
Masih belum ada kejelasan tentang dimana keberadaan Liliana. Wanita itu benar-benar hilang tanpa jejak, tapi sepertinya hanya Dimitri saja yang kebingungan mencari Liliana. Terhitung sudah satu bulan lebih dua minggu keberadaan Liliana belum ia ketahui. Selain Nabila dan kedua orang tua Liliana, masih ada satu orang lagi yang perlu Dimitri tanyai sebenarnya.
Richard.
Pria itu dekat dengan Liliana, dan bukan tak mungkin pria itu tak mengetahui kepergian wanita itu. Tapi, jika harus menemui Richard, ia pasti juga harus menemui Michelle yang sedang tak ingin ia temui. Dimitri memang bersalah di
masa lalu karena sudah menyakiti Michelle, ia tak menolak pertunangan ini karena ia ingin memberi gadis itu waktu untuk membalas rasa sakitnya dahulu.
Mungkin tak semua orang tahu, tapi Michelle hanya ingin memanfaatkan Dimitri. Semua itu sangat terlihat jelas oleh Dimitri, ada satu kemungkinan yang sudah di pikirkannya sejak kemarin. Bisa saja Michelle mengintimidasi Liliana sehingga ia memutuskan untuk pergi. Dimitri hanya terlalu putus asa dengan kenyataan kalau Liliana pergi dan tak meninggalkan jejak sedikitpun.
Kevin masuk kedalam ruangan Dimitri sembari membawa beberapa map. Kevin memang terlihat lebih dewasa jika di bandingkan Dimitri dalam bersikap, tak terlalu kaku, dan juga tak sebrengsek Dimitri tentunya.
“Masih mencari Kak Liliana?”
Dimitri hanya mengangkat bahunya dan menandatangani dokumen di dalam map yang di bawa Kevin. “Aku tak semudah itu menyerah.”
“Kenapa baru mencarinya sekarang? Kenapa harus berusaha keras seperti ini padahal secara tak langsung kamu yang membuatnya pergi.”
“Sepertinya kamu sudah menemukan Liliana lebih dulu, atau kamu yang menyembunyikannya?”
Satu bulan ini sudah sangat melelahkan, ia sangat kurang tidur, dan asupan makanannya juga sangat tak terjaga. Dimitri menatap Kevin dengan dingin. Kevin pernah menyukai Liliana, atau mungkin masih menyukainya sampai sekarang, Dimitri tak pernah benar-benar tahu tentang hal itu. Bisa juga memang Kevin yang menyembunyikan wanita itu sejak awal.
“Sampai kapan kamu akan mencurigaiku? Ini pilihan Kak Lili, kalau memang kamu menyukainya kenapa tak mengatakan sejak awal? Bukan malah menyakitinya seperti ini, dan kamu baru menyesalinya sekarang, lalu seperti orang gila mencarinya? Biarkan ia tenang dengan pilihannya, dan berhenti egois. Kamu bukan satu-satunya yang
tersakiti di sini.”
Kevin segera mengambil map yang sudah di tandatangani Dimitri lalu keluar. Kevin memang menyukai Liliana, ia selalu kagum dengan wanita itu. Untuknya, Liliana adalah contoh wanita karir yang cantik dan juga mandiri, jangan lupakan kecerdasannya. Liliana adalah sosok ideal untuk calon kekasihnya di masa depan.
Seiring berjalannya waktu, Kevin mulai menganggap Liliana sebagai kakak perempuan untuknya, yang selalu mendengarkan semua keluh kesahnya, yang memberinya nasehat, dan secara perlahan rasa suka pria terhadap wanita mulai hilang jika bersama Liliana. Ia juga sangat menyesali sikapnya yang membela Dimitri, padahal ia tahu Liliana juga tersakiti.
**
“Kita mau kemana?” Dimitri bertanya pada Kevin yang sedang menyetir di sampingnya. Tanpa bertanya apapun pada Dimitri, Kevin langsung menyeretnya keluar dari ruangan yang nyaris di tinggalinya selama satu bulan ini.
“Bertemu seseorang yang mungkin mengetahui keberadaan Kak Liliana.”
Dimitri tak menjawab apapun, ia sibuk memandangi jalan raya yang ia lewati. Ia tak pernah berharap lebih walaupun sudah menemukan keberadaan ‘wanitanya’, ia sadar seberapa besar kerusakan yang ia sebabkan hingga membuat wanita baik seperti Liliana pergi. Walaupun tak bisa kembali seperti dulu, ia sudah sangat bahagia jika mengetahui bahwa wanita itu baik-baik saja. Ia akan menerimanya jika Liliana sudah menemukan pria yang lebih baik.
“Aku sebenarnya tak ingin melakukan ini, aku sangat membencimu. Aku melakukan ini karena khawatir pada Kak Lili dan memastikan kamu tetap hidup dan meminta maaf pada Kak Lili,” ucap Kevin lagi.
Dimitri tetap diam. Ia juga memastikan ia akan hidup sampai Liliana di temukan, tak masalah jika nanti Liliana tak memaafkan dirinya, itu memang hukuman yang harus ia terima.
Mobil berhenti di halaman rumah dua lantai yang cukup mewah. Dimitri tahu rumah siapa yang ia kunjungi saat ini, tempat yang memang sudah di pikirkan sejak kemarin. “Richard?” Dimitri menatap Kevin dengan serius.
“Aku tahu kamu tak bisa menghadapinya sendirian, aku dengan berat hati akan menemanimu. Mereka cukup dekat, setidaknya ada sedikit petunjuk yang mungkin bisa kita tahu.”
Kevin segera turun dari mobilnya dan mulai melangkahkan kakinya ke rumah di hadapannya. Ia sudah membuat janji untuk bertemu dengan Richard kemarin. Ia juga tahu seperti apa hubungan Richard dan sepupunya, tapi jika hanya ini caranya maka tak masalah.
Setelah ketukan kelima Kevin pada pintu kayu, pintu itu terbuka dan menampilkan Michelle yang tampak sudah berdandan rapi. Dimitri muncul di belakang Kevin tepat sesaat setelah Michelle membuka pintu.
“Sepertinya ini hari yang spesial sampai kalian yang datang sendiri kerumahku,” ucap Michelle dengan sinis.
“Aku ingin bertemu kakakmu, aku ada urusan dengannya,” balas Kevin tak kalah sinisnya.
“Bahkan Dimitri juga ikut kesini, kupikir itu urusan yang penting.”
Michelle membuka pintu lebih besar untuk mempersilakan tunangan dan juga mantan tunangannya masuk. Tak ada lagi Michelle yang manja atau manis, atau juga ceria. Kali ini yang tersisa hanyalah Michelle yang angkuh dan sinis.
Richard sedang duduk di sofa ruang tengah bersama laptopnya. Ada kecanggungan yang sangat terasa jelas ketika Richard dan Dimitri saling tatap. Entahlah, rasanya hanya sangat canggung dan mereka hanya saling menunjukkan raut wajah datar, tanpa senyuman dan tanpa kemarahan.
“Apa yang kalian lakukan? Selesaikan urusan kalian dengan cepat, kami juga punya urusan.”
Ucapan Michelle yang sinis memutus kontak mata yang canggung antara Dimitri dan Richard. Kevin langsung mengambil inisiatif untuk duduk di sofa, diikuti dengan Dimitri.
“Apa Dimitri sepengecut itu sampai harus di temani oleh Kevin?” tanya Richard dingin.
Persahabatan kedua pria ini sudah hancur sejak bertahun-tahun lalu. Tak ada kalimat maaf yang terucap dari bibir keduanya, tapi mereka juga saling menyimpan rasa bersalah satu sama lain. Dimitri benar-benar menyesali perbuatannya ketika membuat Michelle jatuh cinta padanya, lalu meninggalkannya begitu saja. Dahulu rasa
Tapi egonya juga selalu melarangnya untuk minta maaf pada Richard ataupun Michelle. Ia tahu betapa beratnya depresi yang coba di lawan Michelle kala itu. Pertunangan ini adalah balasan atas rasa bersalahnya di masa lalu, hal ini yang tak sempat ia ceritakan pada Liliana.
Sedangkan Richard, ia seharusnya berusaha menjelaskan semua kesalahpahaman mereka sejak awal. Ia sangat paham bagaimana keras kepalanya Dimitri ini, bukan malah membiarkan kesalahpahaman mereka menghancurkan masa depan adik satu-satunya.
“Sejak awal aku tak pernah berniat menginjakkan kaki ke rumah ini jika bukan karena paksaan Kevin.”
Richard tersenyum. Waktu berlalu, dan sepertinya Dimitri sama sekali belum berubah, ia masih sangat egois dan juga keras kepala. “Keras kepalamu tak akan membantumu menemukan Liliana."
“Ah, ini masih tentang wanita itu. Beruntung sekali dia di perebutkan beberapa pria.” Michelle menimpali obrolan canggung Dimitri dan juga kakaknya.
Semua mata langsung tertuju pada Michelle, dari nada bicaranya, Michelle seperti mengetahui sesuatu tentang kepergian Liliana. “Bagaimana rasanya di tinggalkan? Apa cukup sakit?” tanya Michelle pada Dimitri. Ia tak memedulikan kedua pria lainnya yang juga sedang menatapnya.
“Apa kamu penyebab Liliana pergi?” Wajah Dimitri mengeras mendengar pertanyaan Michelle yang hanya menunjukkan raut wajah santai.
Michelle menunjukkan seringainya. “Kudengar kamu selalu suka menyimpulkan apapun sendirian, tanpa mendengar penjelasan orang yang bersangkutan. Itu, kan, yang terjadi padamu dan kakakku?”
“Apa maksudmu, Michelle? Apa kamu yang membuat Liliana pergi?” Richard juga ikut menimpali.
“Sepertinya apapun yang kukatakan takkan membuat kalian percaya, kan? Aku hanyalah gadis yang menderita depresi kronis, kalian tak mampu menebak apa yang kupikirkan.”
Michelle bangkit dari kursinya. “Michelle!” ucap Richard. “Duduk kembali di tempatmu dan selesaikan seperti wanita dewasa.”
Michelle berdiri di tempatnya. Ia bukan gadis yang kuat, ia mencoba untuk kuat dengan bersikap dingin pada orang-orang di sekitarnya. Ini juga berat untuknya, ia selalu mengalami insomnia yang membuatnya sulit tidur di malam hari, ia harus mendatangi psikiater untuk berkonsultasi masalah depresinya. Tak mudah menjadi dirinya.
Dengan terpaksa, Michelle kembali duduk di tempatnya tadi. Selama ini hanya kakaknya yang selalu ada di sampingnya, orang tuanya hanya peduli soal bisnis di banding anaknya. Itulah kenapa ia sangat menuruti kakaknya, untuknya, Richard adalah segalanya.
**
Pertemuan penuh emosi tadi akhirnya berakhir setelah Michelle mengungkapkan semua perasaan yang ia pendam selama ini. Tak pernah ada yang tahu seberapa besar rasa sakit yang di tahan wanita itu seorang diri, tapi setelah semuanya jelas, tak adil juga jika hanya menyalahkan gadis itu.
“Aku memang sengaja mengikatmu dalam pertunangan ini, aku ingin tahu seberapa besar kamu mencintai wanita itu. Dan ternyata kalian memang sebenarnya saling mencintai, aku tak tahu siapa yang bodoh di sini, tapi itulah kesempatan yang kumiliki untuk membalaskan rasa sakit yang kualami di masa lalu,” ucap Michelle lantang.
Ia sangat mencintai Dimitri saat itu, dan rasa cinta yang semakin membesar itu membuatnya lama kelamaan semakin membenci pria ini. Ia selalu berjanji pada diri sendiri untuk membalaskan rasa sakit itu suatu hari. Michelle sama sekali tak mengetahui akan peran Liliana pada Dimitri, dan ketika ia mengetahuinya, itu adalah sebuah lotere yang sangat bernilai.
Ketiga pria yang ada di ruangan itu terdiam mendengar ucapan Michelle. Gadis itu melalui masa sulit yang tak semua orang mengerti, bahkan orang tuanya. “Aku tak pernah meminta wanita itu pergi, mungkin hanya kamu yang terlalu bodoh dengan membiarkannya pergi. Secara tak langsung rasa sakit hatiku sudah tersalurkan.”
Dimitri tak bisa mengatakan apapun, rasa canggung ketika pertama kali bertemu Richard setelah sekian lama sudah tergantikan dengan rasa sesak yang semakin dalam di hatinya. Ya, ini memang salahnya, salahnya karena menjadi brengsek dan menyakiti semua orang yang di cintainya.
“Aku takkan meminta maaf, kamu pantas mendapatkannya. Kamu harus merasakan sakit yang kurasakan dulu, aku hanya berharap kamu tak berakhir di rumah sakit jiwa sepertiku,” ucap Michelle kembali. Gadis itu meninggalkan ketiga pria menuju tangga yang tak jauh dari sofa.
Dimitri merangkum wajahnya di kedua tangannya yang bertumpu pada lutut. Ia juga berharap seperti itu, atau lebih baik ia mendekam di rumah sakit jiwa saja agar rasa sakitnya sedikit berkurang. Jadi, inilah yang di rasakan Michelle ketika ia meninggalkan gadis itu begitu saja. Brengsek sekali, kan, dia.
Kevin yang sedari tadi hanya menyaksikan perdebatan Michelle dan Dimitri tak bisa berbuat apa-apa. Ia tak ahli menenangkan pria yang kacau seperti Dimitri. Mereka sepertinya tak mendapatkan petunjuk apapun, tapi setidaknya ada suatu kebenaran yang mulai terungkap. Kebenaran yang seharusnya terjadi beberapa tahun yang
lalu.
“Michelle sudah membatalkan pertunangan dengan Dimitri, dan orang tua kami sangat marah. Kami berencana untuk kembali ke Singapor hari ini,” ucap Richard.
Dimitri tak memberikan reaksi apapun, hanya Kevin yang menatap Richard meminta kelanjutan dari kalimat pria itu.
“Aku juga tak tahu keberadaan Liliana, dia memang memberitahuku ketika akan cuti, tapi ia sama sekali tak memberitahuku apapun lagi.” Richard menjeda ucapannya. “Aku yakin dia pasti akan kembali. Percaya saja padanya, dan…sampaikan maafku pada pria ini. Aku kembali kesini hanya untuk Michelle dan rasa sakit hatinya.”
Setelah menatap Dimitri beberapa saat, ia berjalan meninggalkan Kevin dan juga Dimitri. Kembali tak ada petunjuk untuk menemukan Liliana.
Dimitri hanya diam sepanjang perjalanan pulang, begitupun Kevin. Ia sepertinya tak perlu berbicara atau bertanya lagi pada Dimitri. Sebenci apapun dirinya pada Dimitri, ia tetap tahu seberapa banyak rasa sakit yang pria itu terima.
Semuanya sudah sangat jelas untuk Dimitri, orang terakhir yang bisa ia harapkan mampu memberikan petunjuk juga sama sekali tak mengetahui. Karma yang ia terima cukup kejam. Lalu apa ini akhirnya? Akhir dari kisahnya dan cinta yang tak terucap? Tak bisakah biarkan ia untuk menemukan wanitanya dahulu sebelum kisah ini berakhir?
Ia hanya ingin memastikan wanitanya baik-baik saja, akan sangat bagus jika Liliana sudah menemukan penggantinya. Ia sadar betapa brengsek dirinya, ia hanya akan hidup menjalani karma miliknya, tapi biarkan ia melihat wanitanya dari kejauhan.
Itu adalah harapan terakhirnya, setidaknya sebelum kisahnya benar-benar berakhir.
**