PLAYBOY

PLAYBOY
Christian Bagaskara



Kalian masih ingat  dengan Christian Bagaskara?


Duda genit yang menjadi klien terbesar kami itu baru saja menyetujui proposal


yang sudah kuajukan sejak beberapa bulan yang lalu. Beruntung dia klienn yang


sangat potensial, jika tidak, aku tak akan peduli pada proposal apapun yang


pernah kuajukan.


Saat ini, ia kembali membuat ulah. Ia ingin membahas detail dari isi proposal itu


secara langsung. Padahal aku sudah pernah menjelaskannya ketika kami bertemu di


restoran, ia hanya terlalu di penuhi napsu sehingga sangat membuatku jijik. Aku


sangat tahu kalau ia mengincarku, ia selalu memintaku untuk hadir dalam rapat


apapun yang di bahas dengan perusahaan kami.


“Aku akan pergi menemui Pak Christian Bagaskara. Dia sudah menyetujui semua poin


dalam proposal itu, hanya tinggal menunggu ia memberi tanda tangan dan semuanya


selesai.”


Senin itu aku kembali bekerja seperti biasa, dan hal pertama yang kulakukan adalah


mengahdiri rapat untuk membahas pria hidung belang itu. Aku tak menginginkan


untuk bertemu sebenarnya, dia sedang berada di luar kota dan proposal itu harus


segera di tanda tangani. Jadi aku yang akan menemuinya, demi kelancaran bisnis


kami juga tentunya.


Aku menatap semua peserta rapat secara bergantian, mereka hanya mengangguk-angguk


mengerti, dan Dimitri yang menatapku tajam. Aku bisa melihat api kemarahan di


bola mata hitamnya, ia pasti sangat tak setuju dengan ide ini, dan akan


mencegahku bagaimanapun caranya.


Well, siapa yang peduli dengan hal itu. Ini adalah pekerjaanku dan Christian


Bagaskara hanyalah salah satu klien yang harus di tangani. Tiga puluh menit


kemudian, rapat selesai dan semua peserta kelua, begitupun aku. Kulihat Dimitri


masih duduk di kursinya, dia hanyalah pria yang penuh obsesi dengan sahabatnya


sendiri.


Aku kembali menghadapi satu tumpuk berkas di mejaku, untungnya jadwal rapatku hanya


satu tadi, selebihnya aku akan berurusan dengan berkas itu. Tak lama setelah


aku membaca berkas-berkas itu, pintu ruanganku terbuka dan Dimitri adalah


pelakunya.


“Ada yang bisa saya bantu?” tanyaku formal. Aku sudah menegakkan tubuhku untuk


mendengarkan apa yang akan ia katakan padaku.


“Batalkan kepergianmu ke Bandung.”


Ah, masalah ini. Kupikir ia tak akan sampai mendatangiku seperti ini. “Itu


tugasku.”


“Kamu lupa apa yang dia lakukan terakhir kali ketika kita rapat?” tanyanya dengan


emosi yang masih terkontrol baik olehnya, tak ada yang tahu kapan emosi itu


akan meledak-ledak.


Terakhir kali kami rapat, aku berakhir bercinta dengan Dimitri di mobil. Siapa yang akan


melupakan hari itu? Siang terpanas yang pernah kulalui dan yang terakhir


tentunya. “Lalu?” tanyaku santai.


Dimitri mengusap wajahnya, tampak frustrasi. Ini adalah bagian yang menyebalkan,


bagaimana ia bisa dengan membolak-balikkan perasaanku seperti ini? Aku ini


sahabatnya atau siapa, ia tak pernah memberiku kejelasan soal apapun lalu ia


melakukan ini padaku.


“Aku harap kamu gak lupa gimana dia ngelecehin kamu, dan kamu sekarang mau pergi


nemuin dia untuk sebuah tanda tangan, kamu pikir apa yang akan terjadi


denganmu, Li?!”


Aku menghargainya yang masih mengkhawatirkanku, hanya saja ini berlebihan, kan? “Kita


juga sering melakukannya, Al, apa yang salah jika aku melakukannya dengan pria


ini? Bukankah sama saja? Kamu atasanku dan dia klienku.”


Aku sangat takut untuk pergi menemui pria duda itu, aku hanya memberanikan diriku


saja. Aku butuh pengalihan perhatian. Dimitri menatapku dengan api kemarahan


yang terlihat sangat jelas, dia berjalan mendekati mejaku dan menumpukan


tangannya di meja kerjaku. Ia mendekatkan wajahnya padaku.


“Jangan pernah berani mengatakan kalimat itu di hadapanku! Aku dan pria itu berbeda. Jangan


merendahkan dirimu hanya demi sebuah proyek yang bisa kubatalkan kapanpun.” Ia berbisik


di depan wajahku dengan penuh kemarahan.


Aku melipat tanganku di dada dan dengan berani menatap wajahnya. Mungkin aku


terlalu lama berada di zona nyamanku sehingga pria ini dengan seenaknya


memperlakukanku seperti barang yang bisa ia klaim. Sudah cukup aku tunduk di


bawah tubuhnya selama ini. Aku juga punya ha katas diriku dan perasaanku, dan


pria ini tak akan menghancurkan semua itu.


“Bisa beritahu di mana letak bedanya? Kalian hanya dua pria yang haus nafsu, kamu


hanya melakukannya sedikit lebih halus di banding Christian. Apa aku salah? Apa


kamu pikir aku akan menyerahkan diriku semudah itu hanya karena ia memintaku? Apa


serendah itu aku di maatmu?”


Dimitri menjauhkan wajahnya, kemarahan itu masih ada di matanya. “Jangan memancingku,


Leena. Aku bisa melakukan apapun untuk mencegahmu menemui pria itu.”


“Perlakukan aku seperti bawahanmu dan jadilah profesional. Atas dasar apa kamu melarangku


pergi? Hanya karena dia seorang pria mesum, dan dia bukan pria mesum pertama


yang kutemui. Bersikaplah sesuai posisimu.”


Aku seperti tak mengenali diriku, karena kalimatku tadi sangat tajam dan dingin. Aku


belum pernah mengatakan hal seperti itu dengan Dimitri atau Kevin sebelumnya,


kecuali dengan bawahanku atau klien yang semena-mena denganku.


Aku menekan intercom teleponku untuk memanggil Eka. “Ka, tolong bawa masuk…,”


Ucapankuterputus ketika Dimitri mengambil remot untuk mengunci pintu ruanganku, dan ia


mengunci pintu itu melalui tombol yang ada di remot. Aku belum pernah menceritakan


bagaimana canggihnya perusahaan ini. Pintu ruanganku salah satunya, aku tak


perlu mengunci ruanagan itu secara manual, aku hanya perlu menekan tombol kunci


pada remot dan pintu otomatis terkuci.


“Apa yang kamu lakukan?!” teriakku. Beruntung ruanganku kedap suara, dan aku


buru-buru mematikan sambungan intercom tadi.


“Kita belum selesai bicara.”


“Aku akan pergi, dengan atau tanpa izinmu karena sejak awal ini memang proyekku. Apa


masih kurang jelas untukmu?” Aku mencoba terlihat santai, kemarahanku juga


sudah mencapai batasnya, pria ini saja yang terlalu egois dan memaksakan


kehendaknya.


Dimitri kali ini mendekati kursi yang kududuki. Apa lagi yang akan terjadi kali ini? Apa


kami akan berakhir dengan bercinta lagi? Ketika hari masih sepagi ini. “Apa


kamu ingin memperkosaku di sini agar aku menuruti permintaanmu?”


Sepertinya perkataanku terlalu kejam, Dimitri sedikit kaget dengan pemilihan kata yang


kupakai. “Dimitri, bersikaplah sesuai posisimu. Aku bisa mengurusi diriku


sendiri, dan kamu hanya atasanku.”


Aku bangkit dari dudukku dan menghadapinya yang masih terpaku di tempatnya berdiri.


Aku menunjuk dadanya dengan telunjukku. “Sudah kubilang untuk tak berbicara


padaku sebelum kamu menjelaskan semua hal yang kamu sembunyikan. Fuck off, Dimitri!”


Aku berjalan menuju pintu meninggalkannya, aku memang hanya diam tapi bukan berarti


aku tak merasakan amarah atau rasa kesal. Aku masih manusia ketika terakhir


kali aku mengecek, jadi aku masih bisa merasakan marah dan kesal. Pria ini


terlalu meremehkanku.


**


duda genit itu. Semua sudah di persiapkan oleh Eka. Pertemuan itu akan di


lakukan ketika makan malam, dengan aku yang menentukan tempatnya. Aku juga


terpaksa menginap karena tak mungkin menyetir di malam hari untuk kembali ke


Jakarta.


Setelah pembicaraan alot di kantorku siang itu, sebenarnya itu tak bisa di bilang


pembicaraan karena Dimitri yang lebih memaksakan kehendaknya. Aku kembali tak


berbicara dengan Dimitri, tapi saat ini aku tak menghindarinya, justru ia yang


menghindariku. Persahabatan yang sudah berjalan selama lebih dari lima tahun


itu seolah tak berarti hanya karena permasalahan ini.


Aku tak bisa menyalahkan siapapun atau memaksa Kevin untuk menceritakan semuanya. Jika


mereka memilih tak memberitahuku, maka aku juga akan memilih untuk menghindari


mereka. Mereka tak bisa menyentuhku bahkan jika mereka ingin.


Mobilku berhenti di depan hotel yang akan kutempati untuk satu malam. Pertemuan malam ini


juga aku pilih di restoran hotel ini agar lebih praktis, bukan di ruang


tertutup seperti kejadian kemarin. Aku tak bodoh dan aku sudah mengantisipasi


semuanya. Aku pergi karena aku juga merencanakan sesuatu, apa kalian pikir aku


akan dengan sukarela menyerahkan diriku untuk sebuah tanda tangan?


Jika memang pria itu membutuhkan tubuhku sebelum menandatangani proposalnya, maka


aku akan dengan senang hati pulang ke Jakarta dan tak akan menemui pria ini


lagi.


Aku menahan lift yang hampir naik ketika aku akan masuk ke dalamnya, aku kaget


dengan pria yang ada di dalamnya. “Kamu mau masuk atau tidak?” tanyanya.


Aku tak mengatakan apapun dan langsung masuk ke dalamnya, bahkan ketika aku di


Bandung aku masih harus berhadapan dengan salah satu pria yang membuat hidupku


jungkir balik.


Richard.


Pria itu juga termasuk ke dalam daftar itu setelah Dimitri dan Kevin. Aku harusnya


membawa Eka kesini untuk menghindari semua ini. Aku tak memiliki masalah apapun


dengan Richard sebenarnya, kecuali kenyataan kalau ia adalah kakak dari


Michelle dan berhubungan dengan masalah ini entah bagaimana caranya.


“Perjalanan bisnis?” tanyanya


Aku hanya mengangguk tanpa berniat untuk menajawab pertanyaan itu. Apa aku terlihat


akan menghadiri pesta dengan setelan kerja ini?


“Mau makan siang dulu? Kudengar makanan di restoran ini cukup enak.” Ia sepertinya


ingin membuka obrolan denganku, tapi maaf saja, hatiku rasanya sudah cukup


tertutup untuk semua itu.


“Sepertinya aku—“


“Kamu bisa bertanya apapun padaku.”


Kali ini aku menatapnya, dan ia memberiku senyum. Entah dia hanya bermaksud baik


atau itu hanya iming-iming agar bisa makan siang denganku, tapi hal itu tentu


saja langsung menarik perhatianku.


“Apa kabar?” tanyanya padaku setelah kami mendapatkan meja kosong di restoran.


“Seperti yang kamu lihat,” ucapku dengan senyum tipis. Aku akan memberinya senyumku


karena ia sudah berbaik hati memperbolehkan aku untuk untuk bertanya padanya.


“Apa Michelle menyulitkanmu?”


Pertanyaan ini, bagaimana aku harus menanggapinya? Sebanyak apapun aku membencinya, aku


tak mungkin mengatakan itu di hadapan kakaknya. Aku bukan wanita seperti itu. Aku


berakhir tak memberinya jawaban apapun.


“Apa yang ingin kamu tanyakan?” tanyanya lagi. Mungkin ia mengerti apa yang sedang


kurasakan saat ini.


Aku juga bingung harus bertanya dari mana, terlalu banyak pertanyaan yang


berputar-putar di kepalaku dan aku bingung harus menanyakan yang mana. “Mulai


saja dari dirimu.”


Richard terlihat menimbang-nimbang sebelum mulai menjawab. “Aku dulu bersahabat dengan


Dimitri. Kami sangat dekat, lalu seorang gadis hadir di antara kami. Mereka berpacaran


dan terlihat sangat bahagia, aku juga bahagia melihat mereka, tapi Dimitri


selalu beranggapan kalau aku ingin merebut gadis itu darinya. Kami bertengkar,


dan hubungan kami buruk sampai sekarang.”


“Lalu apa hubungan semua ini dengan Michelle?”


“Dia hanya korban, aku tak ingin memberitahu bagaimana kondisi Michelle saat ini. Kalau


aku tahu pria yang akan di jodohkan dengan Michelle adalah Kevin, maka aku akan


membatalkan sebisa mungkin. Saat ini, Michelle semakin memburuk dan ia semakin


membutuhkan Dimitri. Aku takut itu akan buruk ke depannya.”


“Aku tak mengerti, Richard. Kenapa Michelle membutuhkan Dimitri? Apa yang terjadi


pada Michelle?” tanyaku tak sabar.


Richard menatapku, seperti ingin memastikan sesuatu. “Michelle depresi sejak tujuh


tahun yang lalu, atau mungkin delapan tahu yang lalu. Itu sudah sangat lama. Dimitri


adalah pria pertama yang di cintai Michelle, dan Dimitri meninggalkan Michelle


begitu saja. Ia sudah membaik tiga tahun belakangan ini, dan orang tuaku memutuskan


untuk menjodohkannya. Orang tuaku sama sekali tak tahu jika penyebab Michelle


depresi adalah salah satu anak lelaki dari keluarga itu.”


Aku menutup mulutku, hampir tak mempercayai pendengaranku. Benarkah itu terjadi


pada Michelle?


“Itulah kenapa aku memintamu menjauhi Dimitri. Michelle bisa melakukan hal nekat jika


Dimitri kembali meninggalkannya lagi.”


Jadi seburuk itu, dan Dimitri harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya ini. Kenapa


semuanya seburuk ini? Aku bahkan sempat berpikiran buruk pada Michelle


sebelumnya, aku juga masih membencinya hingga saat ini. Aku tak tahu harus


percaya atau tidak dengan semua yang di katakan Richard. Bisa saja pria ini


hanya mengada-ada, kan?


“Dan aku harus mempercayai semua itu?”


“Aku bisa memberikan padamu bukti dari rekam medis Michelle jika kamu tak percaya,


bahkan saat ini adikku masih harus terapi. Pada saat itu adalah masa terberat


yang pernah kulalui. Itulah kenapa aku membenci Dimitri.”


Aku terdiam. Aku memang ingin tahu seperti apa kenyataannya, tapi mendengarnya


secara langsung membuat perasaanku campur aduk. Aku menahan air mataku yang


ingin mengalir, jadi setelah ini apa? Aku tetap tak bisa mengungkapkan kalau


aku mencintai Dimitri, akan percuma juga jika aku mengatakannya. Untuk apa? Agar


bisa bersatu?


Aku ingin menjadi si egois dan mengklaim Dimitri untuk diriku sendiri,


semenyebalkan apapun pria itu. Pada akhirnya dialah yang sudah mengisi hidupku


selama ini. Tapi setelah mendengar semua ini, aku tak bisa melakukan apapun. Pada


akhirnya aku hanya memberikan senyum kecutku pada Richard.


“Terima kasih sudah memberitahuku semuanya…terima kasih sudah membuatku mengerti walaupun


hanya sedikit. Kurasa aku membutuhkan waktuku sendiri.”


Aku bangkit dari dudukku dan meninggalkan Richard seorang diri. Aku harus


menenangkan diriku sebelum pertemuan nanti malam. Toh, aku sudah mendapatkan


sedikit penjelasan. Itu sudah cukup.


**


Haiii aku mau kasih tau kalau part ini akan terbagi dua bagian karena menurutku cukup panjang kalau dijadiin satu bagian. Aku juga mungkin akan apdet lagi setelah idul adha karena aku bakal sibuk kerja weekend ini, tapi kalau ada waktu luang aku usahain apdet.


Makasih juga buat kalian yang udah sering komen, komen kalian bener-bener bikin aku semangat buat nulis kelanjutan ini. Kalian luar biasaa^^


Selamat membaca, oh dan selamat idul adha bagi yang merayakan. Aku takut gak bisa nyapa kalian buat ngucapin^^