
haiii apa kabar kalian? jadi aku mau bilang kalau ini bener-bener episod terakhir, aku mau bikin lebih banyak episod, tapi aku takut feelnya gak dapet karna konsepnya emang kayak gini. semoga kalian puas sama endingnya, terima kasih atas antusiasme kalian dan yang nungguin cerita ini. sampai jumpa di cerita baruku minggu depan.
happy reading^^
Suasana restoran siang itu cukup ramai, untuk kesekian kalinya Liliana akan bertemu dengan kliennya di jam makan siangnya lagi. Jam makan siang yang harusnya bisa di gunakan untuk bersantai ataupun menenangkan pikiran sejenak dari pekerjaan. Entah kenapa sejak kepindahannya ke Jakarta, jam makan siangnya sudah berubah menjadi jam rapat untuk para kliennya.
Ayu sedang menerima telepon di luar, di dalam restoran itu sendiri terlalu berisik untuk menjawab telepon. Liliana menatap ponselnya, sudah tak ada aplikasi media sosial lagi di ponselnya. Walaupun sudah kembali ke Jakarta, mulai berdamai dengan masa lalunya, tapi ia merasa sudah tak ingin menghubungkan dirinya dengan media sosial.
Menurutnya, media sosial hanya membuang-buang waktu dan tak terlalu efektif. Lilana juga tak memiliki waktu untuk mengurusi hal seperti itu.
“Mbak, Pak Arif barusan telepon dan dia bilang kalau rapat siang ini di tunda aja soalnya dia ada urusan lain yang lebih mendesak.” Ayu sudah menyelesaikan panggilannya dan segera menghampiri meja tempat Liliana menunggu.
Ada rasa kesal di wajah Liliana. ia memang membenci rapat di jam makan siang seperti ini, tapi ia lebih membenci lagi jika di tunda di saat-saat terakhir seperti ini. Sangat membuang-buang waktu dan juga pekerjaannya akan semakin tertunda.
“Setidaknya kita bisa makan dengan tenang siang ini. Kita makan siang dulu, abis itu balik ke kantor.”
Tak lama kemudian, makanan yang sudah mereka pesan sebelumnya datang dan memenuhi meja. Ketika di Bali dulu, Liliana lebih suka memakan makanan cepat saji yang bisa dia antar ke kantornya, alasannya karena lebih praktis untuknya agar ia tak perlu meninggalkan kantornya. Ketika ia sampai di Jakarta, rasanya sangat sayang jika harus mengkonsumsi makanan seperti itu lagi, apalagi ketika Meta menempatkan mata-mata di seluruh penjuru kantor untuk memastikan Liliana agar tak melakukan hal aneh.
“Gimana hubungan kamu sama Kevin?” tanya Liliana sembari menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Pertanyaan tiba-tiba itu membuat Ayu tersedak. Wanita muda itu belum siap di tanyai secara langsung oleh bosnya ini. Lagipula kenapa harus di tanyakan? Tentu saja karena bosnya ini bersahabat dengan kekasihnya, dan terkadang hanya mengingat kekasihnya itu membuat pipinya tiba-tiba memerah.
“Kamu masih malu karena itu?” tanya Liliana lagi.
“Ah, enggak…kami ya…hanya seperti itu,” jawab Ayu gugup.
“Santai aja kali, Yu, ini juga jam makan siang, kamu bebas menanggalkan semua keformalan kamu itu.” Liliana tersenyum melihat Ayu yang tampak salah tingkah itu.
Ayu tersenyum tipis. “Lagian Mbak ngapain nanyakin itu, kita ganti topik aja. Nanti Kevin kesedak karena di omongin.”
“Wah, kamu perhatian banget, ya, beruntung banget itu si Kevin dapetin kamu.” Liliana tersenyum geli dan semakin menggoda Ayu yang pipinya semakin memerah.
Melihat Ayu dan Kevin membuatnya kembali ke masa lalu. Mungkin ketika ia menyukai Dewa dulu, raut wajahnya terlihat seperti Ayu sekarang ini. Masa muda sangat membahagiakan, kan?
Sebenarnya Liliana belum setua itu, hanya saja jaraknya dengan masa-masa itu sangat jauh, dan ketika mengingatnya ada rasa bahagia di dirinya. Apa akan semembahagiakan itu jika bersama Dimitri nantinya?
Liliana merasakannya, ketika pipinya memanas malam itu. Dimitri yang mengecupnya sepenuh hati, dan ada ketulusan dalam kalimat yang di ucapkan pria itu. Hatinya sejak dulu sudah memilih Dimitri, bahkan sampai saat ini hanya ada pria itu di hatinya. Mungkin benar kalimat Nabila tentang Liliana yang sedang menarik ulur perasaan Dimitri.
“Jatuh cinta menyenangkan, kan?” Liliana bertanya lebih kepada dirinya sendiri.
“Kalau dia pria yang tepat, itu lebih kepada membahagiakan, Mbak, menyenangkan aja gak cukup buat ungkapin semua perasaan yang di rasain,” ucap Ayu dengan senyum lebar di wajahnya.
“Dan kamu pikir Kevin orang yang tepat?”
“Semoga aja, Mbak.” Senyuman Ayu semakin lebar karena mengatakan hal itu. Sudah di pastikan kalau Ayu sangat bahagia dengan hubungan baru yang ia jalin bersama Kevin. Liliana yang menyaksikan semua itu hanya tersenyum.
**
Setelah makan siang, Ayu memutuskan untuk kembali lebih dulu ke kantor karena ada laporan yang harus ia selesaikan. Padahal Liliana tak keberatan jika laporan itu di kerjakan nanti saja dan mereka bisa mengelilingi mal sebelum jam makan siang habis.
Mungkin karena naluri atau ia sangat membutuhkan waktu sendiri, Liliana memutuskan untuk mengunjungi mal sebelum kembali ke kantor. Ia butuh berpikir. Wanita itu bahkan sudah berpikir sejak kembali ke Jakarta, lalu ketika jam istirahat seperti ini ia memutuskan untuk kembali berpikir, entah apa yang ada di pikirannya itu.
Ia berjalan di sekitar toko baju yang ada di lantai dua, ia menikmati waktunya menikmati pemandangan di sekitarnya. Bukan pemandangan yang bagus sebenarnya, sepanjang mata memandang hanya ada orang-orang yang sibuk dengan kegiatannya sendiri. Mungkin ia akan membuat ini menjadi hobi tetapnya, berjalan-jalan sendirian di mal tak terlalu buruk, ini membuatnya mampu berpikir dengan baik.
“Richard?” Liliana menatap punggung seorang pria dengan ragu, pria itu terlihat seperti Richard dari belakang tapi bisa juga bukan. Liliana akan mengarang alasan nanti jika tebakannya salah.
Pria itu membalikkan tubuhnya, dan memang pria itu Richard.
“Liliana,” ucap Richard dengan takjub.
Mereka saling melemparkan senyum dengan pandangan yang takjub karena bisa saling menemukan secara tak sengaja.
“Kamu sudah kembali, aku gak nyangka bakal ketemu kamu secara tiba-tiba kayak gini,” ucap Richard dengan rasa takjub yang belum bisa hilang.
Mereka memutuskan untuk duduk di salah satu kafe yang ada di dekat tempat mereka bertemu.
“Pantesan aku pengen banget ke mal, harusnya aku udah balik ke kantor ini.” Liliana juga tak kalah takjub dengan apa yang ia temukan.
Terakhir kali ia berkunjung ke mal, ia bertemu Dimitri dan berakhir dengan titik temu masalah mereka. Lalu kali ini ia bertemu Richard. Mungkin ia harus sering-sering pergi ke mal untuk menemukan sesuatu yang tak terduga lainnya.
“Mungkin kita jodoh.”
Liliana tertawa mendengar ucapan Richard. “Udah selama ini dan kamu masih belum bisa lupain aku?”
“Jodoh gak ada yang tahu, kan?” Richard mengangkat bahunya acuh. “Kamu udah ketemu Dimitri?”
Liliana mengangguk. Ia benar-benar tak tahu apa yang terjadi pada Richard dan Michelle, selama ia bersama Dimitri pun, pria itu tak pernah membicarakannya. Anggap saja ia belum ingin sedekat itu dengan Dimitri lalu mencari tahu apa yang terjadi, atau ia hanya tak ingin tahu.
“Aku gak tahu apa aku boleh ngomongin ini sama kamu, tapi terakhir kali aku ketemu Dimitri, dia sangat kacau karena kepergian kamu. Dia bahkan mendatangiku dengan sukarela hanya untuk tahu keberadaan kamu.”
Liliana hanya diam menyimak ucapan Richard, karena ia juga tak tahu harus menjawab seperti apa. Semua sahabat dekatnya juga menceritakan hal yang sama, tentang seberapa terpuruknya Dimitri selama ini, dan bahwa pria itu sudah berubah.
“Mungkin ini pertama kalinya aku ngelihat dia kayak gitu, terlihat putus asa dan gak bisa ngelakuin apapun. Bahkan waktu kami bertengkar di SMA, dia gak pernah terlihat seputus asa itu,” lanjut Richard.
“Well, aku gak tahu harus bereaksi kayak apa, tapi hampir semua orang mengatakan hal yang sama.”
“Kamu kayaknya udah kasih hukuman yang tepat buat dia.”
“Jadi apa menurutmu aku harus semakin menghukum dia?”
“Ikuti kata hatimu, Li. Aku bahkan mengurungkan niatku untuk merebut kamu karena gak tega ngeliat Dimitri yang seputus asa itu.”
Liliana tertawa, sepertinya bertemu dengan Richard secara tak sengaja merupakan petunjuk untuknya. “Kamu langsung nyerah tanpa berusaha, pria sejati gak ngelakuin itu, Rich.”
“Aku mau minta maaf atas nama Michelle, dia pasti udah nyakitin kamu banget. Aku pikirpermintaan maaf gak akan cukup untuk semua yang ia perbuat, tapi aku juga gak bisa berbuat apa-apa.”
“Dimana Michelle sekarang?”
“Dia kembali ke New York untuk melanjutkan kuliah juga karier modelnya, harusnya dia melakukan itu saja tanpa perlu mengganggu kalian.” Raut penyesalan terlihat jelas di wajah Richard. Ketika memikirkan Liliana dan Dimitri, hanya ada rasa bersalah di hatinya.
“Awalnya aku memang marah, tapi kalau mendengar semua ceritamu aku bisa memahami. Semua yang dilakukannya memang salah, tapi mungkin itu satu-satunya cara untuk membuat hatinya lega. Aku juga sakit hati, tapi aku tahu rasa sakit Michelle lebih besar.”
Richard hanya menganggukkan kepala, lalu tersenyum kecil. “Kalau aku jadi Dimitri pun, aku pasti akan mempertahankanmu dengan segala cara. Dimitri sangat beruntung karena memilikimu.”
Liliana tak tahu bagian mana yang Richard puji, tapi mendengar kalimat itu membuat pipinya memanas.
**
Ini adalah hari jum’at, dan Liliana mendapat undangan sebuah pesta yang diadakan salah satu kliennya. Hanya pesta makan malam biasa untuk merayakan keberhasilan proyek yang di tangani oleh kantor Liliana. tapi, biasa di sini bisa di artikan sebagai pesta besar yang di hadiri para pengusaha kelas atas lainnya dengan suasana yang sangat meriah dan juga mewah. Kebanyakan mereka yang memiliki jabatan tinggi melakukan itu.
Liliana tak memiliki pilihan lain selain datang, dan ia memilih mengajak Dimitri. Hanya pria itu yang terpikirkan olehnya, ia juga tak mungkin mengajak Kevin. Ia bisa saja pergi sendirian, tapi tak ada yang tahu ada apa saja di pesta itu. Di dalam undangan itu pun tertulis untuk datang bersama pasangan.
Sejak keluar dari mobil tadi, Dimitri sudah merangkul pinggang Liliana. “Hanya memastikan kalau kamu datang bersamaku, jadi tak ada yang berani mendekatimu.” Itu yang di ucapkan Dimitri ketika mulai merangkul pinggang Liliana.
“Aku pikir ini akan membosankan untukmu,” ucap Liliana ketika mereka sampai di aula yang sudah di penuhi tamu undangan. Dan benar saja dugaannya, biasa yang di maksud di sini adalah pesta yang di hadiri banyak tamu dari kalangan pengusaha lainnya.
“Tak masalah, aku bersamamu.” Dimitri tersenyum menatap Liliana.
Liliana mulai berjalan mendekati sang tuan rumah untuk mengucapkan selamat, lalu mungkin setelah itu ia bisa mencari tempat yang sedikit lebih tenang. Ia juga tak menyukai keramaian sepadat ini, hanya pekerjaannya saja yang tak mengizinkan dirinya untuk tak terlalu tenggelam dalam ketenangan.
Dan sepanjang malam itu, Dimitri benar-benar tak melepaskan Liliana dari lengannya. Ia mengikuti kemanapun wanita itu pergi, dan Liliana tak merasakan risih sama sekali. Hal itu hanya semakin menguatkan apa yang sedang coba ia percayai.
“Kamu tahu apa yang lucu dari semua ini?” tanya Dimitri pada Liliana. Mereka sudah menemukan tempat untuk menyepi dari aula yang penuh di dalam sana. Ada sebuah balkon yang cukup sepi jika keluar dari aula itu dan berjalan sebentar di koridor gedung itu sendiri.
“Apa?”
“Kita sama-sama tak menyukai acara seperti ini, tapi tetap harus datang dan selalu berakhir melarikan diri.”
Liliana tertawa mendengar jawaban Dimitri yang sangat akurat. Mereka sempat tertahan di dalam ruangan pesta itu cukup lama karena harus menyapa beberapa orang yang di kenali Liliana, di tambah beberapa orang yang juga mengenal Dimitri.
“Ini membuatku ingat masa lalu, waktu kamu selalu mengajakku untuk menghadiri acara seperti ini. Menyebalkan tapi kamu selalu memaksaku.”
“Well, tapi aku dengan senang hati menemanimu sekarang. Jadi, apa dulu kamu tak tulus melakukan semua hal itu?”
Liliana mengangkat kedua bahunya. “Tentu saja tulus, demi gajiku.”
Mereka tertawa bersama karena hal itu. Angin malam itu menerbangkan rambut Liliana yang tergerai di bahunya.
“Aku sudah memutuskan, Al,” ucap Liliana. Membuat Dimitri mengalihkan tatapannya pada Liliana.
Liliana menatap Dimitri yang sudah menatapnya dengan tatapan penuh tanya. “Kita. Aku selama ini sedang mencoba untuk meyakinkan hatiku, dan walaupun sudah berulang kali aku melakukan hal itu, hatiku tetap memilihmu,” lanjut Liliana.
Dimitri hanya menatap Liliana tanpa mengatakan apapun, lebih tepatnya ia tak tahu ingin mengatakan apa. Semua kalimat seolah tak mampu terucap dari bibirnya. Ia tak menyangka Liliana akan memutuskan secepat ini, Dimitri tak keberatan jika harus menunggu lebih lama. Apapun akan ia lakukan untuk hal itu.
“Kamu tak ingin mengatakan apapun?” tanya Liliana.
“Aku bahkan tak tahu harus mengatakan apa, aku seperti sedang mendapat pengungkapan cinta.”
Liliana tertawa. “Anggap saja aku melakukan itu, tapi memang sejak dulu jawabannya sudah dirimu. Aku berusaha untuk mengubah hatiku, meyakinkan kalau kamu hanyalah sahabat terdekatku dan aku tak seharusnya merasakan perasaan ini. Tapi, sekeras apapun aku mencoba, itu tetap dirimu.”
“Aku boleh memelukmu?”
Liliana hanya merentangkan tangannya tanpa mengatakan apapun, dan Dimitri menyambut itu dengan senyuman lebar di wajahnya. Penantiannya tak sia-sia, dan rasa sabarnya juga sudah terbayarkan. Benar-benar sangat menyakitkan di awal, tapi Dimitri menerima semuanya seolah itu bukan apa-apa.
Lagipula itu memang hukumannya, dan sekarang ia sudah terbebas dari hukuman itu karena Liliana.
“Maaf membuatmu menunggu lama. Aku hanya ingin memikirkan semuanya dengan baik, aku tak ingin patah hati karena itu rasanya sangat sakit.”
Dimitri semakin mengeratkan pelukannya dan mencium puncak kepala Liliana. “Aku rela menunggu hingga sepuluh tahun atau lima puluh tahun asal kamu bersamaku. Aku benar-benar tak mempermasalahkan semuanya.”
Liliana semakin membenamkan wajahnya di dada Dimitri. Ada rasa lega di hatinya, semua beban seolah terangkat dari pundaknya. Harusnya memang sudah sejak lama ia melakukan hal ini, tapi butuh badai untuk menguatkan hatinya sebelum menghadapi pelangi yang indah.
“Aku masih tak percaya dengan semua ini, aku pikir kita hanya akan berakhir tanpa status yang jelas atau kamu kembali menggantungku lalu pergi begitu saja.”
Pipinya terasa sakit karena terus-terusan tertawa dan juga tersenyum sejak tadi, tapi ia tetap tertawa. Ia juga tak tahu kalau akan mengatakan hal itu pada Dimitri.
“Awalnya aku ingin melakukan hal itu, tapi sangat tak adil untukmu dan aku hanya akan berakhir dengan peran antagonis. Jadi aku memantapkan hatiku lagi untuk menerimamu, tapi aku memiliki satu permintaan.”
Dimitri melepsakan pelukan mereka dan menatap Liliana. “Apa permintaanmu?”
“Jangan pernah rahasiakan apapun dariku lagi, kamu bisa langsung mengatakan padaku, apapun itu. Jangan takut aku akan tersakiti, aku lebih tersakiti ketika kamu hanya diam.”
“Tak ada rahasia. Aku berjanji padamu. Aku juga berjanji akan memperbaiki semuanya dari awal, aku takkan membiarkan apapun menyakitimu.”
“Aku akan membunuhmu jika kamu mengingkari semua janji itu,” ucap Liliana dengan raut wajah serius.
“Aku memberimu izin untuk itu, asal jangan menghilang lagi.” Dimitri kembali memeluk Liliana, senyumnya juga tak pudar dari wajahnya. Ia tak pernah merasa sangat bersyukur seperti ini karena seorang wanita sebelumnya, dan Liliana membuatnya merasakan semua itu.
“Aku tak bisa berjanji.”
Malam itu mereka akhiri dengan pelukan, untuk menghangatkan tubuh mereka dan juga hati yang sudah membuncah karena keputusan Liliana. Ia masih sedikit meragukan keputusannya ini sedikit, tapi jika ia hanya berkutat pada semua keraguannya, takkan ada hasil dari semua itu. Mungkin di masa depan ia akan kembali
tersakiti, tapi ia berjanji akan mengatasinya dengan baik.
Jika mereka bersama, segala hal pasti akan teratasi dengan baik. Cinta mereka akan mengatasi apapun yang ada di hadapan mereka.
**