
haii, gimana kabar kalian hari ini? maaf ya bikin kalian nunggu lama lagi, setelah minggu ini mungkin aku bakal rajin nulis lagi. Maapin kerjaan aku yang menumpuk ini ya^^
Happy reading^^
Sudah satu bulan Liliana kembali ke Jakarta, tak ada hal berarti yang terjadi, seperti misalnya bertemu dengan Dimitri atau Kevin secara tiba-tiba. Nabila pun sepertinya masih menyembunyikan keberadaan dirinya. Liliana tahu ia tak selamanya bisa melakukan hal ini, cepat atau lambat ia akan kembali bertemu Dimitri. Jakarta tak seluas itu, dan mampu membuatnya bersembunyi selamanya.
Tapi, untuk kali ini saja, ia ingin sembunyi terlebih dahulu. Ia hanya ingin memantapkan hatinya, tapi sepertinya, hati yang sedang ia mantapkan tak pernah berubah. Selalu ada keraguan yang menyelimutinya.
Ponselnya berdering membuat Liliana yang sedang membaca berkas di mejanya melihat layar ponselnya yang menampilkan nama Reno di layar.
“Halo Ren,” sapa Liliana.
Setelah mendengar beberapa kalimat yang di lontarkan Reno, Liliana segera mematikan sambungan tersebut dan membereskan barang-barangnya. “Yu, kosongin jadwal aku buat hari ini ya? Aku harus ke rumah sakit,” ucap Liliana ketika sudah keluar dari ruangannya.
“Mbak sakit?” tanya Ayu yang juga langsung berdiri dari kursinya. Ia takut bos barunya ini tiba-tiba sakit.
“Bukan, temen saya. Saya mungkin akan izin sampai malam, kamu tolong urus sisanya, ya?” Tanpa menunggu jawaban Ayu, Liliana segera berlari menuju lift.
Reno baru saja mengabarinya kalau Nabila sudah di rumah sakit. Sebenarnya masih tiga hari lagi sampai waktu persalinan yang di perkirakan sang dokter, tapi rupanya setelah di periksa kembali, air ketuban Nabila sudah pecah dan sudah tak ada harapan untuk sahabatnya itu melahirkan secara normal.
Butuh waktu tiga puluh menit untuk sampai di rumah sakit tempat Nabila di rawat, beruntung masih pukul sepuluh pagi dan jalanan cukup lengang. Liliana langsung naik ke lantai enam tempat di mana Nabila sedang di operasi. Tak ada perasaan apapun yang Liliana rasakan, ia hanya khawatir dengan keadaan sahabatnya.
Nabila sangat menginginkan persalinan normal, agar ia bisa merasakan menjadi Ibu yang seutuhnya, tapi sepertinya keinginannya belum mampu di kabulkan. Lagipula mau itu normal ataupun operasi, Nabila tetap akan menjadi orang tua yang hebat untuk anaknya nanti.
“Reno,” ucap Liliana ketika menemukan Reno sedang menunggu dengan gelisah di depan ruang operasi.
“Li, Nabila baru masuk, kata dokter operasinya gak akan berjalan lama.”
Liliana bisa melihat kekhawatiran di wajah Reno, dan yang ia bisa lakukan adalah menenangkan pria itu. “Orang tua kalian gimana?”
“Mereka semua lagi dalam perjalanan kemari, mereka langsung kesini setelah pesawatnya mendarat.”
Liliana hanya menganggukkan kepalanya. Orang tua Nabila tinggal di Jogja sama seperti orang tua Liliana, dan orang tua Reno sedang berada di Singapura untuk urusan bisnisnya. Hanya itu yang Liliana tahu tentang kedua orang tua mereka. Liliana juga hanya bisa duduk menunggu di depan ruang operasi dengan cemas. Semoga ibu dan anak di dalam ruangan itu selamat.
Liliana mendengar langkah kaki yang mendekat, ia menoleh ke arah koridor asal dari suara langkah kaki tersebut, dan apa yang ia lihat membuatnya menahan napas. Pria yang seharusnya tak ia temui untuk saat ini. Liliana hanya mampu terduduk di tempatnya menatap pria itu yang juga menatapnya dengan kaget.
Reno bangkit untuk menyambut Dimitri. Bahkan sebelum usia kandungan Nabila bertambah, Dimitri selalu mewati-wanti Reno untuk menghubunginya. Dimitri ingin melihat keponakan pertamanya untuk pertama kali. Dan disinilah Dimitri sekarang.
Sepertinya Reno tak menyadari suasana yang terjadi di dekatnya karena terlalu mengkhawatirkan istrinya yang sedang di operasi di dalam sana, tapi untuk Dimitri dan Liliana yang kembali bertemu setelah sekian lama, rasanya sangat canggung.
“Suami Ibu Nabila,” panggil seorang suster yang keluar dari ruang operasi tersebut.
Ketiga orang yang ada di sana berdiri, mengantisipasi kalimat yang akan di katakan sang suster. “Operasi berjalan lancar, bayi Bapak berjenis kelamin laki-laki, dan sang Ibu juga selamat.”
Mereka bertiga menghela napas lega. Suster lain keluar membawa sang bayi dalam gendongannya. “Bapak bisa ikut saya, saya harus menjelaskan lebih lanjut pada Bapak, sementara Ibunya akan di pindahkan ke ruang rawat setelah selesai di jahit.”
Reno segera mengikuti sang suster tanpa berkata apa-apa lagi, mungkin terlalu bahagia dan juga khawatir yang bercampur menjadi satu. Hanya tersisa Liliana dan Dimitri setelah kedua suster tadi dan juga Reno meninggalkan tempat itu.
**
Nabila sudah di pindahkan ke ruang rawat inap, bayinya sangat sehat dan sudah bersama Ibunya. Liliana sudah masuk sebentar melihat sahabatnya yang sudah resmi menjadi Ibu dan juga keponakan pertamanya. Ia sangat bahagia, sahabatnya yang dulu selalu bersamanya saat ini sudah menjadi orang tua.
Liliana duduk di kursi yang berada di koridor tepat di depan kamar inap Nabila. Giliran kedua orang tua Nabila dan juga Reno yang melihat cucu pertama mereka.
“Minum?”
Liliana melihat ke sumber suara, dan menemukan Dimitri yang sedang mengulurkan minuman kaleng untuknya. Selama beberapa detik, Liliana hanya menatap uluran tangan itu, lalu ia menerimanya. “Terima kasih.”
Dimitri duduk di kursi yang sama, berjarak dua kursi kosong dari tempat duduk Liliana. Jarak yang membuat keduanya semakin canggung. Tak ada pembicaraan setelahnya, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Liliana hanya menimang minuman kaleng di tangannya dengan perasaan yang bercampur aduk.
Ini adalah pertama kalinya Dimitri tak mampu berkata apapun pada seorang wanita, ia juga harus mengambil jarak yang cukup jauh dengan wanita yang selama ini ia rindukan. Hal ini sangat tak terduga, ia tak menyangka akan bertemu Liliana secepat—selama—ini.
“Aku tak tahu kamu dekat dengan Nabila,” ucap Liliana memecah keheningan. Pandangannya tetap tertuju pada minuman kaleng di tangannya.
Dimitri menatap Liliana yang sepertinya sibuk dengan pikirannya sendiri. “Aku juga tak tahu awalnya seperti apa. Kami hanya tiba-tiba dekat.”
Hening lagi. Nabila tak pernah menceritakan tentang Dimitri, mungkin sahabatnya itu ingin memberitahunya, Liliana hanya terlalu keras kepala menutup semua akses dirinya dan Dimitri. Jantungnya sudah berdetak tak karuan, di satu sisi ia merindukan pria ini, tapi di sisi lain ia juga berusaha menepis rasa rindu itu.
“Apa kabar?” tanya Dimitri.
“Lebih baik.” Liliana bukan ingin bersikap dingin atau kejam pada Dimitri, ia hanya ingin membatasi dirinya. Ia tak tahu bagaimana situasi pria itu saat ini, ia hanya mengikuti apa yang di perintahkan otaknya alih-alih hati.
Ia sudah banyak belajar dari masa lalu. Jika terlalu banyak menggunakan hati, maka hanya sakit hati yang akan ia rasakan, jadi kali ini ia akan mengikuti perintah otaknya agar lebih rasional. Tapi, sejak kapan cinta itu rasional?
“Sepertinya aku harus pulang, sampaikan salamku pada Nabila dan juga Reno.” Liliana beranjak dari kursinya. Ia tahu cepat atau lambat ia akan bertemu Dimitri, hanya saja kejadiannya terlalu tiba-tiba dan Liliana tak memiliki persiapan apapun untuk menghadapi pria ini.
“Liliana.”
Liliana berhenti, tapi tak menolehkan wajahnya. Ia belum siap menatap wajah pria itu. “Senang bertemu denganmu lagi,” ucap Dimitri.
Dimitri menatap punggung yang berjalan menjauhinya dengan sendu. Toh, ia juga tak mengharapkan apapun ketika kembali bertemu wanita itu. Ia menyadari ada perubahan dalam diri Liliana. Tentu saja, waktu terus berjalan dan manusia juga berubah, dirinya juga sedikit banyak mulai berubah.
Tadinya ia ingin meminta kontak wanita itu, tapi mengurungkannya. Ia tak ingin di cap semakin brengsek. Melihat wajahnya sudah cukup untuk saat ini, ia juga tak ingin kembali memaksa egonya untuk kembali memiliki wanita itu. Egonya masih meminta untuk memiliki wanita itu sepenuhnya, tapi ia sadar bagaimana posisinya saat ini.
**
“Mel, aku ketemu ‘dia’,” ucap Liliana dengan ponsel di telinganya.
Setelah dari rumah sakit, ia memutuskan untuk kembali ke apartemennya. Lagipula ia sudah meminta Ayu untuk mengosongkan jadwalnya hari ini, ia tidak bisa fokus melanjutkan pekerjaan dalam kondisi seperti ini. Jadi, ia memutuskan menelepon Mela.
“Pria yang kamu ceritain itu?”
Liliana menganggukkan kepalanya, tapi sadar Mela tak bisa melihatnya. “Iya.”
“Lalu?”
“Kami ketemu secara gak sengaja. Aku gak tahu, rasanya canggung. Aku gak bisa berhadapan sama dia lebih lama. Aku…takut.”
Mela menghela napas di seberang sana. Ia tahu pasti tak mudah untuk Liliana melalui hal ini, tapi memang apalagi yang bisa Liliana lakukan lagi selain menghadapi masa lalunya.
“Hadapi dia, Li. Supaya hati kamu tenang, berhenti khawatirin sesuatu yang kamu gak tahu udah terjadi apa belum. Kalau kamu diam dan pria itu juga melakukan hal yang sama, aku yakin semua ini gak akan selesai. Dan kamu akan terus dalam pikiran buruk kamu itu.”
Mela benar, Liliana memang harus menghadapinya bagaimanapun caranya. Memangnya ia harus melakukan apa lagi untuk menghindari Dimitri, ia hanya belum siap menghadapi pria itu.
“Hadapi sekarang, lalu kamu bisa bahagia nanti. Jangan terus-terusan memforsir kerjaan kamu untuk mengalihkan pikiran Li, aku mengawasimu dari sini.”
Mau tak mau Liliana tertawa karena ucapan Mela. Seniornya ini seolah memiliki mata dimana-mana. Ia bersyukur bertemu wanita ini di Bali. Mela mengurusnya dengan baik dan juga menguatkannya.
“Akan kucoba, dan biarkan aku lembur agar bonusku semakin banyak. Aku ingin tabunganku kembali penuh.”
“Lakukan semaumu, tapi aku akan membunuhmu kalau sampai kamu masuk rumah sakit lagi.”
Liliana memutus sambungan telepon itu. Mela sudah seperti Nabila yang sangat cerewet, tapi ia menyukainya. Sifat acuh yang di milikinya harus di imbangi dengan sahabat cerewet seperti Nabila dan juga Mela.
Pemandangan gedung-gedung tinggi di hadapannya menjadi hal terindah yang mampu ia lihat saat ini. Ini sudah seperti kebiasaannya untuk memandangi gedung-gedung itu ketika ia sudah muak untuk memeriksa berkas dan juga laporan yang ia periksa. Kembali menjadi manajer adalah hal baik dan juga buruk yang ia alami.
Baiknya, ia kembali mendapat gaji yang cukup tinggi untuk menghidupinya seorang diri dan juga mengirim pada orang tuanya. Buruknya, ia kembali memikul tanggung jawab yang besar. Resiko yang memang harus ia terima apapun yang terjadi.
Kali ini pikirannya kembali bertambah karena sudah bertemu dengan Dimitri. Selama apapun ia bersembunyi, mereka pada akhirnya juga akan bertemu. Liliana hanya mencoba terus mengulur waktunya, berusaha menyiapkan hati. Tapi toh, hatinya tetap tak akan siap apapun yang terjadi. Ia hanya membuatnya semakin sulit dengan mengulur waktu. Seharusnya ia hanya tinggal bertemu, berbicara, lalu semuanya selesai.
Liliana mengusap wajahnya lelah, memikirkannya memang sangat mudah, tapi ketika melakukannya, semuanya terasa sangat sulit.
**
“Kamu sudah ketemu Liliana?” tanya Nabila. Orang tuanya dan juga mertuaya sedang di antarkan Reno menuju rumahnya untuk istirahat, dan Reno meminta Dimitri menjaga istrinya sampai ia kembali. Putra mereka sudah terlelap di dalam kotak bayi di sebelah ranjang Nabila.
“Ya, aku tak tahu kami akan bertemu secara tiba-tiba seperti ini.”
Nabila menatap Dimitri ragu, ia turut andil dalam pertemuan tak sengaja ini. Jika saja ia memberitahu Dimitri kemarin kalau Liliana sudah kembali, mungkin kejadian seperti ini bisa di hindari. Tapi, ia juga ingin melindungi sahabatnya yang sudah berusaha keras menutup aksesnya pada Dimitri.
Walaupun Dimitri sudah berubah menjadi lebih baik, Liliana yang terlama bersamanya dan Nabila tak akan mungkin dengan tega mengkhianati Liliana.
“Aku minta maaf karena gak ngasih tahu kamu. Aku yakin Reno juga terlalu khawatir untuk tahu situasi kalian. Kami bener-bener bermaksud mempertemukan kalian seperti ini.”
Dimitri tersenyum menatap Nabila yang tampak bersalah di hadapannya. “Aku sudah tahu sebenarnya tentang kamu yang menyembunyikan Liliana dariku.”
Nabila membelalak mendengar ucapan Dimitri. “Kamu tahu?”
“Ya. Kamu sahabat satu-satunya Liliana, dan gak mungkin kalau dia gak hubungin kamu.”
“Tapi kamu diam aja, kenapa kamu gak bilang sama aku?” Nabila heran dengan Dimitri yang semakin lama sudah semakin berubah. Dimitri yang dulu tak pernah melakukan hal ini, ia akan memaksa Nabila bagaimanapun caranya, sampai ia mampu menemukan Liliana. Bukan malah berdiam seperti yang ia lakukan saat ini.
“Anggap saja aku sedang membayar dosaku di masa lalu. Aku juga ingin memberi Liliana waktu. Aku tak mungkin tiba-tiba menemuinya dan memintanya kembali setelah menyakitinya sedalam itu.”
Nabila hanya menganga mendengar penjelasan Dimitri. Pria ini benar-benar berubah. Tiga ratus enam puluh derajat, dan Nabila benar-benar tak menyangkanya. Dimitri benar-benar sudah sangat mencintai Liliana. Ia hanya belum mengetahui apakah Liliana juga merasakan hal yang sama.
Ia tak ingin berpihak pada Dimitri ataupun Liliana, mereka hanya harus menyelesaikan masalah apapun itu. Lalu bahagia pada apapun jalan yang mereka pilih.
“Kalau kamu benar-benar mencintai Liliana, maka aku akan mendukungmu. Aku yakin kalian sudah melalui hal yang sama-sama berat. Aku akan bahagia kalau sahabatku juga bahagia. Kamu tahu? Kalian berdua itu sama-sama menyimpan ego yang besar dan juga gengsi.”
Dimitri tertawa, ia juga sangat tahu itu. Ternyata ia memang sebrengsek itu, tapi sekarang ia juga sudah menyadari kesalahannya. Ia tak akan memaksa Liliana, permintaan maaf sudah cukup untuknya.
"Cinta tak semudah hubunganmu dengan Reno."
"Kalian saja yang membuatnya rumit," balas Nabila tak mau kalah.
**