
Hai, novel ini belum berakhir kok, masih ada sekitar beberapa part lagi. Mungkin bakal sampe 30an part. Jadi coba kalian ceritain kira-kira gimana ending yang bagus buat mereka semua?
Happy reading ya^^^
Apa yang di harapkan sebagai akhir dari sebuah kisah? Apa akhir yang bahagia? Tapi bagaimana bisa berakhir jika kita masih bernapas dan hidup di dunia ini? Masih banyak hal-hal yang akan terjadi, kita masih akan banyak melalui masa-masa sulit dan juga bahagia. Lalu kenapa itu di sebut akhir?
Semuanya akan berakhir ketika kita sudah meninggalkan dunia ini, jika kita masih menghadapi beberapa masalah lalu mendapatkan kebahagiaan, kisah yang tertulis dalam hidup kita belum berakhir. Ketika satu masalah selesai, masalah lain akan datang menghampiri, begitulah adanya kehidupan yang sedang kita jalani dan juga kisah yang lainnya.
Dimitri sudah memutuskan untuk berhenti mencari Liliana, ia akan menjalani hukuman yang memang sudah seharusnya dan mulai memperbaiki diri. Ia masih berharap Liliana akan kembali, banyak hal yang belum bisa ia ungkapkan, dan akan ia ungkapkan ketika mereka bertemu lagi nanti. Entah itu akan membutuhkan waktu lama, atau sangat lama, ia akan menunggunya apapun yang terjadi.
Satu minggu yang lalu, keluarga Michelle sudah meminta maaf secara resmi pada keluarga Aldino. Orang tua Dimitri tentu saja kecewa karena hal ini, tapi sudah di pastikan jika perjanjian bisnis tetap berjalan meskipun pertunangan mereka batal. Itu adalah yang di janjikan oleh keluarga Michelle pada keluarga Aldino.
Sedikit demi sedikit, perasaan bersalah dalam diri Dimitri mulai luntur. Setidaknya ada satu hal yang membuatnya lega.
“Aku minta maaf atas nama adikku dan juga keluargaku. Michelle adalah segalanya untukku, kuharap kamu bisa mengerti kenapa aku melakukan hal ini,” ucap Richard malam itu. Mereka memisahkan diri dari keluarga mereka yang sedang makan malam di dalam sana, mereka memilih berbicara di taman belakang yang di tumbuhi berbagai jenis bunga milik Ibu Dimitri.
“Sepertinya aku juga salah di sini, aku bahkan tak tahu siapa yang menjadi korban disini. Michelle tersakiti, begitupun aku.”
“Sepertinya kamu sangat mencintai Liliana. Dimitri yang kukenal tak pernah mengakui salah sebelumnya.”
Tawa kecil lolos dari bibir Dimitri. Ya, wanita itu sangat mempengaruhi dan juga mampu merubahnya. Pria itu hanya terlalu egois untuk mengakui semuanya. Sekarang, setelah wanita itu pergi, ia baru merasakan sakit yang teramat
sangat. Kehilangan seseorang yang sangat berarti mampu mengubah segalanya.
“Manusia pasti berubah, kan? Aku sedang mencobanya.”
“Aku senang mendengarnya. Jika nanti Liliana kembali dan kamu kembali menyakitinya, aku takkan segan untuk merebutnya darimu.”
“Jika kamu cukup baik untuknya, aku akan dengan senang hati merelakannya.”
“Semua orang juga tahu kalau aku lebih baik darimu. Belajarlah menerima kenyataan.”
Dimitri menatap Richard dengan kesal. Ya, Richard memang lebih dari cukup baik untuk mendampingi Liliana, ia hanya tak rela melepas gadis itu bersama pria di sampingnya ini. “Liliana tak semudah itu jatuh cinta padamu.” Dimitri menyeringai menatap Richard lalu beranjak dari duduknya.
“Walaupun kita sudah mengobrol seperti ini bukan berarti kita kembali menjadi sahabat,” ucap Dimitri sebelum benar-benar jauh dari jangkauan Richard.
“Aku juga tak ingin bersahabat denganmu lagi!” teriak Richard yang masih bisa di dengar oleh Dimitri.
Richard tersenyum menatap punggung Dimitri. Walaupun ia menyukai Liliana, ia tahu betapa saling mencintanya mereka, dan Richard tak ingin mengacaukan semua itu. Ia tak ingin kejadian masa lalu itu kembali terulang. Ia belum sesuka itu pada Liliana.
**
Enam bulan kemudian…
Dimitri sudah menjalani hidupnya seperti seharusnya. Tampilannya juga sudah lebih rapi, tak seberantakan ketika pertama kali di tinggalkan oleh Liliana. Waktu terus berjalan, begitupun kehidupan yang di jalaninya. Banyak hal yang berubah selama itu, dan itu semua dalam artian yang baik.
Ada yang di syukurinya, ada juga yang masih mengganjal di hatinya. Salah satunya adalah wanitanya yang belum di ketahui sama sekali keberadaannya. Ia memang sudah tak mencarinya, tapi keinginan untuk kembali bertemu masih sangat besar dalam dirinya.
Pintu ruangannya di ketuk oleh seseorang, setelah meneriakkan kata ‘masuk’, pintu langsung di buka, dan itu adalah Kevin.
“Kamu ternyata bisa juga mengetuk pintu, kupikir hanya bisa menerobos masuk seenaknya,” sindir Dimitri.
Kevin mengangkat bahunya acuh. Ia senang dengan perubahan yang di tunjukkan oleh sepupunya, Dimitri jadi terlihat lebih manusiawi untuknya. “Seharusnya Kak Lili pergi sejak dulu supaya kamu lebih berperikemanusiaan.”
Dimitri menatap Kevin sengit. Mereka tak pernah benar-benar terlihat akur sebagai sepupu, bahkan ketika rapat pun mereka sering berbeda pendapat. Tapi, sesengit apapun Kevin mengonfrontasinya, Dimitri tahu kalau sepupunya itu menyayanginya. Ia takkan bertahan sampai sekarang jika bukan karena Kevin.
“Ck, ada apa?” tanya Dimitri.
“Duda genit itu sangat puas dengan hasil yang kita buat untuk iklan produknya, dan dia berencana untuk bekerja sama lagi untuk produk selanjutnya.”
Dimitri hanya mengangguk-angguk tanpa menatap Kevin, ia juga sedang sibuk memeriksa beberapa berkas yang baru saja ia terima. Ia sangat tahu siapa duda genit yang di maksud, siapa lagi kalau bukan Christian Bagaskara. Pria mesum yang entah kenapa selalu menghubungkannya pada ingatan tentang Liliana.
“Lalu?”
“Kamu harus menemuinya dan membawa proposalnya, aku sudah menyelesaikan untukmu, tinggal di pelajari saja. Kamu tahu, kan, kalau dia hanya mau bernegosiasi dengan wanita cantik atau dirimu? Pria menyebalkan itu.”
Dimitri mengambil map yang di bawa Kevin tadi. Menemui Christian Bagaskara sama artinya dengan pergi ke luar kota. Pria ini selalu ingin menunjukkan betapa kaya dirinya dengan selalu mengunjungi tempat yang berbeda dan bersenang-senang. Bersama wanita-wanita panggilannya tentu saja.
Jika Dimitri tak memikirkan perusahaan ini, ia pasti sudah melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan pria itu. Tak separah pria itu tentunya, saat ini ia tak bisa memikirkan wanita lain kecuali Liliana. Wanita itu benar-benar sudah merusak system otak dan juga hatinya, di satu sisi ia bersyukur, tapi di sisi lain ia hanya wanitanya kembali.
“Aku sedang tak ingin bepergian. Pria ini sangat menyusahkan,” omel Dimitri.
“Aku juga setuju, tapi sayangnya pria ini juga mendatangkan uang, dan aku membutuhkan pria sepertinya.”
“Kamu sangat aneh, sejak kapan kamu setuju dengan kalimatku?!”
Kevin menatap Dimitri dengan aneh, sepupunya ini juga sama anehnya. Sejak kapan ia menanggapi kelakuan dirinya?
Kevin mengedipkan matanya untuk menggoda Dimitri, setelah itu ia langsung berlari keluar sebelum terkena amukan Dimitri. Selera humor Dimitri sangat rendah, dan itu sangat menyusahkannya sebagai sepupu.
Dimitri hanya menghela napasnya, ia benar-benar sedang tak ingin pergi ke luar kota manapun, apalagi kembali berurusan dengan duda itu. Ia akan lebih memilih untuk menyelesaikan berkas-berkas yang terkumpul ini.
**
“Ya, aku baik-baik saja di sini, kandunganku juga baik. Bagaimana kabarmu?” Nabila tersenyum lebar sembari menerima telepon di seberang sana. Ia sedang menunggu Dimitri yang sudah membuat janji dengannya semalam.
Nabila dan Dimitri menjadi cukup dekat setelah pertemuannya sekitar tujuh bulan yang lalu, ketika Dimitri menanyakan keberadaan Liliana. Ia sudah beberapa kali bertemu Dimitri, dan memang pria itu terlihat lebih ramah di bandingkan sebelumnya. Biasanya mereka hanya bertemu ketika ada Liliana bersama mereka.
“Semoga lancar persalinanmu nanti, sepertinya aku tak bisa hadir nanti, tapi akan kuusahakan untuk datang untuk keponakan pertamaku,” balas sebuah suara di seberang sana.
“Jaga kesehatanmu. Aku tutup dulu.” Setelah mendengar jawaban dari seberang, Nabila segera mematikan panggilan tersebut.
Tak lama setelah itu, pria yang ia tunggu-tunggu muncul dengan senyuman yang sangat jarang Nabila lihat sebelumnya. Dulu pria ini sangat pelit senyum, mungkin bisa di hitung dengan jari berapa kali pria ini memberikan senyumnya pada orang lain kecuali Liliana. Nabila sangat menyayangkan hubungan mereka yang seperti ini, ia tentu saja berpihak pada Liliana, tapi semakin lama pria ini mulai menunjukkan ketulusannya.
“Apa kamu kesulitan ketika menuju kemari?” tanya Dimitri dengan raut wajah khawatir. Kandungan Nabila sudah akan memasuki usia delapan bulan, dan perutnya juga sudah mulai membesar, ia hanya takut tiba-tiba Nabila mengalami kontraksi.
“Sangat aneh bertemu denganmu yang ramah seperti ini sebenarnya, kamu masih Dimitri yang sama, kan?”
“Kenapa semua orang belakangan selalu bertanya seperti itu? Apa sangat aneh melihatku seperti ini?”
Nabila hanya menganggukkan kepala dengan polosnya, membuat Dimitri langsung tertawa. “Ya, aku juga merasa aneh dengan diriku yang sekarang,” ucap Dimitri. “Lalu apa kabar dengan keponakanku?” Dimitri menatap perut Nabila yang sangat menarik perhatian itu.
“Dia baik. Pastikan saja untuk mengirimkan hadiah paling mahal untuknya ketika dia lahir.”
“Tentu saja, untuk keponakan pertamaku.” Dimitri tersenyum.
“Lalu, ada perlu apa ingin bertemu denganku?”
“Besok aku akan ke Bali.”
Nabila menatap Dimitri lekat, ia memang sulit mengendalikan ekspresinya, tapi ia bisa mengontrol mulutnya dengan baik. “Kamu tak seharusnya melaporkan kegiatanmu padaku, Reno pasti akan cemburu karena ini.”
Dimitri tertawa lagi. “Aku tak memiliki maksud apapun, aku hanya kamu ingin menghubungiku ketika ada berita soal Liliana.”
“Kamu belum menyerah padanya, ya?”
“Bagaimana kalau sebenarnya aku tahu kamu sudah mendapatkan kabar tentang Liliana?” Dimitri menatap perubahan raut wajah Nabila yang terlihat sedikit kaget. Sebenarnya itu hanya tebakan acak pria ini. Tak mungkin rasanya jika Nabila tak mengetahui apapun padahal Liliana hanya memiliki wanita ini sebagai sahabatnya.
“Aku tak akan memaksamu untuk memberitahuku…aku hanya akan menunggu.” Dimitri tersenyum tipis. Ya, ia sudah belajar sedikit tentang sesuatu, salah satunya adalah tak semua hal bisa ia dapatkan secara mudah. Ia ingin sedikit mengurangi tingkat keegoisannya walau sulit.
“Kenapa?” tanya Nabila heran, biasanya pria ini akan memaksa, kenapa sekarang Dimitri menjadi berubah total seperti ini?
“Hanya ingin. Aku mungkin hanya dua hari di Bali. Aku hanya ingin mengatakan itu saja, bagaimana jika aku mengantarmu pulang? Aku tidak ingin Reno mengomeliku karena tak bertanggung jawab pada istrinya.”
Nabila hanya menurut ketika Dimitri menariknya dengan lembut untuk pulang. Nabila benar-benar takut jika yang sedang bersamanya sekarang bukanlah Dimitri, bagaimana jika Dimitri sedang di rasuki oleh sesuatu?
**
Ini bukan pertama kalinya Dimitri datang ke Bali, jadi ia sudah sangat tak asing dengan kota yang satu ini. Ia juga sebenarnya memiliki rumah yang ia beli sendiri, agar ketika ia berkunjung ke Bali ia tak perlu menginap di hotel. Rumah yang ia miliki terletak di kuta, tak jauh dari pantainya.
Sama halnya seperti rumah yang di miliki para pengusaha sukses lainnya, rumah itu di pagar tinggi. Ketika sudah memasuki pagar tinggi itu, akan ada jalan setapak yang di tumbuhi dengan bunga-bungaan dan juga pohon-pohon kecil yang membuat suasana rumah itu cukup hijau. Rumahnya sendiri terlihat sederhana dan minimalis, bukan seperti rumah yang besar dan terlihat sangat mewah.
Ada sepasang suami istri paruh baya yang merawat dan menjaga rumahnya ini, agar tetap terjaga ketika pemiliknya datang seperti ini. Ada mimpi kecil yang selalu ingin Dimitri wujudkan semenjak membeli rumah ini tiga tahun yang lalu, ia ingin membangun keluarga kecilnya di rumah ini bersama wanita yang ia cintai suatu hari nanti.
Dimitri memang brengsek yang sangat beretika, kebrengsekan dan kebaikan hatinya selalu seimbang. Itu daya tarik tersembunyinya.
Rencananya, malam ini ia akan menyelesaikan urusannya dengan Christian Bagaskara, lalu istirahat sejenak dan keesokan harinya ia akan pulang ke Jakarta. Tak ada hal yang spesial di Jakarta, hanya saja ia takut jika tiba-tiba muncul di Jakarta dan Dimitri berada di Bali. Walau ia sudah meminta Nabila memberitahunya dengan jika Liliana muncul, rasanya akan lain jika ia yang bertemu langsung dengan wanita itu.
Pukul tujuh tepat waktu Bali, Dimitri sudah duduk dengan manis menunggu duda genit yang sudah sangat pasti akan terlambat. Sejak kapan pria itu bisa tepat waktu? Itulah kenapa ia sangat malas sekali bertemu pria ini.
Tepat tiga puluh menit Dimitri menunggu dengan bosannya, pria yang sangat ia tunggu-tunggu akhirnya tiba. Ia meminta maaf dengan santainya seolah tak terjadi apa-apa. Sudah pasti pria ini menghabiskan waktunya dahulu bersama wanita-wanitanya.
Mungkin Dimitri sedikit beruntung malam ini, karena pria itu tak mengatakan banyak hal dan hanya menandatangani proposal yang di bawa Dimitri.
“Saya sudah mempercayai perusahaan kalian, tolong jangan kecewakan saya.” Itu yang di ucapkan pria itu sesaat setelah menandatangani proposalnya. Mungkin Christian Bagaskara ingin bersama lebih lama bersama wanita-wanitanya, itulah sebabnya ia tak berbicara banyak. Agak sia-sia sebenarnya, karena Dimitri harus menghabiskan ongkos pesawat hanya untuk melakukan hal seperti ini.
Dimitri memutuskan untuk berjalan-jalan di pantai Kuta sebelum kembali ke rumahnya. Dia bukan pria melankolis, hanya saja ia bisa sedikit tenang ketika mendengarkan suara debur ombak. Nyanyian alami pantai yang selalu ia cintai. Sayangnya Kuta selalu di padati oleh turis bahkan ketika sudah malam seperti ini. Jika agak sunyi, mungkin akan terasa lebih indah.
Dimitri berjalan di bibir pantai. Andai saja Liliana berada di sampingnya saat ini, malamnya akan terasa sangat sempurna. Langkahnya terhenti ketika melihat seseorang yang berdiri tak jauh darinya, posturnya sangat ia kenali, tapi karena cahaya yang ada di pantai ini hanya berasal dari bulan di atas sana dan juga lampu restoran yang sedikit jauh dari bibir pantai, ia tak yakin dengan penglihatannya.
Ia ingin mempercayai firasatnya, tapi ia juga tak yakin. Apa mungkin itu Liliana, atau ia hanya berhalusinasi saking merindunya ia dengan wanita pujaannya?
**