
Jadi aku lagi libur dan bisa nulis ini, setelah ini aku belum tau lagi kapan bakal nulis lagi. Jadi harap bersabar ya^^ Aku agak susah banget nulis scene yg manis-manis gini. Pengennya bikin menderita aja gitu wkwk. Karena kalian bilang jangan end dulu, aku jadi belum tau kapan ini bakal berakhir, happy reading ya^^
- - -
Ada yang berubah sejak pembicaraan Dimitri dan Lilliana tempo hari. Dimitri yang semakin perhatian terhadap Liliana, walaupun hal itu tak terlalu berpengaruh tapi Dimitri mencoba. Perasaan Liliana masih merasakan keraguan terhadap Dimitri, tapi pria itu tetap berusaha keras. Komunikasi mereka cukup lancar, walau Liliana hanya membalas seadanya. Dimitri merasa seperti kembali ke masa pertemuan pertama mereka, ketika mereka belum mengenal satu sama lain.
“Jadi sekarang kamu lagi bermain ‘tarik ulur perasaan Dimitri’?” tanya Nabila ketika Liliana mengunjunginya.
Liliana tertawa. Ia tak merasa seperti itu, perasaannya pun sampai saat ini masih terombang-ambing. Tak semudah itu untuk mengembalikan keadaan seperti dulu. Jika ini bukan tentang hatinya, maka Liliana tak akan seperti ini.
“Kamu pikir begitu? Aku hanya…aku tak bisa menerima, dan tak bisa menolaknya juga.” Liliana mengangkat bahunya acuh, ia tak berniat mempermainkan perasaan Dimitri. Mungkin hanya sedikit mengujinya.
“Aku gak akan nyalahin kamu, sulit untuk mengembalikan keadaan seperti sebelumnya, kan?”
Liliana tak menjawab, ia hanya memandang Aidan—bayi Nabila—yang sedang tertidur di dalam boks bayi. “Aku sudah menghadapi ketakutanku, Bil. Aku tak berharap apapun lagi pada Dimitri, mungkin hanya biarkan waktu yang menjawab semuanya.”
“Bagaimana dengan pria lain? Mungkin kalau dia tahu kamu punya pacar, dia akan mundur.”
Liliana menatap Nabila. Ia tak pernah memikirkan pria lain lagi selain Dimitri, bahkan Dewa sekalipun. Kabarnya Dewa sudah di tunangkan dengan gadis lain oleh kedua orang tuanya. Liliana harus bersyukur untuk yang satu itu, Dewa terlalu baik untuknya dan dia pantas mendapatkan gadis terbaik asal itu bukan Liliana.
“Kamu gak punya saran lain selain cari cowok lain? Aku udah terlalu muak sama cowok, dan ya, cukup Dimitri aja,” ucap Liliana dengan lelah.
Ia benar-benar tergiur dengan gagasan untuk hidup selibat, tapi ia tahu orang tuanya tak mungkin mengizinkannya melakukan hal itu. Orang tua mana yang ingin putrinya untuk hidup selibat?
“Aku tahu perasaan gak bisa di paksa, Li, tapi dengan kamu kayak gini, itu Cuma semakin menyakiti diri kamu sendiri. Kamu udah ketemu Dimitri, kamu tahu apa yang dia hadapi dan kamu memilih menghindarinya, lalu sekarang kamu kembali menggantungkan perasaan pria itu. Kamu gak lelah dengan semua ini?”
“Apa menurut kamu dengan kasih kesempatan untuk Dimitri, bisa membantu aku untuk mengubah perasaanku?”
Nabila menatap sahabatnya dengan penuh kasih. Mudah baginya untuk mengatakan saran dan juga nasehat, tapi ia tahu hal itu tak mudah untuk di lakukan oleh Liliana. Nabila tahu betapa Liliana mencintai Dimitri, bahkan sekarangpun ia masih bisa melihat perasaan itu.
“Lakukan yang terbaik untuk hatimu, tapi tolong jangan berlarut-larut untuk menyiksa dirimu.” Nabila membelai puncak kepala Liliana. Sejak dulu Nabila selalu berperan sebagai kakak untuk Liliana, dan sekarang pun masih ia lakukan. Ia tahu Liliana memiliki hati yang sangat lembut, melihatnya tersiksa selama ini membuatnya tak rela. Kenapa ia harus menyakiti dirinya jika bisa harus memilih? Tapi ia tahu, tak semua pilihan mampu menjadi yang terbaik untuk diri kita.
Walaupun kadang kita bisa mengorbankan suatu hal untuk hal yang lainnya, itu tak pernah berlaku sama untuk orang lain. Bisa saja hal yang di korbankan itu justru semakin menyakiti seseorang. Semuanya hanya soal waktu, waktu bisa menyembuhkan segalanya,dan itu tak bisa terjadi dalam waktu yang singkat. Kadang bisa bertahun-tahun, kadang hanya sebentar.
Jika kamu merasa waktu tak bisa menyembuhkanmu, mungkin kamu harus lebih membuka hatimu lagi. Jangan biarkan hatimu terjebak dalam lubang hitam masa lalu menyakitkan, jangan pernah biarkan masa lalu itu membelenggumu.
**
Sudah satu bulan sejak hubungan Liliana dan Dimitri membaik. Membaik dalam artian Dimitri yang berusaha keras melakukan itu. Bukan berarti Liliana menolak semua itu, ia hanya belum bisa menetapkan pilihan pada perasaannya terhadap Dimitri. Ia menerimanya, tak ada alasan untuk menolaknya. Rasa cinta itu masih ada di
hatinya walau sudah berusaha ia sangkal.
“Masuk,” ucap Liliana ketika mendengar ketukan pintu di ruangannya.
“Mbak, ada Pak Dimitri di luar,” ujar Ayu dari arah pintu.
Liliana menatap ponselnya, dan melihat kalau ini sudah jam makan siang. Mereka cukup sering makan siang bersama dan Dimitri memang yang selalu menjemput Liliana walaupun jarak kantornya yang cukup jauh.
“Suruh masuk saja, Yu.”
Ayu lalu menutup pintu tersebut, dan tak lama kemudian Dimitri muncul dengan satu kantong kertas yang bertuliskan nama salah satu restoran.
“Aku gak ganggu, kan? Ini udah jam makan siang soalnya,” ucap Dimitri dengan senyum lebar.
Liliana hanya tersenyum tipis, ia selalu tak tahu harus bersikap seperti apa jika menghadapi Dimitri. Ia belum terbiasa dengan Dimitri yang seperti ini.
“Aku bahkan gak tahu kalau ini udah jam makan siang.” Liliana beranjak menuju sofa yang juga di tempati Dimitri.
Hatinya selalu menghangat jika mengingat semua perlakuan manis yang di berikan Dimitri, karena itu ia ingin mencoba agar hatinya semakin terbuka dan mampu menerima pria ini kembali.
“Kamu kayaknya harus mulai ngurangin kerjaan kamu, kamu selalu bekerja keras sejak dulu padahal kamu bisa sedikit bersantai,” ucap Dimitri yang mulai mempersiapkan makanan yang ia bawa.
“Aku gak tahu kamu bisa kayak gini, aku belum terbiasa dengan Dimitri yang sekarang.”
Dimitri hanya tersenyum miring, ia juga tak tahu kalau rasa cinta bisa mengubah sifatnya menjadi seperti ini. Cinta itu mengerikan dalam artian yang baik.
“Kalau begitu biasakan, aku akan membuatmu semakin terkejut.” Dimitri mengedipkan sebelah matanya pada Liliana sebelum menyantap makan siang yang ia bawa.
Liliana hanya tersenyum. Ia yakin Dimitri mampu meluluhkan hatinya, sejak dulu pria itu selalu berhasil meruntuhkan pertahanan Liliana. Tak peduli bagaimanapun caranya, pria itu selalu berhasil. Mungkin dalam beberapa waktu Liliana mampu membuka hatinya kembali dengan sepenuhnya.
**
“Kevin?” Liliana menyapa seorang pria yang terlihat jelas dari punggungnya kalau itu Kevin. Pria itu sedang duduk di sofa yang berada di lobi. Sepertinya Dimitri tak pernah mengatakan kalau Kevin yang akan menjemputnya, pria itu bahkan sudah dalam perjalanan untuk menjemputnya.
“Kak Lili,” ucap Kevin yang terdengar canggung. Pria itu segera berdiri dari duduknya ketika mendengar Liliana memanggilnya.
Liliana menatap Kevin penuh selidik. Sepertinya urusan pria ini bukan dengannya, tapi terlihat aneh ketika melihat Kevin di kantornya dengan keadaannya yang canggung seperti itu.
“Kamu nunggu siapa?” tanya Liliana lagi.
Kevin menggaruk tengkuknya yang sudah pasti tak gagal. Ini pertama kalinya lagi setelah sekian lama, Liliana melihat Kevin yang canggung seperti ini. Apa Kevin diam-diam memiliki wanita yang di suka di kantornya ini? Kenapa Liliana bahkan tak tahu?
“Well, semoga Kakak gak marah kalo aku bilang ini, tapi aku nunggu…,”
Liliana menoleh ke belakang ketika mendengar suara ketukan heels yang mendekat ke arah mereka. “Ayu?”
Liliana menutup mulutnya tak percaya. Bagaimana mungkin sekretarisnya itu memiliki hubungan yang tak di ketahuinya bersama sahabatnya sendiri?
“Mbak Lili,” Ayu pun terlihat sama terkejutnya. Ketika ia turun tadi, ia berpikir bosnya ini sudah pulang terlebih dahulu. Tapi siapa sangka kalau mereka justru akan bertemu dalam keadaan seperti ini.
“Enggak.”
“Iya.”
Liliana tertawa lagi mendengar jawaban yang tak kompak itu. Ayu yang menjawab tidak, dan Kevin yang menjawab iya. Kenapa rasanya jadi seperti ia memergoki adik kecilnya sedang berpacaran secara diam-diam.
“Sejak kapan?”
“Mbak Lili, ini gak kayak yang Mbak pikirin. Saya dan Pak Kevin—“
“Aku gak keberatan sama hal itu, Yu, aku cuma gak nyangka kalau kalian punya hubungan dan aku gak sadar dengan semua itu,” potong Liliana. Ia tahu kekhawatiran sekretarisnya itu.
Ayu memang sekretarisnya, tapi kalau ia memang menyukai Kevin, apa yang salah dengan hal itu? Bukankah itu justru hal baik?
“Kakak gak marah?” tanya Kevin.
“Dan kenapa aku harus marah? Selagi kamu gak nyakitin Ayu dan bikin kerjaan Ayu berantakan, aku baik-baik aja dengan semua itu.” Liliana tersenyum menatap Kevin dan juga Ayu.
“Mbak Lili…,”
“Kamummau aku berubah pikiran, Yu?”
Ayu hanya menggeleng di tempatnya berdiri. “Kalau begitu pulanglah. Dan Kevin, pastikan kamu tak menyakiti Ayu atau aku akan benar-benar membunuhmu!”
Kevin menunjukkan kedua jempolnya. “Kakak bisa memegang kata-kataku. Kami pergi dulu.”
Setelahnya, Kevin menggandeng tangan Ayu dan mengajaknya pergi. Liliana tersenyum melihat kepergian sahabat dan juga sekretarisnya itu. Ia benar-benar tak menyangka kalau hal seperti ini akan terjadi. Kevin selalu menyukainya sejak dulu, ya walaupun ia juga seorang pemain wanita juga. Ini pertama kalinya ia melihat Kevin menggandeng seorang wanita dengan posesif seperti itu.
Ia tak tahu berapa lama mereka berhubungan, tapi ia benar-benar ikut senang dengan apa yang terjadi. Kevin dan Ayu adalah perpaduan yang unik, mungkin mereka akan saling melengkapi, semoga saja Kevin mampu menjaga sekretarisnya itu dengan baik.
**
“Kamu kenapa senyum-senyum dari tadi?” tanya Dimitri heran. Mereka sedang ada di mobil menuju apartemen Liliana setelah selesai makan malam tadi.
“Kamu tahu kalau Kevin pacaran sama sekretaris aku?”
“Tahu, aku yang bantuin Kevin. Kamu gak tahu?”
Liliana mendadak menatap Dimitri dengan kaget. “Kamu tahu dan gak kasih tahu aku?”
“Aku pikir Ayu cerita sama kamu. Kevin agak takut kalau sampai kamu tahu hal ini, itulah kenapa aku gak kasih tahu kamu.”
Liliana masih menatap Dimitri, ia sudah duduk menyamping karena kalimat Dimitri tadi. Ia bahagia dan juga kaget, mereka pasangan yang manis dan Liliana ikut bahagia karena hal tersebut. Sebenarnya tak ada hal lain yang ia khawatirkan selain Kevin yang akan menyakiti Ayu. Selebihnya, ia akan selalu mendoakan kedua pasangan baru itu.
“Katakan pada Kevin untuk menjaga Ayu dengan baik, atau aku akan membunuhnya.”
Mobil berhenti dengan pelan. “Sudah sampai,” ucap Dimitri dengan senyuman menatap Liliana yang masih menatapnya.
Liliana segera membenarkan duduknya, walaupun cahaya di mobil ini cukup gelap, hanya dengan bantuan lampu jalan yang tak terlalu membantu. Ia bisa melihat dengan jelas senyum Dimitri, yang entah kenapa membuat dadanya berdebar.
“A—aku keluar dulu.”
Dimitri seketika menangkap tangan Liliana yang akan membuka pintu mobil. Beruntunglah cahaya temaram ini membantunya untuk menutupi wajahnya yang sudah memerah itu.
“Aku…bagaimana kalau kamu di sini dulu sebentar. Aku masih ingin bersamamu.”
Liliana tak menatap Dimitri, ia hanya kembali duduk dengan tenang di kursinya dengan tangannya yang masih dalam genggaman Dimitri. Mereka hanya duduk di mobil itu tanpa berbicara apapun. Walaupun suasana sangat canggung di antara mereka, mereka tetap menikmatinya dengan baik, genggaman Dimitri juga semakin mengerat
pada jemari Liliana.
“Kamu.”
“Al.”
Mereka berdua lalu tertawa karena kekonyolan yang baru saja mereka lakukan. “Kenapa kita sekonyol ini?” ucap Liliana geli.
“Kamu mau mampir mungkin? Daripada kita di mobil kayak gini, ini juga baru jam tujuh,” ucap Liliana lagi. Pikiran itu baru saja mampir di kepalanya, dan ini yang pertama kalinya setelah Dimitri sering mengantarnya pulang.
Agak sedikit beresiko ketika mengundang seorang pria ke apartemen miliknya, walaupun di masa lalu mereka sudah melakukan segala hal lebih dari yang mereka lakukan saat ini. Tapi tetap saja itu akan sangat aneh. Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi di dalam apartemen itu, mengundang Dimitri ke apartemennya berarti Liliana sudah siap untuk membuka hatinya untuk pria itu.
Mungkin terdengar berlebihan, hanya berkunjung sebagai tamu, kenapa harus berpikir sejauh itu? Apalagi sekarang ini hal tersebut sudah sangat lumrah untuk para pemuda pemudi yang hidup di ibukota. Berpikir secara positif saja, kenapa harus memikirkan hal yang negatif?
“Aku ingin melakukan itu, tapi sekarang bukan waktu yang tepat. Aku tak yakin akan melakukan apa di dalam sana.”
“Yah, Dimitri yang dulu sudah kembali.” Liliana tersenyum untuk suatu hal yang membuat jantungnya semakin berdebar.
“Kamu sepertinya sangat merindukan Dimitri yang itu.”
“Anggap saja seperti itu.” Liliana mengangkat bahunya acuh tanpa menatap Dimitri.
Dimitri menarik jemari mereka yang tergenggam dengan lembut, membuat Liliana seketika menatap Dimitri. Mereka kembali bertatapan dalam jarak yang sangat dekat. Jantung Liliana semakin berpacu dengan kencang. Liliana memejamkan matanya ketika Dimitri mendekatkan wajahnya, dan ia mengecup kening Liliana lama, seperti ingin menyalurkan perasaannya melalui kecupan itu.
“Akan kupastikan hatimu terbuka hanya untukku. Ketika saat itu tiba, aku akan membuatmu jatuh cinta berkali-kali padaku, dan kamu hanya mampu melihatku.”
Dimitri menatap mata Liliana dengan kesungguhan di matanya. Ia sudah bertekad untuk menebus semua kesalahannya dan memastikan wanitanya ini hanya akan jatuh cinta padanya. Mungkin sedikit egois, tapi ia sudah melewatkan banyak hal karena kesalahannya dulu. Kali ini ia takkan mengulangi kesalahan bodoh itu dan memastikan wanita ini hanya ada di sampingnya.
**