PLAYBOY

PLAYBOY
Nabila's Wedding



Haiii maaf ya kelamaan upnya, aku butuh waktu beberapa hari buat bikin part ini, makin ke belakang emang makin berat nulisnya. Setelah part ini aku bakal biki bonus episod, isinya tentang pertama kalinya Lili ketemu Dimitri dan mereka jadi sahabat, dan pertama kalinya mereka ehem-ehem. Mungkin bakal jadi dua part atau satu part aja. Aku tahu kalian suntuk banget baca yang sedih-sedih mulu, kan? Itung-itung sebagai pemanasan sebelum masuk ke konflik yang sesungguhnya. Oke, itu aja, selamat membaca^^



Ada alasan aku tak megunjungi Nabila ketika pikiranku sedang kalut dan banyak masalah seperti ini. Hari ini adalah pernikahan Nabila, dan aku tak ingin mengganggunya yang sedang sibuk-sibuknya mengurusi pernikahannya dengan masalahku yang rumit ini. Tadi pagi akad nikah berjalan dengan lancar, dan malam ini adalah resepsinya.


Aku menjadi pengiring pengantinnya, begitupun Richard. Aku mengenakan kebaya berwarna krem dan kain batik sebagai bawahannya, dan juga rambut yang kusanggul dengan anggun. Richard mengenakan setelan tuksedo lengkap, ia terlihat gagah dan tampan. Sepertinya aku harus bersyukur karena semua pria yang terlibat dalam hidupku adalah pria tampan.


Tadinya aku ingin menghubungi Dewa untuk hadir, tapi aku mengurungkan niat itu. Jika aku bertemu Dewa, maka ia akan dengan cepat melihat dan mengetahui masalah apa yang sedang kuhadapi. Cukup Richard yang mengetahui semuanya.


Dimitri dan Kevin juga di undang, karena dia juga termasuk dalam daftar teman Nabila. Richard tahu ketakutanku, karena itu ia selalu berada di sampingku sejak tadi, kami sudah seperti pasangan kekasih pada umumnya.


“Kebaya itu sangat cocok buat kamu,” ucapnya ketika kami sedang menikmati hidangan di meja melingkar ini.


Aku hanya tersenyum, tak terlalu menanggapi. Entahlah, kami tak bisa di bilang teman, gebetan, apalagi pasangan. Kurasa yang tersisa dalam diri Richard untukku hanya rasa bersalah, itulah kenapa ia selalu di sampingku. Agak menyedihkan memang, tapi inilah yang terjadi.


Aku belum melihat Dimitri dan Kevin sejak tadi, aku takut sebenarnya untuk bertemu Dimitri, aku malah berharap Dimitri tak hadir. Banyak keberanian yang perlu kusiapkan sebelum bertemu dengan pria itu.


“Mereka akan telat, sedang terjebak macet,” ucap Richard begitu saja. Ia seperti tahu bahwa aku sedang harap-harap cemas menunggu mereka. “Atau kamu mau pulang aja?”


“Nabila bisa bunuh aku kalau aku gak di sini sampai acara selesai. Kamu tahu, kan, gimana nakutinnya cewek itu. Heran deh, kenapa Reno bisa betah banget.”


“Kalau kamu udah cinta, semua bakalan keliatan biasa aja di mata kamu. Cinta itu buta, kan?”


Aku merenung mendengar kalimat yang di ucapkan Richard. Benar, seperti aku yang tetap mencintai Dimitri, padahal sudah sangat sering ia menyakitiku. Memangnya apalagi yang bisa kulakukan? Jatuh cinta lagi tak semudah itu, aku bukan remaja belasan tahun yang bisa dengan mudah berganti pasangan.


“Kamu kasihan padaku?”


Richard menatapku, aku bisa merasakan itu walau aku sedang tak menatapnya. Aku bahkan selalu mengasihani diriku karena hal ini. Hidup selibat terdengar menjadi pilihan terbaik, lalu orang tuaku akan mendatangiku dan menikahkanku dengan siapapun itu. Aku sungguh muak harus berurusan dengan pria sejauh ini.


“Atau merasa bersalah? Yang mana dari kedua hal itu?” tanyaku lagi. Kali ini aku menatapnya. Sorot mata kami bertemu.


“Aku hanya merasa bertanggung jawab atas dirimu.”


“Itu bahasa halus dari kedua pilihan tadi, menyedihkan, kan?” Aku tertawa kering. Saat ini yang kurasakan hanya hampa dan kosong.


Apa kalian berpikir kalau aku belum cukup mederita karena kejadian ini? Atau kenapa aku sangat tegar merelakan sahabat yang kucintai bersama gadis lain, tunangannya?


Aku sangat menderita dan tersiksa, mungkin dari luar aku terlihat tak memiliki masalah apapun, aku sangat kuat menghadapi masalah ini. Tapi jauh di dalam lubuk hatiku, aku sangat hancur, sampai rasanya sangat kebas. Aku tersiksa dengan kenyataan bahwa aku mencintai Dimitri padahal ialah penyebab hancurnya hatiku.


Mungkin sebagian dari kalian akan memakiku dan memintaku melupakan Dimitri, lalu mencari pria lain yang lebih baik dari Dimitri. Jika kalian ada di posisiku saat ini, kalian pasti akan melakukan hal yang sama denganku.


“Kamu benar-benar tak menyukaiku? Aku akan langsung menjawab ‘ya’ kalau kamu melamarku sekarang ini.”


Kalimat itu terlontar begitu saja, hasil dari keputusasaan alam bawah sadarku. “Aku akan melakukannya jika kamu berhenti mencintai Dimitri.”


Aku menopangkan tanganku di dagu, bersandar pada meja bundar di hadapan kami. “Tetap di sisiku kalau begitu, sampai perasaan ini hilang dengan sendirinya.”


**


Seperti yang kubilang, aku mendadak dekat dengan Richard karena aku merasa aman bersamanya. Jangan salah paham dengan kedekatan kami. Aku tak tahu apa isi hatinya, atau apa yang ia rasakan sebenarnya ketika bersamaku, aku hanya berharap tak ada rasa berlebihan di antara kami.


Aku sudah sangat jarang bertemu Dimitri, kudengar ia sibuk mengurusi cabang perusahaan di luar kota. Bertemu Kevin juga hanya sesekali, dan menyapa juga hanya sekedarnya saja. Aku sudah kembali tinggal di apartemenku, aku sudah tak peduli jika bertemu gadis itu atau mungkin saja kami berpapasan di lobi.


Sepertinya aku sudah sangat mati rasa dengan semua hal yang terjadi dalam hidupku, jadi aku memilih untuk acuh. Rasa sakit itu masih tetap menempel dalam hatiku seperti tak mau hilang, aku hanya sesekali melupakannya ketika sedang sibuk bekerja. Aku kembali menjadi Liliana yang bekerja keras, tapi aku melakukannya di apartemenku. Aku tak ingin mengambil resiko untuk bertemu Dimitri.


Yang berbeda dari sore ini, adalah kunjungan Nabila yang sangat jarang ke apartemenku. Sudah lewat satu bulan sejak pernikahannya. Ia sudah tak tinggal di apartemennya, Reno memberi rumah sebagai hadiah pernikahan mereka, dan aku sangat iri dengan pasangan itu.


“Jadi, bagaimana rasanya menikah?” tanyaku dengan senyum lebar.


Nabila menatapku tajam, ia terlihat kesal. “Jangan menunjukkan wajah dengan senyum lebarmu padaku! Aku tahu kamu tak sedang baik-baik saja.” Nabila melipat tangannya di dada dan tetap memberiku senyum tajam.


Nabila adalah satu-satunya teman yang sangat mengerti diriku melebihi kedua orang tuaku, dia selalu peka dengan kondisiku dalam berbagai situasi. Itulah kenapa aku sangat mencintainya.


“Aku sedang tak ingin menceritakan kisahku, Bil. Tolong jangan tanya dulu. Tunggu, siapa yang memberitahumu?” Pikiranku langsung tertuju pada Richard, karena hanya dia satu-satunya yang tahu bagaimana perasaanku saat ini.


“Tak penting siapa yang memberitahuku, kenapa kamu tak memberitahuku? Kamu sudah tak menganggap persahabatan kita?”


Aku menghela napas. Apapun yang terjadi, aku selalu tahu kalau Nabila selalu ada di pihakku. Mataku mulai berair lagi, karena haru oleh sikap Nabila yang sudah seperti kakak untukku.  Aku beringsut mendekati tempat duduknya dan memeluk sahabatku yang sudah bukan gadis lagi, ia sudah menjadi wanita seutuhnya.


Nabila hanya mengelus rambutku, tak bertanya atau coba memberiku kalimat yang menenangkan. Yang di lakukan Nabila sudah cukup menenangkanku, aku tidak butuh kalimat apapun, aku hanya butuh tempat untuk menumpahkan semua rasa frustrasi yang sudah kupendam sejak lama.


“Hubungi aku jika kamu punya masalah, jangan menyimpannya sendiri. Aku tak mengenal Liliana yang lemah seperti ini, apa jangan-jangan kamu sedang di rasuki.”


Aku terpaksa tertawa mendengar ucapan Nabila yang tiba-tiba itu. Dia ini memang selalu ceplas ceplos dan cenderung menyakitiku dengan ucapannya, tapi kadang-kadang kalimat itu bisa menghiburku. Dia ini sahabat yang serba bisa.


“Kalau begitu lebih baik menginap di sini saja malam ini,” ucapku masih sesenggukan dengan wajah yang sangat berantakan.


Aku langsung melepaskan pelukanku dan menatap Nabila galak. Bisa-bisanya di saat seperti ini, ia masih memikirkan ranjang. “Hei!”


Nabila hanya tertawa melihat reaksiku, ia bahkan sampai memegangi perutnya karena tertawa. Aku menatapnya kesal, ya aku tahu dia ini pengantin baru, aku hanya kesal ketika ia membicarakan soal ranjang. Ingatanku hanya tertuju pada Dimitri. Ah, sial.


**


Di hari sabtu pagi ini, aku kembali membuat janji dengan Richard.  Aku akan menemuinya di rumah sakit tempat ia bekerja. Biasanya aku akan lebih memilih untuk menggulung diriku di kasur seharian atau menyelesaikan tugas kantorku, tapi sepertinya aku sudah muak dan aku butuh menghirup udara segar. Jadi, aku menerima saja ajakan Richard ini.


Ini masih pukul sembilan, dan katanya ia akan menemaniku seharian ini untuk jalan-jalan. Aku mengiyakan saja tanpa membantahnya. Aku sebenarnya sangat benci dengan bau rumah sakit, karena itu aku sangat menjaga diriku agar tidak sakit. Sangat bertolak belakang sebenarnya dengan kebiasaanku yang suka begadang dan lupa waktu.


Aku membenci diriku ketika sakit, tapi melakukan apapun sesukaku tanpa peduli aku akan sakit. Manusia kadang selucu itu, dan aku bagian dari populasi manusia itu. Aku mengetuk pintuku di salah satu ruangan yang sudah bertuliskan Richard P. Jagratara di depan pintunya. Aku langsung membuka pintu tersebut ketika sudah terdengar suara dari dalam ruangan itu.


Richard memberiku senyum ketika melihatku masuk. Ruangannya rapi, tak sebesar ruanganku di kantor tapi cukup nyaman. Ada sofa tunggal yang di peruntukkan untuk tamu  di depan meja kerjanya. Rak buku yang berada di samping meja kerjanya, tiang untuk menggantung jas dokternya. Hanya itu, sangat sederhana.


Richard terlihat membereskan beberapa barangnya sebelum beranjak dari duduknya. “Ayo berangkat.”


Aku hanya mengekor di belakangnya, di sepanjang koridor menuju pintu keluar, tampak beberapa suster tersenyum padaku dan Richard. Aku hanya menundukkan kepala melihat semua itu. Aku jadi berpikir apa hanya aku wanita yang pernah datang mengunjungi Richard?


“Kita mau kemana sepagi ini?” tanyaku setelah kami berada di mobil.


“Taman bermain?” tanyanya sambil mengangkat alis dan tersenyum dengan manis.


Aku menatapnya ngeri, entah apa yang ada di pikiran pria ini.”Taman bermain?! Kamu gila? Aku sudah dua tujuh.”


“Dan aku dua delapan. Ada masalah dengan itu? Taman bermain ditujukan untuk semua orang, banyak juga pasangan yang kencan di sana.”


“Kamu sedang mengajakku kencan?”


Richard menatapku dengan senyuman, pria ini sangat terlihat berbeda hari ini. Aku masih meyakini ia di rasuki sesuatu. Aku tahu dia memang manis sejak pertemuan pertama kami, tapi aku tak tahu ia akan semanis ini.


“Mungkin untuk menghiburmu, siapa yang tahu kalau aku bisa merubah hatimu dengan cara ini. Itu keinginanmu, kan?”


Richard kembali fokus menyetir. Aku memang mengatakan itu, tapi aku tak tahu ia serius dengan ucapanku. Itu hanya ucapan sambil lalu yang kuucapkan karena memang tak ada yang bisa kukatakan lagi. Hatiku sepertinya tak semudah itu untuk berubah.


Karena ini hari sabtu, jalanan cukup padat, dan orang-orang yang berkunjung ke taman bermain ini cukup padat. Wajar saja, setiap orang pasti memanfaatkan kesempatan ini untuk berlibur dan merilekskan pikiran. Kalau begitu aku akan melakukan hal yang sama, walaupun sebenarnya ini sangat tak cocok untukku.


**


“Bagaimana menurutmu? Taman bermain tak buruk juga, kan?” tanya Richard setelah kami selesai mencoba berbagai wahana yang ada di sini. Hampir semuanya sudah kami coba, dan walau berat mengakui tapi hari ini cukup membuatku terhibur.


“Aku tak tahu kalau seleramu kekanak-kanakan, tapi ya, aku menikmatinya.”


Aku tersenyum tipis sembari menyantap nasi goreng di hadapanku. Ini sudah lewat dari jam makan siang, karena kami terlalu terlarut dalam berbagai wahana permainan yang kami coba. Aku tak pernah mengunjungi taman bermain ketika di sini. Hidupku hanya untuk bekerja. Bisa di bilang aku seperti anak rumahan.


Menyendiri seperti terapi untukku, aku mendapatkan tenagaku lagi ketika sedang sendiri. Selama lima atau enam hari aku bekerja selama satu minggu, aku selalu bertemu banyakorang, membahas banyak hal, bahkan harus berbincang dengan orang yang tak kusukai. Itulah kenapa ketika hari libur, aku lebih memilih mendekam di rumah, pengetahuanku hanya seputar pekerjaanku dan hal yang berkaitan.


Selera musikku juga sangat klasik. Aku tak menyukai musik sekarang yang kebanyakan mengambil genre EDM, itu memang sedang meledak belakangan ini, tapi aku tak bisa menikmatinya. Aku menyukai music apapun, tapi jika itu tak bisa di terima pendengaranku, maka tak akan kudengarkan.


“Terserah kamu mau bilang apa, yang jelas beban pikiranmu sudah pasti berkurang, kan?”


Aku benar-benar menyukai Richard yang perhatian seperti ini, tapi entah kenapa aku selalu merasakan hal lain ketika ia mencoba menghiburku. Seperti ia bertanggung jawab atas rasa sakit yang kuderita selama ini.


“Kamu tak harus melakukan ini, aku baik-baik saja. Aku justru tak bisa menikmatinya jika kamu seperti ini.”


Kami saling bertatapan, ia seperti bisa membaca apa yang sedang kupikirkan, dan aku tak tahu apa yang sedang ia pikirkan. Apapun itu, aku lebih baik tak mendengarnya. Kenyataan kalau ia adalah kakak Michelle dan rival Dimitri masih mampu tercetak jelas di memoriku. Aku tak membencinya karena dua hal itu, lebih tepatnya aku tak memiliki hak untuk membencinya karena hal itu.


Richard pria baik, dan aku tahu itu. Aku ingin dia melakukan semua ini bukan atas dasar rasa tanggung jawab atau rasa bersalah. Ini rasa sakitku, dan biar aku yang merasakan semua ini.


“Aku hanya ingin membuat perasaanmu lebih baik. Kamu bisa mengandalkanku untuk seterusnya, Li,” ucapnya. Matanya masih menatapku lekat.


“Apa yang kamu lakukan ini masih karena rasa bersalah? Atau kamu benar-benar tulus melakukannya?” tanyaku.


“Jika aku jawab karena aku sudah menyukaimu sejak awal, apa kamu akan percaya?”


Itu jawaban yang tak terduga. Sejak ia mengatakan Michelle adalah adiknya, dan aku tahu tentang masa lalunya, aku sudah tak pernah berharap Richard memang benar-benar menyukaiku.


“Aku ingin percaya, tapi rasanya sangat sulit. Semua ini membuat rasa percaya diriku berkurang. Lebih baik kamu buang perasaan apapun yang kamu miliki padaku. Walaupun aku tak membencinya, aku lebih suka fakta kalau kamu melakukan semua ini karena rasa bersalah.”


“Aku pikir seperti inilah perasaan Dimitri dulu ketika di tolak oleh Arumi.” Richard tersenyum tipis, seperti kecewa dengan jawabanku. Memangnya ia berharap aku akan menjawab seperti apa? “Apa kamu secinta itu pada Dimitri? Sampai tak membiarkan pria lain memasuki hatimu?”


“Apa cinta seperti ini? Kalau ya, berarti aku dalam masalah besar. Hatiku sudah hancur lebih dulu sebelum memulai apapun,” ucapku dengan getir. Aku bahkan belum memulai apapun, tapi semuanya mengharuskan aku untuk mengakhirinya. Sangat tak adil untukku.


**