PLAYBOY

PLAYBOY
Secret



Aku


memutuskan untuk menemui Richard setelah kejadian malam dansa itu. Ini sudah


hampir lewat selama satu bulan. Kami bisa di bilang sangat jarang


berkomunikasi, aku bisa memakluminya. Lagipula aku bukan jenisa wanita yang


suka menuntut sang pria untuk selalu menghubungi dimanapun dan kapanpun.


Itu


hanya berlaku untuk remaja yang baru puber, yang baru menikmati masa-masa indah


berpacaran. Jika di usiaku saat ini, hal itu tak terlalu penting untukku. Hanya


butuh saling percaya dan juga komunikasi. Untuk kasusku maka aku hanya butuh


kepercayaan.


Sejujurnya


aku lebih memilih pekerjaanku di banding berurusan dengan pria, karena


pengalaman yang tak banyak itu menuntutku untuk lebih fokus pada karir yang


sudah susah payah kubangun sejak lima tahun yang lalu.


Aku


duduk sambil berselancar pada timeline instagram.


Aku tak terlalu mengekspos kegiatan pribadiku, karena memang taka da kegiatan


berarti yang bisa kulakukan selain menonton drama dan bekerja. Aku juga suka


menjelajah alam, mengunjungi pantai, sesekali mendaki gunung, atau berlibur di


vila milik Ayah dan Ibuku. Biasanya aku akan mengambil cuti selama dua minggu


untuk melakukan itu.


Hidupku


sangat membosankan, dan tentu saja tak sama dengan cerita-cerita di drama yang


kutonton. Aku melirik pintu masuk, berharap Richard segera datang. Aku datang


satu jam lebih awal, karena aku sangat tak suka jika telat. Alasan lainnya,


mungkin aku merindukan Richard, merindukan pujiannya. Hanya dia satu-satunya


pria yang memujiku sangat sering, mungkin itu hanyalah bentuk sopan santunnya,


tapi aku sangat berterima kasih padanya.


“Hai.”


Aku


mendongak, dan langsung tersenyum ketika menemukan Richard berdiri di


hadapanku. Senyumnya masih semanis ketika pertama kali kami bertemu. “Aku


terlalu cepat datang sepertinya,” ucapku sambil menggaruk kepalaku yang


sebenarnya tak gatal sama sekali.


“Apa


kamu begitu merindukanku?” tanyanya geli.


Apa


aku terlalu murahan? Terlalu menunjukkan betapa aku menyukainya, apa itu baik?


Tapi aku hanya tak ingin munafik, wanita harus jual mahal sedikit, kan? Tapi


aku malah menunjukkan sebaliknya. Sudah kukatakan kalau aku adalah orang yang to the point dan bukan tipe wanita yang


suka memberikan kode.


Jadi


kalau aku menyukainya, maka akan kukatakan kalau aku menyukainya, jika


sebaliknya maka aku akan langsung jujur pada orang tersebut. Bohong itu sangat


tak enak, dan hanya akan menimbulkan masalah di kemudian hari. Aku hanya


menghindari drama dan tragedy. Pikiranku sangat jauh di depan.


“Apa


terlihat jelas?” tanyaku.


Ia


meneliti wajahku sebentar. “Ya, matamu mengatakan dengan jelas kalau kamu


merindukanku.”


“Ah,


bagaimana ini? Mataku terkadang sulit untuk di kondisikan.” Aku menutupi mataku


dengan tanganku dan mulai merengek. Aku menyukai drama kecil kami, dan juga


pria ini.


Richard


tertawa lalu ia duduk di hadapanku. “Apa kamu tak lembur?”


Aku


pernah memberitahukannya tentang aku yang sering bekerja ketika weekend. Padahal ia juga sama, bahkan


lebih parah dariku. “Bagaimana dengan operasimu?”


“Masih


ada lima jam lagi sebelum aku kembali ke rumah sakit,” ujarnya sembari


memperhatikan waktu di jam tangannya.


“Jadi


seperti ini, ya, gambaran tentang memiliki pacar seorang dokter,” ucapku lebih


kepada diriku sendiri.


“Apa


aku pernah mengatakan akan berpacaran denganmu?” tanyanya geli.


Aku


menatapnya kesal. “Aku juga tak pernah menyebut kalau dokter itu dirimu,


memangnya hanya dirimu dokter yang kukenal?” sungutku.


“Tapi


sepertinya hanya aku dokter tampan yang kamu kenal.”


Aku


memutar bola mataku. Tingkat kepedeannya itu patut di acungi jempol, untungnya


dia memang tampan, karena kalau tidak aku akan benar-benar memukul kepalanya.


“Aku ingin minta maaf soal kejadian di pesta kemarin, karena pergi begitu


saja,” ucapku.


“Aku


pikir kamu tak memiliki pacar.”


“Ya,


dia hanya temanku. Kami sudah lama berteman jadi seperti itu,”


Aku


sebenarnya sangat sulit untuk memilih kalimat yang tepat untuk menjelaskan pada


Richard. Tak akan ada yang mengerti mengenai hubungan kami. Kami bersahabat


tapi terkadang kedekatan kami lebih dari itu. Nabila bahkan selalu meyakinkan


kalau pasti Dimitri mencintaiku atau aku menyukainya. Tapi dua opsi tersebut


bukan jawaban yang tepat. Kami hanya sahabat, kan?


“Sepertinya


dia sangat posesif,” ucapnya. Tatapannya berbeda kali ini, seperti sedang


menilaiku.


Aku


hanya memberinya senyum tipis. Posesif dan juga berbahaya. “Apa kamu


mengenalnya?”


“Aku


pernah melihatnya beberapa kali, bukankah keluarga Aldino sangat terkenal?”


Aku


mengangguk mengiyakan, ternyata Dimitri setenar itu. Mendadak aku kehilangan


kalimat untuk kembali menjelaskan, padahal aku sudah menyiapkan semuanya ketika


memutuskan untuk bertemu dengan Richard. Mungkin pria di hadapanku ini terlalu


tampan sehingga aku sama sekali tak berkonsentrasi atau memang aku yang enggan


menjelaskan lebih jauh?


“Kamu


akan memilihku atau temanmu itu?” tanyanya.


Tak


pernah terlintas di pikiranku tentang pertanyaan itu, karena belum pernah ada


yang menanyainya. Aku menaikkan alisku tak mengerti. Aku tak akan pernah


memilih, karena kedua pria ini memiliki perannya sendiri untuk hatiku.


“Jika


aku memintamu untuk menjauhinya, apa kamu akan memilihku?” tanyanya lagi.


Kenapa


kedua pria ini meminta hal yang sama? Apa mereka saling bertemu dan


membicarakan hal yang sama?


“Walaupun


kalian sudah berteman lama, tak ada yang menjamin kamu aman bersamanya,”


Sepertinya


hanya aku yang tak mengerti di sini. Mungkin ini hanya perasaanku, tapi


ucapannya menyiratkan kalau ia sudah mengenal Dimitri, begitupun dengan


Dimitri. Atau pria bisa menilai hanya dengan menatap wajahnya saja? Apa pria


sehebat itu?


“Di


masa lalu, aku pernah mengenal pria yang seperti itu,” ucapnya lagi ketika aku


sama sekali tak menanggapi ucapannya.


**


Perusahaan


tempatku bekerja adalah perusahaan yang bergerak di bidang periklanan. Kami


menangai semua klien yang ingin mengiklankan produknya dengan bantuan


perusahaan tempatku bekerja. Ini adalah perusahaan turun temurun yang selalu di


wariskan dari generasi pertama kakek Dimitri yang membangun bisnis ini.


Rudi


Aldino adalah Ayah Dimitri yang masih memimpin perusahaan ini hingga sekarang,


walaupun Dimitri sudah menjadi CEO saat ini, keputusan tertinggi tetap berada


di tangan Ayahnya. Mungkin karena keluarga ini adalah keluarga pebisnis turun


temurun, sejak kuliah, Dimitri juga sudah mulai berbisnis kecil-kecilan.


Apa


kalian berpikir usahanya seperti menjadi ketua geng motor, berada di dunia


bawah yang hitam itu? Maka kalian adalah pecinta novel sejati. Tapi tidak.


Kisah itu terlalu novel dan aku sering membacanya.


Dimitri


sudah bermain saham sejak kuliah, dan mungkin Tuhan memberkatinya dengan sangat


bahagia ketika ia lahir sehingga dari sekian banyak ia menginvestasikan


uangnya, ia benar-benar berhasil. Dari yang awalnya hanya kecil-kecilan, hingga


ia mampu membeli mobil dengan hasil uangnya sendiri.


Jadi


yang ingin kuceritakan kali ini adalah betapa sempurnanya Dimitri, dari segi


fisik maupun keuangan. Di balik kebiasaan buruknya yang sering bermain wanita,


ia adalah gentleman. Kalian sudah


mengetahuinya sendiri ketika kami bertemu klien duda itu, ya walaupun pada


akhirnya itu semua di akhiri dengan kami yang bercinta di mobil.


Ia


sangat menghormati wanita. Mungkin ini sedikit sulit untuk kalian cerna. Ia


bermain wanita, tapi ia menghormati wanita. Di bagian mananya ia menghormati?


Bukankah itu sama dengan pelecehan? Tapi wanita itu sendiri yang menggoda


Dimitri, jadi kedua pihak saling bersalah sebenarnya. Tak seharusnya Dimitri


menanggapi semua godaan-godaan wanita itu.


Pria


tetaplah pria, mungkin lain kali aku akan menceramahinya tentang maksud


sebenarnya dari menghormati wanita.


aku bisa menghormatinya jika ia melemparkan tubuhnya padaku dengan sukarela,


bahkan menerima bayaranku?” ucapnya kala itu ketika aku menasehatinya untuk


berhenti bermain wanita. Saat itu sepertinya ketika kami baru lulus kuliah dan


akan memulai dunia baru kami sebagai pekerja.


“Ibumu


wanita, bagaimana mungkin kamu bisa melakukan itu. Bayangkan jika wanita itu


adalah Ibumu, atau adikmu, dan ia bertemu pria sepertimu?”


“Ibuku


sangat berbeda, Li, bagaimana kamu bisa menyamakan Mama dengan mereka? Jika aku


bertemu wanita seperti Mama, maka aku akan berhenti bermain wanita.”


Dan


kurasa ia belum menemukan wanita itu. Setidaknya kalian harus melihat Dimitri


ini dari dua sudut pandang, positif dan negatif. Jika kalian berniat


menghilangkan salah satu sudut pandang itu, maka hasilnya sangat buruk.


Hasilnya ada dua, Dimitri sangat amat brengsek, atau Dimitri benar-benar pria


tampan yang sangat sempurna, calon suami idaman sekali.


Aku


sudah menyebutnya sangat brengsek dan juga sangat tampan dan baik hati. Aku


bisa memposisikan diriku ketika ia mulai bersikap brengsek dan baik. Aku sudah


tak kaget lagi dengan semua tingkahnya. Sudah lebih dari lima tahun kami


berteman.


**


Aku


mengetukkan kelima jariku di meja. Ini masih jam kerja dan aku sangat tidak


bernafsu untuk menyentuh seluruh tumpukan laporan itu. Otakku terus memikirkan


ucapan Richard, pertemuan itu membuatku sakit kepala seketika. Richard dan


Dimitri sama-sama memintaku untuk menjauh tapi tak memberiku alasan sama


sekali.


Hanya


saling mengatakan kalau masing-masing mereka adalah pria brengsek. Aku sudah


tahu seberapa brengseknya Dimitri, atau ada hal lain yang tak kuketahui?


Sedangkan Richard, aku benar-benar buta tentang pria ini. Aku hanya tahu


seberapa manisnya ia, dan seberapa jagonya ia menggombal.


Jadi


apa yang harus kulakukan jika sudah seperti ini?


Kevin


tiba-tiba masuk ke ruanganku tanpa mengetuk pintu dulu, dan ia langsung duduk


di kursi yang ada di hadapanku. Ini pasti masalah pertunangan itu. Seminggu


lagi pesta itu akan diadakan, dan Kevin sama sekali tak mengetahui siapa gadis


itu, lebih tepatnya kedua orang tua Kevin tak memberikan identitas wanita yang


akan menjadi tunangan pria ini.


Aku


antara ingin tertawa, tapi kasihan. Sepertinya ia juga sudah pasrah dengan


semuanya, Kevin anak satu-satunya sama seperti Dimitri, dan kedua pria itu


merupakan anak yang berbakti pada kedua orang tuanya. Pria yang sangat tepat


untuk di jadikan suami, kan?


“Pertunangan


itu lagi?” tanyaku.


“Kudengar


wanita itu adalah teman SMA Dimitri, tapi Dimitri juga tak ingin memberitahuku.


Setidaknya aku harus melihat foto wanita itu.” Kevin menghela napasnya, kesal


dan frustasi tergambar jelas di wajahnya.


Jika


wanita itu teman Dimitri, berarti wanita itu lebih tua dari Kevin? “Apa kalau


wanita itu jelek, kamu akan meninggalkan pestanya?”


“Haruskah


aku melakukan itu, Kak?” Kevin memelas menatapku.


Aku


hanya mendengus. “Mungkin aku akan seperti itu juga ketika di jodohkan orang


tuaku.” Aku mulai berkhayal. Sepertinya jika satu atau dua tahun lagi aku tak


menikah, orang tuaku akan mulai membuka sayembara untuk jodoh anak tunggalnya


ini.


“Dimitri


takkan membiarkan hal itu terjadi, ia akan melakukan segala cara untuk mencegah


hal itu. Kadang aku heran, kenapa kalian masih betah dengan persahabatan konyol


ini? Aku tahu apa yang kalian lakukan selama ini.”


Entah


kenapa wajahku memanas tiba-tiba. Ketika Kevin mengatakan itu, entah kenapa


otakku hanya berpikir tentang percintaan kami. Benar-benar!


“Cepat


keluar dari ruanganku. Pekerjaanku terbengkalai karenamu!” Sebenarnya itu hanya


pengalihan topik agar wajah meronaku tak terlihat.


**


Aku


kembali lembur seperti hari-hari biasanya. Lembur dan aku itu satu paket.


Kadang aku hanya ingin berlama-lama di kantorku alih-alih pulang. Tubuhku


lelah, tapi walaupun aku pulang tepat waktu, aku tetap akan terjaga hingga


tengah malam mencari kesibukan. Tubuhku ini seperti sudah memiliki alarm alami


untuk bekerja. Aku hanya beristirahat ketika pulang kerumah orang tuaku.


Sebaiknya


kalian tak mengalami hal ini, karena itu sangat buruk untuk kesehatan kalian.


Sama seperti malam ini, pekerjaanku sudah selesai sejak tiga jam yang lalu, dan


sekarang pukul delapan malam. Aku hanya menghabiskan sisa hari dengan menonton


drama atau membaca ulang pekerjaanku tadi, hingga kantuk menyerangku atau aku


sudah sangat lelah, baru aku akan pulang.


Aku


bangkit dari dudukku, memasukkan seluruh barangku ke dalam tas. Ini masih


terlalu sore untukku pulang, aku akan mengunjungi kantor Dimitri terlebih


dahulu. Ini hari Rabu, ia pasti masih berkutat dengan pekerjaannya di kantor.


Dimitri sama gila kerjanya denganku.


Ruangannya


berada di lantai sepuluh, lantai tertinggi di gedung ini. Aku sudah sangat tak


asing dengan ruangannya, kami saling mengunjungi kantor masing-masing jika


sedang senggang. Aku menempatkan telingaku di daun pintu ruangannya yang


tertutup. Hanya memastikan ia tak sedang bercinta dengan sekretarisnya.


Aku


langsung membukanya tanpa mengetuk, dan di sambut dengan bau wine yang menyengat. Dimitri sedang


menyandar di sofanya dengan satu botol wine yang sudah kosong. Total ada tiga botol alkohol itu di mejanya, tapi hanya


satu botol yang kosong. Apa ia sedang menghadapi masalah berat? Kurasa masalah


kerjasama dengan klien tak ada yang bermasalah, apa ia sedang jatuh cinta?


“Kenapa


aku merasa dejavu dengan suasana ini?” tanyaku yang mulai berjalan mendekatinya


yang sudah menegakkan kepala karena kehadiranku.


“Sepertinya


aku sangat beruntung karena kemunculanmu yang tiba-tiba ini.”


Pria


ini belum mabuk. Ia lebih alkoholik di banding aku. Walaupun matanya terlihat


sayu, tapi aku tahu dia masih sadar. Satu botol wine tak bisa membuatnya mabuk.


Ia


langsung menjatuhkan kepalanya di pangkuanku. Tubuh jangkungnya langsung


menyesuaikan di sofa, sofa ini terlalu kecil untuk tubuhnya yang jangkung. Ia memeluk


perutku, menyembunyikan wajahnya di sana. Aku hanya mampu membelai rambutnya.


“Ada


apa?” tanyaku.


“Kamu


tak akan meninggalkanku, kan?” Ucapannya sedikit teredam karena wajahnya yang


berada di perutku.


“Kenapa


aku harus meninggalkanmu?” Aku terus membelai kepalanya dengan lembut.


“Jika


kamu memilih pria itu, maka kamu akan meninggalkanku.”


Pria


itu? Apa ia sedang membicarakan Richard? Aku masih mencerna kalimat itu dengan


baik, mencoba menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang membuat Dimitri


menghabiskan satu botol wine itu aku?


Karena ia memikirkan kemungkinan aku akan berpacaran dengan Richard?


“Apa


yang kamu lakukan?!” Aku memekik ketika ia dengan seenaknya mengeluarkan blusku


dari dalam rok pensil yang kukenakan. Aku menahan tangannya yang akan melucuti


kancing blus ini.


“Aku


hanya ingin menciummu.” Ia segera menyingkirkan tanganku dan membenamkan


bibirnya di perut telanjangku. Apa kami akan bercinta di kantor lagi?


“Kenapa


tak menelepon salah satu wanitamu saja?” Aku mencoba menahan napasku, menahan


dengan sekuat tenaga agar tak mengeluarkan desahan. Sulit tentu saja ketika


bibir basah itu langsung menyentuh kulit telanjangku.


Aku


belum memberitahu kalian tentang sesuatu. Ini bakat terpendam yang dimiliki


Dimitri. Ia mampu membuka apapun dengan satu tangannya. Membuka kancing blusku


seperti tadi, membuka kaitan bra dengan satu tangan, dan juga melucuti pakaian


wanitanya juga dengan satu tangannya. Oke, hanya sampai di situ dulu.


“Aku


hanya ingin menciummu, Li. Apa kamu terangsang hanya dengan seperti ini?” Ia meremas


dadaku dengan mudah, menyelipkan tangannya untuk meremas dada telanjangku. “Sepertinya


ukuranmu bertambah, apa karena aku sering meremasnya?” Ia kembali meremasnya.


Aku


menggigit bibirku, dan menjambak rambutnya yang masih ada di pangkuanku agar ia


menjauh. Aku segera berdiri dari dudukku, membuat tubuhnya sedikit terbanting


di sofa. “Kamu marah?” tanyanya.


Aku


mencoba merapikan blus yang hanya tersisa dua kancing teratas yang belum di


buka olehnya. “Hanya mencoba menahan diri. Mungkin aku harus membiasakan diriku


dengan Richard.”


**


kalau aku agak lama updatenya, itu karena kerjaanku yg lagi banyak. Jadi gimana part ini? Apa terlalu membosankan karena kepanjangan?


Mau tau kalian lebih suka Lili sama Dimitri atau Lili sama Richard? komen ya^^^