mata hitamnya yang juga sedang menatapku. “Kamu tahu? Bibir merah ini sudah
sejak tadi menggodaku untuk mencicipi rasanya lagi, apa kamu keberatan? Aku akan
membuatnya semakin memerah dan hanya mendesahkan namaku, hanya aku yang boleh
melakukan itu,” bisiknya di hadapan bibirku.
Tanpa perlu menunggu persetujuan dariku, ia langsung mengecup bibirku dengan lembut. Kecupan
yang langsung berubah menjadi lumatan penuh gairah. Ia melakukannya dengan
sangat lembut, membuatku semakin terbuai. Aku mengalungkan lenganku di
lehernya, semakin merapatkan jarak tubuh kami hingga angin tak mampu masuk di antara tubuh kami.
Aku bahkan sudah lupa kejadian ketika ia berciuman dengan Michelle di pinggir
jalan, atau ketika Michelle mengunjungi kantor Dimitri. Aku sudah melupakan
semua itu, melupakan bagaimana sebenarnya hubungan kami, berkencan atau
bersahabat? Aku sudah melupakan semuanya ketika bibir Dimitri mulai menginvasi
bibirku, tubuhku, bahkan hatiku.
Kalaupun ini adalah saat terakhir aku merasakan semua hal ini, maka aku tak masalah. Aku
sudah mengakui perasaanku, walaupun tak ada seorangpun yang mengetahui fakta
ini. Aku hanya akan menyimpannya seorang diri. Dimitri tak pantas menerima
pengakuanku ketika ia masih menyimpan rahasianya seorang diri.
**
Tak ada bahagia yang bertahan lama, mungkin hari jum’at kemarin adalah hari paling
membahagiakan untukku. Hanya ada aku dan Dimitri, kami menikmati sisa weekend itu seperti sepasang kekasih
yang sedang kasmaran. Aku memang kasmaran, aku tak tahu bagaimana pendapat
Dimitri. Ia tak pernah mengatakan apapun, hanya membuatku semakin terbuai
dengan tindakannya, dan semakin membuatku mencintainya.
Sepertinya memang benar aku sudah terbiasa dengan kehadirannya, dengan kenyamanan yang
kami miliki, dan aku terlambat menyadari semua perasaan itu. Ah, aku selalu
terlambat untuk urusan cinta, itu juga karena aku tak pernah peka dengan
perasaanku sendiri.
Tebak aku sekarang bertemu siapa?
Aku akan mengadakan rapat di luar sebelum jam makan siang, dan aku baru saja ingin
keluar dari lift ketika tak sengaja berpapasan dengan mereka. Sangat mesra dan
sang wanita merangkul lengan sang pria dengan manja. Aku agak menyesali keputusanku
yang buru-buru turun ke lobi, harusnya aku menunggu beberapa saat di kantorku
lalu turun ke lobi.
Jika sudah seperti ini, apa yang bisa kulakukan? Pura-pura tak melihat mereka
padahal kami sudah bertatap muka tadi? Hatiku sakit hanya dengan melihat mereka
berdua, semua kebahagiaan yang kurasakan kemarin seperti bukan apa-apa ketika
aku bertemu mereka secara langsung, bukan hanya dengan memandangi mereka dari
kejauhan.
Dimitri dan Michelle.
Michelle tersenyum dengan lebar ketika melihatku, dan aku terpaksa memberikan senyum
tipisku juga dengan tidak rela. Dimitri menatapku dengan raut wajah datar, tak
menunjukkan emosi apapun. Ini Dimitri, apa yang bisa kuharapkan? Ia tak akan
berubah hanya karena kami kencan beberapa kali dan saling berbagi kenangan romantis.
“Hai, Kak Lili,” sapanya.
Aku benci keceriaan yang selalu ia tunjukkan di hadapanku, aku tahu itu hanya kedok
yang ia ciptakan. Aku rasanya benar-benar ingin merobek mulutnya itu.
“Oh, hai. Kalian terlihat serasi.”
“Benarkah? Ah, kami memang seperti itu sejak dulu. Iya, kan, sayang?”
Sayang? Aku sangat sangat ingin mencekiknya sekarang. Jadi, apa mereka sudah resmi
menjadi pasangan lagi? Aku tahu, Dimitri tak pernah mengangkat topik ini dan
aku juga tak pernah bertanya. Aku berpikir Dimitri lah yang harusnya
menjelaskan padaku tentang semuanya, tapi ia tak melakukannya sampai akhir.
Diamnya ia ketika aku menanyakan hubungan ini, sama artinya dengan ia yang tetap
menganggapku sebagai sahabat. Kencan itu, aku yakin hanyalah kesopanan yang ia
miliki untuk mewujudkan permintaan gilaku. Aku tahu Dimitri tak akan dengan
kasar menolakku, dan ia terlalu segan untuk mengiyakan. Lalu terciptalah
hubungan kami yang semakin aneh.
Aku jelas kecewa. Memangnya aku harus seperti apa ketika aku sudah mengakui
perasaanku dan pria ini justru sedang berpacaran dengan mantan kekasihnya. Aku memilih
keputusan yang tepat untuk tak mengungkapkan perasaanku padanya.
Tak masalah, aku akan menyimpan ini untuk diriku sendiri. Setidaknya ia memberiku
kenangan manis walau bukan kepastian seperti yang kuinginkan.
“Aku mendoakan yang terbaik untuk kalian. Bagus kalau kamu sudah menemukan cintamu
yang sebenarnya, berpura-pura mencintai itu sangat sulit.” Aku memberikan
senyumku pada Michelle, walau bukan senyum tulus, setidaknya aku mampu
tersenyum di hadapan mereka.
Michelle merona ketika aku mengatakannya. Aku membencinya, karena ia terlihat semakin
cantik jika seperti itu. Aku menatap Dimitri yang sudah membuang pandangannya
kearah lain. Ya, pria tetaplah pria, ia sudah menjadi pemain wanita sejak dulu,
dan ia sudah dengan jelas mengatakan kalau tak bisa hanya bersama satu wanita. Aku
akan menghormatinya, karena aku sahabatnya.
Inilah resiko yang harus kuterima ketika mencintai seorang iblis dalam kehidupan
nyata. Aku tak akan membencinya, toh ini keinginanku sendiri ketika sudah
mengakui perasaanku.
**
Haiii apa kabar kalian hari ini? semoga selalu baik ya, mungkin ini sedikit terlalu panjang dan membosankan. Tapi semoga kalian bisa menikmati ya
Selamat membaca^^^