
Hari-hariku berjalan seperti biasa, tak ada yang terlalu spesial. Masih seputar bekerja dan
menghadiri rapat. Seperti yang di janjikan oleh Dimitri, Kevin yang mengambil
alih proyek Christian Bagaskara. Aku menerimanya saja, aku juga tak rugi apapun,
malah aku sangat merasa senang. Aku tak akan berurusan dengan duda genit itu
lagi.
Hubunganku dengan Dimitri sudah lebih baik. Setelah percintaan panas kami di hotel, kami
tak pernah melakukannya lagi setelahnya. Aku tak perlu membahas detail percintaan
kami, kan? Itu akan terasa sangat panjang dan panas tentunya.
Tapi hanya itu, walaupun hubunganku dengan Dimitri membaik, Michelle masih menjadi
isu yang berada di tengah-tengah kami. Oh, dan Dimitri belum menyatakan apapun
tentang hubungan kami. Aku massih berada di kebingungan antara sahabat dan
pacar, untuk ukuran wanita hal itu sangat krusial, aku juga merasakan hal yang
sama. Semua wanita butuh kepastian.
Pengakuannya malam itu masih menjadi misteri untukku. Entah aku harus mempercayainya atau
tidak, dia hanya Dimitri yang masih di penuhi misteri. Aku masih bertahan pada
pendirianku untuk tak mengungkapkan apapun pada Dimitri, ‘betapa aku
mencintainya atau sebenarnya kita ini apa’, aku tak pernah mengatakannya.
Tak akan ada yang berubah jika aku mengatakannya, kan? Itulah sebabnya aku bertahan
seperti ini. Aku masih menyimpan kebingunganku seorang diri.
Michelle, aku masih sering melihatnya berkunjung ke kantor Dimitri. Sakit hati sudah
pasti, aku hanya akan bertahan semampuku untuk melindungi hatiku.
Malam ini aku mendapat undangan dari orang tua Dimitri untuk ikut makan malam
keluarga mereka. Aku sudah sering menghadiri acara makan malam mereka, karena
aku terbilang dekat dengan mereka. Mereka sudah menganggapku seperti anak
mereka, dan keluarga mereka juga dekat dengan Ibu dan Bapakku.
Dimitri maupun Kevin tak ada yang membicarakan tentang makan malam ini, akupun tak
mengatakannya kalau aku di undang di acara mereka. Anggap saja ini kejutan
untuk mereka berdua.
Aku sudah berdiri di depan halaman rumah orang tua Dimitri, siap untuk masuk ke
dalam. Ada beberapa mobil di halaman depan rumah ini, apa mungkin makan mala
mini akan ramai, tak seperti yang kuperkirakan? Kupikir Om Rudi mengatakan ini
adalah makan malam keluarga, dan setahuku keluarga Om Rudi hanyalah orang tua
Kevin.
Dengan celana kain dan blazer serta kaos polos sebagai dalamannya, aku berjalan memasuki rumah besar ini. Aku sengaja mengenakan setelan ini, kupikir gaun terlalu berlebihan, berpakaian kasual
seperti ini sangat menyenangkan.
Tante Ina—Ibu dari Dimitri—menyambutku di pintu ketika aku masuk ke dalam, ia cantik
dan anggun seperti biasa. “Sepertinya ada banyak tamu yang hadir, Tante.”
“Ini untuk pertunangan Dimitri, tapi masih rahasia. Ayo masuk.”
Mungkin ungkapan seperti tersambar petir sangat berlebihan untuk mengungkapkan rasa
kagetku, tapi aku tak tahu harus mengucapkan apa ketika mendengar Tante Ina
mengucapkan tentang pertunangan Dimitri. Ini bahkan baru lewat seminggu setelah
percintaan panas kami dan juga pengakuannya, lalu aku mendengar kabar ini.
Pantas saja Dimitri dan Kevin tak mengatakan apapun tentang makan malam ini.
“Pertunangan, Tante?”
“Ya, akhirnya anak nakal itu bertunangan. Tante akhirnya bisa sedikit tenang, setidaknya ada yang menjaganya nanti.”
Tante Ina menggandengku masuk, aku berusaha sekuat tenaga untuk memperbaiki raut
wajahku yang sudah tak karuan ini. Pertunangan? Siapa yang akan menduga seperti
itu?
Meja makan panjang itu sudah di penuhi dengan orang-orang. Ada satu pria yang
membuatku terkejut karena ia hadir di sini. Richard. “Semuanya, tamu spesial
kita sudah datang.”
Mereka yang duduk memunggungi ruang makan sontak menolehkan wajahnya. Para orang tua
terlihat menatapku dengan senyuman, Kevin dan Dimitri menatapku dengan
terkejut, begitupun Richard, dan satu gadis yang memberiku senyuman lebar.
Michelle.
“Ini tamu spesial untuk Kevin dan Dimitri, mereka sudah bersahabat sangat lama, dan
sudah kuanggap seperti anak perempuanku sendiri,” ucap Tante Ina lagi dengan
senyuman lebar. Aku yakin Tante Ina belum tahu tentang permasalahan yang sedang
kami hadapi, tapi siapa yang bisa menyalahkan itu semua? Aku juga tak tahu
apa-apa.
Aku memberi senyuman tipis pada mereka semua, tersenyum paksa lebih tepatnya. Apa
yang akan menjadi tunangan Dimitri adalah Michelle? Lalu bagaimana dengan
Kevin? Aku benar-benar ingin kabur rasanya. Mendengar berita pertunangan
Dimitri saja rasanya sudah menyakitkan, lalu rasa sakit itu di tambah dengan
harus mengetahui siapa tunangan Dimitri. Bunuh saja aku kalau begitu.
**
Setelah makan malam keluarga berkedok pertunangan itu selesai, esok harinya aku
langsung menemui Nabila. Aku tak tahan menanggung semua rasa sakit ini sendiri.
Percayalah, makan malam kemarin adalah ajang bunuh diri secara perlahan
untukku.
Berawal dari pembatalan pertunangan Kevin dan Michelle yang di setujui kedua pihak dan
kedua keluarga, lalu pertunangan Dimitri dan Michelle agar hubungan keluarga
yang ingin di ciptakan tidak putus. Alasan macam apa itu? Apa harus di
selesaikan dengan pertunangan? Baik Dimitri atau Michelle tak ada yang menolak
keputusan itu.
Michelle sangat bahagia tentu saja, aku melihatnya tersenyum sangat lebar. Dimitri masih
seperti biasa, tak menunjukkan senyumnya atau sedikit mengekspresikan
perasaannya. Begitupun dengan Kevin yang menatapku dengan tatapan bersalahnya.
Itu juga tak akan merubah apapun, pertunangan tetap berjalan. Michelle dan
Dimitri resmi bertunangan dan cinta bertepuk sebelah tangan Liliana berakhir
begitu saja. Menyedihkan.
“Aku memang memintamu untuk jujur pada perasaanmu, tapi kenapa tak mengucapkannya
pada sahabatmu itu. Dia tak akan tahu kalau kamu diam saja.”
Itu suara Nabila yang sudah berapi-api sejak tadi. Ia tidak menyangka kalau rencana
untuk mendekatkanku pada Richard akan seperti ini, dan permintaannya untuk
mengungkapkan perasaanku akan berakhir seperti ini.
“Lalu apa yang akan terjadi setelahnya? Katakanlah kami berpacaran, lalu jika kami
putus, persahabatan kami pun akan berakhir.”
Sebenarnya Nabila sudah tak menerimaku mengunjunginya, karena ia akan keluar bersama
dengan Reno. Ini hari minggu, dan sebelum hari minggu berakhir, mereka akan
menghabiskan waktu berdua. Makan malam atau sekedar mengelilingi mal, hal-hal
seperti itu. Hanya dialah satu-satunya sahabatku yang beruntung dengan
percintaannya dan akan segera menikah.
Aku sangat iri, tapi aku tak bisa melakukan apapun. Percintaanku selalu gagal dan
aku sudah dikutuk. “Itu lebih baik daripada kamu teronggok menyedihkan seperti
ini. Lagipula kenapa pikiranmu itu sangat jauh, kamu bahkan belum berpacaran
tapi sudah membayangkan putus. Sampai kapan kamu akan seperti itu? Go tell Dimitri, Li, kalau kamu cinta
sama dia.”
“Aku sudah mampu membayangkan, Bil. Aku tak ingin hubungan kami semakin rusak
kedepannya.” Aku semakin menyandarkan kepalaku di kursi malas yang berada di
kamar Nabila.
“Kemana perginya Liliana yang selalu optimis itu? Kamu bisa mendapatkan proyek besar
dengan mudah, dan hanya soal sepele seperti ini kamu sudah menyerah. Apa kamu
sedang di rasuki?”
Aku sudah terbiasa dengan semua bahasa kasar yang di ucapkan Nabila, kadang aku
benar. Apalagi yang bisa kulakukan selain menerima semua ucapannya. Aku butuh
seseorang sepertinya untuk menormalkan hidupku yang mendadak menggila karena
masalah ini.
“Dia sudah lama mati, sejak kamu selalu mengobral omong kosongmu tentang
pengungkapan perasaan. Jangan cari dia lagi,” ucapku sarkas. Ya, aku sudah lama
menjelma menjadi orang lain, aku sangat ingin tahu wanita mana yang merasukiku
hingga seperti ini.
“Aku sangat ingin berkunjung ke makamnya. Semoga ia tenang di sana.” Nabila
menyatukan kedua tangannya di dada.
Aku tak menyahuti ucapannya, aku memilih untuk memejamkan mataku. “Bil, jangan
telepon siapapun untuk menjemputku. Aku sedang tak mabuk, kamu bisa
meninggalkanku sendirian, jangan hiraukan aku,” ucapku ketika ia sudah rapi dan
wangi. Siap untuk menemui pujaan hatinya.
Nabila menghela napasnya, lalu berjalan mendekatiku. “Maaf tak bisa menemani, kalau
bukan karena orang tua Reno, aku pasti akan menemanimu di sini.” Nabila
memelukku, mengelus punggungku untuk menenangkanku. “Buat jadwal kita di hari
lain, aku akan menemanimu seharian.”
Aku hanya mengangguk tanpa mampu menjawabnya. Pelukannya membuatku rindu Ibu. Aku
selalu sangat ingin tahu, apa patah hati akan selalu menyedihkan seperti ini.
Aku bahkan belum memulai, tapi sudah berakhir begitu saja.
Nabila segera pergi setelah yakin aku sudah tenang. Sekarang hanya tersisa aku
sendirian di ruangan ini, sunyi ini sangat terasa. Kalau sudah begini bagaimana
aku bisa mempercayai semua pengakuan yang di lontarkan Dimitri.
Apa gunanya jika sudah tak meniduri para wanitanya? Ia memiliki Michelle jika
kesepian, dan sekarang mereka sudah bertunangan. Ia tak membutuhkanku untuk
percaya, ia akan mengatakan apapun untuk mendapatkan semua yang di inginkannya.
Aku sengaja tak mabuk saat ini, harusnya aku mabuk saja dan melupakan semua
masalahku. Aku membuang opsi itu dan membiarkan aku mengingat hari ini, ketika sahabatku
itu membuat hatiku benar-benar patah tanpa memberikan tanggung jawab. Agar aku
tetap mengingat betapa hancur aku karenanya, agar aku bisa berhenti
mencintainya.
Masalah terbesarnya adalah, aku masih mencintainya. Aku tak tahu kapan perasaan ini akan
mati. Air mataku mengalir begitu saja dengan tak tahu malunya, dan aku tak bisa
berbuat apa-apa selain menumpahkannya. Dinding bisu di kamar ini akan menjadi
saksinya.
**
Setelah puas menangis di apartemen Nabila, aku memutuskan untuk pergi. Aku tak ingin
kembali ke rumah, tapi aku juga tak memiliki tujuan. Pria itu mampu menemukanku
dimanapun aku berada, tapi aku juga tak yakin ia akan mencariku. Berhentilah berharap dia akan memikirkanku! Bentakku
pada hati kecilku.
Aku menyetir mengelilingi Jakarta malam ini, aku akan menyetir sampai aku kehabisan
bahan bakar dan tak memiliki pilihan lain selain pulang. Atau aku lebih baik
berakhir di jalanan, dimanapun itu aku tak peduli. Aku akan berkeliling sambil
memikirkan semuanya, dan mencari solusinya.
Menghindari Dimitri besok ketika aku bekerja bukan pilihan baik, dia atasanku dan aku harus
profesional. Menghadapinya juga sangat berat untukku. Semua pilihan yang
kupikirkan sangat buruk, untukku tentunya karena aku tak tahu apa yang di
pikirkan Dimitri. Ia sangat mudah mengatur ekspresi wajahnya.
Apa aku bisa menekan perasaan pribadiku jauh kedalam diri, agar tak ada yang tahu
dan aku bisa melanjutkan hidupku? Lagipula sahabatku itu tak pernah mengucapkan
apapun yang menjurus pada sesuatu yang berhubungan dengan kekasih. Aku harus
ingat kalau ia hanya menyukai tubuhku, hanya tubuhku, bukan hatiku.
Bersyukurlah Michelle karena dengan mudah bisa memiliki tubuh dan hati pria itu. Padahal aku
pernah mengatakan akan membuat Dimitri jatuh cinta padaku dan mengabaikan Michelle
yang hanya masa lalu. Semua itu hilang dalam sekejap ketika aku mendapat kabar
pertunangan mereka..
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, baru satu jam aku mengelilingi Jakarta.
Mungkin jika aku bisa, aku akan berkendara sampai rumah Ibuku. Aku memutuskan
untuk pulang karena tak ada lagi yang bisa kulakukan. Menyetir tanpa arah juga
sangat melelahkan, apalagi di tambah beban pikiran.
Entah sudah keberapa kalinya aku menghela napas malam ini. Besok senin dan aku harus
bekerja. Selama satu jam tadi aku sudah menentukan sikapku untuk menghadapi
Dimitri maupun Michelle yang mungkin akan semakin sering berkunjung ke kantor.
Apa gadis itu tak memiliki pekerjaan? Apa karena orang tuanya kaya ia lebih
memilih menjadi pengangguran. Apa seperti itu wanita yang di cari Dimitri.
Aku tadinya ingin parkir di basement agar tak ada satu orangpun yang menyapaku, tapi aku berakhir masuk melalui lobi. Perasaanku sudah sekelam malam, aku tak ingin menambahi dengan berjalan di
keremangan dan sepinya basement.
Sepertinya sekarang aku akan menyesali keputusanku yang memilih melewati lobi. Kenapa aku
selalu mengalami kejadian memuakkan ini lagi di lobi? Apa lobi begitu berharga untukku? Aku membenci lobi mulai hari ini.
Dimitri.
Untuk kesekian kalinya.
“Selamat malam Bu Liliana.”
Terkutuklah resepsionis itu yang menyapaku dengan lantang. Segelintir orang yang berada di
lobi itu menolehkan wajahnya padaku, termasuk Dimitri. Padahal tadinya aku bisa
lolos dari pria ini jika ia tak melihatku. Sekarang aku terpaksa menghadapinya.
Mimpi burukku.
Aku melengkungkan bibirku sedikit, aku mengenakan kaca mata hitam untuk menutupi
bengkak di mataku karena menangis. Dimitri berdiri dari duduknya, tapi ia tak
menghampiriku. Ia seperti orang asing yang melihatku, wajahnya juga datar.
Untungnya aku masih mempertahankan lengkungan senyum ini.
“Sayang!”
Aku menolehkan pandanganku mendengar lengkingan itu. Michelle. Apa lagi ini? Dimitri kesini untuk Michelle? Dan apa yang di lakukan Michelle di sini?
“Oh! Kak Lili?” tanyanya padaku yang tak jauh dari posisi berdiri Dimitri.
“Ah maaf, mataku sedang iritasi jadi aku tak bisa membuka kacamataku.” Aku memberi
senyum bersalahku, pada kenyataannya aku sangat ingin memaki gadis ini dengan
segala jenis hewan yang ada di kebun binatang.
Michelle mengangguk-angguk dengan senyum yang tak luntur sama sekali di wajahnya. Tentu
saja, karena ia sudah mendapatkan pria yang di cintainya. Dimitri sama sekali
tak mengatakan apapun jika sedang bersama Michelle, entah apa yang ada di
pikirannya saat ini.
“Kamu tinggal di sini?” tanyaku.
“Ya, kita tetangga, Kak.” Lihatlah senyumnya itu yang terlihat sangat bahagia. Apa
sebahagia itu karena menjadi tetanggaku? Atau karena hal lain? “Tante Ina bilang Kak Lili adalah sahabat baik Kak Dimitri. Jadi, aku memutuskan untuk pindah kesini supaya kita bisa lebih dekat, Kak.”
Kalian benar-benar harus membunuhku. Aku sangat rela jika harus mati sekarang. Ini
lebih tragis dari bencana apapun.
“Kalau gitu, kami pergi dulu, Kak.”
Michelle merangkul lengan Dimitri mesra lalu meninggalkanku sendiri di lobi ini. Inilah
kenapa aku ingin melewati lobi hari ini, agar aku tahu apa yang akan terjadi padaku. Sebenarnya apa yang ada di pikiran Michelle? Padahal aku sudah menunjukkan dengan terang-terangan kalau aku tak menyukainya.
Baiklah, mari ucapkan selamat datang pada neraka dunia milikku.
**
Haiiii, aku boleh kali ya promo ig di sini, kali aja ada yang mau follow @jamilahhandayani
Follow ya kalau berkenan^^
Selamat membaca semuanya, jangan lupa tinggalin jejak ya, aku gak gigit kok :)