
Aku
tak pernah menginginkan situasi ini terjadi, tapi sepertinya aku tak bisa
menghindar. Aku akhirnya bertemu dengan Michelle, tunangan Kevin, mantan pacar
Dimitri ketika itu. Bagaimana bisa kedua pria itu memiliki hubungan dengan
gadis yang sama di waktu berbeda? Aku tak iri, hanya sedikit kesal.
Michelle
jauh lebih cantik saat ini, ketika ia duduk di hadapanku, dan terkutuklah
Richard yang datang terlambat padahal dia yang mengatur pertemuan ini. Aku tak
terlalu membutuhkan pertemuan ini, situasi ini terlalu lucu untuk kuhadapi dan
aku sangat membencinya.
“Kita
pernah bertemu sebelumnya, Kak,” ucapnya.
“Maafkan
aku, di hari pertunangan kalian aku tak hadir. Aku juga sepertinya sangat telat
jika mengucapkan selamat sekarang, kan?” Aku mencoba memberikan senyum
terbaikku padanya.
Sejujurnya,
aku tak terlalu akrab dengan wanita lain. Sifatku sangat bertolak belakang
dengan wanita kebanyakan, jadi aku merasa sedikit timpang jika berbicara dengan
wanita lain, kecuali Nabila. Jika wanita kebanyakan menghabiskan waktunya
dengan berbelanja atau nongkrong di kafe, maka aku lebih memilih bekerja,
membaca buku, atau tidur.
Sepertinya
Michelle ini juga termasuk wanita kebanyakan, tapi ia terlalu muda untuk di
sebut wanita, mungkin gadis.
Michelle
memberikan senyumnya padaku. Aku tak merasa iri, jika saja wajahku sepertinya,
kupikir akan ada banyak pria yang mendekatiku. Kalian tahu, wajahnya sangat
cantik, sepertinya Tuhan sedang berbahagia ketika menciptakan dirinya.
“Tak
masalah, Kak. Kevin sering menceritakan Kak Liliana, aku jadi penasaran ingin
bertemu langsung.”
Kupikir
hubungannya dengan Kevin tak sedekat itu, dan menawarkan pertemuan ini adalah
Richard, kakaknya sendiri. Kenapa ia malah membicarakan Kevin? “Ya, ia sudah
seperti adik untukku. Bagaimana pendapatmu tentang Kevin?”
“Kami
teman lama sebenarnya, aku juga kaget ketika Papa menyarankan pertunangan ini.”
Aku
sudah sering bertemu banyak klien dengan beragam sifat dan tingkah mereka. Sedikit
banyak aku bisa mengerti bagaimana sifat mereka hanya dalam sekali lihat,
maksudku, aku kadang mengamati mereka, jadi aku bisa tahu apa yang mereka
inginkan secara tak langsung. Aku selalu berfirasat buruk ketika berhadapan
dengan wanita baru, siapapun itu.
Maafkan
sikap burukku ini, tapi sifat yang satu itu tak bisa kukendalikan. Walaupun aku
sudah mencoba untuk berubah, tetap saja aku akan melakukannya secara tak
sadar. Intinya, aku merasa sikap yang di
tunjukkan Michelle saat ini sangat tak alami. Ia seperti memaksakan senyum itu,
bahkan tertawanya sangat sumbang.
Aku
hanya memberi anggukan pada semua ucapannya. Aku tak ingin mencoba untuk
berbuat baik padanya, aku hanya akan bersikap sopan padanya. Secara tidak
langsung, aku akan berurusan dengannya. Melalui Kevin, Richard, ataupun
Dimitri.
“Ngomong-ngomong,
Kakak ada hubungan apa dengan Richard?” tanyanya lagi.
Gadis
ini memanggil Kakaknya tanpa embel-embel ‘Kak’, itu sangat terdengar kasar
untukku. Bahkan Kevin memanggilku Kakak, ia tetap memanggil Dimitri dengan nama
juga, sih. Aku menatapnya terkejut.
“Ah,
kami terlalu sering tinggal di luar negeri, jadi panggilan ‘Kakak’ tak pernah
kusebutkan. Richard juga tak keberatan tentang itu.” Ia menampilkan senyuman
lagi.
Apa
ia tak lelah terus-terusan tersenyum sejak tadi? “Kami hanya berteman. Richard berteman
dengan pacar sahabatku.”
“Tapi
kalian sangat terlihat cocok, aku tak keberatan memiliki kakak ipar seperti Kak
Lili.”
Sepertinya
aku yang keberatan. Apa menikah semudah itu? Jika memang mudah, maka aku
harusnya sudah menikah saat ini, dan hidup berbahagia dengan keluarga kecilku. Bukan
malah memiliki affair dengan
sahabatku sendiri.
“Maaf
aku terlambat, ada operasi yang tak bisa di tinggalkan.”
Richard
tiba-tiba muncul dan langsung menghampiri meja kami. Aku hanya tersenyum
memakluminya, tapi dalam hati rasanya aku ingin mengutuk pria ini.
“Tak
masalah, ngobrol sama Kak Lili asyik, pastiin Kakakku tercinta ini gak ngelepas wanita cantik ini.”
Michelle
berbicara dengan riang seolah kami memang menghabiskan waktu dengan riang. Mungkin
gadis ini merasa seperti itu, tapi aku tidak. Moodku masih memburuk, dan
bertemu gadis ini membuatku semakin muak rasanya.
Biasanya
ketika bertemu Richard mampu membuatku tersenyum, tapi misteri yang mereka
miliki membuatku urung merasakan hal itu lagi. Yang kubutuhkan saat ini adalah
mereka tak menutupi apapun dariku lagi.
**
Aku
kembali kekantor dengan suasana yang makin suram. Makan siang tadi, yang lebih
di dominasi oleh Michelle. Sepertinya nasi goreng yang kumakan tadi tak
tercerna dengan baik di lambungku karena perasaan kesal yang mendominasiku. Aku
sendiri tak mengerti kenapa aku seperti ini, mungkin aku sedang dalam kondisi
PMS. Hanya itu yang paling masuk akal, perutku juga sangat melilit sejak tadi.
Aku
mendudukkan diri di sofa untuk tamu ini, sambil memijat pelipisku yang rasanya
sangat sakit ini. Masih ada satu rapat lagi yang harus kuhadiri, dan kondisiku
sangat tak memungkinkan untuk menghadiri rapat itu. Aku merogoh tasku untuk
mencari ponselku. Jam makan siang belum berakhir, dan Eka pasti masih berada di
luar juga untuk makan siang, atau berada di kantin.
“Eka,
tolong undur rapat sore ini. Saya sedang tak enak badan dan mungkin akan
langsung pulang. Batalkan semua jadwal sore ini.”
Setelah
mendengar jawaban Eka di seberang sana, aku segera menutup sambungan telpon. Aku
langsung membaringkan tubuhku di sofa, aku tak kuat lagi untuk berjalan sampai
lobi untuk pulang. Aku hanya perlu berbaring sebentar agar bisa memulihkan
tenagaku.
Lain
kali jika aku bertemu Michelle lagi, aku ingin bertanya padanya soal semua yang
pernah terjadi di masa lalunya. Aku sangat stress memikirkan hal itu, dan aku
yakin itu juga yang menyebabkanku seperti ini.
**
Aku
tak tahu berapa lama aku tertidur di sofa ini, tapi rasanya punggungku sangat
sakit. Dengan susah payah aku segera bangkit, ruanganku sangat gelap, dan di
luar pun pasti sudah gelap juga. Aku mengambil ponselku yang tergeletak di
meja, pukul lima tiga puluh. Ternyata tidurku cukup lama juga, bukan hanya
cukup, itu sangat lebih dari cukup.
Tak
ada pesan masuk atau telepon dari siapapun, apa itu artinya Dimitri dan Kevin
sama sekali tak mencariku? Kenapa itu jadi terdengar menyedihkan? Karena aku tak
memiliki siapapun lagi untuk mencariku selain kedua pria itu.
Sepertinya
tidak ada lagi orang di lantai ini, yah lagipula hari ini juga kerjaan tak
terlalu banyak. Eka juga pasti sudah pulang duluan, dia sangat disiplin, tapi
jika memang ada yang harus di kerjakan dia akan dengan senang hati lembur. Aku menenteng heels yang sangat mengganggu di
kakiku, dan juga tas, tak ada barang lain yang harus di bereskan dan aku bisa
langsung pulang.
Tanganku
sudah akan membuka pintu ketika aku mendengar obrolan di luar pintuku.
“Kenapa
kamu memberitahu Lili tentang Michelle?” tanya suara itu. Kurasa itu adalah
Dimitri dan Kevin, aku sudah sangat hapal suara kedua orang itu. Lagipula siapa
lagi yang akan membicarakan Michelle jika bukan mereka berdua?
“Kak
Lili harus tahu, sampai kapan kamu akan menyembunyikan hal itu?”
“Aku
gak tahu apa motif di balik pertunangan kalian, tapi aku gak mau Lili terlibat
Jadi
benar pendapatku tadi, Michelle memang cantik, tapi sifatnya tak secantik
wajahnya. Lalu apa hubungannya denganku? Aku tahu menguping bukan hal yang baik,
tapi aku tak sengaja mendengar ini. Kalau bukan karena kesengajaan ini, aku tak
akan mengetahui apapun, jadi biarkan saja seperti ini.
“Kalau
begitu tentukan, kamu akan memacari Kak Lili tau memutus persahabatan kalian. Setidaknya
kalau kamu tak ingin melindungi Kak Lili, kamu tak boleh menyakitinya. Semua
ini juga karena keegoisanmu, Dimitri.”
Apa
Michelle segila itu? Memang apa yang bisa di lakukan gadis itu? Aku bisa
mendengar helaan putus asa Dimitri. Jadi ini masalah yang membuatnya berubah
dan bersikap aneh. Kenapa harus ada aku di antara hubungan rumit mereka. Apa Michelle
sebenarnya semacam gangster?
Sepertinya
mereka masih di luar, aku belum mendengar suara langkah kaki mereka. “Aku
benar-benar akan membunuhmu jika terjadi sesuatu pada Kak Lili, Dimitri.”
Aku
mematung di balik pintu, apa aku harus keluar dan bersikap seperti biasanya,
atau aku harus menunggu sampai keduanya pergi? Aku sebenarnya akan dengan
senang hati memilih opsi kedua, tapi aku juga penasaran dengan raut wajah yang
akan di tunjukkan Dimitri jika melihatku masih di kantor.
Jadi,
setelah menghela napas beberapa kali aku membuka pintu, aku sudah mempersiapkan poker face yang akan kutunjukkan pada
Dimitri. Aku sering menonton drama, jadi sepertinya aku bisa meniru akting
artis di sana.
“Dimitri!”
Aku berteriak, berpura-pura kaget. Semoga saja wajahku cukup membuatnya yakin
kalau aku benar-benar terkejut.
Dimitri
menatapku, wajahnya benar-benar terkejut. Aku tak pernah melihat ekspresi ini
sebelumnya, jadi dia benar-benar tak mengharapkan kehadiranku di sini.
“Kupikir
kamu sudah pulang, Eka bilang kamu gak enak badan.”
Aku
tadinya berharap Dimitri akan khawatir ketika melihatku masih di kantor, atau
setidaknya ia meneleponku ketika tidur tadi. Harapanku terlalu tinggi, kan? Kevin
bahkan tak melakukan hal yang sama, apa Michelle benar-benar membuat mereka
kebingungan seperti ini?
“Ya,
aku ketiduran rupanya. Kamu ngapain di sini?” tanyaku. Masih mempertahankan poker face yang semoga tak terlalu
mengecewakan.
“Aku
pikir Eka masih di sini, aku tadi mau minta berkas sama dia.”
Aku
hanya mengangguk. “Aku duluan kalo gitu.”
“Li…,”
Dimitri mencekal lenganku, dan aku menoleh menatapnya. Aku selalu menunjukkan
wajah ini di hadapan klien, tapi ketika menunjukkan wajah ini pada Dimitri,
rasanya aku benar-benar ingin segera lari dari sini. “Aku antar pulang.”
Bukan
pertanyaan, pernyataan seperti biasa. Hanya sifat itu yang tak berubah darinya,
selain itu dia berubah, jika tidak maka itu hanya kepura-puraannya. Aku ingin
menggeleng, tapi aku malah mengangguk sebagai jawaban. Biasanya ia juga tak
membutuhkan jawaban.
Selanjutnya
aku hanya berjalan mengikutinya menuju basement. Ia tak mengatakan apapun, begitupun denganku. Aku bahkan sangat kebingungan
harus bersikap seperti apa. Kenapa situasi bisa berubah secepat ini? Padahal kemarin
kami masih menikmati kebersamaan kami.
Dimitri
tak langsung membawaku pulang, ia membawaku ke salah satu warung tenda yang
searah dengan apartemenku. Ini memang jam makan malam, jadi wajar saja jika ia
membawaku kemari, tapi sayangnya aku sama sekali tak memiliki nafsu untuk
makan. Aku hanya ingin kembali tidur, atau kembali menegak obat tidurku agar
bisa tidur.
Kami
duduk di kursi satu-satunya yang kosong, di jam-jam seperti ini pasti sangat
banyak orang yang mampir untuk makan malam, dan warung tenda ini juga yang
paling terkenal di antara yang lainnya.
“Aku
tak nafsu makan, Al. Kamu aja yang makan.” Aku mendorong piring yang baru saja
di sajikan oleh abang-abang penjual di meja kami.
“Kamu
sendiri yang bilang kalau gak enak badan, kamu harus makan, Li. Kamu gak mau di
paksa dengan caraku, kan?”
Aku
menatapnya dengan datar, wajahnya mengeras seolah aku melakukan kesalahan. Aku juga
tak pernah memintanya untuk makan di sini, aku hanya ingin pulang, jika dia
mengerti.
“Aku
makan ketika aku ingin, bukan karena keputusanmu. Aku juga tak memintamu untuk
makan malam terlebih dahulu, Al.”
“Ada
apa denganmu?”
Aku
juga sangat ingin menanyakan hal yang sama padanya, tapi pertanyaan itu tak
kunjung terlontar padanya. Berakhir hanya kusimpan dalam hati, akan kukeluarkan
nanti.
“Mungkin
karena PMS, abaikan aja. Aku lagi gak selera makan.” Aku mengedarkan pandanganku
kemanapun asal tak menatap wajahnya.
“Kita
pulang kalau gitu. Bang! Bisa tolong bungkusin makanan ini?”
Aku
menatapnya yang sedang memanggil abang-abang yang mengantar makanan tadi. Aku tahu
ia tak bisa makan jika sendirian, ia akan memilih menahan lapar di banding
harus makan sendirian. Setidaknya kebiasaan itu belum berubah darinya.
Kami
kembali berkendara menuju apartemen, sama seperti tadi, kami sama-sama tak
berbicara sedikitpun. Ini adalah perjalanan terhening kami. Beruntung aku memiliki
alasan PMS jika ia akan menanyaiku tentang sikapku padanya barusan.
Tak
sampai tiga puluh menit, dan kami sudah sampai di gedung apartemenku. Ia tak
mengantarku sampai basement. Itu artinya
dia tak akan tinggal. Aku juga tak menginginkan dia tinggal saat ini, tapi
kebiasaan yang sudah sering kami lakukan itu sepertinya membuatku terbiasa. Bodoh
sekali, kan? Apa ini bagian dari jatuh cinta itu?
“Kamu
sedang ada masalah?” tanyaku.
Hening.
Sepertinya
memang ia sedang tak menginginkanku. “Carilah wanitamu, agar wajahmu tak kusut
lagi,” ucapku lagi.
Aku
memutuskan untuk keluar, ia sudah pasti tak akan menjawabku. Aku saja yang
terlalu ingin tahu dengan semuanya.
“Tolong
jangan dekati pria itu lagi,” ucapnya.
“Aku
sudah bilang kalau aku akan melakukannya jika kamu memberiku alasan.” Aku belum
menatapnya. Aku masih memegang handle pintu
mobilnya, benar-benar bersiap untuk turun.
“Jadi
pacarku.”
Percakapan
mereka tadi sore kembali mampir di kepalaku. Kevin memberinya pilihan untuk memacariku
atau memutus persahabatan kami, dan sepertinya pria ini memilih untuk
memacariku. Aku tak tahu apa maksud dari kalimat itu, yang jelas itu bukan hal
yang baik.
“Aku
turun.” Pintu mobil sudah kubuka, tapi Dimitri memaksaku masuk dengan menarik tanganku.
“Kamu sedang banyak pikiran, tenangkan pikiranmu dulu baru berbicara denganku
lagi,” ucapku dengan wajah datar.
“Aku
serius dengan ucapanku, Li.” Dimitri menatapku lekat. Mata hitam legam itu
menunjukkan keseriusannya di sana, tapi aku tak ingin melihat hal itu, aku
benar-benar tak ingin masuk ke dalam masalah mereka.
“Kita
sahabat, dan akan selamanya begitu, Dimitri.”
**
Selamat membaca, ya, maafkan typo yang bertebaran. Love u all^^^