
Dewa berada di Jakarta selama satu minggu, dan dalam satu minggu itu pula ia menjadi supirku. Ternyata ia cukup kaya untuk menyewa salah satu hotel bintang lima yang tak jauh dari kawasan apartemenku selama satu minggu. Alasan ia menjadi supirku, karena aku meminjaminya mobilku. Tadinya ia akan menyewa sebuah mobil selama ia di Jakarta, tapi aku bersikeras meminjamkan mobilku padanya dengan syarat ia harus mengantar dan menjemputku kerja.
Aku tahu ini terdengar aneh bahkan tak masuk akal. Mungkin otak cerdasku tak mampu berpikir dengan jernih lagi, aku ingin belajar mencintai Dewa, padahal aku tahu itu sulit. Aku tak mungkin semudah itu berhenti mencintai Dimitri, sebanyak apapun ia melukaiku dan membuatku terjebak dalam hubungan tak masuk akal ini.
Aku hanya ingin mencoba.
Teman-teman kantorku bahkan menyangka Dewa adalah pacarku. Aku tak lembur selama satu minggu karena pria itu. Aku yakin Dewa familiar dengan Jakarta, tapi ia selalu memintaku untuk menemaninya jalan-jalan. Aku menikmati hal itu, dia teman mengobrol yang baik dan kami tak pernah kehabisan topik.
Aku mendongak ketika mendengar suara ketukan pintu, dan tak lama setelah itu pintu di buka. Dimitri. Kudengar ia ke luar kota karena harus mengurus rapat dan lainnya. Ia masih seperti biasa, tampan, dan tak bisa kumiliki tentunya.
“Kamu sudah kembali?” tanyaku.
Dimitri hanya menganggukkan kepalanya, lalu duduk di sofa yang ada di hadapan meja kerjaku. Terlihat lelah. “Kudengar kamu sudah memiliki kekasih,” tanyanya tanpa melihatku.
Aku juga memilih duduk di tempatku saat ini, tadinya aku ingin menghampirinya. Tapi, kewarasanku menahan di sini. Aku juga takut akan semakin mendambanya jika mendekat, aku tak terlalu imun dengan semua hal yang ada pada diri Dimitri.
“Jika mereka berpikir seperti itu, maka anggap saja begitu.” Aku tahu ucapanku ambigu, tapi aku juga tak ingin sahabatku ini mengerti semua yang kukatakan. “Kamu tak mengunjungi Michelle? Kudengar syutingnya sudah di mulai.”
“Kamu percaya padaku?” Kali ini Dimitri menatapku dengan serius.
Aku mengalihkan tatapan ke arah lain, entah apa maksud pertanyaannya itu. Aku tidak tahu bagian mana dari dirinya yang harus kupercaya. Ia tak pernah mengatakan apapun yang menyatakan kalau kami pasangan, ia tak menjelaskan apapun padaku, dan selalu meninggalkanku dalam kebimbangan.
“Tentu saja, kamu sahabatku. Apa pernah selama ini aku tak mempercayaimu?” ucapku dengan senyum tipis yang kusunggingkan.
Aku tak mengerti maksud tatapan yang di berikan Dimitri, kecewa atau marah? Aku tak tahu. “Aku janji akan memberitahumu semuanya ketika semua sudah jelas.”
Kami saling bertatapan selama sepersekian detik. Dimitri adalah orang yang selalu menepati janjinya, aku sangat mengerti pria ini karena kami sudah melebihi persahabatan, dan aku ingin kembali mempercayainya tapi rasanya sangat sulit. Ketika dalam keadaan seperti ini.
“Semoga sampai semua itu terjadi, kamu belum terlambat.”
Kami kembali bertatapan, lalu Dimitri memutuskan untuk bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu. “Kenapa…kenapa kali ini kamu tak mencegahku?” tanyaku. Mengarah pada gosip pacaranku.
Dimitri berhenti di tempatnya, tapi ia tak membalikkan tubuhnya. Rasanya aku ingin memakinya, ingin melampiaskan semua amarahku, dan semua kesedihan yang menumpuk di hatiku tanpa pelampiasan. Tapi semua kalimat itu tertahan di tenggorokanku. Aku takut dengan semua kalimat yang mungkin akan ia berikan padaku sebagai jawabannya. Aku sepengecut itu.
“Sepertinya dia pria yang baik.”
**
Aku menghampiri Dewa yang sudah setia menungguku di lobi seperti biasa. “Kamu bisa meneleponku kalau sudah sampai,” ucapku ketika sampai di hadapannya.
Dewa mengenakan kaos v-neck berwarna putih yang sangat kontras dengan warna kulitnya, celana jeans berwarna hitam, serta sepatu kets berwarna putih. Tubuhnya tak berotot seperti pria kebanyakan, tapi cukup tegap dan tak memiliki lemak berlebih, sudah pas menurutku.
“Aku tak ingin membuatmu buru-buru, lagipula aku tahu kamu orang yang tepat waktu, Bu Manajer.” Ia memberikan senyumnya yang membuatku tersenyum juga.
Tak ada perasaan istimewa yang kurasakan pada Dewa, aku hanya nyaman di dekatnya. Apa kalian tahu nama perasaan semacam ini? Karena kalau ini benar cinta, maka aku akan sangat senang. Harusnya aku mencintai pria seperti Dewa.
“Apa kamu biasanya seperti ini? Memamerkan tubuhmu di tempat dengan dominasi wanita terbanyak untuk menarik perhatian?” tanyaku. Menyipitkan mataku padanya, karena pakaian yang ia kenakan ini sangat membuatnya terlihat semakin berkarisma.
“Apa kamu cemburu?” tanyanya dengan geli. Ia menundukkan wajahnya untuk menatapku. Walaupun aku sudah mengenakan heels dengan tinggi delapan senti, tak akan mampu menyamai tingginya, aku selalu berhubungan dengan pria yang lebih tinggi dariku.
“Aku milikmu seutuhnya,” ucapnya sembari merentangkan tangannya di hadapanku dengan senyum gelinya.
Aku menggeleng-gelengkan kepala, tapi tetap tersenyum juga. “Ayo pulang.” Aku membalikkan tubuhku menuju pintu keluar, masih dengan tawa geliku. Aku baru akan melangkahkan kakiku ketika melihat Dimitri beserta Michelle, lalu ada Kevin di belakangnya.
Kenapa harus lobi lagi dari sekian banyak tempat di mana kami bisa bertemu dengan tak sengaja? Aku mulai membenci lobi sekarang. Pikiranku kembali melayang pada kejadian siang tadi ketika Dimitri berkunjung ke ruanganku. Kalimatnya yang sudah merestuiku bersama Dewa, harusnya aku senang, tapi kenyataannya aku sedikit kecewa. Munafik sekali aku ini.
Aku tersenyum, lalu menghampiri mereka dengan Dewa yang mengekor di belakangku. Sebenarnya tak bisa di bilang aku menghampiri mereka, karena posisi mereka yang tak jauh dari pintu, akupun harus keluar dari pintu tersebut.
“Apa syutingnya baru selesai?” tanyaku setelah berbasa-basi sedikit menanyakan kabar.
“Ya, dan besok aku harus datang pagi-pagi untuk menyelesaikannya.” Itu suara Michelle, seperti biasa ia selalu memberikan senyum.
“Oh ya, kenalkan ini Dewa.” Aku menoleh pada Dewa yang masih setia berada di belakangku, ia lalu berdiri di sampingku dan mengulurkan tangannya bergantian pada tiga orang di hadapanku.
“Jadi gosip Kak Lili punya pacar itu bener,” ucap Michelle lagi, masih dengan senyuman.
Dimitri tak mengeluarkan sepatah kata pun, ekspresi wajahnya tak terbaca, dan Kevin hanya memberikan senyumnya. “Pacar?” tanya Dewa. Aku menatapnya yang seperti kebingungan, aku memang tak memberitahunya tentang gosip yang beredar karena ia sering menjemputku. Kupikir itu tak terlalu penting.
Apa sekarang pria ini marah? “Kupikir aku sudah menjadi calon suamimu.” Aku menatap Dewa tak percaya, bukan karena marah tapi karena melihatnya dengan tawa gelinya itu membuatku ingin tertawa. Selera humornya lumayan juga.
“Ya, anggap saja kami seperti itu,” ucapku pada ketiga orang di hadapanku. Mereka terlihat bertanya-tanya dengan tawa kami, tapi aku tak peduli.
Aku tak memperhatikan bagaimana mereka bereaksi, aku langsung berpamitan dan pergi bersama Dewa. Ada sedikit rasa bersalah terhadap Dimitri, tapi rasa sakit yang kutahan juga sama besarnya dengan rasa bersalah itu.
**
Dewa sudah pulang sejak dua hari yang lalu. Tak ada pembicaraan yang serius selama dia menjadi ‘supirku’, kami hanya berbicara seperti teman lama. Aku juga menceritakan padanya tentang Dimitri, tapi aku tak jujur padanya tentang perasaanku, aku yakin ia bisa melihat yang kurasakan pada Dimitri, ia hanya tak mengatakannya.
Kehadiran Dewa sangat membantuku menjalani kehidupanku yang perlahan mulai kelabu ini. “Telepon saja kalau kamu sedang sedih atau banyak pikiran, aku akan langsung terbang dari Jogja, dengan syarat kamu yang menyiapkan tiketnya.” Itu kalimatnya ketika aku mengantarkannya di bandara. Aku tertawa saja saat itu.
Pria itu membuatku banyak tertawa dan aku sangat bersyukur. Apa aku terdengar sedang melampiaskan perasaanku padanya? Aku juga merasakan hal yang sama, tapi mau bagaimana lagi, aku juga nyaman dengan kehadirannya. Nasihat dan semua cerita yang ia bagi padaku sangat menghiburku.
Terdengar ketukan pintu dari pintu apartemenku. Tumben sekali aku mendapat tamu sepagi ini. Masih pukul tujuh pagi dan aku sedang menikmati susu coklat sebagai sarapanku. Aku beranjak untuk membukakan pintu tanpa melihat intercom terlebih dahulu.
Michelle.
Gadis itu tersenyum lebar di hadapanku sembari memegang sepiring roti lapis. Aku mengangkat alis menatapnya. Selama gadis ini menjadi tetanggaku, ini pertama kalinya ia mengunjungiku, karena aku juga menghindari gadis ini sebenarnya. Aku benar-benar tak ingin terlalu dekat dengannya.
Tanpa kupersilakan masuk, Michelle segera masuk ke apartemenku. Apa aku harus menghadapi kekesalanku di pagi yang sangat cerah?
“Ada apa berkunjung sepagi ini?” tanyaku langsung. Kupikir tak perlu basa basi ketika menghadapi gadis ini.
“Kenapa terburu-buru, Kak? Aku membawakan sarapan, siapa tahu Kakak belum sarapan. Ini juga pertama kalinya aku berkunjung, jadi ayo ngobrol dulu.”
“Kakak bisa telat, pagi ini juga Kakak gak ada jadwal. Aku udah pastiin sama Mbak Eka, jadi gak perlu khawatir.”
Aku menatapnya tak percaya, bagaimana gadis ini bisa mendapatkan semua itu? Kurasa depresinya justru semakin parah.
“Tak perlu basa basi, hanya ada kita berdua di sini. Apa maumu?”
Senyum di wajah Michelle sudah berubah, lebih seperti seringai, ia terlihat kejam. “Padahal aku sudah susah-susah berakting, tapi ternyata Kakak tak sebodoh itu.”
Aku melipat tanganku di dada. Ini baru Michelle yang sebenarnya, selama ini ia mencoba menjadi orang lain. Menjadi ceria, ramah, selalu tersenyum. Aku yakin itu sangat membuatnya lelah. “Bukankah lelah jika berpura-pura? Tak perlu melakukannya jika padaku.”
Seringai itu tercetak lagi di wajahnya. Wajahnya itu benar-benar mengerikan, wajah cantiknya tertutupi oleh seringai itu. Aku tertawa tanpa sadar, apa sekarang aku akan mengkonfrontasi gadis ini? Atau gadis ini yang sengaja menciptakan waktu untuk mengkonfrontasiku?
Mungkin ini maksud ucapan Richard tempo hari, tentang aku yang harus menjauhi Dimitri karena Michelle bisa melakukan hal nekat. Kurasa ini waktunya.
“Menjauhlah dari kehidupan Dimitri, kami sebentar lagi akan menikah.”
Aku hanya menatap Michelle dengan datar. Ternyata benar, tapi kenapa aku yang terlihat sebagai tokoh antagonis di sini? Aku tak masalah harus mendapat peran apa, tapi ini sangat tidak adil karena aku yang menjadi korban di sini.
“Kenapa aku harus melakukan itu? Harusnya kamu yang menjauhinya, kamu bahkan tak tahu apa Dimitri masih mencintaimu. Kamu hanya berpegang pada cinta masa lalumu yang mungkin saja untuk Dimitri sudah hilang seiring berjalannya waktu. Apa kamu tak memiliki rasa malu?
Ia tersenyum remeh padaku dengan seringai yang belum hilang dari bibirnya. “Bukankah lebih baik seperti ini, daripada menggunakan alasan sahabat untuk mendekati Dimitri.”
Michelle berjalan mendekatiku. “Ini peringatan pertamaku. Jangan pernah mendekati Dimitri lagi, kamu tak akan bisa memilikinya apapun yang yang terjadi, kecuali aku sudah mati,” ucapnya lagi dengan nada yang sangat dingin.
Lihatlah, Michelle sudah melepaskan panggilan formal padanya, Michelle yang sebenarnya sudah memunculkan dirinya. Gadis itu segera berjalan menuju pintu setelah mengatakan kalimat terakhir. Aku sama sekali tak memiliki ketakutan dengan semua kalimatnya. Entahlah, rasanya ini hal yang benar. Harusnya Michelle mengatakan hal itu sejak awal, bukan malah menampilkan wajah palsunya padaku.
**
Aku sampai di kantor pada pukul delapan, cukup pagi sebenarnya. Biasanya aku datang tepat pukul sembilan. Seperti yang di katakan Michelle tadi, aku tak memiliki agenda rapat atau harus bekerja di luar, aku hanya akan memeriksa beberapa berkas. Apa gadis itu diam-diam memata-mataiku?
Eka tak berada di mejanya, tapi aku tahu dia sudah datang, karena tasnya beserta peralatan yang biasa ia bawa sudah ada di mejanya. Aku mengabaikannya dan langsung menuju ruanganku. Aku sama sekali tak memiliki firasat apapun ketika akan memasuki ruanganku, sampai aku menemukan Dimitri yang sedang berdiri membelakangiku. Apa aku salah masuk ruangan?
Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ini memang ruanganku, efek bertemu Michelle tak mungkin sedahsyat itu sampai aku melupakan ruanganku sendiri. Aku menutup pintu di belakangku dan memutuskan duduk di sofa, Dimitri pasti juga menyadari kehadiranku.
“Ada apa?” tanyaku.
Ini seperti Dimitri dan Michelle bersekongkol untuk merusak hariku. Kalau benar begitu, maka mereka berdua berhasil.
“Apa Michelle menyakitimu?” Ia menghampiriku yang duduk di sofa, dan memilih untuk duduk di depanku.
Aku sebenarnya tak tahu pertanyaan ini mengacu kemana, apa Dimitri tahu kalau Michelle mengunjungiku tadi pagi atau pertanyaan itu untuk menanyakan yang lain.
“Kurasa belum, ia tetangga yang baik. Tadi pagi bahkan ia membawakanku sarapan. Kamu beruntung memiliki tunangan sepertinya.” Percayalah, aku mengatakan itu dengan tingkat menyindir sangat tinggi. Aku bukan tipe seperti itu, tapi entah kenapa sejak kedatangan Michelle tadi, aku merasa tingkat kekesalanku meningkat drastis.
Dimitri menatapku sendu. Tatapan macam apa itu? Apa ia kasihan padaku? Aku lebih memilih tatapan menggodanya di banding semua ini. “Aku minta maaf, aku tak tahu dia akan sejauh itu.”
Jika tadi aku kesal, maka sekarang kekesalanku bertambah dengan rasa kecewa dan sedih yang kurasakan. Dimitri meminta maaf atas nama Michelle, dia bukan pria seperti itu. Pria ini tak pernah melakukan hal itu jika ia tidak dekat dengan orang tersebut.
“Apa kamu yang menyuruh Eka pergi?” tanyaku. Kamuflase yang kulakukan untuk menutupi kekecewaanku.
“Li…,”
“Kalau kamu ingin membicarakan masalah pribadi, sebaiknya nanti siang. Ini masih jam kerja,” potongku. Aku segera bangkit dari dudukku.
“Li, aku ingin kita bicara,” ujarnya. Terdengar lelah dan putus asa. Aku juga merasakan hal yang sama, aku benar-benar muak.
“Kamu sudah menyelesaikannya? Aku pernah bilang padamu untuk tidak pernah berbicara padaku, kecuali kamu sudah penjelasan untuk semua ini. Kamu sudah punya itu?!” tantangku.
Dimitri menatapku. Terlihat seperti menguatkan diri. “Aku tak pernah menginginkan pertunangan ini, ini hanya pertunangan bisnis.”
“Apa Michelle menganggap pertunangan itu sama denganmu? Aku tak tahu apa ceritamu di masa lalu, tapi aku benar-benar tak ingin masuk ke dalamnya.”
“Lalu hubungan kita selama ini…?”
“Aku tak tahu hubungan apa yang kamu bicarakan, apa kita memiliki hubungan semacam itu? Kalaupun memang ada, apa keadaannya akan berubah? Kamu egois, Dimitri.”
Aku tak tahu mendapatkan keberanian dari mana sehingga aku mampu mengucapkan semua itu. Mungkin dari semua frustasi yang kutahan selama ini. Walaupun rasanya sangat sakit untuk mengatakan semua itu, mungkin Dimitri akan semakin membenciku nanti.
“Hidup Michelle bergantung padaku, Li. Dia masih mengidap depresi sampai saat ini, dia bisa saja bunuh diri jika aku meninggalkannya.”
Aku tercekat mendengar ucapan Dimitri. Apa separah itu? Jadi inilah kenapa semua orang tampak membela dan berpihak pada Michelle.
“Apa kamu tak bisa mengerti sedikit? Aku memintamu untuk menunggu dan percaya,” ucapnya lagi.
Mungkin Dimitri juga tak menginginkan hal ini, dan dia juga tersakiti. Kami sama-sama tersakiti oleh keadaan. Jika saja, ia mengatakan inimlebih awal mungkin aku bisa mengerti.
“Apa yang harus kutunggu, Al? Apa yang harus kupercaya? Aku bahkan tak mengerti hubungan apa yang sedang kita jalani. Kenapa kamu mengatakan semua itu padaku? Kita hanya sahabat, dan tugas sahabat adalah saling mendukung.”
Aku tersedak dengan kalimatku sendiri, air mata sudah mengumpul di kelopak mataku, siap untuk menumpahkan semua rasa frustrasi yang sudah kutahan selama ini. “Li, kita—“
“Dimitri, apapun yang pernah kita jalani sebelumnya, sebaiknya lupakan saja. Aku bisa mengerti posisimu, selesaikan apapun itu, aku akan selalu mendukungmu. Sebagai sahabat.”
Air mataku belum mengalir. Aku segera berjalan menuju meja kerja. Rasanya sangat sesak, rasanya aku hanya menunda kesakitanku. Jika saja aku mengatakan kalimat itu kemarin-kemarin, aku ragu rasanya akan sesakit ini. Seperti ada jutaan jarum yang menghujam jantungmu, dan tak ada yang bisa kamu lakukan selain menerimanya dengan pasrah, berharap ada seseorang yang mampu memberikan penawarnya.
**
Haiiii gimana part ini? Aku masih ngerasa feelnya belum dapet banget. Siap-siap deh ya buat badai yang sebenarnya di episod-episod akan datang.
Enjoyyyy^^