PLAYBOY

PLAYBOY
Home



Aku tak tahu rasanya akan sesakit ini. Tak ada patah hati yang menyenangkan, kalau


ada berarti dia benar-benar bukan manusia yang memiliki perasaan. Aku sudah


meyakinkan diriku sendiri untuk tak menangis, tapi nyatanya air mataku tetap


mengalir tanpa diminta. Menangis memang bukan berarti lemah, tapi karena kita


sudah terlalu kuat untuk menahan semuanya sendiri.


Masih dapat kuingat dengan jelas bagaimana datarnya wajah Dimitri ketika bertemu


denganku kemarin. Aku memang tak menyalahkannya, tak juga membenarkan. Sampai


sekarang aku tak mengerti masalah apa yang menghubungkan tiga pria ini dan juga


Michelle. Mereka semuanya berpihak pada Michelle, dan aku menjadi pihak yang


tak mengerti apapun. Aku harusnya melakukan sesuatu, tapi aku memilih tidak


melakukan apapun.


Kalian bisa memakiku sepenuh hati. Dulu aku mempertahankan egoku dengan tak mengungkapkan


perasaan apapun yang kumiliki pada Dimitri. Sekarang ketika aku sudah mengakuinya,


aku justru sudah menerima kekalahan bahkan sebelum berperang. Aku dengan lapang


dada menerimanya, bodoh sekali aku.


Karena seluruh wilayah ini tak berpihak padaku, aku memutuskan pulang ke rumah orang


tuaku. Di sana aku bisa menemukan ketenangan yang tak kudapatkan di sini. Aku


tak mengambil cutiku, hanya mengorbankan waktuku sedikit untuk terbang ke


Jogja. Walaupun pasti akan melelahkan, tak apa, asal itu bersama orang tuaku.


Aku sudah meminta Eka untuk memesan penerbangan siang untuk hari jum’at, dan


sekarang aku hanya tinggal berangkat. Tadinya aku ingin memilih cuti saja,


untuk mengistirahatkan tubuhku, tapi cuti juga membutuhkan tanda tangan


Dimitri. Walaupun pria itu pasti akan tahu kemana aku pergi, setidaknya aku tak


perlu bertatap muka dengannya sebelum aku pergi dan dia akan menanyakan alasan


kepergianku.


Terlalu berbelit dan aku tak menyukainya. Aku hanya akan melakukan hal yang sederhana.


Dua hari sudah cukup untukku menenangkan diri. Aku akan kembali dengan jiwa


baru, dengan Liliana yang sesungguhnya, bukan yang melankolis seperti ini. Aku


bahkan tak mengenali diriku sendiri saat ini.


Aku tak memberitahukan hal ini pada kedua orang tuaku, mungkin aku akan memberikan


kejutan pada mereka. Aku juga sudah satu bulan ini tidak mengunjungi mereka,


mereka tak mengatakannya, tapi pasti mereka sangat ingin anaknya datang


berkunjung.


“Eka, untuk rapat dengan bagian multimedia tolong kamu gantikan, ya? Sisa rapat


dengan klien hari sabtu nanti, tolong di undur sampai hari senin. Sisa laporan


ini bisa kamu letakkan di kantor aja, kalau ada yang penting bisa langsung kamu email aja.”


Eka mencatat semua itu di buku kecil yang selalu ia bawa. Pesawatku masih jam tiga


sore nanti, tapi aku harus berangkat dari sekarang. Aku kembali izin, dan


mungkin gajiku akan di potong karena ini. Siapa yang peduli, toh aku masih


memiliki tabungan dan perusahaan masih membutuhkanku.


“Saya pergi sekarang, ya.”


Aku mengambil tasku dan berjalan keluar pintu. “Hati-hati di jalan Bu Lili.”


Aku tersenyum lalu benar-benar keluar dan segera menuju lift. Taksiku sudah


menunggu di bawah, dan semoga saja tak ada hal yang mengejutkan di perjalanan


menuju lobi seperti yang sebelum-sebelumnya.


**


Taksi itu berhenti di depan rumah gaya jawa kuno yang terlihat sederhana dan juga


nyaman. Rumah orang tuaku terletak di Sleman, tepatnya di Brangwetan. Aku selalu


merasa bahagia ketika pulang seperti ini. Untuk ukuran anak rantau yang jarang


pulang sepertiku, hal ini sangat berharga untukku.


Ada rasa bersalah yang terselip ketika aku kembali ke rumah ini, aku selalu membawa


dosa besar yang tak orang tuaku ketahui. Itu yang selalu menahanku untuk


sering-sering pulang walau mereka selalu memintaku pulang, tapi kali ini aku


memberanikan diri, karena aku sudah terlalu lelah dengan semuanya dan yang


kuperlukan adalah orang tuaku.


Aku mengetuk pintu kayu berwarna coklat itu, dan tak lama setelahnya aku mendengar


seruan dari dalam untuk menunggu sebentar. Ah, itu pasti Ibu. Aku sangat


merindukannya.


“Mira!” Ibu langsung memelukku begitu melihatku di depan pintu. Aku sontak langsung


memeluknya dengan erat. Pelukan hangat Ibuku yang tak bisa kudapatkan di tempat


lain.


Oh ya, aku juga memiliki berbagai nama panggilan, tergantung orang lain ingin


memanggilku seperti apa. Nama panjangku Liliana Almira Leena. Teman-temanku


atau rekan kerja biasa memanggilku Liliana, tapi di rumah, orang tuaku


memanggil Mira dari Almira.


“Kamu kok gak ngabarin mau pulang, Ibu kan jadi bisa siap-siap.” Aku dan Ibuku


berjalan memasuki rumah lalu duduk di sofa. Ibu masih dengan wajah terkejutnya


yang bercampur dengan wajah bahagia, aku hanya tersenyum saja melihat itu.


“Kan biar jadi kejutan, “ ucapku. Aku kembali masuk ke dalam pelukannya lagi, aku


sangat-sangat ingin di peluk saat ini. Tak mungkin untukku menceritakan


masalahku pada Ibu, jadi aku hanya ingin di peluk, agar aku tahu masih ada yang


bersamaku, yang masih mencintaiku dengan tulus.


“Bapak dimana, Bu?”


Aku sampai tadi ketika hari sudah sore, dan harusnya Bapak juga ada di rumah karena


sudah hampir jam makan malam. “Kamu pulang di waktu yang tepat, Nduk, keluarga Pak Wibisana mau makan


malam di rumah kita,” ucap Ibu dengan senyum yang sangat lebar.


Keluarga Pak Wibisana? Aku seperti pernah mendengar nama itu sebelumnya. Aku menaikkan


alis mencoba mengingat-ingat lagi nama itu. “Itu lho, temen SMA kamu yang waktu


itu mau di jodohin sama kamu,” ucap Ibu.


Aku terbelalak. Pak Wibisana yang itu, dia adalah juragan padi di desa sebelah, dan


Bapak bekerja sama dengan Pak Wibisana untuk usahanya. Ada beberapa petak sawah


tak jauh dari rumah ini, yang memang di miliki oleh kedua orang tuaku. Ada beberapa


pekerja yang mengurus sawah itu, dan Bapak hanya memantaunya.


Jika sudah memasuki masa panen, semua padi di sini akan di bawa ke tempat Pak


Wibisana. Ibu pernah menceritakan hal ini beberapa kali, tentang perjodohan itu


juga. Aku tak terlalu menanggapi karena kupikir itu hanyalah candaan belaka. Akuu


tak menyangka ini benar-benar terjadi. Berapa banyak pria yang ada di hidupku


saat ini?


**


Bapak sangat kaget ketika melihat kehadiranku di rumah. Aku sangat menikmati wajah


itu dan pelukannya tentu saja. Bapak adalah pria pertama yang sangat kupercaya,


lalu setelahnya ada Dimitri. Ya, Dimitri. Apa aku masih bisa mempercayainya


sekarang?


Makan malam itu berjalan lancar. Anak Pak Wibisana yang katanya akan di jodohkan


denganku juga hadir, dia terlihat baik, kulitnya sawo matang dan tubuhnya


tegap. Hampir setampan Dimitri hanya saja dengan kulit yang lebih gelap. Ia mengurusi


usaha yang di jalankan Ayahnya, yang membuatku mengingat Dimitri adalah,


wajahnya yang sama-sama dingin dan berbicara secukupnya.


Aku memang menyukai tipe pria seperti itu, tipe pria yang menantang untukku tapi


merepotkan juga. Aku memang suka merepotkan diriku sendiri sejak dulu, jadi


biarlah. Sangat aneh rasanya jika aku bisa mendapatkan pria dengan mudah, toh


aku juga tak pernah berhasil dengan hubungan asmaraku.


Pagi itu, ketika aku baru bangun dari tidurku, aku memutuskan untuk berjalan-jalan


di sekitaran sawah. Udara pagi di sini sangat menakjubkan dan segar, aku belum


pernah menemukan yang seperti ini ketika di Jakarta, hanya kesesakan yang


Tak ada obrolan mengenai perjodohan semalam, hanya perkenalan saja, dan kupikir


Dewa—anak Pak Wibisana—tak terlalu tertarik denganku. Kami sudah bertukar nomor


ponsel, dan dia belum menghubungiku. Aku juga tak ingin berharap lebih biarkan


semuanya mengalir seperti yang seharusnya.


“Kamu lagi ada masalah, Nduk?”


Aku dan Ibu sedang duduk di pondok bambu kecil di pinggir sawah, tempat para petani


itu melepaskan lelah. Kami menikmati sarapan pagi yang terdiri dari kue-kue


tradisional ini sambil memperhatikan para petani yang sedang mencabuti rumput


itu.


“Mira selalu punya masalah, Bu, pekerjaan Mira semakin berat semmenjak naik jabatan.”


Aku kembali menyandarkan kepalaku di bahu Ibu.


Aku tak pernah menceritakan kesulitanku pada Ibu atau Bapak, aku tak ingin


membebani mereka dengan semua keluh kesahku. Biarkan saja mengetahui hal baik


dari anak gadis satu-satunya, tapi aku juga sudah tak gadis lagi.


“Kalau kamu capek istirahat, Nduk, jangan


diforsir. Rumah ini selalu terbuka untuk kepulangan kamu, Ibu sama Bapak juga


selalu di sini,” ucap Ibu sambil mengelus kepalaku dengan sayang.


Ibu dan Bapak selalu memintaku pulang, karena aku anak satu-satunya dan selalu


menginginkan yang terbaik untukku. Aku tak perlu kerja keras seperti ini


sebenarnya, aku hanya perlu di sini bersama mereka, tapi aku selalu memiliki


pendapat lain dan orang tuaku selalu memahaniku. Aku memiliki orang tua terbaik


di dunia.


Aku memeluk Ibu dengan erat. “Mira pasti pulang, Bu. Doakan yang terbaik selalu


buat Mira, Bu.”


Ibu mencium puncak kepalaku, dan tanpa sadar air mata itu mengalir. Aku selalu tak


ingin membuat mereka kecewa, karenanya aku selalu melakukan yang terbaik. Mereka


adalah harta berharga yang kumiliki melebihi apapun.


“Dewa pria yang baik, kalau kamu gak keberatan mungkin kamu bisa coba kenalan lagi


sama dia.”


Dewa itu sebenarnya kakak kelasku, dia ketua OSIS dan aku dulu anggotanya. Dia pernah


beberapa kali mengantarku pulang, ketika Ibu bertanya aku akan langsung


menjawab dia adalah teman, ya kami memang teman tapi posisinya dia kakak


kelasku.


“Mira akan coba, Bu.”


**


Dua hari adalah waktu yang sangat singkat sebenarnya. Minggu sore aku harus kembali


terbang ke Jakarta, sangat melelahkan memang, tapi setidaknya kepalaku agak


sedikit ringan berada di rumah orang tuaku.


Aku sudah dalam perjalanan ke Bandara, dengan Dewa yang mengantarku. Ibu dan Bapak


melakukannya dengan sangat baik kali ini, setelah aku menolak sekian banyak


perjodohan yang orang tuaku berikan. Lagipula siapa yang ingin di jodohkan


ketika jaman sudah secanggih ini, tapi pada akhirnya juga aku tetap tak


mendapatkan pria manapun, secanggih apapun jaman berkembang.


Tak banyak yang kami bicarakan di dalam mobil. Dewa yang juga memang pendiam, dan


aku yang tak tahu ingin membahas topik apa. Mobil berhenti tepat di depan pintu


masuk.


“Aku pergi dulu, Mas,” ucapku sebelum turun dari mobil.


“Hati-hati. Lili—“


Aku menatapnya yang seperti ingin mengatakan sesuatu. “Apa kamu keberatan kalau aku


nanti berkunjung ke Jakarta?”


Aku tersenyum menatapnya, yah, lagipula hanya berkunjung, kan? Aku juga ingin


mewujudkan keinginan Ibu untuk mencoba dekat dengan pria ini, siapa yang tahu


dengan hati manusia? Bisa saja aku besok sudah mencintainya.


“Boleh, Mas. Hubungi saja kalau berkunjung.”


Ia hanya memberi anggukan lalu tersenyum, dan aku segera turun dari mobil. Aku masih


harus menghadapi kenyataan hidup yang sedikit pahit ini.


Satu jam kemudian aku sudah mendarat dengan selamat di Jakarta. Sudah pukul delapan


malam dan taka da yang menjempuutku, lagipula banyak taksi yang akan menunggu


di luar sana. Langkahku terhenti ketika melihat pria yang kuhindari sudah


berdiri di pintu keluar. Sudah kubilang jika pria ini selalu bisa menemukanku


bagaimana pun keadaannya.


Kami saling bertatapan selama beberapa detik, aku langsung menghampirinya dengan


senyum lebar, ternyata ada yang menjemputku. “Kamu selalu bisa menemukanku,”


ucapku ketika sampai di hadapannya. Sama  sekali tak berpikir kalau kami belum berbicara


sejak aku bertemu dengannya dan Michelle di lobi kantor kemarin.


“Kamu tak pernah memberitahu kalau akan pulang,” ucapnya tanpa ekspresi.


Aku tetap menunjukkan senyum lebarku padanya. “Aku cuma kangen sama Ibu, sama Bapak


juga. Apa aku harus lapor juga sama kamu masalah itu?”


Dia tak menjawab apapun, hanya berlalu pergi, dan aku segera mengikutinya. Apa kalian


berpikir aku tak merasakan apapun ketika bertemu pria ini? Aku masih bisa


merasakan rasa sakit hati itu, tapi sepertinya otakku sudah menjernih karena


pulang, aku jadi bisa berpikir dengan baik sekarang.


Pria ini, sahabatku, yang juga pria penuh misteri ini, yang masih menyimpan sejuta


rahasianya padaku. Aku tak tahu tapi aku masih mencintainya, bagaimana mungkin


rasa cinta itu bisa hilang dengan mudah. Aku tak akan berharap banyak padanya,


itu hanya akan menambah kekecewaanku. Jika ia hanya menganggapku sahabat, maka


aku akan menjadi sahabatnya. Jika lebih dari itu,  aku tak tahu, jika menjadi sahabatnya mampu


membuat kami menjadi dekat, maka lebih baik aku bersahabat dengannya saja.


Cintatak semudah yang aku pikirkan.


Mobil berhenti di depan gedung apartemenku, aku tak membawa koper, hanya tas tangan


yang biasa kupakai ketika bekerja. Aku masih menyimpan banyak pakaian di rumah


orang tuaku, dan semua keperluanku juga ada di sana, jadi aku tak perlu membawa


banyak barang ketika pulang.


“Kamu tak menanyakan apapun padaku?” tanyanya.


Setelah sekian lama itu, ia baru menanyakan ini padaku, aku benar-benar sudah tak


mengenali pria ini. “Apa kamu akan menjawab ketika aku bertanya? Atau kamu


hanya akan bungkam?”


Dimitri menghela napasnya dengan berat, aku juga merasakan hal yang sama, tapi dia


memperlakukanku seolah-olah aku ini wanita asing. “Aku butuh waktu untuk


berpikir.”


Semua orang juga membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri, apa menurutnya hanya dia


yang menderita di sini?


“Ambil waktu sebanyak apapun yang kamu mau, dan jika kamu belum bisa memberiku jawaban


maka jangan datang padaku. aku tetap sahabatmu yang siap mendengar semua keluh


kesahmu itu.”


Aku segera turun tanpa pamit. Hatiku sakit karena mengatakan hal itu. Aku mencintainya,


dan aku menyakiti diriku sendiri karena mencintainya. Air mataku turun secara


perlahan, aku tak ingin menghapusnya. Aku ingin hatiku sadar berapa banayk air


mata yang sudah kukeluarkan karena pria yang menjadi sahabat itu. Hanya ini


yang bisa kulakukan untuk diriku sendiri.


**


Haiiii maaf menunggu lama ya, semoga part ini menghibur seperti biasa ya. Jangan lupa di komen dan kasih kritik dan sarannya^^^


Selamat membaca semuanya^^^


oh ya, biar makin akrab, kalian gak perlu panggil aku thor. cukup panggil nama aja biar lebih akrab