PLAYBOY

PLAYBOY
Damage



Hai aku kembali, apa kabar kalian hari ini?


Aku bawain updatean baru, dan ini udah memasuki tahap ending. Jadi kalian berharap ending seperti apa untuk kisah mereka?



Ruanganku berada di lantai lima, cukup tinggi untuk memandangi jalan raya di bawah sana. Jika melihatnya dari ruangan Dimitri yang berada di lantai sepuluh maka akan lebih indah, apalagi jika meliihatnya ketika malam hari. Aku mudah bahagia hanya dengan hal kecil seperti itu, aku menyukai segala hal yang sederhana, begitupun dengan masalah yang sedang kuhadapi.


Mungkin terdengar meremehkan, tapi aku lebih suka menyederhanakan suatu masalah lalu segera mencari solusinya. Aku tak terbiasa meninggalkan suatu masalah yang belum terselesaikan, itu sangat membebani pikiranku. Seperti yang sedang kuhadapi saat ini, memang benar adanya kalau cinta itu membodohi seseorang.


Aku tak ingin menghakimi cinta, tapi pada kenyataannya aku sedang merasakannya. Mungkin aku jatuh cinta pada waktu yang salah, atau mungkin aku jatuh cinta pada orang yang salah. Entahlah, yang jelas semua yang kurasakan saat ini adalah hal yang salah. Untuk hatiku dan juga pikiranku. Aku butuh menyucikan pikiranku agar berhenti pesimis, dan kembali optimis seperti dahulu. Aku bahkan merindukan diriku yang dulu.


Karena itulah aku sudah memutuskan, aku harus berlibur dan cuti, agar pikiranku kembali tercerahkan dan aku mampu menyelesaikan masalahku. Karena itu juga aku sudah membuat janji temu pada Kevin dan juga Dimitri. Mereka adalah dua orang yang sangat kuhindari, tapi sayangnya mereka juga bosku, apalagi yang bisa kulakukan selain mendapatkan tanda tangan mereka untuk menyetujui rencana cutiku.


Pasti akan terasa canggung bertemu mereka, tapi lagi-lagi aku sangat ahli dalam bersikap profesional. Apa kalian berpikir selama ini aku tak menegur mereka selama ada di kantor? Itu sangat mustahil, karena apapun yang kulakukan aku pasti akan bertemu mereka, entah itu dalam rapat atau berpapasan di koridor atau lobi.


Kalian penasaran apa yang kulakukan?


Tentu saja aku akan bersikap sopan dan menegur mereka. Tak ada sapaan akrab seperti biasa, hanya sapaan profesional sesaat. Sudah dua bulan berlalu, dan itulah yang kami lakukan. Aku seperti sudah sangat familiar dengan keadaan itu, seperti sudah seharusnya seperti itu. Aku tak tahu apa isi pikiran kedua sahabatku, tapi kami sudah bukan seperti sahabat lagi, seperti orang asing.


Kecewa sudah pasti, tapi sebagian dari harga diriku selalu meneriakiku untuk tak melakukan hal bodoh dengan memulai pembicaraan pada mereka lebih dahulu. Dan aku benar-benar melakukannya, tapi yang membuatku makin kecewa adalah mereka tetap diam, seperti sudah seharusnya seperti ini.


Memang sepertinya tak ada yang bisa di perbaiki dari hubungan kami, entah itu persahabatan atau yang lain—itupun jika ada—atau itu hanya perasaanku saja. Wanita selalu berlebihan dalam menilai perasaan seorang pria, kan?


**


Aku tersenyum ketika melihat Kevin memasuki kafe ini terlebih dahulu, ia hanya membalas senyumanku dengan canggung. Mungkin Kevin tak menyangka aku melakukan hal seperti ini. Tak lama setelah itu Dimitri juga berjalan masuk menuju meja kami, entah kenapa aku merasakan jantungku yang berdebar. Apa aku begitu merindukannya?


Bukankah sangat tak tahu malu ketika aku masih merasakan hal seperti ini? Ingatlah jika Dimitri sudah menjadi tunangan Michelle. Aku hanyalah seorang sahabat yang coba untuk memanfaatkan status kami, sama seperti yang di katakan Michelle tempo hari, dan lucunya aku mengiyakan kalimatnya jauh di lubuk hatiku.


“Sudah sangat lama, kan, sejak terakhir kita berkumpul seperti ini?” ucapku dengan senyuman lebar, menatap kedua sahabatku yang menatapku dengan canggung.


Kali ini aku mengabaikan teriakan harga diriku yang memintaku untuk tak melakukan hal bodoh. Mungkin ini memang hal bodoh, anggap saja ini terakhir kalinya aku melakukan hal bodoh. Mungkin aku memang pintar, tapi tak selamanya aku melakukan semuanya dengan sempurna. Itupun jika kalian menganggapku pintar.


“Ya, aku merindukan saat itu. Kenapa kita tak merayakannya saja?” itu suara Kevin yang mulai tersenyum menanggapiku. Ia menatap Dimitri seperti meminta persetujuan. Dimitri hanya mengangkat bahunya acuh. Sangat terlihat jelas kalau ia tak terlalu menyukai ide ini. Biarlah, aku melakukan ini untuk diriku, bukan untuknya. Toh, dia juga selalu seperti itu pada pekerjanya.


“Tapi setelah itu kalian harus menandatangani pengajuan cutiku. Aku melakukan ini karena hal itu,” ucapku. Aku mengeluarkan amplop coklat yang berisi kertas yang harus mereka tandatangani nanti.


“Cuti?” Dimitri dan Kevin menanyakan hal yang sama dengan terkejut.


“Ya, cuti tahunan. Aku belum memgambilnya sejak awal tahun, lagipula itu hakku, dan kalian tak perlu mengkhawatirkan pekerjaanku. Aku sudah merangkai ini dengan sedemikian rupa, jadi kalian tak perlu khawatir.” Aku menunjukkan senyum lebarku pada mereka.


“Kakak tak pernah memberitahu…,”


“Sekarang aku sedang melakukannya,” potongku.


Aku tahu kelanjutan kalimat itu. Jika di katakan ketika kami masih bersahabat, maka itu terdengar sangat biasa. Kami sekarang bukan sahabat, hanya rekan kerja, yang kuharap masih ada harapan untuk persahabatan kami kembali, tapi sangat tak mungkin sepertinya.


“Apa yang akan kamu lakukan selama cuti?” Pertanyaan pertama yang di ajukan Dimitri setelah menutup mulutnya sejak tadi.


“Entahlah, mungkin mengunjungi Bapak sama Ibu, atau keliling dunia menghabiskan uang tabunganku. Yang terpenting untuk menjernihkan pikiranku.”


“Jadi pertemuan ini untuk merayakan cuti Kakak? Harusnya ada champagne di sini, lalu bukan di kafe ini, terlalu sederhana untuk Kakakku yang sangat spesial.” Kevin mengedipkan matanya padaku dan aku tersenyum karena hal itu.


Kevin adalah pria yang mampu menyesuaikan diri dengan keadaan, walaupun awalnya canggung, pada akhirnya ia bisa mengatasi semuanya dengan baik. Sangat berbeda dengan Dimitri yang sangat serius.


Sedangkan aku, saat ini yang kulakukan adalah, harus kusebut apa yang kulakukan saat ini? Aku sudah sangat menyesuaikan diri dan memposisikan diriku di tempat yang tepat. Kalaupun pada akhirnya persahabatan kami sudah tak tertolong, aku tetap menjaga privasi kami agar sesuai pada tempatnya. Aku tak melewati batas dengan


memaksa mereka menceritakan semua kisah mereka.


“Kalau aku spesial, harusnya kamu menyiapkan bonusku bulan ini agar cukup untuk cutiku.”


“Akan kulakukan, Kak, aku selalu menepati janjiku.”


Aku melirik Dimitri dari ekor mataku, entah apa yang sedang ia pikirkan. Apa ia begitu bosan ketika berkumpul denganku?


**


Berbanding terbalik dengan hubunganku dan Richard, kami semakin lama menjadi semakin dekat. Mungkin karena kami sering menghabiskan waktu bersama. Kami tak berteman, hanya bersikap ramah satu sama lain. Ia berusaha terlalu keras untuk memenangkan hatiku, tapi entah kenapa itu tak benar menurutku.


Jika di bandingkan, Richard jauh lebih baik di banding Dimitri. Tapi aku tak bisa merasakan debaran menyenangkan ketika bersama Richard. Aku sudah melabeli Richard sebagai pria yang mendekatiku karena rasa bersalahnya, karena jika bukan karena itu, aku yakin Richard tak akan melakukan semua ini. Menjadi dokter saja sudah sangat sibuk, untuk apa menyibukkan diri lagi demi wanita sepertiku?


Richard terlalu baik untukku. Aku sudah tak utuh lagi, dan untuk memulai hubungan baru bersama pria baru rasanya sangat tak adil. Tak adil untuk sang pria, karena ia bisa saja mendapatkan wanita yang lebih baik di bandingkan dengan aku. Mereka akan segera menceraikanku segera pada malam pertama, jika benar aku akan


menikahi seorang pria baru.


Anggap saja ini bentuk penebusan semua dosaku. Dosaku sudah terlalu banyak dan aku merasa tak pantas menjadi manusia. Itulah salah satu alasan kenapa aku tak bisa menerima Richard jika perasaannya padaku memang tulus. Begitupun dengan Dewa, pria itu sangat terlalu baik untukku. Aku sangat tak pantas jika harus


Hidup selibat terdengar sangat menyenangkan, tapi aku tahu kedua orang tuaku tak akan menyetujuinya. Anak satu-satunya dan memilih untuk selibat, bukankah anaknya itu sangat mencoreng nama keluarganya sendiri?


Saat ini, aku hanya benar-benar ingin menghabiskan waktuku seorang diri tanpa ganguan apapun, tanpa masalah yang menimpaku. Aku ingin meringankan otakku yang sudah sangat buntu ini.


“Kamu menyukai tempat seperti ini?” Richard bertanya padaku ketika aku mengajaknya makan malam di warung tenda yang tak jauh dari apartemenku


“Kamu tak menyukainya?” tanyaku.


Richard terlihat seperti sedang mengevaluasi warung tenda ini. “Aku bukannya pelit, aku cuma lagi pengen makan di sini. Kamu tetep bisa nambah porsi kalo belum kenyang. Aku traktir semuanya.”


“Hanya tak menyangka Manajer sepertimu sangat menyukai warung tenda sederhana ini.” Richard tersenyum menatapku.


“Kamu meledekku?” sungutku.


Richard mengabaikanku dan memilih memesan menu yang akan kami makan malam ini. Sepertinya Richard sudah sering makan di warung tenda ini. Aku membelalakkan mataku ketika melihat abang-abang yang mengantarkan makanan di meja kami.


Tiga porsi nasi putih,  tiga porsi ayam penyet, cah kangkung, ada juga bakso bakar serta tahu dan tempe. “Kenapa banyak banget?” tanyaku ngeri.


“Kamu bilang aku boleh nambah sepuasnya, kan? Biar gak nyusahin abangnya, aku langsung pesen semuanya.”


Aku menatap Richard tak percaya, uang bukan masalah di sini, tapi semua makanan ini. Aku tak menyangka Richard mampu makan sebanyak ini, sangat berbanding terbalik tubuhnya yang sangat terawat dan juga berotot di tempat yang pas.


“Ayo makan.”


**


“Jadi kamu akan cuti?”


Aku hanya mengangguk tanpa suara. Setelah makan malam, kami memutuskan untuk pulang dengan Richard yang mengantarku pulang. Karena jarak yang lumayan dekat, kami memutuskan untuk melanjutkan berjalan kaki saja.


“Jangan merindukanku ketika kita tak bertemu lagi,” ucapku.


“Sekarang saja aku sudah merindukanmu, bagaimana nanti jika kamu cuti selama dua minggu?”


“Apa aku semenakjubkan itu sampai kamu tak bisa berpaling pada wanita lain?”


Aku berjalan mundur di hadapannya sembari mengibaskan rambutku dengan provokatif. Aku sangat senang ketika seorang pria memujiku, siapa yang tak akan senang, kan, jika mendapat pujian?


Tiba-tiba aku kehilangan keseimbangan dalam langkahku dan hampir jatuh jika Richard tak gesit menangkap tubuhku. Jarak kami sangat dekat, Richard memegang kedua pinggulku dengan erat. Lain kali aku akan mengingat diriku agar tak melakukan hal seperti tadi, karena akhirnya sangat memalukan. Beruntung Richard bersedia menangkapku, bagaimana jika tidak?


“Kamu gak papa?” tanyanya khawatir.


Aku berdehem untuk menghilangkan rasa gugupku. Walaupun Richard tak bisa menghadirkan debaran yang menyenangkan, ia tetap bisa membuatku gugup.


Richard seperti tersadar, dan segera melepaskan lilitan lengannya pada tubuhku, tapi tak menghapuskan jarak kami yang dekat. “Kalau kamu belum memiliki destinasi untuk cutimu, kamu bisa ke Singapor,” ucapnya.


Jarak kami tak terlalu dekat, tak juga terlalu jauh. Ia bisa dengan mudah meraih tubuhku untuk masuk kedalam pelukannya atau mungkin menciumku. “Kenapa harus kesana? Aku tak memiliki saudara atau teman yang tinggal di sana.?


“Bertemu orang tuaku, aku bisa mengenalkan duniaku padamu, jika kamu tak keberatan.”


Aku menatap lekat kedua mata Richard, ia menatapku dengan serius juga. Ah, andai saja aku lebih dulu bertemu dengan Richard dibanding Dimitri, keadaannya tak akan seperti sekarang dan aku tak mungkin terlibat dalam urusan cinta yang rumit ini.


**


Aku sudah mendapatkan tanda tangan Dimitri dan Kevin ketika di kafe tempo hari, dan aku sudah resmi memiliki cutiku. Aku saat ini sedang memenuhi dokumen lainnya di ruangan personalia. Meta—kepala Personalia—sedang meneliti dokumen yang kuberikan dengan teliti. Meta ini empat tahun lebih tua dariku tapi selalu muak jika di panggil Kakak.


“Kamu yakin akan melakukan ini? Dimitri pasti akan sangat marah ketika tahu tentang hal ini,” ucapnya untuk yang kesekian kalinya.


“Takkan terjadi apapun, lagipula apa yang bisa ia lakukan. Pria itu sangat pengecut.”


“Aku tak tahu masalah apa yang sedang kamu hadapi, tapi akan lebih baik jika kamu menyelesaikan semuanya lebih dulu.”


Bagiku semua masalah sudah selesai, tak ada yang perlu di selesaikan. Memangnya kami melakukan apa sehingga harus menyelesaikannya. Aku hanya sudah muak dan butuh pelampiasan untuk semua rasa di hatiku.


“Aku lebih suka seperti ini, lebih bebas tanpa ada kekangan. Dan lakukan seperti yang kukatakan, takkan terjadi apapun, percayalah. Aku tahu kamu bisa melakukannya.”


Meta bersungut-sungut mendengar ucapanku. “Tetap saja ia bosnya dan yang menggajiku, bagaimana jika aku kehilangan pekerjaan karena hal ini?”


“Dimitri tak sebodoh itu untuk melakukan itu.”


Dimitri hanya bodoh pada hal lain. Gelas yang sudah hancur berkeping-keping tak akan kembali utuh walau sudah di perbaiki, retakan-retakan itu akan menimbulkan bekas yang tak akan pernah hilang. Sama halnya dengan kepercayaan. Bukan lagi rasa sakit yang kini kurasakan, ini hanya kerusakan kecil yang sudah tak bisa di perbaiki lagi.


**