PLAYBOY

PLAYBOY
Bonus Chapter : Kevin & Ayu



Haii, aku datang lagi tapi kali ini aku bawain kisahnya Kevin dan Ayu. Ada yang suka Kevin gak sih? Aku tadinya mau bikin Dimitri, tapi emang udah kepikiran lama buat bikin cerita sendiri tentang Kevin, jadi aku bikin deh. Kalo kalian ada yang tertarik ntar aku bikinin lagi deh cerita Kevin, yg Dimitri pasti aku bikinin juga kok. Di tungguin ya


Happy reading^^



Berawal dari pertemuan singkat antara Kevin dan Ayu kala itu bersama Dimitri dan juga Liliana, kedua sejoli itu mulai menjalin hubungan mereka. Saat ini hubungan mereka sudah berjalan selama satu tahun. Hubungan mereka juga mengalami pasang surut seperti pasangan lainnya. Ayu bahkan sampai saat ini tak percaya kalau seorang Kevin Aldino yang di gilai banyak wanita menjadi kekasihnya.


Ada saat di mana Ayu merasa kalau dirinya sangat tak pantas bersanding bersama Kevin. Bahkan ketika Kevin mengajaknya untuk menghadiri undangan makan malam perusahaan, banyak wanita yang memandanginya dengan sinis. Tentu saja, bagaimana bisa seorang Kevin justru mengencani gadis biasa seperti dirinya.


“Kamu mau pesen apa?” tanya Kevin. Saat ini mereka sedang menikmati makan siang di sela jam istirahatnya. Kantor Kevin dan juga Ayu sangat berlawanan arah, jadi akan lebih efektif jika mereka bertemu di tengah.


Ayu juga bukan tipe gadis manja yang harus selalu di jemput oleh Kevin, Ayu yang meminta hal itu secara langsung pada Kevin. Kevin adalah pria pertama untuknya, ia tak tahu harus menjalaninya seperti apa, ia hanya melakukannya sesuai naluri.


“Samain kayak kamu aja,” jawab Ayu  dengan senyumannya.


Kevin mengembalikan buku menu pada pelayan yang sudah selesai mencatat pesanan mereka. Lihatlah, bahkan sang pelayan saja sampai tersipu malu hanya dengan senyuman yang di berikan oleh Kevin. Ayu selalu merasakan cemburu ketika ada wanita lain yang tersenyum pada Kevin, tapi tak pernah mengatakannya pada Kevin.


Walaupun mereka sudah berpacaran selama satu tahun, rasanya mereka belum sedekat itu. Kevin tak pernah mengatakan kalimat cinta pada Ayu. Hanya sekali ketika hubungan mereka di mulai, itu hanya ungkapan rasa suka Kevin padanya.


“Gimana kerjaan kamu di kantor?” tanya Ayu.


“Lumayan sibuk, mungkin setelah ini kita bakal jarang ketemu, aku juga ada kerjaan di luar kota. Mungkin sekitar satu minggu, gak papa, kan?” Kevin menatap Ayu dengan senyum manisnya.


Bagaimana Ayu bisa menolak? Memang Ayu memiliki hak apa untuk melarang Kevin pergi? “Gak papa, itu juga tanggung jawab kamu. Jangan merasa terbebani karena aku.”


Mungkin Kevin adalah pria beruntung karena bisa mendapatkan gadis seperti Ayu. Selain wajah polosnya yang sangat khas itu, Ayu juga sangat pengertian dan bukan tipe gadis posesif terhadap pasangannya. Ayu selalu mendukung semua hal yang di lakukan Kevin, apapun itu, walaupun kadang itu menyakiti dirinya.


Kevin menggenggam jemari Ayu yang berada di atas meja. Ayu adalah gadis kesekian yang Kevin pacari, dan dalam jangka waktu cukup lama. Biasanya Kevin hanya bertahan selama tiga bulan bersama gadis yang ia kencani, sangat menakjubkan bahkan untuk Kevin sendiri. Ayu sangat berbeda dari gadis-gadis yang pernah Kevin kencani, sangat penurut dan tak pernah meminta apapun dari Kevin, dan juga sangat mandiri.


Entah Kevin harus merasa beruntung atau bersalah, karena kemandirian Ayu, Kevin selalu merasa kalau dirinya tak cukup baik untuk Ayu. Kevin memang terlalu brengsek untuk gadis sebaik Ayu pada dasarnya. Kevin saja yang terlalu egois karena ingin memiliki Ayu.


**


Setelah menikah, Liliana memang memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya. Atas usulan sang suami tentu saja, bagaimanapun ia sudah menikah dan harus mengikuti kemauan sang suami. Ia juga sudah merencanakan untuk fokus pada keluarga kecilnya dan berhenti pada pekerjaannya.


Ia sudah bekerja keras selama masa lajangnya, berhenti sejenak tak masalah, kan? Ia juga bisa melakukan hal lain sembari mengurusi rumah tangganya. Sudah ada beberapa ide di kepalanya tentang hal apa yang bisa ia lakukan dari rumah. Terbiasa bekerja, akan terasa aneh jika Liliana hanya berdiam diri di rumah.


Liliana sedang membereskan barang-barangnya di kantor untuk ia bawa pulang. Lusa adalah hari terakhirnya bekerja, dan ada Ayu yang juga turut membantu membereskan barang-barangnya.


“Gimana hubungan kamu sama Kevin?” tanya Liliana.


“Baik-baik aja, Mbak.” Ayu menghindari kontak mata dengan Liliana, ia tak ingin atasannya yang sudah seperti Kakak ini bertanya lebih lanjut lagi.


Sudah satu minggu Kevin berada di Bali dan sama sekali tak mengabari Ayu. Bukan berarti Ayu ingin selalu di kabari oleh Kevin, ia juga tahu betapa sibuk kekasihnya itu. Tapi, seminggun ini tanpa kabar membuat Ayu sedikit gelisah. Bagaimana jika ternyata Kevin menemukan gadis lain di sana dan melupakan Ayu begitu saja? Hal itu bisa saja terjadi, kan?


“Kamu yakin? Kevin gak nyakitin kamu atau selingkuh, kan?” tanya Liliana penuh selidik.


Liliana sangat bahagia ketika pertama kali mengetahui hubungan keduanya, tapi ia juga khawatir. Kevin tak pernah menjalani hubungan serius sebelumnya, ia pemain wanita sama seperti Dimitri dulu, dan hubungannya dengan Ayu adalah yang terlama yang Liliana pernah tahu.


“Yakin, Mbak. Aku bakal langsung ngabarin Kakak kalau dia macem-macem.” Ayu tertawa dengan jawabannya sendiri.


Ia ingin berpikir positif, mungkin saja pekerjaan Kevin sangat banyak hingga tak mampu mengabarinya. Hal itu bisa saja terjadi. Ayu juga sangat mengerti dengan hal itu. Inilah resiko yang ia dapat ketika memiliki kekasih seorang Direktur yang di gilai oleh banyak wanita. Lagipula tak selamanya hubungan berjalan mulus, kan? Sama seperti hidup yang juga selalu berputar.


“Kevin baik orangnya, dia gak pernah macem-macem dan selalu menghargai wanita. Ini hubungan terlama dia, itu pasti kamu spesial buat dia. Jadi jangan pikirin hal yang aneh-aneh, ya?”


Ayu hanya menyunggingkan senyumnya pada Liliana. senyum yang sangat ia paksakan. Mungkin Ayu harus mempercayai atasannya ini. Ya, Ayu hanya perlu berpikir positif saja. Hubungannya akan baik-baik saja.


Setelah selesai membantu Liliana membereskan barang-barangnya, Ayu kembali melanjutkan pekerjaannya. Sampai jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Kosnya hanya berjarak dekat dari kantornya, jadi tak masalah jika ia pulang larut. Ayu sudah terbiasa mengikuti kebiasaan Liliana yang sangat menyukai lembur, karenanya ia juga lembur malam ini.


Alasan lainnya, jika ia kembali ke kosnya tepat waktu, kesepian yang akan ia rasakan semakin meningkat. Ia juga tak bisa tidur lebih awal, belakangan kantuknya seolah pergi meninggalkan jiwanya. Ayu baru bisa tidur ketika waktu subuh.


Ada alasan lainnya. Terlalu banyak alasan hingga hatinya semakin tak tenang, dan alasan terakhir ini juga yang semakin membuatnya uring-uringan. Tiga hari yang lalu, ada nomor tak di kenal yang mengiriminya pesan, sebuah foto tepatnya. Foto Kevin yang sedang tidur satu ranjang bersama seorang wanita. Sangat jelas di foto itu menunjukkan kalau mereka sama sekali tak mengenakan busana, beruntung ada selimut yang menutupinya.


Ayu sama sekali tak mengenal nomor asing yang mengiriminya foto itu, juga tak ada kalimat yang di sertakan bersama foto itu. Di tambah Kevin yang tak menghubungi sejak awal kepergiannya ke Bali. Ayu ingin terus berpikir positif, tapi foto itu juga semakin menghantuinya. Kalau memang Kevin ingin mengakhiri hubungan mereka, seharusnya sejak awal Kevin sudah mengatakannya.


Layar komputer di hadapannya di biarkan menyala begitu saja, sedang Ayu hanya menatap kosong layar monitor itu. Ayu tak bisa menangis, ia juga tak bisa mengeluarkan keluh kesahnya. Jadi, ia selalu berlama-lama berada di kantor.


Jika di biarkan begini terus menerus, mungkin Ayu akan melakukan hal bodoh. Pikiran Ayu tak sedangkal itu, tapi bisa saja, kan? Inilah kenapa Ayu selalu berhati-hati terhadap pria, Ayu tak tahu apa yang sedang di hadapinya jika


**


Sudah lebih dari seminggu, dan seharusnya Kevin sudah tiba di Jakarta. Tapi, lagi-lagi Ayu tak mendapatkan kabar apapun. Ayu juga sudah memutuskan untuk tak memikirkan Kevin lagi, kesehatannya lebih penting. Mungkin karena selama lima hari berturut-turut Ayu lembur, ia jatuh sakit. Tubuhnya tak sekuat Liliana yang sangat tahan banting walaupun harus lembur satu bulan penuh.


Liliana tak mengetahui kalau Ayu sedang sakit, karena ia sudah menyelesaikan hari terakhir masa kerjanya, dan Ayu juga tak berniat memberitahu siapapun tentang kondisinya. Memangnya siapa yang akan peduli? Kekasihnya bahkan sama sekali tak mengabarinya. Mungkin dia masih sibuk dengan wanita yang ada di foto itu.


Terdengar ketukan pintu di kamar kos Ayu. Dengan malas Ayu menyeret langkahnya menuju pintu. Ketika membuka pintu, Kevin berdiri di hadapannya dengan wajah khawatir dan rambut yang sudah kusut.


Ayu seketika hanya bisa berdiri dengan canggung di hadapan Kevin, ia hanya mengenakan piyama dan rambut yang juga sama berantakan. Tak pernah terpikirkan kalau Kevin akan menemuinya. “K…Kenapa kamu ada di sini?” tanya Ayu dengan gugup.


Apa Kevin mendatanginya karena rasa khawatir? Atau hal lain? Ayu tak pernah berpikir kalau Kevin justru akan mendatanginya dalam keadaan seperti ini. Dan Kevin hanya menatap Ayu tanpa mengatakan apapun, tatapannya sangat tajam dan dingin.


“Kalau gak ada yang mau di omongin…”


Kevin menahan tangan Ayu sebelum gadis itu menutup pintunya. “Kenapa kamu gak bilang kalau kalau kamu sakit?”


Pria ini bahkan tak mengabari selama satu minggu, tapi dengan tiba-tiba datang dan menanyakan hal seperti itu. Itu artinya Kevin masih peduli padanya, tapi bagaimana dengan fotonya dengan wanita yang tak di kenal, lalu kenapa Kevin tak menjelaskan apapun?


Alih-alih menjawab, Ayu malah memberikan senyumnya. Ayu selalu berpikir kalau senyum mampu menyelesaikan masalah apapun, termasuk hubungannya dengan Kevin. Ayu tak memiliki perbandingan bagaimana hubungan yang baik itu karena ini adalah pertama kalinya, tapi ia tahu satu hal. Pengkhianatan tak bisa bertahan lama. Ayu tak tahu kebenarannya, lalu Kevin datang tanpa permintaan maaf ataupun penjelasan, padahal kedua hal itu lebih di butuhkan Ayu.


“Kepalaku masih agak pusing, kita lanjutin besok aja, ya?” ucap Ayu dengan tenang.


Setelahnya, Ayu langsung menutup pintu itu tanpa kesulitan. Ayu bukan gadis pemurung atau penyendiri, justru sebaliknya, Ayu sangat ceria dan polos. Dan saat masalah seperti ini menghampirinya, Ayu tak memiliki hal lain untuk di pikirkan selain berpikir dengan positif. Ayu bahkan tak bisa untuk menumpahkan air matanya.


Kevin menatap pintu di hadapannya dengan hampa. Ia baru saja menyelesaikan perjalanan bisnisnya lalu mendapatkan kabar kalau Ayu sakit dan sudah dua hari ia absen tak masuk kerja. Kevin tak pernah melihat gadisnya begitu pucat dan lemas seperti itu, entah apa saja yang sudah di lakukan Ayu selama ia pergi.


Ponselnya hilang ketika berada di Bali, dan Kevin memilih untuk segera menyelesaikan pekerjaannya lalu kembali ke Jakarta dan menemui gadisnya. Karena itu ia tak bisa menghubungi Ayu. Liliana juga memberitahunya kalau ia sering melihat Ayu melamun dan tak seceria biasanya.


Kevin benar-benar merasakan rasa bersalah menjalari tubuhnya. Ia tak menyukai raut wajah tanpa senyum itu menghiasi wajah cantik Ayu.


**


Sudah dua minggu berlalu sejak kejadian Kevin dan Ayu yang saling dingin satu sama lain. Pada akhirnya Ayu kembali mengalah dan mulai memperbaiki hubungannya dengan Kevin. Rasanya sangat sulit jika harus mendiamkan Kevin untuk waktu yang lama. Tentang foto yang di kirimkan dari orang tak di kenal itu, Ayu tak


menanyakan pada Kevin. Bukan karena rasa percaya yang ia miliki, mungkin karena terlalu mencintai pria itu.


Malam ini, mereka akan menghadiri acara pesta yang di adakan oleh salah satu kolega Kevin. Ayu tak pernah nyaman ketika menghadiri acara itu, ia seperti berada di tempat yang salah, dan jangan lupakan tatapan para wanita yang lapar trehadap Kevin. Mungkin Kevin mengabaikannya, tapi Ayu sangat merasakannya.


Kevin menggenggam erat tangan Ayu memasuki aula tempat pesta itu di adakan. Kevin terlihat tampan hanya dengan kemeja hitam yang di lapisi dengan jas. Pesta itu bukanlah acara formal, jadi ia tak perlu memakai tuksedo lengkap. Sedangkan Ayu tampil dengan gaun berwarna merah maroon yang jatuh di bawah lututnya. Ayu tak


menyukai pakaian yang terllau terbuka seperti kebanyakan wanita yang hadir di pesta itu.


Itu adalah salah satu hal yang Kevin sukai dari Ayu, ia seperti tak salah memilih gadis untuk menjadi kekasihnya.


Sesaat ketika Kevin dan Ayu sudah berada di dalam aula, sudah ada seorang wanita yang menghampiri mereka, Kevin tepatnya.


“Hai, Kev. Kamu baru datang?” sapa wanita itu dengan nadanya yang sedikit centil.


Ayu memperhatikan wanita itu, yang seperti tak asing untuknya. Mata mereka bertemu untuk sesaat, dan wanita itu menyunggingkan senyum misterius pada Ayu. Dan ingatan Ayu menjadi semakin jelas setelah melihat senyuman itu. Wanita yang berada di foto yang sama dengan Kevin, yang di kirimkan oleh nomor tak di kenal.


“Sayang, kenalin ini Kak Anneke. Dia senior waktu di kampus, dan kami ngerjain proyek yang sama waktu di Bali,” ucap Kevin dengan senyum lebar.


Sengatan asing itu kembali menghampiri hatinya. Ayu tahu kalau Kevin menyukai wanita yang lebih tua darinya, sama seperti ketika dulu Kevin menyukai Liliana. Dan mereka berada di Bali pada saat yang sama, jadi apa Kevin benar-benar selingkuh darinya? Karena di lihat dari situasinya, itu sangat memungkinkan terjadi.


Ayu menjabat tangan wanita itu dengan senyuman manis seperti biasanya. Kevin dan juga wanita ini terlihat sangat akrab satu sama lain, Ayu tahu Kevin ramah, tapi kali ini hatinya benar-benar sakit melihat pemandangan itu dari jarak sedekat ini.


“Kalian kelihatan akrab,” ucap Ayu. Ayu mencoba dengan sangat kuat untuk terlihat antusias ketika mengatakan hal itu.


“Ya, kami udah cukup lama berhubungan, mungkin dari kuliah dulu. Iya kan, Vin?”


Kevin tersenyum canggung menanggapi kalimat Anneke. Ia menatap Ayu yang justru masih menunjukkan senyumnya. Kalimat Anneke tadi benar-benar sangat ambigu, dan ia takut Ayu salah paham, tapi Ayu justru tetap tersenyum seolah itu bukan apa-apa.


Ayu semakin tertampar mendengar kalimat wanita itu. Perasaannya sudah benar ketika dalam perjalanannya menuju pesta ini, kalau ada sesuatu buruk yang akan terjadi. Ayu bukan peramal atau seorang indigo, instingnya tak pernah salah ketika menghadapi hal ini. Dan kali ini terbukti. Pada akhirnya Ayu hanya menunjukkan senyumnya sebagai tanda kesopanan, ia hanya akan bertahan sampai acara ini selesai.


**