PLAYBOY

PLAYBOY
Stronger



Haii apa kabar kalian? Maaf bikin kalian nunggu lama. aku selalu update kok ya tapi emang kadang agak lama aja, aku harap kalian sabar menunggu ya^^


Ini udah di detik-detik penghabisan. Happy reading ya^^



“Apa ini?” tanya seorang wanita yang sedang mengerjakan sesuatu di computer di depannya.


“Surat pemindahan tugasmu ke Jakarta, seperti yang sudah di bahas di rapat kemarin. Kamu juga sudah menyetujuinya, kan?” jawab wanita yang memberikan sebuah amplop tadi.


“Kupikir masih lama, ternyata lebih cepat dari dugaanku.” Wanita itu tersenyum tipis memandangi amplop yang baru saja di terimanya.


Wanita yang memberikan amplop tadi memandangi wanita di depannya dengan khawatir. Ia sedikit banyak sudah mengetahui kisahnya, tentang seberapa tersakitinya ia dahulu. “Kamu baik-baik aja?”


Setelah kurang lebih tujuh bulan meninggalkan kota itu, sekarang ia harus kembali lagi. Jika mengingat percakapannya dengan seniornya ketika ia menerima surat pemindahan tugas ini, ia sangat ingin menjawab kalau ia tak baik-baik saja. Memang sudah cukup lama, hanya saja sedikit banyak masih ada rasa sakit yang tertinggal.


Kantor cabang tempatnya di tugaskan kali ini memang cukup jauh dari kantor lamanya, begitupun apartemen baru yang merupakan fasilitas kantornya. Tapi tetap saja rasanya luka lama itu kembali terbuka lagi, tak separah dahulu tapi tetap saja itu menyakitkan.


Wanita itu melangkahkan kakinya perlahan menuju seorang wanita muda yang memegang papan nama bertuliskan ‘Liliana’ di pintu keluar bandara. Seniornya sedikit protektif padanya sehingga mengirimkan wanita yang akan menjadi sekretarisnya untuk menjemputnya.


“Wah, ternyata Mbak Liliana aslinya lebih cantik di banding foto, ya?” ucap sang sekretaris ketika Liliana menghampirinya.


Liliana hanya menyunggingkan senyumnya, ia selalu tak mengerti bagaimana caranya untuk menjawab pujian seperti itu. Ada yang berbeda memang dari penampilannya sekarang, rambutnya sudah di potong model bob, membuatnya terlihat lebih anggun. Riasan wajahnya hanya tipis, lipgloss dan eyeliner, bedaknya juga hanya


tipis. Wanita ini sangat anti dengan riasan tebal.


“Kita kemana dulu?” tanya Liliana.


Ini hari jum’at, Liliana tak masalah jika harus bekerja. Penerbangan Bali-Jakarta belum membuatnya jetlag, lalu


memutuskan untuk meliburkan diri. Mungkin penampilannya sedikit berubah, tapi sifatnya sama sekali belum berubah, ia masih pekerja keras seperti dulu.


“Ke apartemen langsung aja, Mbak. Mbak Mela udah pesen buat kosongin jadwal Mbak Lili hari ini,” ucap sang sekretaris dengan senyum ramahnya.


Mela adalah senior Liliana di kantor pusat di Bali yang menyerahkan amplop penugasan Liliana di Jakarta. Wanita itu hanya tersenyum, karena seniornya itu sangat tahu apa yang akan di lakukan Liliana sesampainya ia di Jakarta. Jika tak di cegah, maka kemungkinan besar Liliana akan langsung mulai bekerja, padahal wanita itu butuh istirahat.


“Kita belum berkenalan, kan?” Liliana mengulurkan tangannya untuk menjabat wanita muda yang akan menjadi sekretarisnya itu. Sesaat ia kembali mengingat Eka, sekretaris sebelumnya.


“Ayu, Mbak.”


“Cantik, sama seperti namanya.”


Ayu tersipu mendengar pujian itu. Sepertinya atasan barunya ini sangat ramah di banding atasan sebelumnya yang sangat temperamental dan hanya bisa memerintah. Ayu akhirnya menggiring Liliana untuk segera menuju apartemennya. Mbak Mela memintanya untuk memastikan kalau atasan barunya ini sampai dengan selamat di


apartemen yang telah di sediakan, dan tak mampir kemanapu kecuali untuk makan.


Walaupun Liliana terlihat lebih baik di banding atasan sebelumnya, tapi sepertinya Ayu harus bersiap untuk bekerja keras. Liliana ini tipe atasan yang sulit juga sepertinya.


**


Dimitri mendengarkan dengan seksama penjelasan rapat di hadapannya. Ini adalah rapat keempat yang ia pimpin hari ini. Jadwalnya semakin hari semakin padat, dan waktu istirahatnya sedikit banyak mulai berkurang karenanya. Termasuk hal bagus karena Dimitri memang menyukai hal ini, ia justru akan uring-uringan jika jadwalnya sedikit kosong. Dimitri memang sedikit agak ekstrem.


Walaupun ia menyukainya, tapi rapat terakhir ini rasanya sudah cukup untuk membuat Dimitri jenuh. Terbukti dengan ia yang hanya menatap grafik di depannya dengan kosong dan hanya menganggukkan kepalanya tanda menyetujuinya. Ia butuh pengalihan sejenak untuk menyegarkan otaknya.


Setelah kepulangannya dari Bali, ia langsung di sambut dengan proyek-proyek baru yang memintanya untuk langsung menyelesaikannya. Harusnya tugas seorang pimpinan sepertinya hanya perlu menandatangani beberapa berkas, menyetujuinya, lalu memantau jalannya proyek tersebut.


Tapi ini Dimitri, seorang pimpinan yang sangat perfeksionis dan ingin semuanya sempurna dengan keinginannya dan juga sang klien. Jadi, ia langsung turun tangan memantau sendiri dan selalu memastikan bahwa bawahannya sudah melakukan pekerjaannya dengan baik.


Hiburannya di hari-hari yang berat ini adalah dengan bekerja, ia sudah tak pernah menyentuh seorangpun wanita seperti sebelumnya. Entahlah, sejak ia memerawani Liliana, ia sudah tak mampu menjadi Dimitri yang selalu mengunjungi klub malam hanya untuk menyewa para wanita penghiburnya.


Apalagi ketika ia tak sengaja bertemu dengan siluet wanita yang sangat mirip dengan Liliana, bahkan ketika ia sudah jauh mengunjungi Bali, bayangan Liliana tetap memenuhi pikirannya. Nabila masih belum menceritakan dimana keberadaan Liliana, ia juga tak akan memaksa sebenarnya. Wanita itu sedang hamil tua, dan tinggal menanti tanggal persalinannya saja.


“Dimitri!”


Pria yang di panggil segera menoleh kea rah sumber suara, dan ternyata itu Kevin yang sedang memandanginya aneh. Ruangan rapat yang tadinya ramai pun, sudah sepi. Apa lamunanya selama itu hingga rapat ini selesai dengan sendirinya?


“Rapatnya sudah selesai?” tanya Dimitri bingung.


“Masih ada detail-detail yang belum di jelaskan secara rinci, tapi secara umum langsung kububarkan karena yang memimpin rapat ini sepertinya sudah melayang jauh ke dalam alam bawah sadarnya,” Kevin menjelaskan dengan rinci dan menatap Dimitri dengan geli.


“Istirahatlah kalau lelah, jangan memaksa dirimu bekerja seperti ini. Aku belum siap jika harus menggantikan posisimu secepat ini,” lanjutnya lagi.


Dimitri bangkit dari duduknya seperti biasa, ia sama sekali tak terganggu dengan semua hal yang di bicarakan Kevin. Jika ia masih Dimitri yang dulu, maka di pastikan ia akan membalas dengan tak kalah sinisnya, tapi ia sudah jauh lebih santai sekarang dan mampu memahami lelucon tak lucu milik Kevin.


“Aku juga tak akan semudah itu menyerahkan jabatan penting padamu, terlalu beresiko.” Dimitri segera berlalu dari ruang rapat tanpa memedulikan raut wajah Kevin yang sudah masam mendengar kalimat itu.


“Apa maksudmu? Apa aku kurang kompeten? Lihat saja nanti, aku pastikan akan menduduki posisimu cepat atau lambat. Bersiaplah Dimitri!”


“Lakukanmsesukamu, Vin.” Dimitri membalikkan kepalanya sedikit hanya untuk memberikan seringai geli pada Kevin.


**


Liliana benar-benar di antarkan menuju apartemennya yang terletak tak jauh dari pusat perkantoran. Ia hanya perlu berjalan kaki sepuluh menit untuk sampai di kantornya, atau ia bisa naik ojek yang hanya akan memakan waktu lima menit. Mungkin ia hanya akan memilih opsi berjalan kaki, walaupun ia memiliki uang lebih, ia tak akan membuangnya hanya untuk menaiki ojek selama lima menit.


Anggap saja ia sedang berusaha mengurangi polusi udara di Jakarta ini dengan meilih berjalan kaki. Setelah memberikan kunci apartemen pada Liliana, Ayu segera kembali ke kantor seperti yang di instruksikan oleh Mela. Wanita itu sangat penurut, ia yakin Ayu belum lama menduduki posisi sekretaris, atau memang sifatnya seperti itu.


Liliana menatap ponsel yang ada di genggamannya yang berdering, tertera nama ‘Mela’ di layar.


“Halo,” sapa Liliana.


“Bagaimana apartemennya? Apa sesuai seleramu?”


Liliana mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang sudah di tata sedemikian rupa, cukup memuaskan. Lagipula sejak kapan Liliana peduli pada tata letak apartemennya? Wanita itu hanya akan menggunakannya untuk tidur, ia juga ragu akan ada tamu yang berkunjung ke apartemen barunya ini. Hanya Nabila yang ia beritahu, dan sahabatnya itu akan segera melahirkan, tak mungkin ia akan bersusah payah bertamu kemari.


“Padahal aku sudah berharap akan mendapatkan penthouse, ternyata hanya apartemen,” ucap Liliana dengan senyuman di wajahnya.


“Aku akan memberikanmu penthouse jika proyek ini selesai dengan baik, dan ya, kamu bisa menemui pria itu. Pada saat itu aku akan memberimu penthouse.”


Mela mengetahui soal Dimitri, wanita itu bisa di percayai dan cukup dewasa untuk umurnya yang hanya terpaut dua tahu lebih tua darinya. Liliana juga tahu kalau wanita itu jarang bisa serius dengan ucapannya, kecuali masalah pekerjaan.


“Setelah kupikir-pikir, aku tak membutuhkan penthouse, jika kamu ingin menukar apartemen ini menjadi tipe studio pun tak masalah. Kamu tahu, apartemen ini terlalu besar untukku.”


Mela tertawa kecil di ujung sana. Ketika pertama kali bertemu dengan Liliana, ia sudah tahu kalau wanita itu menyimpan banyak rahasia dan juga kesakitannya seorang diri. Mela sudah berkali-kali menasehati Liliana untuk selalu jujurpada dirinya sendiri dan berhenti menyiksa diri sendiri. Wanita itu tak mampu menahannya sendirian, tapi selalu meyakinkan dirinya kalau ia bisa. Wanita keras kepala itu.


“Selagi kamu di sana, coba selesaikan sebisamu. Tak selamanya kamu bisa lari.”


“Akan kupikirkan. Aku tutup dulu.”


Liliana langsung mematikan ponselnya sepihak, ia tak bisa berbicara lebih lama bersama Mela tentang Dimitri. Mela sama seperti Nabila, ia selalu tahu isi hatinya meskipun Liliana tak menceritakan semuanya, tapi Mela seperti tahu semuanya. Itulah yang membuatnya takut untuk membuat banyak lingkaran pertemanan, jika semuanya tahu tentang hal apa yang coba ia sembunyikan, ia tak akan merasakan privasi lagi.


Ia memutuskan berjalan menuju balkon untuk menikmati udara siang hri yang sudah pasti sangat panas.


Tujuh bulan lalu, ketika ia memutuskan untuk meninggalkan semuanya, ia sudah merelakan dengan baik. Termasuk perasaannya pada Dimitri, yang sebenarnya tak pernah bisa ia relakan begitu saja. Liliana berharap, tujuh bulan yang sudah berlalu mampu membuatnya lupa pada kenangan apapun itu yang ada di otaknya. Tapi, ia sangat salah, karena sampai sekarang pun, Dimitri masih berputar di benaknya dengan baik.


Ia tetap berhubungan dengan Nabila dan memintanya untuk merahasiakan keberadaan dirinya. Selama tujuh bulan itu juga, Liliana sama sekali tak pernah mendengar kabar dari Dimitri ataupun Kevin, termasuk juga Richard dan Michelle. Mungkin mereka sudah menikah sekarang. Liliana benar-benar menutup akses dirinya dan keempat orang yang berkaitan dengannya.


Dan kini takdir membawanya lagi pada masa lalu yang sangat ingin di lupakannya. Ia bisa saja menolak usulan pemindahan cabang ini, tapi dengan dalih kinerja Liliana yang terus meningkat, pada akhirnya ia luluh pada usulan yang di berikan, dan karena perusahaan cabang Jakarta ini sedang mengalami masalah karena manajer sebelumnya.


Mungkin juga ini seperti pertanda untuknya, untuk berdamai pada masa lalu. Kalau bisa ia akan menyelesaikan, walaupun nanti mungkin kenyataannya justru membuat dirinya terluka. Ia hanya takut mendengar berita kalau ternyata Dimitri dan Michelle sudah menikah. Hatinya masih dengan baik menyimpan kenangan tentang Dimitri, bagaimana ia bisa melupakannya dengan mudah?


Ponselnya kembali berdering, dan kali ini nama ‘Nabila’ tertera di layar ponselnya.


“Kamu udah di Jakarta?”


Liliana tersenyum. Selama ini mereka hanya berhubungan melalui ponsel, dan ketika kini mereka hanya berjarak sangat dekat, Liliana mulai merindukan sahabatnya ini.


“Aku tak ingin mengatakan ini, tapi aku benar-benar merindukanmu,” ucap Liliana bersamaan dengan air matanya yang tiba-tiba mengaliri pipinya. Ini bukan air mata kesedihan, ia hanya terlalu merindukan sahabatnya


“Aku juga merindukanmu. Makan siang bareng?”


**


Enam bulan bekerja di Bali tak membuatnya lupa jalanan Jakarta, entah kenapa ia justru mampu menghapalnya dengan baik. Mungkin karena ia sudah sangat lama tinggal di Jakarta sejak ia memutuskan untuk merantau di Ibukota. Liliana dalam perjalanan untuk menemui Nabila.


Wanita hamil itu sangat aktif, dalam usia rawan-rawan seperti saat ini, ia dengan semangat empat limanya malah mengajaknya makan siang di luar. Liliana tak masalah sebenarnya, hanya saja ia takut Reno akan mengomeli dirinya jika terjadi apa-apa pada istri tercintanya itu.


Liliana melambaikan tangannya pada Nabila yang sudah duduk manis di salah satu restoran favorit yang sering mereka kunjungi jika ingin bertemu. Mereka sudah menjadpelanggan tetap sejak mengetahui rasa makanan di sana yang sangat memanjakan lidah itu, suasananya juga sangat cocok untuk bersantai. Jadilah mereka pelanggan tetap di sana.


“Apa Reno ikut ke sini?” tanya Liliana ketika melihat cangkir kosong di meja yang Nabila pilih.


“Ah, itu…ya, ada seseorang tadi, tapi dia udah pergi sekarang.” Nabila tampak ragu ketika menjawab Liliana. Ia ingin memberitahu yang sebenarnya, tapi ia takut dengan reaksi yang akan di berikan Liliana.


“Maafkan aku, Li,”


Liliana menatap Nabila bingung. “Sebenarnya aku baru saja bertemu Dimitri.”


Liliana tak menduga hal ini tentunya. Nabila dan Dimitri tak sedekat itu untuk saling bertemu, kecuali mereka saling mengalami urusan dan saling membutuhkan. “Huh?”


Sebenarnya tak ada reaksi yang mampu menggambarkan Liliana saat ini, ia bingung tapi juga penasaran. Ia sangat ingin bertanya kenapa, tapi otaknya terus-terusan menolak mentah-mentah hal itu. Ia sangat merindukan pria itu. Rindu yang tak pantas ia rasa sebelumnya, dan bahkan mungkin saat ini.


“Kamu sudah pesan makanan, ayo pesan, aku sangat lapar.” Liliana mengalihkan wajahnya dan juga mengalihkan topik pembicaraan


Liliana siap dengan kota Jakarta yang mungkin akan memberinya tantangan baru, ia hanya belum siap dengan seseorang yang masih ia cintai hingga tujuh bulan yang sudah terlewat begitu saja.


**