
Bel istirahat berbunyi. Aku segera mengambil bekal dan mengajak Angelica menuju ke kantin.
"Tunggu, aku mau ajak Nasya juga"
Angelica menahan tanganku. Aku mengangguk, kini kami menunggu di depan kelas 10 IPS 1, hingga Nasya keluar dengan menggenggam bekalnya.
"Eh kalian menungguku?"
Aku dan Angelica serempak mengangguk. Nasya tersenyum, ia mengalungkan tangannya di lengan kami sembari berjalan beriringan menuju kantin.
Kami duduk di meja yang sama seperti kemarin. Aku merasa tempat ini sudah menjadi base camp kami.
"Hai Angelica!"
Tiba-tiba saja kami dikejutkan dengan suara laki-laki yang terkenal playboy itu. Tanpa permisi dia mengambil tempat duduk di sebelah Angelica.
Angelica tersenyum kecut. Aku hanya bisa terkekeh melihatnya yang menatapku meminta bantuan.
"Dimana Hades?"
Aku mencari kehadiran Hades. Tumben sekali dua sejoli ini terpisahkan, biasanya selalu menempel seperti perangko.
"Entahlah, tadi dia bersama Louis"
Dylan mengangkat bahu. Aku hanya menjawabnya dengan anggukan tanda mengerti.
"Tunggu, itu kotak makanmu bukannya punya Hades?"
Dylan menunjuk ke arah bekal yang ku bawa.
"Mungkin kami memiliki tempat makan yang sama"
Aku berusaha untuk mengelak ucapan Dylan. Sial, laki-laki ini peka sekali.
"Oh begitu"
Dylan membulatkan mulutnya. Aku menatapnya tajam, berusaha untuk membungkam mulutnya yang menyebalkan itu.
"Eh, itu Hades datang bersama Louis"
Nasya menunjuk ke arah belakangku. Aku menoleh menatap Hades yang kini berjalan mendekat.
Lagi-lagi Hades mengambil tempat di sebelahku. Dasar laki-laki ini suka sekali menempel padaku.
Hades membuka bekal yang ia bawa membuat Dylan kembali menatap kami berdua dengan tatapan curiga.
"Tuh kan, bahkan isi bekal kalian sama"
"Kebetulan!"
Aku dan Hades menjawab Dylan serempak. Hades berdecak kesal. Harusnya yang kesal itu aku kan karena kau mengikuti ucapanku.
"Haha, lihatlah kalian cocok sekali"
Ingin sekali aku menyumpal mulut Dylan yang terus mengoceh itu. Ia tidak sadar apa Angelica kini menatapku dan Hades dengan tatapan menyelidik, membuatku sangat tidak nyaman.
"Dylan kau mau pake tangan kanan atau kiri?"
Hades mengepalkan kedua tangannya dan siap melayangkan pukulan pada Dylan. Aku tersenyum kecil, bagus Hades kau harus memberi pelajaran pada mulutnya yang menyebalkan itu.
"Baik, baiklah aku akan diam"
Dylan kini menutu rapat mulutnya. Aku tersenyum puas, rasakan itu Dylan.
Setelah isitirahat berakhir aku dan Angelica kembali ke kelas kami.
"Sepertinya hubunganmu dengan Hades lebih dari teman ya, Persephone"
Aku menatap Angelica kaget. Apa dia sadar?
"Mungkin karena kami terus bersama dari kecil"
Aku menjawabnya dengan setenang mungkin agar Angelica tidak merasa curiga padaku.
"Kalian seperti saudara kembar"
Aku tersenyum sembari menghela napas lega. Untunglah otakmu itu seperti udang, jadi aku tidak perlu bersusah payah untuk berbohong.
"Kau benar kami ini seperti kembar"
Aku tersenyum mengulang ucapan bodohnya itu.
"Kalau begitu lebih mudah bagimu untuk menjodohkanku dengan Hades kan?"
Aku menarik kata bodoh darinya. Dia ini licik seperti rubah, kata-katanya itu seakan menjebakku.
"Aku akan mengusahakannya"
Aku menjawabnya sambil tersenyum. Angelica membalas senyumanku. Entah apa yang tersirat dari senyumannya itu, semoga bukanlah hal yang buruk.
...
Seperti biasa, pulang sekolah aku berjalan menuju parkiran. Hari ini Hades terlebih dahulu sampai di mobil. Ia menatapku yang berjalan masuk ke dalam mobil dengan tatapan dingin.
"Ada apa?"
"Kau akan tinggal di rumahku kan?"
Aku mengangguk. Lagipula aku terpaksa karena takut untuk tinggal sendirian. Sudah rumahku sangat besar, dikelilingi pepohonan lagi. Hiih.., menyeramkan.
"Pak Kasim, aku ingin pulang mengambil baju dulu baru ke rumah Hades"
Pak Kasim mengangguk. Ia melajukan mobilnya memecah jalanan sore yang padat.
"Besok akhir pekan, kau sibuk tidak?"
Aku akan menepati janjiku pada Angelica untuk mengajak Hades berjalan-jalan di akhir pekan. Hades melirik ke arahku dengan curiga. Jelas sekali ia curgia, seumur hidup ini pertama kalinya aku mengajak laki-laki itu pergi bersama.
"Apa aku tidak salah dengar?"
Aku berdecak kesal. Lihatlah tingkah menyebalkannya itu, membuatku jadi tidak minat mengajaknya jalan saja.
"Apa telingamu bermasalah hingga tidak bisa mendengar apa yang ku ucapkan?"
Aku melipat kedua tanganku di depan dada. Hades tersenyum tipis ke arahku, kalau dia tersenyum begitu ternyata manis juga.
"Kau mau ajak aku kemana?"
Aku tersenyum, baiklah tugasku untuk mempertemukanmu dengan Angelica dapat berhasil dengan mudah.
"Ke taman bermain gimana?"
"Yang baru buka itu?"
Aku mengangguk sekilas melirik ke arahnya yang menatapku tajam.
"Kau tidak sedang merencanakan sesuatukan?"
Hades menatapku menyelidik. Aku menghela napas, susah sekali membujuk orang yang satu ini.
"Tentu saja tidak"
Hades kembali tersenyum padaku. Momen langka ini ingin sekali aku abadikan. Pasalnya Hades jarang sekali berekspresi.
"Apa ini bisa ku anggap sebagai kencan?"
Aku membelalakan mataku mendengar pertanyaan yang dilontarkannya. Apa Hades ingin sekali berkencan denganku. Kenapa aku jadi merasa senang.
"Mungkin, tapi jangan terlalu berharap"
Aku menjawabnya dengan santai. Kau bisa menganggap ini sebagai kencan, tetapi kencanmu dengan Angelica, bukan denganku.
"Kita sudah sampai nona"
Pak Kasim memberhentikan laju mobilnya. Aku melirik ke luar jendela. Tidak terasa aku sudah sampai di depan rumahku saja.
"Tunggu sebentar ya pak"
Pak Kasim mengangguk. Sekilas aku melirik ke arah Hades yang menyuruhku kembali secepat mungkin.
Aku keluar dari mobil dan berlari memasuki rumahku. Aku mengambil sebuah koper dan memasukkan berbagai baju dan seragam ke dalamnya. Tak lupa aku juga membawa buku-buku pelajaranku.
"Sepertinya segini sudah cukup"
Aku menutup koper dan tersenyum puas. Aku segera kembali berjalan keluar menuju mobil. Pak Kasim membantuku memasukkan koper ke dalam bagasi.
"Sudah tidak ada yang tertinggal non?"
Aku mengangguk. Pak Kasim kembali menjalankan mobilnya menuju rumah Hades.
Sesampainya di rumah Hades aku membereskan baju-baju yang ku bawa ke dalam lemari di kamar tamu. Setelah itu aku mengambil handphone dan menghubungi Angelica mengenai rencana kencannya dengan Hades besok.
"Halo Persephone, ada apa?"
Terdengar suara Angelica yang mengangkat teleponku.
"Besok kita ketemu di pintu masuk taman bermain yang baru buka itu"
"Benarkah, kau berhasil membujuk Hades?"
Angelica memekik senang. Membuatku menjauhkan handphone dari telingaku.
"Jam 10 siang, jangan telat"
Setelah mengucapkan hal itu aku segera menutup telepon. Entah mengapa aku menjadi kesal mendengar pekikan senangnya itu. Apa aku sedang iri karena besok dia akan berkencan dengan Hades.
Aku ini aneh sekali, untuk apa aku merasa begitu. Seharusnya aku senang dan berdoa agar kencan mereka berjalan dengan lancar. Betul, begini baru benar. Aku akan mendoakan agar hubungan kalian semakin erat sehingga, aku dan Hades akan terbebaskan dari perjodohan ini.
.
.
.
.
Jangan lupa like dan komennya untuk chapter ini, makasih! ☺🖤