PLAYBOY

PLAYBOY
Sadewa Hardinata Wibisana



Aku menjalani hari selanjutnya seperti biasa, aku selalu menyapa karyawan yang


kutemui di perjalanan menuju kantorku dengan ramah. Bukan berarti aku atasan


yang galak dan pelit senyum, aku hanya ingin hubungan di kantor sebatas


profesionalisme. Aku tak menyukai hubungan yang sudah tercampur aduk, tapi


secara tak sadar aku sudah melakukan hal itu. Aku selalu tak menyadari apapun,


dan ketika sudah sadar, semua itu sudah terlambat.


Menyesal tak ada gunanya, toh semua sudah terjadi. Seandainya aku memiliki doraemon, aku akan meminjam mesin waktu dan memperbaiki semuanya, tapi aku tak bisa. Jadi, aku akan tetap melanjutkan


hidupku. Aku manajer pemasaran yang sangat kreatif dan jenius serta optimis, banyak proyek besar kutangani, bahkan salah satu klien menyukaiku. Aku tak ingin mengingat Christian Bagaskara, tapi setidaknya ada rasa bangga ketika pria sepertinya menyukaiku.


Cinta? Yang benar saja.


Tak ada yang mampu melemahkanku, bahkan cinta sekalipun, semua itu hanya omong


kosong yang di gemborkan oleh para budak cinta. Hidup selibat pun tak masalah untukku, buktinya selama ini aku berjuang sendirian hingga sampai di posisi ini, dan iringan do’a dari orang tuaku tentunya.


“Seneng, deh, liat Bu Liliana sekarang lebih bahagia. Rasanya kantor kita ini makin


cerah karena pancaran silau Ibu.”


Aku menghentikan langkahku di depan meja kerja Eka yang langsung berdiri menyambutku ketika sampai tadi. “Jadi selama ini aku gak bahagia maksud kamu?” tuntutku.


“Auranya beda, Bu, yang sekarang lebih terpancar.”


Aku tersenyum mendengar ucapan hiperbola Eka, jika dia pria, mungkin aku sudah


memacarinya. “Oh, dan jangan lupa untuk berhenti memanggilku Ibu, aku masih dua tujuh, belum pantes di panggil Ibu.”


“Saya sudah melakukan itu sejak pertama, kenapa baru protes sekarang?” tanyanya tanpa


rasa bersalah sedikitpun. Padahal aku atasannya di sini.


Aku menatapnya galak. “Mbak Lili,” ucapnya menyerah. Aku langsung memberinya senyum


dan berlalu memasuki kantor.


Masih ada yang mengganjal di pikiranku, apalagi setelah Michelle menjadi tetanggaku.


Gadis itu tak melakukan apapun, hanya saja aku merasa itu semua belum di mulai. Aku belum pernah merasakan depresi, mungkin stres karena pekerjaan, dan Michelle kurasa masih mengalami tekanan karena depresi itu.


Richard tak mengatakan penyebab gadis itu depresi, hanya dengan gamblang mengatakan


kalau Dimitri bertanggung jawab atas hal itu. Jika di pikirkan lagi, mungkin


aku yang akan depresi, itu memuakkan dan selalu membuat kepalaku pusing.


Aku memutuskan untuk fokus bekerja, banyak yang harus kukerjakan dan rapat yang


harus kuhadiri. Jadi fokuslah.


Pintu kantorku di ketuk, dan Eka masuk bersama Kevin. Aku bangkit dari kursi dan


berjalan menyongsong Kevin untuk mempersilakan duduk, bagaimanapun, Kevin tetaplah atasanku di sini.


Aku memberinya senyum seperti biasa, aku bisa melihat raut bersalah itu di wajahnya.


Mungkin karena makan malam itu, aku mengerti, tapi aku ingin profesional. “Ada apa?” tanyaku.


Kevin menyodorkan sebuah map padaku. “Michelle akan menjadi model untuk iklan itu,


Christian Bagaskara sudah menyetujuinya dan syuting akan di mulai tiga hari lagi.”


Aku membuka map itu dan menemukan lembar portofolio di dalamnya. Semua informasi


tentang Michelle dan tentang prestasi apa saja yang sudah di raihnya di dunia model. Pantas saja ia sangat cantik, ia adalah model. Kenyataan lain yang menamparku.


“Aku pikir kamu perlu tahu,” ucap Kevin.


“Sepertinya dia model profesional dan cukup popular. Karena sekarang kamu yang menangani


ini, aku menyetujuinya saja, lagi pula Christian Bagaskara sudah menyetujuinya, itu yang terpenting.”


Aku menyerahkan map itu kembali pada Kevin, lalu tersenyum. Entah senyumku akan


terlihat menyedihkan, terpaksa, atau aneh untuknya, aku sudah mensugesti diriku untuk menerimanya dengan lapang dada. Toh, aku hanya sahabat—jika masih bisa di anggap seperti itu.


“Aku minta maaf soal makan malam itu, aku gak tahu kalau Tante Ina bakal undang Kakak.” Raut bersalah itu kembali menghiasi wajah tampan Kevin.


“Bukankah itu bagus? Aku justru beruntung Tante Ina mengundangku, kalau tidak kalian juga


tak akan membicarakan denganku, kan? Aku baik-baik saja, Vin.”


Bohong.


Aku tidak baik-baik saja.


Aku hanya mencoba untuk baik-baik saja. Sejauh ini berhasil.


“Kak, soal itu…,”


Kevin tampak ragu untuk mengucapkannya, ia seperti mencoba memilih kalimat terbaik


agar tak menyakitiku. Bukankah itu percuma? Pada akhirnya aku tetap tersakiti.


“Apapun yang terjadi pada Kakak dan Dimitri sebelumnya, aku mohon untuk mempercayai


Dimitri. Dia juga sedang berada di posisi sulit, ia tak memiliki banyak pilihan untuk memilih.”


Aku memberi Kevin senyum lagi, sepertinya belakangan ini aku banyak tersenyum. Ada untungnya


juga aku menghadapi masalah ini, sedikit merubah kepribadianku. “Apa ada hal lain yang mau di bicarakan? Aku harus bekerja?”


Kevin tampak ragu, sekali lagi. Aku tak pernah melihatnya seperti ini, Kevin pria yang ceria dan selalu positif. “Kak…,”


Kevin memberiku senyum tipis, lalu ia pamit untuk keluar. Tersisa aku sendiri di ruangan ini, aku menghela napas lelah. Hanya aku yang tak mengetahui semuanya secara pasti, tapi aku diminta untuk selalu percaya pada pria itu. Aku tersenyum kecut, sepertinya ini memang takdirku, aku tak bisa melakukan apapun selain


menerimanya.


**


Ini sudah pukul dua siang dan aku sama sekali belum beranjak dari kursiku untuk makan siang. Aku bukan ingin menyiksa diri sendiri lalu kemudian sakit. Pekerjaanku memang sedang tak bisa di tinggal dan aku sedang mendapatkan tamu bulananku, napsu makanku mendadak hilang dan aku hanya memakan potongan buah yang memang kuminta Eka untuk menyiapkannya.


Ponselku berdering.


Dewa calling…


Aku mengerutkan kening, siapa Dewa? Kupikir aku tak memiliki rekan kerja bernama Dewa, tapi kenapa namanya ada di kontakku. Aku menggeser tombol hijau masih dengan kening mengerut.


“Halo,” sapaku.


“Liliana, masih ingat padaku, ini Dewa,” ucap pria di seberang.


Oke, mari mengingat-ingat. Sahabat priaku hanya Dimitri dan Kevin, lalu ada Richard. Selain mereka hanya ada beberapa rekan kerja lalu klien. Di antara semua itu tak ada yang bernama Dewa.


“Anak Pak Wibisana,” ucapnya lagi.


Ah, aku baru ingat. Pria yang Ibu dan Bapak coba jodohkan padaku. Ketua OSIS ketika sekolah menengah dulu. “Ah, maaf aku benar-benar lupa. Aku bukan sengaja melupakannya, tapi ada beberapa masalah yang sedang kuhadapi dan aku juga sangat pelupa. Jadi maafkan aku, sekarang aku sudah mengingatnya.”


Pria di seberang sana tertawa, tawa yang sangat renyah, dan mampu membuatku tersenyum juga. “Tak masalah, yang penting kamu sudah mengingatku.” Aku bahkan bisa merasakan senyumnya dari sini


“Aku sedang ada di Jakarta.”


“Apa?! Kenapa tak mengabariku?” Aku bahkan tak sadar kalau sudah berteriak sehisteris ini. Aku benar-benar  kaget, ia memang pernah mengatakan ingin berkunjung, tapi ini sangat tiba-tiba.


“Aku sedang melakukannya sekarang.” Ada nada geli pada jawabannya, mungkin pria ini menertawakan kekagetanku yang sangat histeris itu.


“Ah, ya, maksudku—“


“Sudah sangat terlambat, tapi aku ingin mengajakmu makan siang. Aku sudah ada di lobi kantormu, jadi—“


“Tunggu di sana! Jangan kemana-mana, aku segera turun.”


Aku mengambil tasku asal lalu segera keluar, aku berhenti sebentar di meja Eka yang kaget melihatku terburu-buru. “Aku akan keluar, mungkin sedikit lama. Kalau ada hal penting, langsung hubungi saja.”


Tanpa menunggu jawaban Eka, aku langsung berlari menuju lift. Aku tak menduga pria itu benar-benar mengunjungiku. Maksudku, tak ada yang salah, aku hanya kaget karena sangat mendadak. Aku tak menerima dan tak menolak perjodohan ini, aku hanya ingin mencoba dan menjalani saja seperti yang di katakan Ibu.


Aku sedang dalam posisi tak bisa berbuat apapun, aku tak ingin menambah masalah, jadi aku akan menjalani saja. Untungnya lift sedang kosong, dan ketika lift sudah membuka di lobi, aku buru-buru keluar dan menengok kesana kemari untuk menemukan Dewa.


Pria berkemeja putih yang lengannya di gulung sampai siku, dengan celana jeans hitam serta sepatu fantofel dengan warna senada celananya sedang berdiri di sana melambaikan tangan padaku. Ia membawa tas ransel yang ia tahan di satu bahunya, kulitnya coklat dan tampan. Aku segera berlari ke arahnya, beruntung aku sudah sangat terbiasa dengan heels setinggi delapan senti ini.


Aku hampir terjatuh ketika sudah dekat dengannya, untungnya ia segera menangkapku. Lalu terjadilah adegan seperti di sinetron, di mana ia hampir memelukku dan kami saling bertatapan. Sangat klise, dan aku juga tak sadar melakukan hal itu.


“Hati-hati. Kenapa kamu harus berlari?” tanyanya khawatir.


Wajahku sedikit memerah karena hal itu, ah, apa yang baru saja kulakukan? Aku baru saja mempermalukan diriku, dan ini di lobi. Selalu banyak peristiwa yang terjadi di lobi.


“Kenapa kamu tak mengabari lebih awal? Aku bisa saja menjemputmu di bandara.” Aku menatap matanya yang terhalang kacamata hitam.


Ibuku mengatakan Dewa berkuliah di Singapor, dan ia kembali ke Jogja untuk mengurusi usaha Ayahnya. Ia mengambil jurusan Desain Grafis dan menjadi freelancer sembari mengurus usaha Ayahnya, pria ini tak suka bekerja di kantor yang mengikatnya. Cukup menarik sebenarnya, ia juga lumayan tampan. Mungkin aku bisa membuka hati padanya.


“Surprise mungkin?”


“Aku tak menyukai surprise dalam bentuk apapun. Kamu membuatku berlari dengan sepatu setinggi ini,” ucapku kesal. Aku menunjukkan betapa tinggi sepatu yang kukenakan.


Dewa hanya tersenyum. “Aku tak memintamu berlari, apa mungkin kamu merindukanku?”


Aku tak ingat pernah seakrab ini dengannya. Ketika ia mengantarku ke bandara, kami masih sangat canggung. Dan ini sudah lumayan lama sejak terakhir kali kami bertemu, tapi kenapa aku bisa sebebas ini bicara dengannya? Bahkan berlari seperti kesetanan hanya untuk menemuinya. Apa yang terjadi padaku sebenarnya?


Wajahku memerah lagi. Apa aku menyukai pria ini? Pikiran macam apa itu?


**


Kalian ingin tahu sesuatu? Dulu ketika aku SMA, aku pernah menyukai Dewa. Itu sudah bertahun-tahun lalu, tapi dulu dia juga menjadi yang tertampan di antara kakak kelasku, dan ia juga ketua OSIS. Alasanku masuk organisasi itu karena pria ini juga. Cinta pertama? Anggap saja begitu, tapi setelah ia lulus SMA, perlahanaku mulai merasa kalau perasaan suka itu perlahan menghilang.


Dan sekarang ini, aku kembali duduk berhadapan dengannya. Kurasa perasaan masa lalu itu sedikit banyak mempengaruhi kelakuan absurdku tadi. Pria ini bahkan tetap tampan ketika ia dewasa, lebih berkarisma. Andai saja aku bertemu dengannya lebih cepat, mungkin aku bisa dengan mudah menyukainya kembali, dan tak perlu terlibat dalam perasaan aneh saat ini.


Ketika kami mengobrol di rumah orang tuaku, ia meminta untuk tak memanggilnya Mas atau Kak, walau aku juga tak keberatan karena ia memang lebih tua. Mungkin sekarang umurnya tiga puluh atau lebih tua sedikit.


“Aku akan menghadiri acara resepsi pernikahan temanku malam ini, itulah kenapa aku ke Jakarta.”


Kami sudah berada di restoran yang tak jauh dari kantorku. “Ah, jadi bukan karena aku.”


“Karena aku bisa mengajakmu, makanya aku jauh-jauh kesini. Kalau tidak aku akan memilih di Jogja saja.”


Aku menatapnya sembari berpikir. Jadi dia mengajakku, aku tak keberatan sebenarnya. “Lalu apa kamu ingin mengenalkanku sebagai pacar agar tak ada yang menanyai kapan kamu menyusul.” Aku menyipitkan mata menatapnya. Drama sekali.


“Kita memang di jodohkan, kan? Secara tak langsung kamu pacarku, atau kita perlu membeli cincin agar bisa kuperkenalkan sebagai tunangan.” Ia tersenyum, tak ada candaan dalam senyum itu, hanya senyum yang benar-benar tulus.


Tunangan dan pikiranku justru tertuju pada Dimitri, pria itu juga sudah bertunangan, tinggal menunggu mereka menikah dan aku tak punya kesempatan. Aku tersenyum kecut, lagi. Memangnya kesempatan apa yang kumiliki?


“Tadinya aku berpikir untuk menjadi teman terlebih dahulu, tapi pria dan wanita tak mungkin hanya berteman, kan? Pasti salah satunya menyimpan perasaan pada lawannya.”


Entah kenapa aku mengatakan ini. Aku hanya berpikir pria ini tak sedingin yang kupikirkan. Kupikir tak ada bahan cerita yang akan kami ceritakan ketika bertemu seperti ini, tapi nyatanya pria ini sangat ramah dan mampu membuatku nyaman.


“Kupikir aku yang akan mengalaminya, kan?” tanyanya.


“Kita bahkan belum memulainya, kenapa sudah seyakin itu? Apa karena aku terlalu cantik?”


Ia tertawa melihatku dengan senyum menggoda, dan senyumnya itu menular padaku. Aku ingin mempercayai diriku untuk menyukai pria ini, membangkitkan perasaan masa lalu itu agar bisa lepas dari Dimitri, tapi kupikir akan sulit. Bagiku, masa lalu hanya masa lalu, tak semudah itu untuk membuka masa lalu.


Dewa tampan, dan aku berharap ia tak seperti yang lainnya, yang menyimpan rahasia, lalu melibatkan aku dalam masalahnya. “Ketika SMA, aku pernah menyukaimu,” ucapku jujur.


“Itu masa lalu, kalau kamu ingin menyukaiku, sukai Dewa yang sekarang, bukan ketika SMA. Apa ada pria lain yang sudah membuatmu jatuh cinta lebih dulu?”


**


Ada yang mau pindah haluan lili dewa mungkin?


Selamat membaca^^