
Kini aku dan Hades berada di salah satu Restoran Jepang yang cukup ramai pengunjung. Kami harus mengantri selama 10 menit untuk mendapatkan tempat duduk.
"Akhirnya, anak-anakku come to mama"
Aku menatap sushi-sushi mungil di hadapanku sembari memasang wajah terharu. Hades yang melihat tingkahku itu langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ratu kau seperti tidak pernah makan sushi saja"
Aku mengangkat bahu seraya memasukkan sushi ke dalam mulutku. Masa bodo dengan jaga image, Hades sudah ku anggap seperti keluarga sendiri.
"Oh ya, kemarin setelah dari taman bermain kau kemana?"
Hades menopang kepalanya dengan telapak tangan sambil menatapku dengan tatapan menyelidik. Tidak biasanya ia menanyakan hal seperti ini padaku. Apa sekarang dia sedang mengekspresikan kekahwatirannya, membuatku baper saja.
"Hm, jalan-jalan"
Aku menjawabnya dengan santai sambil mengunyah sushi yang sudah berada di dalam mulutku. Hades menghela napas, sepertinya ia ingin aku menceritakan kronologinya dengan lengkap.
"Kemana dan dengan siapa?"
Tanyanya lagi yang membuatku menautkan kedua alisku. Apa urusannya kalau aku pergi dengan siapa dan kemana. Memangnya Hades itu ayahku, kepo sekali.
"Bukan urusanmu"
Ucapku singkat yang membuat Hades bertambah curiga. Ia meletakkan sumpit di atas meja dengan keras hingga membuatku terlonjak kaget. Kenapa sih dia, bikin kesal saja!
"Katakan atau aku akan melaporkannya pada ibumu"
Ancam Hades membuatku mengepalkan kedua tangan, kesal. Ingin sekali aku melayangkan tinju ke wajah tampannya itu.
"Pergi ke Mall XXX sama kakak kelas"
Sebelum situasi tambah runyam terpaksa aku memberitahukannya pada Hades. Sushi yang sebelumnya tampak enak sekarang menjadi terlihat tidak berselera untukku.
"Kakak kelas? Mall XXX? Apa penyakitmu itu sudah sembuh?"
Hades menatapku dengan tatapan terkejutnya. Melihat hal itu aku kembali menautkan kedua alisku bingung. Aku tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya. Tetapi kemarin di Mall XXX aku sudah tidak merasa takut dan keringat dingin. Apakah aku benar-benar sudah sembuh.
"Aku tidak tau"
Aku mengangkat bahu. Sekarang saja di tengah-tengah restoran jepang yang sangat ramai ini aku tidak lagi merasa gugup. Malahan aku merasa senang bisa memenuhi keinginanku untuk makan sushi.
"Melihatmu yang sekarang lebih ekspresif sepertinya benar kalau kau sudah sembuh"
Terselip nada kesedihan di antara ucapan Hades membuatku menatapnya bingung. Bukannya seharusnya kau senang kalau aku sudah sembuh, kenapa kau jadi memasang wajah sedih dan tidak terima begitu. Aku jadi curiga jangan-jangan Hades memang sengaja membuatku memiliki penyakit Social Anxiety Disorder ini.
"Sepertinya kau benar kalau aku sudah sembuh"
Aku segera cepat-cepat menghabiskan sushi yang berada di hadapanku, sambil mencuri-curi pandang pada Hades yang diam tak bergeming.
"Apa kau tidak menyukainya?"
Tanyaku pada Hades yang masih saja termangu seperti memikirkan sesuatu. Hades yang mendengar ucapanku segera mengambil sumpit dan memasukkan sushi ke dalam mulutnya. Ia kembali memasang ekspresi wajah sedingin es balok.
"Apa kau tidak suka kalau aku sudah sembuh?"
Aku kembali mengulang pertanyaanku dengan lebih jelas. Hades terlihat sedikit terkejut namun sedetik kemudian kembali memasang wajah datarnya.
"Baguslah kalau kau sudah sembuh"
Hades menjawabku dengan nada yang dingin. Anehnya aku merasa sikap dinginnya saat ini adalah sebuah topeng untuk menutupi sesuatu. Benar-benar laki-laki misterius yang sulit untuk ditebak.
Setelah kami selesai menghabiskan makanan kami, aku dan Hades kembali memasuki mobil dengan tak berinterakasi satu sama lain. Aku hanya bisa menerka-nerka sikap Hades yang kini berbanding terbalik dengan sebelumnya.
Hades menjalankan mobilnya tanpa arah dan tujuan. Membuatku mengacak rambut frustasi menahan rasa penasaran.
"Hades, kita akan kemana?"
Akhirnya dengan berbagai pertimbangan aku memilih untuk bertanya padanya. Hades masih saja fokus menyetir tanpa menoleh sedikitpun ke arahku.
"Hades?"
Aku yang merasa tidak mendapatkan respon mulai menggoyang-goyangkan lengannya. Hades membalasku dengan decakkan sebal dan menepis tanganku dari atas lengannya.
"Kau ini kenapa sih?!"
Aku yang sudah kehilangan kesabaran tanpa sadar membentak Hades. Hades yang terlonjak kaget langsung menginjak rem dan menatapku tajam. Terlihat kobaran api amarah dari tatapannya.
"Keluar!"
Hades menjalankan mobilnya meninggalkanku sendiri di atas trotoar. Air mata yang sudah memendung di kedua mataku ku tahan sekuat tenaga agar tidak menetes. Laki-laki itu tidak pantas untuk ku tangisi. Aku sangat membenci dirinya. Mulai hari ini aku tidak ingin lagi bertemu dengan batang hidungnya. Lebih baik aku tinggal di rumah sendirian daripada harus berpapasan dengan wajah menyebalkannya itu.
Aku berjalan menuju halte bus yang berada beberapa langkah di depanku. Aku menjatuhkan diriku di atas kursi panjang sembari menatap nanar jalanan yang di penuhi orang-orang berlalu lalang. Aku tersenyum sinis sembari merutuki kebodohanku. Bisa-bisanya aku berpikir bahwa Hades sudah berubah. Selamanya ia akan tetap seperti itu. Laki-laki arogan yang melakukan apapun dengan semaunya sendiri. Tidak pernah memikirkan perasaan orang lain, menyebalkan!
Sebuah bus berwarna biru usang berhenti di depanku. Aku segera beranjak dan mendorong diriku untuk masuk ke dalamnya. Bau rokok yang menyengat membuatku merasa sesak dan pusing. Saat ini aku telah menyadari satu hal. Sedari kecil aku tidak pernah menaiki angkutan umum. Aku selalu dimanjakan dan dijaga ketat oleh kedua orang tuaku.
"Nak, apakah kau tau alamat ini dimana?"
Seorang nenek-nenek membuyarkan lamunanku. Ia menunjukan secarik kertas berisi suatu alamat. Setelah membaca alamat yang tercantum di atas kertas itu aku segera mengangguk dan tersenyum padanya.
"Aku akan mengantarkanmu kesana nek"
Nenek itu tersenyum senang dan mengambil tempat duduk di sampingku. Alamat yang tercantum disana adalah tempat yang dekat dengan sekolahku. Daripada aku tidak ada tujuan, lebih baik aku mengantar nenek ini untuk sampai pada alamat yang dimaksudkannya.
"Terimakasih ya nak, nenek mau menjemput cucu nenek di alamat ini"
Ucapan Nenek itu membuatku mengingat nenek dari ayahku yang sudah lama meninggal. Aku jadi rindu sekali padanya, apakah nenek juga merindukanku disini.
Pemberhentian selanjutnya Halte XXX
"Nek, kita akan turun disini"
Aku membantu nenek di sebelahku untuk beranjak berdiri dan turun keluar dari bus. Aku memperlambat langkahku menyamai langkah nenek yang tersendat-sendat. Aku ingin sekali mengutuk cucu dari nenek ini. Tidak punya hati, bisa-bisa menyuruh nenek setua ini untuk menaiki angkutan umum.
"Sepertinya rumahnya yang itu nek"
Aku menunjuk salah satu rumah sederhana bercat putih dan hitam. Nenek itu pun mengangguk dan berjalan memencet bel rumah tersebut.
"Baiklah nek, kalau gitu aku pamit untuk pergi"
Saat aku hendak melangkah menjauh, nenek tersebut segera menahan kepergianku.
"Tunggu sebentar, biarkan nenek memasak makanan untukmu"
Aku tersenyum manis dan menggelengkan kepala. Lagi pula perutku sudah tak bisa lagi menampung makanan.
"Maaf nek, aku sedang terburu-buru"
ucapku sambil tersenyum manis. Aku menoleh saat mendengar suara pagar yang ditarik. Seseorang yang tidak asing memenuhi penglihatanku.
"Loh, Angelica?!"
Aku memekik kaget melihat Angelica yang tengah berjalan keluar dari rumah bercat putih dan hitam itu. Ia tersenyum tipis ke arahku, namun tatapannya seakan tidak suka melihat kehadiranku.
"Kamu kenal cucu nenek?"
Aku mengangguk menjawab pertanyaan yang di ajukan nenek tersebut. Melihat hal itu ia kembali memasang senyuman di wajahnya.
"Baguslah cucu nenek mempunyai teman sebaik kamu"
Ucapan yang di lontarkan nenek itu membuatku tersipu malu. Ingin sekali aku menjawab bahwa aku tidaklah sebaik kelihatannya.
"Rumahmu disini Angelica?"
Tanyaku yang sedikit merasa penasaran. Angelica segera menjawabku dengan gelengan.
"Bukan, ini rumah saudara sepupuku. Kalau sudah tidak ada urusan pulang sana"
Aku mengerutkan dahi bingung mendengar ucapan ketus Angelica. Apakah dia benci padaku karena masalah di taman bermain waktu itu? Lagipula itu kan bukan salahku. Seharusnya ia menyalahkan Hades yang meninggalkannya sendirian disana.
"Baiklah kalau begitu, aku pulang"
Aku segera pamit kepada Angelica dan neneknya sebelum melangkah menjauhi rumah tersebut. Sepanjang perjalanan aku menghentak-hentakkan kakiku, kesal. Kenapa jadi aku yang menanggung kekesalan Angelica akibat ulah Hades. Hari ini menyebalkan sekali! Aku ingin cepat-cepat pulang dan mengistirahatkan tubuhku.
.
.
.
.
**Aku sebagai author aja kesel sama sikap Hades apa lagi yang baca ya hehe :'( Tapi tenang aja ada alasannya kok kenapa sikap Hades seperti ini ke Persephone.
Jadi tunggu terus kelanjutan ceritanya ya. Jangan lupa tinggalkan vote, like, dan komen. Makasih! 🖤**