
"Tunggu, aku punya ide!"
Ucap Hazel membuat kami diam memperhatikannya. Dylan yang bagaikan kambing conge hanya memanggut-manggutkan kepalanya pura-pura mengerti.
Aku terdiam, menopang dagu dengan telapak tangan sembari menunggu ucapan yang hendak dilontarkan Hazel.
"Begini, aku menyimpan aib gadis itu. Kita tidak hanya bisa mempermalukannya, dengan ini bahkan kita bisa membuatnya dikeluarkan dari sekolah!"
Aku menautkan kedua alis, ragu. Dikeluarkan dari sekolah? Apakah itu tidak terlalu kejam? Lagipula aku hanya ingin mempermalukannya saja, tidak sampai membuatnya menderita seperti itu.
"Aib apa? Cepat beritahu!"
Angelica mengerutu tidak sabar. Mukanya bagaikan malaikat pencabut nyawa yang hendak mengayunkan sabitnya. Hiih.., aku sungguh tidak mau mengusik manusia setengah iblis itu.
"Vidio mesumnya dengan anak sekolah lain"
Aku membulatkan kedua mataku. Apakah aku tidak salah dengar barusan? Vidio mesum, anak SMA. Ingat anak SMA loh ya! Aku yang polos ini seakan tercemar dengan hal-hal tabu duniawi.
"Astaga, jangan bilang depan Persephone dong!"
Nathan berlari menutup kedua telingaku, sementara Hades menutup kedua mataku. Gelap. Tunggu, buat apa coba Hades tutup mataku, emang Hazel menunjukkan vidionya apa!
"Hades, buat apa kau tutup juga mata Persephone"
Nathan menepis tangan Hades yang menghalangi pandanganku. Beberapa orang di hadapanku menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah konyol manusia es balok itu. Diam-diam, ternyata otaknya juga ikut membeku.
"Oh ya kak, bagaimana kau dapat menemukan pelakunya secepat ini?"
Aku menatap Hazel penuh tanya. Bayangkan mencari pelaku, dari rekaman CCTV yang bejibun itu dalam waktu singkat. Kan mustahil.
"Hm, aku check CCTV sekolah juga tuh"
Hazel menggaruk tengkunya yang tidak gatal sembari cengegesan. Dasar Ketua Osis, kenapa aku sampai melupakan hal ini. Dari pada susah payah mencari pelaku dari rekaman CCTV Mall, kan mending langsung cari di rekaman CCTV Sekolah. Semakin bodoh saja aku ini.
"Apa Louis juga yang menempel selebaran itu di papan informasi?"
Hazel mengangguk. Nathan terdiam saat mendapati jawaban yang bukan harapannya. Ekspersinya menyiratkan perasaan kecewa terhadap Louis. Sementara Hades, jangan dibilang. Aku tidak bisa membaca perasaan si triplek itu. Pokoknya datar dan dingin kayak di Kutub Utara.
"Yaudah masalah Louis kita serahkan pada Nathan dan Hades, sementara perempuan ****** itu akan ku permalukan hingga dia tak sanggup lagi menampakan wajahnya di sekolah ini!"
Ucap Angelica penuh penekanan. Aku tidak bisa berkomentar, bahkan sekedar mengasihani kakak kelas itu saja tidak bisa. Aku terlalu takut pada Angelica yang sedang berapi-api ini. Senggol sedikit pasti dibacok olehnya.
...
Kini aku dan Hades berada dalam perjalanan pulang. Kami saling terdiam berkutat dalam pikiran masing-masing. Sesungguhnya aku penasaran, bagaimana perasaan laki-laki itu pada sahabat yang telah mengkhianatinya. Apa jangan-jangan Hades tidak terlalu peduli ya? Diakan yang paling cuek dengan masalahku saat ini. Lagipula, kapan dia pernah perhatian. Bisa-bisanya kau melupakan hal sepenting ini Persephone.
"Ratu, memangnya kau setuju dengan ide ini?"
Hades memecahkan keheningan di antara kami. Aku terdiam, bukannya tidak bisa menjawab tetapi aku ragu. Aku memikirkan perasaan kakak kelas itu bila vidio pribadinya sampai tersebar. Akan sangat mengerikan untuknya bila hal itu sampai terjadi.
"Kalau kau tidak setuju bilang saja"
Aku menghela napas. Bagaimana bila mereka berpikir bahwa aku adalah gadis yang aneh. Mengkhawatirkan orang yang telah melakukan hal buruk padaku. Benar-benar terkesan manusia sok sucikan?
"Aku setuju Hades, dia memang pantas untuk dipermalukan"
Aku merutuki mulutku sendiri yang bisa-bisanya mengucapkan kalimat sekejam itu. Aku melirik ke arah Hades yang menampilkan ekspresi terkejut campur heran. Apakah dia berpikir bahwa aku terlalu kejam? Ah, rumit.
"Baiklah kalau itu maumu"
Hades melempar pandangannya keluar jendela. Hembusan nafasnya terdengar kasar, seakan menahan amarah. Sepertinya aku mengatakan hal yang salah. Aku harus bagaimana lagi? Aku tidak mau kehilangan teman-temanku, tapi aku harus membuang sifat malaikatku itu. Membohongi diri sendiri dan berpura-pura menjadi orang lain, menyakitkan bukan?
Bagaimana ini?
Perkataan waktu bisa menyembuhkan sesungguhnya benar bagiku
Seiring berlalunya hari Aku semakin membaik
Namun terkadang, Aku takut akan sakit lagi bila terlalu bahagia
Aku takut seseorang akan mengambil kebahagiaanku ini
Aku kesakitan dan sakitnya tak mau hilang
Teman-temanku, orang-orang itu, mereka hanya menatapku
Diriku sesungguhnya tak begitu, namun Aku terus melangkah jauh
...
Aku menjatuhkan diriku di atas ranjang. Seharusnya tiga hari lagi keluargaku akan pulang, tetapi kenapa sampai sekarang belum ada kabar. Apakah mereka sudah melupakanku disini. Jahat sekali.
Aku mengambil handphone di atas nakas dan menatap pesan masuk dari Angelica. Aku bergidik ngeri dan bertambah cemas setelah membaca pesan itu.
'Persephone siapkan jantungmu'
'Aku telah menyiapkan kejutan untukmu besok!'
Menyiapkan kejutan? Kenapa tampak mengerikan. Apakah besok kakak kelas itu akan baik-baik saja? Aku merasa resah, perasaanku buruk sekali. Semoga hal ini bukanlah apa-apa.
Aku kembali menaruh handphone di atas nakas dan mencoba untuk memejamkan kedua mataku. Lagi-lagi perasaanku tidak enak. Sekelibatan tatapan mengerikan menusuk hatiku. Mereka mencemooh, mencibir, dan menatapku jijik. Aku seperti sampah yang ditarik-menarik hingga pakaianku robek. Aku dilempari telor dan tepung, bahkan pecahan telur seperti menancap di kepalaku. Sakit.
"AAA, TOLONG!"
Aku berteriak, gemetar dan menangis. Aku melihat laki-laki itu, Hades. Diam memperhatikanku. Apakah dia tersenyum? Apakah dia senang melihatku yang seperti ini? Apakah dia puas? Dia sedang mencibirku yang seperti barang tak berguna ini kan? Sungguh, aku benci sekali padanya. Mengerikan, laki-laki itu mengerikan. Dia monster!
"Persephone, Persephone!"
Aku mengerjap, merasakan sekujur tubuhku yang telah dibanjiri keringat. Jantungku berdetak layaknya sedang lari marathon. Tubuhku bergetar, aku ketakutan.
Aku merasakan seseorang yang menyentuh kedua bahuku. Aku melihatnya, mata itu. Bukan mata manusia, dia monster!
"PERGI!"
Aku mendorong tubuhnya sekuat tenaga. Air mataku jatuh membasahi kedua pipiku. Ia berlalu, pergi meninggalkanku. Aku sendiri di kesunyian, memeluk kedua lututku. Mengharapkan rengkuhan seseorang yang menarikku keluar dari jeratan ini. Membawaku menuju cahaya, kebahagiaan.
"Persephone, apakah kau baik-baik saja?"
Aku menatap Tante Zetha yang ikut mendudukkan tubuhnya di sampingku. Ia memelukku, membiarkan air mataku menetes di bahunya. Mimpi itu datang lagi. Kejadian waktu kecil yang sudah ku lupakan, kenapa muncul lagi. Kenapa hanya tatapan Hades yang ku lihat. Kenapa harus dia yang menjadi monster.
"Ini minumlah"
Tante Zetha menyodorkan tiga butir obat berwarna putih dan segelas air. Aku tersenyum miris, sampai kapan hidupku harus tergantung pada obat itu. Aku membenci Xanax, baunya membuatku mual.
"Kau tidak mau? Kalau begitu minum saja air ini"
Tante Zetha segera menyingkirkan obat terkutuk itu dari pandanganku. Aku mengambil segelas air dan meneguknya perlahan. Setelah kondisiku mulai membaik, aku mencari-cari kehadiran Hades di sekelilingku. Apakah tadi aku membentaknya? Sepertinya aku terlalu kasar, bagaimanapun itu sudah berlalu. Aku sudah tidak ingin menyalahkannya.
"Mau tante panggilkan Hades?"
Aku mengangguk lemah. Tante Zetha segera beranjak keluar dari kamar tidurku. Tak lama laki-laki es balok itu datang dan berjalan perlahan mendekatiku. Tatapan cemasnya membuat hatiku seakan teriris. Ia juga merasakan sakit yang ku rasakan.
Hades tak berucap, tetapi sentuhan lembut tanganya di kepalaku mampu menggantikan obat penenang, bahkan rasanya lebih baik. Hangat, aku suka. Harum maskulin yang ada pada tubuhnya membuatku merasa nyaman. Lebih baik dari pada aromaterapi manapun.
"Maaf"
Aku menautkan kedua alisku. Barusan ia mengatakan maaf dengan lirih kan? Apakah dia merasa bersalah?
"Hm"
Aku berdehem sembari menyenderkan kepalaku di dadanya. Perlahan ia mengalungkan tangannya di pinggangku, merengkuh tubuhku dengan erat. Ia menopang dagunya di pucuk kepalaku. Hembusan nafasnya, detak jantungnya, seakan menari-nari dengan milikku. Hades, apakah yang kulakukan ini telah benar? Apakah melepaskanmu adalah hal yang benar? Aku benci kamu, tapi aku juga sayang padamu. Sebenarnya perasaanku padamu, itu apa? Aku bingung.
.
.
.
.
To be continued 🖤