PLAYBOY

PLAYBOY
Michelle Laura



Aku


tak pernah menginginkan situasi ini terjadi, tapi sepertinya aku tak bisa


menghindar. Aku akhirnya bertemu dengan Michelle, tunangan Kevin, mantan pacar


Dimitri ketika itu. Bagaimana bisa kedua pria itu memiliki hubungan dengan


gadis yang sama di waktu berbeda? Aku tak iri, hanya sedikit kesal.


Michelle


jauh lebih cantik saat ini, ketika ia duduk di hadapanku, dan terkutuklah


Richard yang datang terlambat padahal dia yang mengatur pertemuan ini. Aku tak


terlalu membutuhkan pertemuan ini, situasi ini terlalu lucu untuk kuhadapi dan


aku sangat membencinya.


“Kita


pernah bertemu sebelumnya, Kak,” ucapnya.


“Maafkan


aku, di hari pertunangan kalian aku tak hadir. Aku juga sepertinya sangat telat


jika mengucapkan selamat sekarang, kan?” Aku mencoba memberikan senyum


terbaikku padanya.


Sejujurnya,


aku tak terlalu akrab dengan wanita lain. Sifatku sangat bertolak belakang


dengan wanita kebanyakan, jadi aku merasa sedikit timpang jika berbicara dengan


wanita lain, kecuali Nabila. Jika wanita kebanyakan menghabiskan waktunya


dengan berbelanja atau nongkrong di kafe, maka aku lebih memilih bekerja,


membaca buku, atau tidur.


Sepertinya


Michelle ini juga termasuk wanita kebanyakan, tapi ia terlalu muda untuk di


sebut wanita, mungkin gadis.


Michelle


memberikan senyumnya padaku. Aku tak merasa iri, jika saja wajahku sepertinya,


kupikir akan ada banyak pria yang mendekatiku. Kalian tahu, wajahnya sangat


cantik, sepertinya Tuhan sedang berbahagia ketika menciptakan dirinya.


“Tak


masalah, Kak. Kevin sering menceritakan Kak Liliana, aku jadi penasaran ingin


bertemu langsung.”


Kupikir


hubungannya dengan Kevin tak sedekat itu, dan menawarkan pertemuan ini adalah


Richard, kakaknya sendiri. Kenapa ia malah membicarakan Kevin? “Ya, ia sudah


seperti adik untukku. Bagaimana pendapatmu tentang Kevin?”


“Kami


teman lama sebenarnya, aku juga kaget ketika Papa menyarankan pertunangan ini.”


Aku


sudah sering bertemu banyak klien dengan beragam sifat dan tingkah mereka. Sedikit


banyak aku bisa mengerti bagaimana sifat mereka hanya dalam sekali lihat,


maksudku, aku kadang mengamati mereka, jadi aku bisa tahu apa yang mereka


inginkan secara tak langsung. Aku selalu berfirasat buruk ketika berhadapan


dengan wanita baru, siapapun itu.


Maafkan


sikap burukku ini, tapi sifat yang satu itu tak bisa kukendalikan. Walaupun aku


sudah mencoba untuk berubah, tetap saja aku akan melakukannya secara tak


sadar.  Intinya, aku merasa sikap yang di


tunjukkan Michelle saat ini sangat tak alami. Ia seperti memaksakan senyum itu,


bahkan tertawanya sangat sumbang.


Aku


hanya memberi anggukan pada semua ucapannya. Aku tak ingin mencoba untuk


berbuat baik padanya, aku hanya akan bersikap sopan padanya. Secara tidak


langsung, aku akan berurusan dengannya. Melalui Kevin, Richard, ataupun


Dimitri.


“Ngomong-ngomong,


Kakak ada hubungan apa dengan Richard?” tanyanya lagi.


Gadis


ini memanggil Kakaknya tanpa embel-embel ‘Kak’, itu sangat terdengar kasar


untukku. Bahkan Kevin memanggilku Kakak, ia tetap memanggil Dimitri dengan nama


juga, sih. Aku menatapnya terkejut.


“Ah,


kami terlalu sering tinggal di luar negeri, jadi panggilan ‘Kakak’ tak pernah


kusebutkan. Richard juga tak keberatan tentang itu.” Ia menampilkan senyuman


lagi.


Apa


ia tak lelah terus-terusan tersenyum sejak tadi? “Kami hanya berteman. Richard berteman


dengan pacar sahabatku.”


“Tapi


kalian sangat terlihat cocok, aku tak keberatan memiliki kakak ipar seperti Kak


Lili.”


Sepertinya


aku yang keberatan. Apa menikah semudah itu? Jika memang mudah, maka aku


harusnya sudah menikah saat ini, dan hidup berbahagia dengan keluarga kecilku. Bukan


malah memiliki affair dengan


sahabatku sendiri.


“Maaf


aku terlambat, ada operasi yang tak bisa di tinggalkan.”


Richard


tiba-tiba muncul dan langsung menghampiri meja kami. Aku hanya tersenyum


memakluminya, tapi dalam hati rasanya aku ingin mengutuk pria ini.


“Tak


masalah, ngobrol sama Kak Lili asyik, pastiin Kakakku tercinta  ini gak ngelepas wanita cantik ini.”


Michelle


berbicara dengan riang seolah kami memang menghabiskan waktu dengan riang. Mungkin


gadis ini merasa seperti itu, tapi aku tidak. Moodku masih memburuk, dan


bertemu gadis ini membuatku semakin muak rasanya.


Biasanya


ketika bertemu Richard mampu membuatku tersenyum, tapi misteri yang mereka


miliki membuatku urung merasakan hal itu lagi. Yang kubutuhkan saat ini adalah


mereka tak menutupi apapun dariku lagi.


**


Aku


kembali kekantor dengan suasana yang makin suram. Makan siang tadi, yang lebih


di dominasi oleh Michelle. Sepertinya nasi goreng yang kumakan tadi tak


tercerna dengan baik di lambungku karena perasaan kesal yang mendominasiku. Aku


sendiri tak mengerti kenapa aku seperti ini, mungkin aku sedang dalam kondisi


PMS. Hanya itu yang paling masuk akal, perutku juga sangat melilit sejak tadi.


Aku


mendudukkan diri di sofa untuk tamu ini, sambil memijat pelipisku yang rasanya


sangat sakit ini. Masih ada satu rapat lagi yang harus kuhadiri, dan kondisiku


sangat tak memungkinkan untuk menghadiri rapat itu. Aku merogoh tasku untuk


mencari ponselku. Jam makan siang belum berakhir, dan Eka pasti masih berada di


luar juga untuk makan siang, atau berada di kantin.


“Eka,


tolong undur rapat sore ini. Saya sedang tak enak badan dan mungkin akan


langsung pulang. Batalkan semua jadwal sore ini.”


Setelah


mendengar jawaban Eka di seberang sana, aku segera menutup sambungan telpon. Aku


langsung membaringkan tubuhku di sofa, aku tak kuat lagi untuk berjalan sampai


lobi untuk pulang. Aku hanya perlu berbaring sebentar agar bisa memulihkan


tenagaku.


Lain


kali jika aku bertemu Michelle lagi, aku ingin bertanya padanya soal semua yang


pernah terjadi di masa lalunya. Aku sangat stress memikirkan hal itu, dan aku


yakin itu juga yang menyebabkanku seperti ini.


**


Aku


tak tahu berapa lama aku tertidur di sofa ini, tapi rasanya punggungku sangat


sakit. Dengan susah payah aku segera bangkit, ruanganku sangat gelap, dan di


luar pun pasti sudah gelap juga. Aku mengambil ponselku yang tergeletak di


meja, pukul lima tiga puluh. Ternyata tidurku cukup lama juga, bukan hanya


cukup, itu sangat lebih dari cukup.


Tak


ada pesan masuk atau telepon dari siapapun, apa itu artinya Dimitri dan Kevin


sama sekali tak mencariku? Kenapa itu jadi terdengar menyedihkan? Karena aku tak


memiliki siapapun lagi untuk mencariku selain kedua pria itu.


Sepertinya


tidak ada lagi orang di lantai ini, yah lagipula hari ini juga kerjaan tak


terlalu banyak. Eka juga pasti sudah pulang duluan, dia sangat disiplin, tapi


jika memang ada yang harus di kerjakan dia akan dengan senang hati lembur. Aku menenteng heels yang sangat mengganggu di


kakiku, dan juga tas, tak ada barang lain yang harus di bereskan dan aku bisa


langsung pulang.


Tanganku


sudah akan membuka pintu ketika aku mendengar obrolan di luar pintuku.


“Kenapa


kamu memberitahu Lili tentang Michelle?” tanya suara itu. Kurasa itu adalah


Dimitri dan Kevin, aku sudah sangat hapal suara kedua orang itu. Lagipula siapa


lagi yang akan membicarakan Michelle jika bukan mereka berdua?


“Kak


Lili harus tahu, sampai kapan kamu akan menyembunyikan hal itu?”


“Aku


gak tahu apa motif di balik pertunangan kalian, tapi aku gak mau Lili terlibat


Jadi


benar pendapatku tadi, Michelle memang cantik, tapi sifatnya tak secantik


wajahnya. Lalu apa hubungannya denganku? Aku tahu menguping bukan hal yang baik,


tapi aku tak sengaja mendengar ini. Kalau bukan karena kesengajaan ini, aku tak


akan mengetahui apapun, jadi biarkan saja seperti ini.


“Kalau


begitu tentukan, kamu akan memacari Kak Lili tau memutus persahabatan kalian. Setidaknya


kalau kamu tak ingin melindungi Kak Lili, kamu tak boleh menyakitinya. Semua


ini juga karena keegoisanmu, Dimitri.”


Apa


Michelle segila itu? Memang apa yang bisa di lakukan gadis itu? Aku bisa


mendengar helaan putus asa Dimitri. Jadi ini masalah yang membuatnya berubah


dan bersikap aneh. Kenapa harus ada aku di antara hubungan rumit mereka. Apa Michelle


sebenarnya semacam gangster?


Sepertinya


mereka masih di luar, aku belum mendengar suara langkah kaki mereka. “Aku


benar-benar akan membunuhmu jika terjadi sesuatu pada Kak Lili, Dimitri.”


Aku


mematung di balik pintu, apa aku harus keluar dan bersikap seperti biasanya,


atau aku harus menunggu sampai keduanya pergi? Aku sebenarnya akan dengan


senang hati memilih opsi kedua, tapi aku juga penasaran dengan raut wajah yang


akan di tunjukkan Dimitri jika melihatku masih di kantor.


Jadi,


setelah menghela napas beberapa kali aku membuka pintu, aku sudah mempersiapkan poker face yang akan kutunjukkan pada


Dimitri. Aku sering menonton drama, jadi sepertinya aku bisa meniru akting


artis di sana.


“Dimitri!”


Aku berteriak, berpura-pura kaget. Semoga saja wajahku cukup membuatnya yakin


kalau aku benar-benar terkejut.


Dimitri


menatapku, wajahnya benar-benar terkejut. Aku tak pernah melihat ekspresi ini


sebelumnya, jadi dia benar-benar tak mengharapkan kehadiranku di sini.


“Kupikir


kamu sudah pulang, Eka bilang kamu gak enak badan.”


Aku


tadinya berharap Dimitri akan khawatir ketika melihatku masih di kantor, atau


setidaknya ia meneleponku ketika tidur tadi. Harapanku terlalu tinggi, kan? Kevin


bahkan tak melakukan hal yang sama, apa Michelle benar-benar membuat mereka


kebingungan seperti ini?


“Ya,


aku ketiduran rupanya. Kamu ngapain di sini?” tanyaku. Masih mempertahankan poker face yang semoga tak terlalu


mengecewakan.


“Aku


pikir Eka masih di sini, aku tadi mau minta berkas sama dia.”


Aku


hanya mengangguk. “Aku duluan kalo gitu.”


“Li…,”


Dimitri mencekal lenganku, dan aku menoleh menatapnya. Aku selalu menunjukkan


wajah ini di hadapan klien, tapi ketika menunjukkan wajah ini pada Dimitri,


rasanya aku benar-benar ingin segera lari dari sini. “Aku antar pulang.”


Bukan


pertanyaan, pernyataan seperti biasa. Hanya sifat itu yang tak berubah darinya,


selain itu dia berubah, jika tidak maka itu hanya kepura-puraannya. Aku ingin


menggeleng, tapi aku malah mengangguk sebagai jawaban. Biasanya ia juga tak


membutuhkan jawaban.


Selanjutnya


aku hanya berjalan mengikutinya menuju basement. Ia tak mengatakan apapun, begitupun denganku. Aku bahkan sangat kebingungan


harus bersikap seperti apa. Kenapa situasi bisa berubah secepat ini? Padahal kemarin


kami masih menikmati kebersamaan kami.


Dimitri


tak langsung membawaku pulang, ia membawaku ke salah satu warung tenda yang


searah dengan apartemenku. Ini memang jam makan malam, jadi wajar saja jika ia


membawaku kemari, tapi sayangnya aku sama sekali tak memiliki nafsu untuk


makan. Aku hanya ingin kembali tidur, atau kembali menegak obat tidurku agar


bisa tidur.


Kami


duduk di kursi satu-satunya yang kosong, di jam-jam seperti ini pasti sangat


banyak orang yang mampir untuk makan malam, dan warung tenda ini juga yang


paling terkenal di antara yang lainnya.


“Aku


tak nafsu makan, Al. Kamu aja yang makan.” Aku mendorong piring yang baru saja


di sajikan oleh abang-abang penjual di meja kami.


“Kamu


sendiri yang bilang kalau gak enak badan, kamu harus makan, Li. Kamu gak mau di


paksa dengan caraku, kan?”


Aku


menatapnya dengan datar, wajahnya mengeras seolah aku melakukan kesalahan. Aku juga


tak pernah memintanya untuk makan di sini, aku hanya ingin pulang, jika dia


mengerti.


“Aku


makan ketika aku ingin, bukan karena keputusanmu. Aku juga tak memintamu untuk


makan malam terlebih dahulu, Al.”


“Ada


apa denganmu?”


Aku


juga sangat ingin menanyakan hal yang sama padanya, tapi pertanyaan itu tak


kunjung terlontar padanya. Berakhir hanya kusimpan dalam hati, akan kukeluarkan


nanti.


“Mungkin


karena PMS, abaikan aja. Aku lagi gak selera makan.” Aku mengedarkan pandanganku


kemanapun asal tak menatap wajahnya.


“Kita


pulang kalau gitu. Bang! Bisa tolong bungkusin makanan ini?”


Aku


menatapnya yang sedang memanggil abang-abang yang mengantar makanan tadi. Aku tahu


ia tak bisa makan jika sendirian, ia akan memilih menahan lapar di banding


harus makan sendirian. Setidaknya kebiasaan itu belum berubah darinya.


Kami


kembali berkendara menuju apartemen, sama seperti tadi, kami sama-sama tak


berbicara sedikitpun. Ini adalah perjalanan terhening kami. Beruntung aku memiliki


alasan PMS jika ia akan menanyaiku tentang sikapku padanya barusan.


Tak


sampai tiga puluh menit, dan kami sudah sampai di gedung apartemenku. Ia tak


mengantarku sampai basement. Itu artinya


dia tak akan tinggal. Aku juga tak menginginkan dia tinggal saat ini, tapi


kebiasaan yang sudah sering kami lakukan itu sepertinya membuatku terbiasa. Bodoh


sekali, kan? Apa ini bagian dari jatuh cinta itu?


“Kamu


sedang ada masalah?” tanyaku.


Hening.


Sepertinya


memang ia sedang tak menginginkanku. “Carilah wanitamu, agar wajahmu tak kusut


lagi,” ucapku lagi.


Aku


memutuskan untuk keluar, ia sudah pasti tak akan menjawabku. Aku saja yang


terlalu ingin tahu dengan semuanya.


“Tolong


jangan dekati pria itu lagi,” ucapnya.


“Aku


sudah bilang kalau aku akan melakukannya jika kamu memberiku alasan.” Aku belum


menatapnya. Aku masih memegang handle pintu


mobilnya, benar-benar bersiap untuk turun.


“Jadi


pacarku.”


Percakapan


mereka tadi sore kembali mampir di kepalaku. Kevin memberinya pilihan untuk memacariku


atau memutus persahabatan kami, dan sepertinya pria ini memilih untuk


memacariku. Aku tak tahu apa maksud dari kalimat itu, yang jelas itu bukan hal


yang baik.


“Aku


turun.” Pintu mobil sudah kubuka, tapi Dimitri memaksaku masuk dengan menarik tanganku.


“Kamu sedang banyak pikiran, tenangkan pikiranmu dulu baru berbicara denganku


lagi,” ucapku dengan wajah datar.


“Aku


serius dengan ucapanku, Li.” Dimitri menatapku lekat. Mata hitam legam itu


menunjukkan keseriusannya di sana, tapi aku tak ingin melihat hal itu, aku


benar-benar tak ingin masuk ke dalam masalah mereka.


“Kita


sahabat, dan akan selamanya begitu, Dimitri.”


**


Selamat membaca, ya, maafkan typo yang bertebaran. Love u all^^^