
Christian Bagaskara sudah menandatangani proposal yang ia sebutkan, tapi pria ini menjebakku untuk duduk bersamanya lebih lama dengan alasan yang sangat tak masuk akal. Pria ini juga sejak tadi selalu memberiku senyuman tak masuk akal, mungkin menurutnya itu sangat menggoda, tapi bagiku hal itu sangat menjijikkan.
Bayangkan jika ada seorang pria di awal empat puluhan, duda, dan selalu menggodamu. Aku tahu ia menyukaiku, bahkan sering secara gamblang ia mencoba membawaku ke ranjang bersamanya. Aku tidak tahu bagaimana caranya ia bisa tertarik padaku, apa aku cukup cantik untuknya?.
Semakin aku menolaknya, semakin gencar pula ia mendekatiku, mungkin ia berpikir jika ia sudah menyetujui proposal yang kuajukan, aku akan menuruti semua keinginan tak masuk akalnya. Terkutuklah mereka yang mengajak pria ini berinvestasi dan juga bekerja sama, mungkin ini adalah hal yang bagus karena ia adalah klien
potensial, tapi ini juga memuakkan. Aku sepertinya sudah sangat membenci pria manapun.
“Bagaimana dengan pertemuan selanjunya? Konsepnya sudah saya setujui, tinggal memilih model untuk iklan ini, saya tahu beberapa artis yang sedang naik daun yang cocok untuk membintangi iklan ini,” ucapnya santai.
Aku hanya mengangguk dan memberinya senyum untuk yang kesekian kalinya, sampai rasanya bibirku ingin robek karena terus-terusan tersenyum. “Saya akan membicarakan ini dengan tim multimedia, saya akan kembali menghubungi Bapak jika semuanya sudah di atur.”
“Itulah kenapa saya mempercayakan semuanya padamu, kamu selalu tahu yang terbaik untuk perusahaan kami. Apa kamu tidak ingin bergabung dengan kami? Saya bisa menyisakan satu kursi Direktur untukmu.” Ia mengerlingkan matanya padaku sembari tersenyum yang menurutnya menggoda itu. Ia bahkan sudah menggenggam tanganku yang berada di atas meja. Ah, sialan sekali pria ini.
Jika ia memberikan perusahaannya padaku sekalipun, aku tak akan menerimanya. Kursi Direktur dia bilang? Lalu aku bisa menjadi budak napsunya dan terjebak selamanya seumur hidup. Aku akan lebih memilih bersama Dimitri dalam hubungan aneh ini di banding bersama pria tak tahu diri ini.
“Selamat malam.”
Aku mendongak mendengar suara itu, dan sangat terkejut ketika melihat Dimitri berdiri di samping meja kami. Aku segera melepaskan genggaman tangan pria di hadapanku. Dimitri menatap itu semua dengan tatapan yang tak bersahabat, walaupun ia sudah berusaha memasang senyum sopan di hadapan Christian Bagaskara.
“Ah, selamat malam, Pak Dimitri. Kenapa terlambat? Saya pikir Bapak sudah membatalkan untuk tak mengikuti pertemuan ini,” ucap Christian Bagaskara dengan senyum lebar.
Dimitri menduduki kursi yang kosong. “Maaf, Pak Bagaskara, lalu lintas sangat macet. Apalagi ini hujung minggu, macet sangat tak bisa di hindari,” ucap Dimitri dengan senyum ramah. Bagaimana pria ini bisa melakukan hal itu, tersenyum dengan sangat sopan, maksudku?
Aku hanya menatap dua pria ini bergantian. Aku tahu sesuatu yang buruk akan terjadi setelah ini, apalagi jika melihat ekspresi wajah Dimitri yang sangat dingin melihat tanganku tadi yang di genggam Christian Bagaskara. Bukan salahku, klien tak tahu diri ini yang sangat suka menyentuhku.
Perbincangan absurd ini berakhir di menit ke tiga puluh, aku tak menimpali obrolan mereka sama sekali karena mereka sangat fokus. Aku juga tak peduli, aku hanya ingin segera pergi dari hadapan mereka, atau mereka yang pergi dari sini. Aku tak tahu apa yang akan di lakukan Dimitri ketika kami berdua, tapi yang jelas aku tak ingin itu terjadi.
“Kalau begitu saya permisi, saya akan menghubungi lagi jika semuanya sudah selesai. Saya percaya dengan semua hasil yang di ciptakan oleh Bu Liliana.”
Aku bangkit dari dudukku ketika Christian Bagaskara mengundurkan diri. Tumben sekali pria ini, biasanya kami yang harus pergi lebih dulu, apa ia sudah mendapatkan wanita untuk menghangatkan ranjangnya? Well, bukan urusanku sebenarnya.
Aku menjabat tangannya dan tersenyum, ia menjabat tanganku sedikit erat sampai aku harus berusaha sedikit keras untuk melepaskan jabatan tangannya. Ia pergi setelah menjabat tangan Dimitri. Aku menghembuskan napas lega lalu duduk di kursi begitu duda genit itu pergi. Rasanya seperti lolos dari lubang buaya.
Lalu setelahnya aku kembali masuk ke dalam lubang singa, singa yang sepertinya sangat marah yang berada di sebelahku.
“Apa Eka mengatakan sesuatu?” tanyaku acuh.
“Sepertinya kamu sangat menikmati malam ini, ya? Kalian terlihat seperti pasangan yang sedang dalam masa pendekatan,” balasnya sinis.
Ini Dimitri, harus berapa kali lagi kuucapkan kalau ia akan melakukan semua hal semuanya. Dialah yang memegang kontrol di sini, dan ia tak akan dengan rela menjawab semua pertanyaanku, selalu begitu.
“Ya, aku sangat menikmatinya. Mungkin aku akan kembali menghubunginya untuk malam panas lainnya,” ucapku tak kalah sinis.
Aku segera beranjak dari dudukku, kembali kekamar adalah pilihan terbaik, kepalaku hampir pecah rasanya dan aku hanya ingin tidur. Dimitri mengekor di belakangku, kutebak ia akan mengikuti sampai kamar. Aku akan membiarkannya kali ini, ia tetap akan semaunya walaupun aku akan mencegahnya.
Lift terbuka, dan ada Richard di dalam lift tersebut. Kebetulan yang sangat luar biasa, kan? Apa akan ada pertumpahan darah di dalam lift?
**
Tak terjadi pertumpahan darah seperti yang kupikirkan di dalam lift. Aku hanya merasa terjebak dalam tembok yang sangat kokoh, dan tak bisa keluar dari tengah tembok tersebut. Suasana tadi benar-benar canggung, aku yakin kalian tak ingin merasakannya walau ingin. Dimitri masih memeluk pinggulku sampai kami tiba di depan kamarku.
Pria ini memelukku sejak kami memasuki lift, seperti tak membiarkan aku dekat-dekat dengan Richard. Dimitri melepaskan pelukannya ketika aku menempelkan kartu akses untuk membuka pintu.
Perkataan Richard siang tadi masih melekat dengan jelas di ingatanku, aku tak bisa melupakannya sampai sekarang, dan aku terus memikirkan hal itu sampai sekarang. Tentang semua kemungkinan yang ada, tentang segala hal yang berkaitan dengan hal itu, itulah kenapa rasanya kepalaku ingin pecah.
Aku melemparkan tasku begitu saja di atas ranjang, lalu membalikkan tubuhku untuk menatap Dimitri yang terus mengekoriku tanpa mengatakan sepatah katapun. Semua terjadi dengan sangat cepat, ketika ia tiba-tiba menciumku, aku bahkan tak menyangka hal ini akan terjadi. Ia menciumku dengan keras, melepaskan semua emosinya dalam ciumannya kali ini. Aku tak bisa melakukan apapun selain hanya menerimanya.
Ia memeluk pinggulku semakin dekat pada tubuhnya, tak ingin menciptakan jarak pada tubuh kami. Ia melepaskan ciumannya setelah aku kehabisan napas. “Balas ciumanku,” bisiknya di hadapan bibirku dengan lembut. Lalu ia menciumku lagi, kali ini lebih lembut. Dan hanya dengan hal itu sudah membuatku luluh.
Aku melingkarkan kedua lenganku di lehernya, dan membalas ciumannya seperti yang diinginkannya. Sudah kubilang, kan, kalau aku selalu lemah di hadapan pria ini, sekuat apapun aku mencoba melawannya. Aku hanya akan menikmati segalanya malam ini.
Persetan dengan semua rasa kesalku pada pria ini, nyatanya aku tetap menerima sentuhan Dimitri. Untuk kesekian kalinya lagi. Terserah jika kalian ingin mengataiku sebagai wanita murahan atau sebagainya. Aku benar-benar tak peduli lagi, aku tak bisa ketika Dimitri sudah melakukan ini padaku. Selamanya aku akan menjadi wanita munafik jika Dimitri masih berada di sekitarku.
Seburuk apapun sifat orang yang kita cintai, pada akhirnya kita hanya akan kembali pada mereka. Cinta selalu membawaku pada kebodohan, dan aku tak pernah belajar karena hal itu. Tapi, nafsu bukan cinta. Aku tak seharusnya mendapatkan gelas Magister jika masalah cinta saja sudah bisa membuat kebodohanku meningkat pesat.
**
Aku terbangun pada ruangan yang gelap dan tangan yang melingkari perutku erat. Aku meraih ponsel di nakas untuk mengecek, dan ini sudah pukul satu dini hari. Aku menoleh ke belakang dan Dimitri terlihat sangat pulas. Perlahan aku mencoba melepaskan tangannya yang melingkari perutku, tapi pelukan itu semakin mengerat.
“Kamu udah bangun?” tanyaku.
“Aku merindukanmu,” bisiknya di telingaku dengan suara serak. Lalu ia mencium bahu telanjangku yang semakin membuat kulitku meremang.
“Aku sudah tak pernah tidur dengan wanita-wanita berbeda lagi, Li.”
Entah aku harus mengatakan apa, senang atau tersanjung. Lalu ingatan tentang Michelle kembali merasukiku. Tentu saja Dimitri melakukan itu, ia sudah memiliki Michelle, wanita-wanita sebelumnya pasti sudah terlihat tak berarti untuknya. Dan dengan gamblangnya pria ini mengatakannya padaku seolah bukan apa-apa. Aku saja
yang masih bodoh dan dengan rela terbuai olehnya.
“Richard sudah menceritakan hubunganmu dengan Michelle,” ucapku. Beruntung ia memelukku dari belakang dan kamar ini gelap, jadi Dimitri tak perlu melihat wajah menyedihkanku.
Dimitri diam beberapa saat, ia kembali mengeratkan pelukannya dan merapatkan tubuh kami berdua. Sudah tak ada jarak lagi dan aku tak bisa melarikan diri darinya lagi.
“Kami tak pernah melakukannya, Li.”
“Aku pernah memergoki kalian...”
“Itu hanya kesalahpahaman, aku benar-benar tak pernah melakukannya dengan siapapun selain dirimu. Aku tak pernah menyentuhnya sejauh ini, dulu ataupun sekarang.”
“Itu juga bukan urusanku kalau kalian melakukannya. Itu urusanmu, Al, dan aku tak peduli apa yang sudah kalian lakukan.”
Aku menjawab dengan menahan rasa geli akibat tangan jahilnya yang sudah mulai bergerilya di kulitku yang lain. Inilah yang sangat kubenci dari semua sifatnya. Kami tak pernah membahas hal seperti ini dalam keadaan normal, tapi ia justru akan menjelaskannya ketika kami sedang dalam keadaan yang tak normal seperti ini. Mungkin ini bentuk pengalihan dirinya agar aku tak terlalu serius menanggapi semua yang ia bicarakan.
“Benarkah?” tanyanya geli.
Aku mengigit bibirku menahan desahan yang akan keluar sewaktu-waktu ketika tangannya mulai menjelajah semakin dalam di bawah sana. “Sejak enam bulan lalu, aku sudah tak pernah menyentuh wanita lain selain dirimu. Mereka selalu melemparkan dirinya padaku, tapi aku sama sekali tak tertarik lagi dengan mereka yang dengan murahannya merelakan dirinya padaku.”
Enam bulan lalu adalah pertama kalinya aku melepas kegadisanku padanya dan menjadi wanita untuknya. Apa aku harus bangga karena hal itu? Jadi apa kesimpulan dari semua hal itu?
“Apa aku harus mempercayai semua itu?” tanyaku.
Aku masih dalam posisi membelakanginya, dan aku tak bisa menerka bagaimana ekspresinya ketika mengatakan semua pengakuan itu. Bagaimana aku bisa mempercayainya? Aku tahu Dimitri adalah seorang gentleman, tapi bukan berarti ia tak bisa berbohong.
“Aku tak memintamu percaya, aku hanya ingin memberitahumu. Aku belum bisa memberitahumu segalanya, tapi kamu harus tahu hal ini.”
Aku pernah membaca sebuah novel romansa, dan di sana di katakan jika kita tak bisa percaya sepenuhnya pada ucapan pria ketika sedang bercinta. Sang pria akan berusaha sangat keras untuk membuat sang wanita takluk di bawah kungkungannya, bahkan jika harus berbohong sekalipun, dan bisa juga karena terbawa suasana yang intim.
“Kamu sengaja mengakuinya di situasi seperti ini? Agar bisa menyentuhku sepuasmu?”
Aku ingin kembali menanyakan tentang kejelasan hubungan kami, tapi aku takut dengan jawaban yang akan ia berikan. Keintiman dan kedekatan ini, aku menyukainya, walau aku tak akan mengakuinya. Aku takut ia akan meninggalkanku begitu saja begitu aku menanyakan hal itu. Pengecut, kan? Aku biasanya tak pernah seperti
ini. Apa karena aku sudah mencintainya?
Dimitri membalikkan tubuhku, kami berhadapan saat ini. Ia juga langsung menyalakan lampu tidur di atas nakas, dan aku sudah bisa menatapnya walaupun dengan cahaya yang sangat temaram. Dia tetap tampan seperti biasa, dan aku selalu luluh dengan wajah tersebut. Siapa yang tak akan luluh dengan wajah ini? Aku bahkan heran kenapa selama enam tahun ini bisa bersahabat dengannya.
“Aku selalu suka ketika menyentuhmu, beberapa bulan ini sangat menyakitkan karena kita semakin menjauh,” ucapnya. Tatapannya membuatku tak bisa mengalihkan pandangan pada objek lain.
Ia selalu suka menyentuhku? Tidak berarti ia mencintaiku, ia hanya menyukai tubuhku, bukan hatiku. Itu menyakiti perasaanku, tapi di sisi lain juga membuatku senang, setidaknya ada bagian dari diriku yang ia sukai. Aku akan
membuatnya mencintaiku jika perlu. Michelle hanyalah masa lalu untuknya dan akan kupastikan juga akan seperti itu.
“Aku yakin banyak tubuh perempuan di luar sana yang lebih menggoda di bandingkan aku. Apa karena kamu tak perlu mengeluarkan biaya jika denganku?” tanyaku.
Tatapannya kembali mengeras mendengar ucapanku. Ia **** tubuhku, membuat tubuhku berada dalam kungkungannya lagi. “Bukankah sudah kubilang untuk tak merendahkan dirimu seperti ini? Aku sudah sangat marah ketika duda sialan itu menyentuh tanganmu tadi, aku sudah akan mematahkan tangannya jika tak mengingat kalau dia klien besar!”
Entah kenapa aku tersenyum mendengar kekesalannya. “Aku hampir saja ada di ranjangnya malam ini kalau kamu tak datang.”
“Pertemuan selanjutnya aku akan mengirim Kevin, duda itu benar-benar tak tahu diri!”
Aku benar-benar tertawa kali ini ketika mendengar kekesalannya, aku jadi ingin menggodanya. “Siapa yang tahu kalau ia lebih jantan di atas ranjang, kamu tak mengetahui hal itu.”
"Oh ya? Aku ragu kamu akan menyukai hal itu, dan aku juga takkan membiarkan duda itu menyentuhmu seenaknya."
Aku hanya tertawa ketika ia kembali menindihku. Semua kekhawatiran yang baru saja aku rasakan perlahan menghilang dengan tak tahu malunya, dan aku kembali masuk ke dalam jebakan Dimitri lagi. Jebakannya sangat rapi hingga aku secara tak sadar masuk ke dalamnya. Aku janji ini adalah terakhir kalinya aku merasakan kenikmatan duniawi ini, karena aku tak bisa terus-terusan melakukan hal ini dan juga menikmatinya.
Dosaku sudah terlalu banyak, dan aku ragu bisa menebus semuanya sekaligus. Sudah saatnya untukku kembali melangkah maju, begitu pun dengan Dimitri.
**
hai hai aku kangen banget sama kalian. Kerjaanku udah gak terlalu banyak dan aku bisa nulis lagi. Karena suasana aku lagi baik, aku gak nyiksa lili kali ini. Jadi gimana kabar kalian hari ini? Apa yang kalian kurbankan di idul adha ini?
Komen ya gimana perasaan kalian setelah baca ini. Maki-maki Dimitri juga boleh, tapi jangan terlalu benci ya sama Dimitri, dia gak sejahat itu kok. Apa kalian masih tim lili-richard, lili-dewa, atau lili-dimitri? Atau barangkali lili-bagaskara?
Selamat membaca ya^^^