PLAYBOY

PLAYBOY
Bonus Chapter : Evelyn



Karena ini cuma bonus chapter, jadi mungkin apdetnya gak bisa sering-sering banget, jadi aku minta maaf ya kalo misalnya ini publish agak seminggu sekali atau mungkin dua hari sekali.


Happy reading^^



“Kamu tahu apa yang paling penting dalam rumah tangga? Komunikasi. Kalau kamu lari lagi dari masalah kayak gini, kamu gak jauh beda kayak dulu,” ucap Nabila.


Aku memutuskan untuk bertemu dengan sahabatku itu setelah bertengkar dengan Dimitri pagi tadi. Ini pertengkaran pertama kami yang serius, jadi aku cukup bingung dengan apa yang harus kulakukan. Ingat, kan, kalau aku sangat buruk dalam sebuah hubungan? Itu masih berlanjut sampai sekarang.


Mungkin juga ini bagian dari kesalahanku. Aku selama ini terlalu fokus pada hal baik yang terjadi di antara kami berdua, dan tak menyangka kalau masalah akan datang secepat ini. Tapi ia tak akan menyerah dengan begitu saja. Untuk apa ia sampai sejauh ini jika pada akhirnya hanya akan menyerah?


“Aku udah nanya sama Dimitri, dan dia bilang itu kliennya dan bukan siapa-siapa. Menurut kamu siapa yang akan percaya omongan dia?”


“Kamu gak percaya sama Dimitri?”


“Dalam keadaan kayak gini? Aku gak akan percaya, aku terlalu punya banyak tersangka untuk di jadiin jaminan.”


Nabila menggelengkan kepala dengan dramatis. “Kalian itu masih pengantin baru, kenapa gak kalian nikmatiin hari-hari kalian aja  di banding kayak gini?


Aku ingin melakukan itu, tapi bagaimana bisa ketika pikiranku benar-benar tak ada di sini. Pikiranku sangat penuh oleh Dimitri dan juga Evelyn. Dimitri yang tak menjelaskan apapun, tapi masih peduli padaku, bagaimana aku harus menghadapi ini?


“Kamu terlalu parno, Li. Kamu takut kejadian yang sama kejadian lagi di masa sekarang,” ucap Nabila. “Kalian udah nikah, bukan kayak dulu, Liliana.”


Nabila selalu lebih dewasa dariku, sejak dulu, bahkan sekarang semakin dewasa. Hanya aku yang masih terlalu kekanakan menghadapi masalah seperti ini, harusnya juga aku tahu harus berbuat apa. Hanya melihat sifat Dimitri yang sedikit berbeda, aku sudah menyimpulkan banyak hal. Bisa saja dia memang banyak pekerjaan, kan?


Dan Evelyn itu benar-benar klien yang sedang ia tangani. Aku harusnya sangat memahami bidang pekerjaan Dimitri yang memiliki berbagai jenis klien. Tapi, setidaknya aku sedikit lega karena sudah melakukan hal ini, aku bisa saja langsung pergi tanpa mengatakan apapun pada Dimitri.


“Jadi, aku harus ngapain sekarang?” tanyaku memelas.


Nabila menatapku dengan kesal. Raut wajahnya benar-benar menggelikan, kalian harus melihatnya sendiri. Antara menahan kesal tapi harus tetap sabar, raut wajah seperti itu.


“Kamu hampir tiga puluh dan udah punya suami tapi hal kayak gini masih gak ngerti. Kamu hidup di mana selama ini?”


Mau tak mau aku tertawa mendengar ucapan Nabila serta raut wajah yang sangat menggelikan itu. Anggap saja ini hiburanku setelah seharian kemarin aku menahan rasa kesal. Semenjak menikah dan sibuk mengurusi anak, agak sulit untuk bisa bertemu seperti ini dengan Nabila. Yah, semakin kita dewasa, semakin kita di hadapkan dengan banyak hal yang membuat kita semakin sibuk.


Aku paham dengan semua itu, karenanya aku juga sudah mulai menyibukkan diriku dengan beberapa hal. Mengurus Dimitri adalah salah satunya, tapi itu memang kewajiban, sih.


**


Oh, ya, aku pernah berjanji akan menceritakan tentang usaha toko bunga yang baru saja kubangun, kan? Aku akan menceritakannya sekarang, masalahku dengan Dimitri akan ku tunda beberapa waktu dulu. Aku terlalu pusing untuk menebak siapa itu Evelyn selain klien Dimitri


Memiliki suami seorang Direktur yang tampan dan muda sangat menyulitkan, karena dari awal mereka sudah memiliiki banyak penggemar. Kalau kalian bisa memilih, lebih baik pilih yang biasa saja agar hidup kalian tak seburuk mereka. Se-terkenal apapun mereka, akan tetap kalah dengan pria yang penuh kesederhanaan.


Ke-tenaran tak pernah bertahan lama, ada tenggang waktu yang tak kasat mata. Jika kalian kuat, maka bisa kalian lakukan sendiri. Jika kalian seperti aku yang selalu ragu dan plin plan, lebih baik jangan lakukan apapun, jadilah diri kalian sendiri.


Aku sudah mendapatkan bangunan untuk membuka usaha toko bunga ini. Letaknya cukup strategis di pusat kota, tak jauh dari kantor Dimitri sebenarnya. Aku bukan sengaja melakukan ini, Dimitri yang memilih bangunan ini dan dia juga yang membelinya, atas namaku.karena dia seorang Direktur, sangat mudah melakukan hal seperti ini.


Bukannya aku tak mampu membeli bangunan ini, hanya saja ia sangat bersikeras kalau ini juga bagian dari tanggung jawabnya. Aku tak mungkin melawan suami, kan? Dia adalah kepala keluarga, jadi sebisa mungkin aku selalu menurutinya.


Aku melihat beberapa pekerja yang sedang menata bangunan ini sedemikian rupa. Lagi-lagi atas perintah Dimitri. Masalah ini sudah pernah kami bicarakan jauh-jauh hari sebelum masalah Evelyn ini muncul, akan sangat kekanakan kalau aku mengusir semua pekerja ini hanya karena aku bermasalah dengan suamiku.


Tak banyak yang perlu di tata, karena aku menginginkannya sederhana dan tak terlalu mencolok. Dan lusa semua pengerjaan ini di pastikan akan selesai, lalu aku tinggal mengadakan acara syukuran untuk pembukaan toko ini. Untuk namanya sendiri, sudah kupilihkan sesuatu yang sangat sederhana dan mudah diingat. Lili’s Florist.


“Permisi, Bu, di depan ada yang nyariin,” ucap seorang wanita. Wanita awal tiga puluhan yang sudah lolos sesi wawancara dan akan menjadi karyawan di sini. Tadinya aku ingin bekerja seorang diri saja, tapi memiliki asisten juga tak buruk.


Aku tersenyum pada wanita ini lalu berjalan keluar untuk melihat siapa yang mencariku. Senyumku pudar ketika mengetahui siapa yang mencariku. Dimitri.


“Ada apa?” tanyaku ketus. Aku masih mendiamkannya karena masalah wanita itu, sudah tiga hari kami tak berkomunikasi secara normal karena aku yang tak tahan melihat wajah pria ini.


Suamiku ini selalu tampan, bahkan jika hanya mengenakan kaos oblong. Aku sangat menyukainya, ah tidak, aku mencintainya, tapi jika mengingat wanita bernama Evelyn itu rasanya aku ingin menampar wajah tampan ini.


“Kita perlu bicara.”


“Dari kemarin kita bicara, tapi kamu gak pernah bicara secara jujur. Apa lagi yang mau kamu bicarain?”


Dimitri menatapku intens. Jika masalah ini tak pernah ada, wajahku akan merona hanya karena tatapan itu, bahkan aku akan menundukkan kepala karena malu yang kurasakan. Tapi kini, aku bahkan mampu menatapnya tanpa gentar.


“Kita bicara di tempat lain,” ucapnya. Jika ia hanya mengatakan beberapa kata, itu artinya dia sudah serius, tapi aku tak ingin kalah darinya.


Aku membalikkan tubuhku untuk meninggalkannya. Tapi, mungkin kalian akan tahu ini, Dimitri selalu mendapatkan apa yang ia inginkan, apapun itu. Jadi, tanpa aba-aba apapun, Dimitri langsung mengambil pinggangku dan menarik ke pelukannya dengan erat. Saat itu, aku tahu kalau aku tak mungkin bisa lari lagi.


**


“Apa yang mau kamu bicarain?” tanyaku lagi.


Kami sudah berada di salah satu ruangan VIP sebuah restoran dengan beragam makanan yang terhidang di meja. Ini jam makan siang, tapi aku sama sekali tak lapar, di tambah dengan Dimitri yang membawaku dengan paksa ke sini.


“Evelyn bukan siapa-siapa, Li, dia hanya salah satu klien dan kami gak ada hubungan apa-apa,” ucapnya. Dimitri sekali, langsung ke topik masalahnya tanpa basa basi.


“Kamu udah ngomongin itu berkali-kali, kamu gak punya kalimat lain?”


Dimitri mengacak rambutnya yang rapi, ia terlihat sangat frustrasi. Aku sebenarnya sangat tak tega melihat semua itu, aku tahu ia memiliki banyak pekerjaan dan juga tanggung jawab. Tapi semua perbuatan yang Dimitri lakukan belakangan ini juga sangat tak membantu. Ia pulang larut malam, lalu tidur di ruang kerjanya. Ia memasuki kamar kami hanya untuk mengecup keningku lalu mengucapkan maaf. Bagaimana aku bisa percaya padanya jika begitu?


“Kamu selalu pulang larut, gak pernah tidur di kamar, kamu bahkan selalu bilang maaf setiap aku tidur. Kamu pikir aku gak tahu semua itu, kamu mau bicara tapi kalau cuma itu yang mau kamu bicarain, itu gak berarti apa-apa untuk rumah tangga kita, Al.”


Dimitri diam mendengar ucapanku. Aku bukan lagi wanita yang berpikiran pendek, bukan wanita yang akan kembali menghilang jika memiliki permasalahan seperti ini. Aku bukan Liliana yang dulu.


Pernikahan membuatku dewasa, aku tahu ada saatnya ketika kami tak sependapat dan mempertahankan pendapat masing-masing. Hal itu pasti terjadi, tapi bagaimana cara kita menyikapi adalah solusinya. Aku sudah menekan egoku sangat jauh di dalam diriku dan mencoba untuk menuruti apa yang suamiku katakana. Aku melakukan


semua itu, Dimitri pun sama, kami benar-benar bekerja keras untuk menciptakan rumah tangga yang indah di tengah perbedaan pendapat kami.


Jadi, ketika Dimitri berubah seperti ini hanya dalam waktu enam bulan, tak salah kalau aku berpikiran seperti ini, kan?


“Aku ngelakuin ini buat menangin proyek dari wanita itu,” ucap Dimitri lirih.


Aku mencoba mencerna kalimat yang Dimitri sampaikan. Dimitri, suamiku, tak akan melakukan hal seperti ini hanya untuk sebuah proyek. Lalu kenapa sekarang seperti ini?


“Kamu bukan pria yang akan ngelakuin semua ini hanya untuk proyek, aku kenal suamiku sendiri. Tapi, kamu kenapa ngelakuin ini?”


“Aku tahu, itulah kenapa aku gak cerita ini sama kamu. Aku berencana ceritain semua ini setelah aku tanda tangan proyek itu,”


Dimitri hanya menundukkan kepalanya dengan rambut yang sudah acak-acakan. Dimitri yang ku kenal bukan orang yang gila proyek, pasti ada alasana di balik semua yang ia lakukan.


“Apa alasannya?”


Dimitri mendongak menatapku. Lihatlah kantong mata itu, dan juga bulu halus yang sudah mulai menumbuhi dagu dan rahangnya. Aku seperti sudah menjadi istri yang durhaka karena tak memperhatikan suamiku sendiri. Ia selalu bersih dan tetap tampan memang, tapi kali ini aku sangat tak tega melihatnya cukup kacau seperti itu.


“Kamu percaya sama aku?”


“Kalau aku gak percaya sama kamu, aku udah minta surat cerai dari kemarin,” ucapku. Masih dengan wajah ketus. Aku sudah cukup mahir bermain peran, jadi jangan heran dengan semua itu. Anggap saja aku sudah percaya padanya, tapi aku harus tetap melakukan ini agar ia jujur tentang alasan sebenarnya.


“Evelyn adalah klien besar dan banyak perusaan yang ngincar dia. Dia juga bukan tipe yang bisa tanda tangan suatu proyek semudah itu, jadi aku ngelakuin ini buat dapetin tanda tangan itu.”


Aku menyipitkan mataku menatap Dimitri. “Apa maksudnya sama ‘ini’? Kamu tidur sama dia?”


“Aku gak segila itu, Lili. Aku cuman ngikutin semua hobi dia yang suka dateng ke klub dan juga kumpul sama temen-temennya.”


Oke, kali ini aku benar-benar marah. Wanita itu memang klien besar, tapi apa harus Dimitri melakukan semua itu hanya demi proyek? Dia sudah sangat kaya bahkan tanpa proyek itu, dan aku yakin dia juga gak akan bangkrut kalau menolak proyek itu. Aku bahkan lebih marah di banding ketika tahu tentang Evelyn.


“Aku mau pulang.” Aku langsung berdiri dari dudukku dengan tiba-tiba.


“Li.” Dimitri mencekal lenganku membuat langkahku berhenti. “Aku bicara jujur soal wanita itu, aku bener-bener gak ngelakuin apapun sama wanita itu. Aku berani bersumpah.”


Aku membalikkan tubuhku untuk menatapnya. “Tapi apa harus kamu ngelakuin ini?! Kamu gak pernah kayak gini sebelumnya. Kamu gak tahu segila apa aku nungguin kamu setiap malam, bukan cuma kamu yang menderita di sini!” Aku meluapkan semua emosiku, air mataku juga ikut mengalir karena hal ini.


Dimitri lalu memelukku dengan erat. “Maafin aku, Li. Aku janji gak akan ngelakuin hal ini lagi. Maafin aku, ya?”


Aku semakin menyurukkan wajahku ke dadanya. Ini sangat memalukan sebenarnya, tapi juga membuatku sangat emosional. Wanita mana yang bisa tahan jika suaminya melakukan hal seperti itu. Aku sangat tahu kalau Dimitri jujur, tapi justru itu yang membuatku semakin sakit. Tapi, setidaknya aku lega karena kejujuran pria ini.


Dimitri mengecup puncak kepalaku berkali-kali dan mengucapkan kalimat penghiburan untuk menenangkanku. Kalau saja dari awal Dimitri mengatakannya, mungkin aku tak akan seperti ini. Mungkin aku akan meracuni wanita bernama Evelyn itu, dia pasti sengaja melakukan trik murahan untuk menjerat Dimitri.


Akan kuingat dengan baik wajah wanita itu agar aku bisa berjaga-jaga.


**