
Tadinya mau update besok aja, tapi biar besok bisa ngetik part selanjutnya dengan tenang, aku update sekarang aja. **Oh ya, part ini dan seterusnya aku bakal pake sudut pandang orang ketiga, jadi jangan bingung ya
Happy reading^^**
Sudah dua minggu sejak Liliana mengajukan cutinya, jika taka da halangan maka wanita itu akan kembali bekerja keesokan harinya. Semua hal berjalan seperti biasa, Michelle masih sering mengunjungi Dimitri yang selalu menolaknya, gadis itu selalu berbesar hati untuk menerima semua perlakuan Dimitri padanya. Apapun yang
terjadi mereka sudah bertunangan, orang tua mereka sudah merencanakan tanggal pernikahan, dan Dimitri tak bisa terus-terusan menghindarinya.
Kevin tak berkomentar banyak tentang apa yang terjadi, sepupunya itu secara tak langsung sudah menentukan hidupnya sendiri. Ia tahu betapa bodohnya Dimitri yang tak bisa berbuat apa-apa atas keputusan kedua keluarga. Harusnya Dimitri mampu memperjuangkan perasaannya, entah apa yang sedang merasuki pikiran pria itu.
Di kantor tempat ia bekerja ada semacam layar LED yang menampilkan status karyawan yang sedang cuti atau baru saja berhenti. Layar tersebut akan menampilkan nama, jabatan, dan juga statusnya saat ini, apakah sudah tidak bekerja atau sedang cuti. Kevin berdiri di hadapan layar tersebut dan membaca nama seseorang yang kemarin baru saja statusnya masih cuti.
Ia memandangi layar itu cukup lama, berharap layar tersebut menampilkan tulisan yang salah. Tapi seberapa lamapun pria tersebut memandanginya, tulisan tersebut tak juga berubah. Kevin mengeluarkan ponselnya dan menekan tombol panggil pada nomor di ponselnya. Sekali ia mencobanya, hanya suara operator yang menyahut,
sampai kali ketiga, tetap suara operator yang menyahutinya, pertanda nomor tersebut sedang tak aktif.
Tanpa membuang waktu lama, ia segera berlari masuk ke dalam lift. Pikirannya mendadak kalut. Dan kepala pintarnya langsung memikirkan hal-hal aneh yang mungkin saja terjadi karena ia tak mendapatkan pemberitahuan apapun tentang pemberitahuan tadi.
Tak ada ketukan pintu, Kevin langsung menerobos masuk ruangan Dimitri. Pria itu sudah berkutat dengan pekerjaannya sepagi ini, ia tampak kaget dengan Kevin yang tiba-tiba memasuki ruangannya dengan napas yang terengah-engah.
“Ada apa?” Dimitri kembali meneliti kertas di hadapannya tanpa menatap Kevin yang menunjukkan raut khawatir.
“Liliana…tak bekerja di sini lagi?”
“Apa maksudmu? Dia cuti, besok dia akan kembali bekerja.” Dimitri kini menatap Kevin, yang masih mencoba mengatur napasnya.
“Ya, tapi apa yang terjadi dengan layar di lobi itu? Kenapa di sana tertulis kalau Liliana sudah bukan karyawan di sini lagi, terhitung hari ini?”
Tanpa pikir panjang, Dimitri segera menekan beberapa nomor di telepon yang terletak dekat dengannya. “Ke ruanganku sekarang.”
Setelah menunggu beberapa menit, orang yang di tunggu memasuki ruangan Dimitri. Meta, kepala personalia yang bertanggung jawab pada karyawan dan status yang tertera pada layar di lobi. Meta seolah sudah tahu apa yang akan terjadi pada dirinya, ia membawa satu buah amplop coklat dan memandang Dimitri dan juga Kevin dengan
rasa bersalah.
Terkutuklah Liliana yang memintanya meminta hal ini padanya.
“Aku ingin mengundurkan diri setelah cuti, Ta, kamu bisa mengurusnya untukku?” Liliana menyerahkan amplop yang bertuliskan surat pengunduran diri pada Meta.
Meta menerima amplop tersebut. “Mendadak seperti ini? Kamu harus membicarakannya dengan Dewan Direksi dan Pak Dimitri dulu, lalu kamu bisa menemuiku lagi.”
“Aku tak bisa melakukan itu saat ini, itulah kenapa aku meminta bantuanmu. Aku sudah mengatur semuanya, berkas-berkas handover sudah kuselesaikan dan meminta Eka menyimpannuya dan menyerahkan pada Dimitri.”
Meta menatap Liliana lama, ia memang belum lama bekerja di peusahaan ini, tapi pengalamannya sebagai personalia sudah cukup lama. “Kamu harus melakukannya sesuai prosedur, Liliana. Walaupun kita berteman, bukan berarti kamu bisa memanfaatkan hubungan kita untuk kepentingan pribadi.”
Liliana mengenal Meta yang lebih tua empat tahun darinya melalui Nabila. Wanita di hadapannya adalah senior Nabila di fakultasnya dan beberapa kali mereka pernah keluar bersama.
“Aku sudah melakukan semuanya sesuai prosedur, berkas-berkas pengunduran diri sudah kulengkapi untuk penggantiku selanjutnya. Aku hanya memintamu untuk mengurus persetujuannya dengan Dimitri dan Dewan Direksi. Tolong bantu aku, kali ini saja.”
Harusnya hari itu Meta tak mengiyakan permintaan konyol Liliana, sekarang dirinya yang kesusahan mengatur pengunduran diri wanita itu. Ia sudah berbicara dengan Dewan Direksi kemarin, minus Kevin dan juga Dimitri tentunya. Mereka menyetujuinya karena Meta sudah menunjukkan dokumen serta berkas handover yang di kerjakan Liliana dan beserta alasan masuk akal untuk penguduran diri Liliana.
Meta tak tahu pasti alasan sebenarnya Liliana mengenai pengunduran dirinya ini. Liliana hanya mengatakan alasan pribadi, dan Liliana belum bisa mengatakan alasan itu pada Meta.
“Apa maksudmu Liliana bukan karyawan di sini?” tanya Dimitri dingin.
Meta memejamkan matanya, menghadapi Dewan Direksi lebih mudah di banding Dimitri. Ia akan memastikan Liliana membayarnya untuk semua yang ia lakukan untuk wanita itu. Meta menyerahkan amplop yang di bawanya.
“Liliana menyerahkan surat pengunduran dirinya dua minggu yang lalu, Dewan Direksi sudah menyetujuinya dan sedang menyeleksi beberapa kandidat yang cocok untuk mengganti posisi Liliana. Berkas handover sudah di selesaikan sebelum ia menyerahkan surat pengunduran diri tersebut.”
“Tanpa persetujuan dariku? Apa Liliana tak mengerti bagaimana prosedurnya? Dan kenapa kamu menerimanya begitu saja tanpa membicarakan hal tersebut denganku?”
Tak ada nada kemarahan dalam suara Dimitri, tapi Meta bisa merasakan betapa dingin dan tajam nada bicara tersebut. Ini lebih buruk dari kemarahan Dimitri.
“Maafkan saya, tapi ada urusan pribadi mendesak yang terjadi pada Liliana, sehingga ia tak bisa membicarakan dengan Bapak. Saya hanya mewakilinya.”
Kevin yang tak berbicara apapun sejak tadi sepertinya mulai mengerti situasinya. Ia menatap Meta yang tampak bersalah dan Dimitri yang matanya sudah memancarkan api kemarahan sejak mendengar kabar pengunduran diri sepihak Liliana.
“Bu Meta bisa keluar, saya ingin berbicara dengan Pak Dimitri.” Kevin menatap Meta yang juga menatapnya, lalu menatap Dimitri yang sudah mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“Kalau begitu saya permisi, Pak.”
Tanpa menunggu jawaban Dimitri, Meta segera berjalan menuju arah pintu. Jika lebih lama berada di ruangan ini, ia yakin besok ia akan langsung mengundurkan diri dengan sukarela. Aura Dimitri terlalu mengintimidasi jika sedang dalam kemarahannya.
**
“Kamu tahu soal ini?” tanya Dimitri pada Kevin yang terlihat lebih tenang dari pertama ketika ia mengabarkan tentang Liliana.
“Apa maksudmu?”
“Untuk menghindari kita. Kamu belum menyadari juga kesalahanmu itu. Kitalah yang menyebabkan Kak Liliana dalam posisi ini, harusnya aku sadar ketika ia meminta kita untuk berkumpul.”
Dimitri terdiam di kursinya. Ia sadar apa yang sudah ia lakukan selama ini. Sepertinya ia melukai wanita itu terlalu dalam, padahal ia sudah berkali-kali meminta wanita itu untuk mempercayai dan menunggunya.
“Apa kamu sudah menghubungi kedua orang tuanya? Aku yakin dia berada di sana, atau coba hubungi Nabila. Kita harus berbicara padanya.”
Walaupun tak menunjukkan secara langsung, dan hanya menampilkan raut wajah datar, Kevin sangat tahu kalau Dimitri sangat cemas. Ia tahu pria ini sangat mencintai Liliana, dan ia sangat menyayangkan sifatnya selama ini. Ia tak menentang pertunangan tersebut, ia juga tak pernah menjelaskan situasinya pada Liliana.
Pada akhirnya Liliana terjebak dalam situasi rumit mereka tanpa tahu perannya sebagai apa. Jika saja Dimitri mau sedikit berjuang pada perasaannya, Liliana pasti tak akan pergi seperti ini. Walaupun menyakitkan, Liliana setidaknya bisa sedikit mengerti dan takkan terjadi kesalahpahaman seperti ini.
“Lalu apa? Kamu baru berpikir untuk menjelaskan semuanya pada Kak Liliana? Bukankah ini sudah sangat terlambat? Kalaupun saat ini kamu bisa bertemu Kak Lili, situasinya takkan sama. Aku lebih senang dengan pilihan yang di ambil Kak Lili, bukan hanya kamu yang tersakiti di sini, aku yakin rasa sakit Kak Lili juga lebih besar darimu.”
“Aku belum mengatakan apapun pada Liliana.” Dimitri menatap kosong kertas-kertas di hadapannya.
**
Sudah satu bulan ini Liliana menghilang, benar-benar tak ada kabar dari wanita itu. Orang tuanya juga sepertinya tak tahu menahu tentang menghilangnya Liliana, setidaknya untuk Dimitri. Sepertinya hanya pria itu yang tak mengetahui apapun tentang Liliana. ia bahkan sampai mengecek penerbangan domestik dan internasional atas nama Liliana, tapi tak ada sama sekali petunjuk yang ia dapatkan.
Apartemen yang di tempati Liliana juga ternyata sudah di jual, tak ada jejak sama sekali tentang kepergian Liliana. Jika di tanya tentang seberapa kecewanya Dimitri, maka Dimitri mungkin akan menjawab, untuk seluruh rasa cintanya pada Liliana.
Kali ini ia sangat berharap kalau satu-satunya sahabat Liliana—Nabila—tahu tentang keberadaan wanita itu. Dimitri sudah membuat janji dengan wanita itu siang itu di kantin kantor majalah tempat Nabila. Wanita itu sedang mengandung, itu sebabnya Dimitri mengalah dan menemui Nabila, ia juga sadar diri karena saat ini dirinyalah yang membutuhkan Nabila.
“Kamu…terlihat kacau.” Itu adalah kalimat pertama yang di ucapkan Nabila ketika melihat Dimitri. Ketampanan pria itu memang tak hilang hanya karena lingkaran hitam di bawah matanya, tapi itu sangat membuatnya terlihat berantakan tak seperti biasa.
Dimitri tersenyum mendengar ucapan Nabila, ia sendiri sangat sadar dengan penampilannya saat ini. Walaupun kemeja dan jasnya tetap rapi, lingkaran hitam di bawah matanya sudah menunjukkan betapa melelahkan hari yang sedang pria ini jalani.
“Kamu terlihat lebih cantik dari biasanya, sepertinya benar kalau wanita hamil akan terlihat berkali-kali lebih cantik.”
Nabila memerah mendengar pujian itu keluar dari mulut Dimitri. Bagaimanapun juga, Nabila termasuk sebagai gadis-gadis yang memuji ketampanan Dimitri, terlepas dari seberapa bejatnya kelakuan pria ini di masa lalu dan juga masa sekarang.
“Kalau kamu ingin bertanya tentang Liliana, aku juga tak mengetahuinya. Terakhir kali, ia hanya mengucapkan selamat atas kehamilanku, tak ada hal lain lagi yang ia katakan.”
“Ah, begitu.”
Sepertinya untuk kesekian kali, Dimitri harus kembali menelan kekecewaan itu. Sepertinya ini karma yang ia dapatkan karena sudah menyakiti perempuan yang sangat ia cintai begitu dalam. Ia memang masih sulit untuk menerima hal itu, tapi ia akan belajar untuk menerimanya. Toh, keadaan juga sudah tak berpihak padanya. Ia memang pantas untuk menerima semua ini.
“Kalau begitu aku permisi, maaf sudah mengganggu waktu kerjamu. Sampaikan salamku untuk Reno.”
Dimitri sudah bangkit dari duduknya ketika Nabila memanggilnya. “Liliana…dia mencintaimu. Aku tahu ia takkan memberitahumu apapun. Ia pasti akan mengomeliku karena memberitahumu hal ini, tapi jika aku tak mengatakannya maka kamu takkan mengetahuinya.”
Dimitri tersenyum menatap Nabila. “Terima kasih sudah memberitahuku. Aku yakin dia sangat bersyukur karena memiliki sahabat sepertimu. Aku pergi.”
Nabila menatap punggung yang sudah menjauh itu dengan sedih. Ia sangat menyayangkan keadaan yang membuat sahabatnya menjadi seperti ini. Ia selalu berharap Liliana akan mendapatkan kebahagiaan jika sudah mengungkapkan perasaannya. Tapi harapannya hanya sebuah ekspektasi, yang takkan menjadi realitas, bahkan ia harus menjadi perantara pengungkapan cinta sahabatnya.
**
Dimitri melangkah gontai memasuki ruangannya. Belakangan ia lebih suka tidur di kantor di banding pulang ke apartemennya. Cara yang paling ampuh untuk mengenyahkan pikiran tentang Liliana adalah dengan terus bekerja, walau pada akhirnya ia akan kembali mengingat betapa menyesalnya ia bersikap pada wanita itu.
Bahkan pencariannya selama ini tak membuahkan hasil, tak ada petunjuk sama sekali. Mungkin inilah yang di rasakan Liliana selama ini. Sebenarnya tanpa di beritahu Nabila kalau Liliana mencintainya, ia sudah bisa merasakannya lebih dahulu. Itulah sebabnya ia selalu meminta Liliana untuk percaya dan menunggunya. Ia ingin mencintai Liliana tanpa ada halangan apapun.
Tapi, sepertinya itu bukan cara yang efektif, secara tak langsung ia justru membuat Liliana semakin menjauhinya. Hal terbodoh yang pernah ia lakukan, dan sekarang ia tak bisa berbuat apapun tentang kepergian Liliana.
Dimitri menatap amplop coklat yang di berikan Meta satu bulan yang lalu. Ia tak pernah membukanya sejak saat itu, dan kini ia meraih amplop itu. Surat pengunduran diri yang belum pernah ia baca, karena ia tak menyetujuinya. Percuma juga sebenarnya karena sudah ada yang menggantikan posisi Liliana.
Tidak ada surat pengunduran diri di dalam amplop besar itu, hanya ada amplop persegi panjang yang tak terlalu besar di dalamnya. Dimitri langsung mengeluarkannya dan membukanya tanpa pikir panjang.
Al,
Kalau kamu sudah membaca ini dan menyadari kepergianku, kumohon jangan cari aku. Aku pergi karena keinginanku sendiri, aku tak ingin semakin menghancurkan apapun yang ada di antara kita. Jika nanti kita bertemu lagi, kuharap kita sudah sama-sama bahagia dengan jalan yang kita pilih. Jangan menyesali apapun.
Dimitri melipat surat itu lagi. Benar-benar tak ada yang terpikirkan kali ini, entah apa yang harus ia rasakan saat ini. Setidaknya ada hal terakhir yang Liliana tinggalkan untuknya. Tapi, bagaimana ia bisa tak menyesali apapun jika yang ia lakukan selama ini adalah menyakiti wanita itu. Harusnya ia katakan saja semuanya sejak dulu pada Liliana sehingga ia tak perlu kehilangan wanita itu seperti itu.
Dimitri meneteskan air matanya untuk pertama kalinya. Hatinya sangat sakit dengan kepergian Liliana, dan permintaan wanita itu semakin membuat rasa sakitnya membesar. Ia sama sekali tak bisa menebak apa yang selama ini di rasakan wanita itu, tapi ia yakin sebagian besarnya adalah rasa sakit.
Tangisan itu semakin pilu ketika Dimitri dengan jelas melihat kilat kesakitan di mata Liliana, tapi yang ia lakukan hanyalah berjalan semakin menjauhinya. Harusnya ia berhenti sejenak dan memeluk wanita yang di cintainya, bukan hanya mengatakan untuk menunggu dan mempercayainya. Wanita mana yang akan menerima semua itu,
dan sekarang, sama sekali taka da kesempatan untuk menebus semuanya.
Ruangan gelap yang hanya di terangi lampu meja itu semakin suram karena suara tangisan itu. Pria itu tak pernah menangisi apapun sepilu ini sebelumnya, tapi Liliana mampu membuatnya seperti ini. Hatinya sudah ia berikan pada wanita itu seutuhnya, tanpa sepengetahuannya, dan kini ia pergi beserta hati sang pria.
**