
Aku tak menyangka kalau hari ini akan tiba seumur hidupku, maksudku, semua orang pasti mengalami fase ini dan manusia juga di ciptakan berpasang-pasangan. Jadi, semua orang pasti akan menemukan jodohnya lalu menikah. Langkah yang sangat mudah, tapi ketika melakukannya secara langsung, semuanya lebih rumit. Proses bertemu jodoh tak pernah mudah.
Lalu dengan semua drama yang terjadi satu tahun atau dua tahun yang lalu itu juga termasuk dalam proses menemui jodoh. Setelah menyaksikan sahabat-sahabat terdekatku menikah dan bertunangan, bahkan sudah memiliki anak, aku sampai di fase menikah juga. Aku bahagia menikah, tentu saja, aku tak mungkin menikah jika ini tak membahagiakanku.
Kalian penasaran dengan mempelai pria? Atau kalian sudah bisa menebaknya? Kalian pasti hanya memikirkan satu pria, kan? Pria yang sudah pasti akan menjadi jodohku, tapi apa memang harus seperti itu? Bisa jadi aku menemukan pria lain, kan?
Dia pria yang sangat ku cintai, sekarang, nanti, seterusnya, bahkan selamanya, dan aku bahagia. Hanya itu bagian terpenting yang bisa ku pikirkan. Aku sudah resmi meninggalkan drama satu tahun lalu di belakang. Tentang Dimitri, Richard. Dan juga Michelle. Masing-masing sudah bahagia dengan kehidupannya masing-masing.
Hampir enam jam aku bertahan dalam balutan riasan dan juga gaun serta kebaya yang sangat menyusahkanku. Tak banyak tamu yang ku undang, hanya kolega, teman dekat dan juga keluarga. Aku benci keramaian, begitu juga dengan suamiku. Kami berjodoh karena memiliki kesamaan yang membuat kami semakin nyaman ketika kami
menghabiskan waktu berdua.
Semuanya sangat cepat terjadi ketika pada akhirnya aku menerima lamarannya dan kami menikah dala waktu kurang dari tiga bulan. Lebih cepat memang lebih baik, apalagi usiaku yang sudah lebih dari cukup untuk menikah dan memiliki anak.
Aku menatap suamiku yang sudah membaringkan tubuhnya di kasur tanpa melepas jas yang ia kenakan. Sepertinya ia sama lelahnya denganku, aku jadi tak tega untuk membangunkannya. Jadi aku memutuskan untuk langsung membersihkan diri di kamar mandi, aku akan segera membangunkannya setelah ini.
“Kamu kok, gak bangunin aku?” tanya suamiku ketika melihatku keluar dari kamar mandi.
“Kamu lelap banget, aku jadi gak tega buat bangunin kamu. Mandi, gih, aku udah siapin air panas buat kamu.”
Suamiku berjalan menghampiriku, mencium kening, lalu memberikan senyum manisnya sebelum masuk ke kamar mandi. Hal kecil seperti itu membuat pipiku seketika memanas, itu hanya hal kecil yang bisa di lakukan semua orang. Apa ini efek pengantin baru makanya aku sangat sensitive?
Aku hanya terkesan dengan status baru kami. Untukku menikah adalah hal paling mewah yang bisa ku bayangkan, dan aku sama sekali tak tertarik melakukan apapun tentang pernikahan. Lalu tiba-tiba suamiku datang untuk melamarku, dan tanpa perlu berpikir panjang aku langsung memberinya jawaban ‘iya’.
Karena aku sangat mencintainya. Aku kembali mengambil resiko besar dengan menerima lamarannya, dan sepertinya inilah kebahagiaan yang akan melingkupiku seumur hidup. Bagiku tak ada yang lebih indah lagi selain hari ini dan juga pernikahan kami. Kadang aku hanya perlu sedikit mengambil resiko besar demi kebahagiaanku.
**
Pesta pernikahan kami di adakan di salah satu resort di Bali, atas bantuan Mela, Liliana bisa menggelar pesta pernikahan impiannya. Hanging Garden yang katanya merupakan salah satu resort terbaik di Ubud dan juga di Bali, upacara pernikahanku di gelar di sana, dan kami juga menyewa satu kamar di sini untuk melakukan bulan madu.
Menikahi salah seorang pengusaha sukses cukup menguntungkan juga sebenarnya. Aku tak perlu memikirkan apapun tentang biaya dan juga yang lainnya. Aku resmi menjadi nyonya besar sekarang.
“Jadi, pagi ini kita mau kemana?” suamiku memelukku dari belakang ketika aku sedang menikmati pemandangan indah kamar kami dari balkon kamar.
Sebenarnya aku sedang tak ingin kemana-mana, aku sangat lelah dan rasanya hanya ingin menghabiskan waktu di kamar saja. Aku juga dulu sudah hampir menjelajahi seluruh Bali ketika aku bekerja di sini, jadi Bali bukan kota yang asing untukku.
“Al, aku ingin istirahat di kamar aja dulu. Nanti malam baru kita jalan-jalan, Ubud waktu malam katanya indah banget dan ada juga pasar malam.”
Ya. Aku menikah dengan Dimitri. Setelah perjalanan panjang yang kami lakukan, aku harus mengambil kebahagiaan yang sudah di berikan kepadaku, dan itu adalah Dimitri. Selama satu tahun lebih aku mulai belajar kembali untuk mencintainya—semakin mencintainya—dan mempercayainya. Sebenarnya aku masih mencintainya, karena hal itu pula lah aku menerimanya kembali, tapi rasa cintaku terlalu tertutupi dengan rasa benci yang kumiliki.
“Kamu mau di kamar aja? Apa kamu gak capek? Padahal kita udah ngelakuin semalem, atau kamu kurang?” tanya Dimitri jahil.
Aku mencubit tangannya yang melingkari perutku. Dimitri dan sifat mesumnya tak pernah berubah, aku terkadang selalu kewalahan menghadapinya. Dimitri merespon dengan mencium pelipisku. Aku menyukai perubahan dalam diri suamiku ini, dia benar-benar berubah setelah kepergianku, dan semakin menghormati perasaanku.
Ada satu kalimat yang selalu kuingat sampai sekarang, katanya ‘pria hanya akan merubah dirinya ketika ia mencintai seseorang’ dan itu terjadi pada Dimitri. Saat itulah aku kembali memercayakan hatiku padanya. Apapun yang kita lakukan untuk merubah seorang pria, jika ia tak pernah memiliki rasa terhadap kita, maka ia takkan pernah berubah. Perubahan itu harus datang dari dalam diri orang tersebut, atas niatnya sendiri dan bukan karena paksaan.
“Baiklah, kita akan di kamar aja. Aku gak keberatan ada di manapun, asal ada kamu di sana itu udah cukup,” ucapnya.
“Ya ampun, gombal banget, sih.” Aku tertawa mendengar ocehannya. Mungkin semenjak ia melamarku, Dimitri jadi lebih romantic dan sangat suka mengatakan kalimat-kalimat manis yang untukku terdengar sangat mengerikan.
Aku menyukai ketika ia mengucapkan semua gombalannya itu, tapi aku bukan pecinta kalimat-kalimat rayuan, jadi itu agak menggangguku sebenarnya. Tapi, karena ini suamiku sendiri aku akan menerimanya, aku tak ingin durhaka kepada suami.
**
Kami makan malam di Element tree restaurant, restoran yang juga treletak di Hanging Garden. Pemandangan malam sangat indah, semua yang ada di sini sangat indah, begitupun dengan pria yang duduk di hadapanku. Dia semakin terlihat dewasa, dan juga semakin tampan. Ia hanya mengenakan kemeja putih yang dua kancing teratasnya tak di kancingkan, di padukan dengan celana khaki selutut dan sandal jepit.
Aku selalu menyukai tampilan sederhananya yang membuatku selalu terpesona. Priaku, suamiku, aku sangat senang memilikinya. Aku sudah menjadi seorang wanita yang beruntung karena berhasil memilikinya.
“Apa aku setampan itu? Sampai kamu gak bisa berhenti ngeliatin aku?” tanyanya. Yang tak berubah darinya hanyalah sifat nakal dan jahilnya.
“Ya, kamu setampan itu sampai aku gak bisa ngalihin tatapanku, kenapa kamu bisa setampan ini? Padahal dulu kamu gak kayak gini.”
Dimitri tertawa. “Aku selalu tampan, tapi karena aku berhasil memilikimu di sini, ketampananku bertambah banyak.”
Kami berdua tertawa, semakin menghangatkan suasana di restoran ini. Aku berharap ini mampu bertahan lama, kebahagiaan ini. Aku sangat mencintainya, dan akan selalu mencintainya. Peristiwa yang menyakiti kami di masa lalu hanyalah bentuk dari ujian yang ada, untuk menguji seberapa kuat kami mampu menahan semuanya dan
menyadarkan seberapa banyak aku mencintainya.
Pria yang tak pernah kusangka akan menikahiku, semua sifatnya yang sangat suka mempermainkan wanita. Tanpa itu semua, ia tak akan menjadi suamiku yang sangat kucintai. Dan aku selalu bersyukur pada apapun yang selama ini terjadi padaku. Masa lalu hadir untuk menunjukkan jalan menuju masa depan, bukan untuk menjadi semakin terpuruk. Semoga ini adalah kebahagiaan abadiku.
**
Oke, ini benar-benar udah terakhir ya, maaf pendek banget tapi semoga terhibur
selamat membaca^^