Persephone And Hades

Persephone And Hades
Chapter 28 - Pertunangan



Aku menghirup udara segar dari rimbunnya pepohonan di sekitar rumahku. Akhirnya aku kembali, kembali pulang ke rumah dan berkumpul bersama keluarga yang ku sayangi.


Aku masuk ke dalam rumah yang masih tampak sama seperti terakhir kali ku tinggalkan. Sambil menggendong Penelope, aku duduk di sofa ruang tamu yang berhadapan langsung dengan televisi.


"Persephone, nanti malam Tante Zetha dan keluarganya akan berkunjung kesini"


ucapan yang keluar dari bibir ibu membuatku tersentak, menjatuhkan remot tv yang sedang ku genggam.


Aku masih belum siap untuk bertemu dengan Hades. Bagaimana bisa menghadapi Hades yang telah membenciku. Pasti dia akan merasa enggan saat bertatapan denganku, atau bahkan menatapku dengan tatapan jijik. Sumpah aku merasa amat takut. Memikirkannya saja sudah membuat jantungku berdetak dua kali lebih cepat.


"Tapi bu, malam ini aku akan pergi ke rumah Sarah"


Sepintas di kepalaku terlewat wajah Sarah yang manis dan rumah bercat hitamnya yang cukup dekat dengan rumahku. Semoga alasan ini dapat membuatku terhindar dari Hades. Aku tidak mau bertemu dengan raja es balok itu.


"Kamu tidak mau bertemu dengan Hades?"


Aku sontak menggeleng dengan cepat. Tentu saja aku tidak mau bertemu dengan Hades. Bukannya tidak mau sih, lebih tepatnya tunggu sampai hatiku siap untuk menerima perubahan sikapnya padaku.


"Padahal kata Tante Zetha, Hades sangat merindukanmu loh?"


Aku menekuk wajahku, menampilkan eskpresi cemberut. Disaat seperti ini Tante Zetha masih saja berbohong. Mana mungkin Hades merindukanku, kalau dia rindu seharusnya dia sudah menghampiriku di Rumah Sakit Jiwa. Dan membawaku keluar dari dalam sangkar itu.


"Pokoknya aku mau ke rumah Sarah"


Aku beranjak dari atas sofa dan berjalan menuju dapur sembari menghentak-hentakkan kakiku, kesal. Ibu tampak memijat pelipisnya memperhatikan tingkah lakuku yang semakin keras kepala.


"Ibu tidak ijinkan, malam ini kau harus ikut makan malam bersama keluarga Tante Zetha"


Aku mengernyitkan dahi, menampilkan wajah masam. Kenapa ibu memaksa sekali. Apakah dia tidak tau saat ini anaknya sedang dilema, memikirkan seribu cara menghadapi Hades dan sikapnya yang akan bertambah dingin seperti biang es.


"Kau ini sedang memikirkan apa sih? Hades sungguh-sungguh merindukanmu kok"


Aku menghela napas kasar, sepertinya percuma berdebat dengan ibu. Dia tidak akan pernah mengerti perasaanku. Ibu selalu menganggap Hades adalah anak yang baik, tidak tau bahwa di balik topengnya itu, ia menyimpan rangkaian kata-kata yang mencemooh diriku.


"Kau berfikir terlalu jauh Persephone, percayalah Hades sangat menyayangimu"


Hades menyayangiku? Sepertinya ibu sedang berhalusinasi. Daripada aku mendengar ucapan ibu yang semakin ngaur, lebih baik aku pergi mendekam di dalam kamar. Kembali menulis keluh kesah yang sedang ku rasakan di dalam buku binder hitam, kenang-kenangan dari Dr. Sylvia.


kalau saja dia menyayangiku


Dia tidak akan meninggalkanku


bahkan untuk yang kedua kalinya


Kalau saja dia merindukanku


Dia pasti akan mencari seribu cara untuk bertemu denganku


Dia pasti akan memberiku kabar


Lewat surat atau apapun itu yang membuatku tak merasakan penderitaan ini


Menunggu ternyata adalah hal yang paling sulit


...


"Persephone, pakailah baju yang lebih sopan!"


Aku menutup kedua telinga saat mendengar pekikkan ibu yang berada di ambang pintu kamarku. Aku memang sengaja menggunakan piyama dan tetap berada di kamar tanpa mau menyapa tamu yang sudah datang beberapa menit yang lalu.


Keringat dingin sudah membasahi sekujur telapak tanganku. Jantungku semakin tidak bisa dikontrol, aku belum siap untuk menerima kenyataan pahit ini. Rasanya aku ingin kembali bersembunyi di Rumah Sakit Jiwa saja.


"Sayang, daripada kau menerka-nerka, lebih baik kau turun dan lihat bagaimana Hades memperlakukanmu"


Ibu mengelus lembut bahuku, membuat jantungku perlahan kembali berdetak dengan normal. Siap tidak siap, aku harus menghadapinya. Aku hanya bisa berdoa, semoga Hades tetap sama seperti waktu itu. Semoga Hades tidak membenciku dan tidak merasa jijik padaku yang seorang pembunuh ini.


"Ibu akan memberitahukanmu satu rahasia. Selama kau di Rumah Sakit Jiwa, Hades datang dan memohon kepada ibu untuk memberitahukan keberadaanmu"


Aku menautkan kedua alisku, bingung. Apakah Hades memang tidak tau keberadaanku? Kalau begitu mengapa Hazel, Angelica, dan Louis bisa mengetahuinya. Mengapa keberadaanku harus dirahasiakan pada Hades.


"Suatu saat kau pasti akan mengetahui alasannya. Sekarang cepat ganti bajumu, ibu akan menunggumu di bawah"


Setelah ibu keluar dari kamarku, aku mengacak rambut frustasi. Apakah benar yang dikatakan ibu? Ternyata Hades memang tidak tau keberadaanku dan cuman aku yang selalu berfikiran negatif tentangnya. Sudahlah daripada aku terus memikirkannya lebih baik aku cepat ganti baju dan menyapa keluarga Hades di bawah.


Aku mengambil kaos berlengan pendek dan celana training hitam. Tak lupa menyisir rambutku agar terlihat lebih rapih.


Tok.. Tok..


Aku menoleh pada pintu kamarku yang diketuk. Siapa itu? Jangan bilang Hades. Kenapa aku jadi gugup dan salah tingkah begini.


"Ayolah Persephone, kau harus bersikap normal"


Gumamku sembari menepuk-nepuk pipi di depan cermin.


Ceklek..


"Kau sudah ditunggu di bawah"


Deg..


Aku mengernyitkan dahi melihat sikap Hades yang acuh tak acuh padaku. Dia bahkan tak mau melihat wajahku, apakah sebegitu menjijikannya aku?


"Iya"


Aku kembali menutup pintu dan berjongkok menyembunyikan wajahku di antara lipatan tangan. Tanpa sadar air mataku menetes membasahi karpet berbulu yang ku pijak. Hatiku sakit sekali, yang ku khawatirkan akhirnya terjadi juga. Dia bukanlah Hades yang dulu, dia sudah berubah. Saat ini dia pasti sangat membenci monster sepertiku.


Aku tak sanggup harus kembali tertimpa kenyataan yang pahit ini. Saat aku mulai menyukainya, dia malah menjauh dariku. Takdir cukup kejam ya? Dia selalu mempermainkanku seperti ini.


"Persephone, cepatlah!"


Aku terlonjak mendengar suara teriakkannya lagi dari luar. Aku segera menghapus air mata yang membekas di pipiku. Setelah itu memaksakan senyum dan keluar dari dalam kamar.


"Semangat Persephone kamu pasti bisa melaluinya"


Gumamku menyemangati diri sendiri.


"Kenapa lama sekali?"


Aku menoleh menatap bola matanya yang sebiru samudra. Aku dapat melihat kantung matanya yang sudah seperti hewan pemakan bambu dari China. Dan juga rambutnya sudah tidak beraturan, menjuntai ke bagaian leher. Dia berbeda sekali dengan yang terakhir kali ku tinggalkan. Seperti orang yang sedang depresi.


"Jangan memandangiku"


Ucapnya ketus sembari berjalan melewatiku yang masih terpaku di depan pintu kamar. Hades bertambah aneh, aku semakin tidak mengenalnya.


...


Aku duduk di samping Hades menghadap Tante Zetha dan Paman Bennedict. Mereka memandangiku dari atas hingga bawah membuatku salah tingkah. Sudah seperti calon mertua yang menyelidiki calon menantunya.


"Apakah kamu sudah merasa lebih baik Persephone?"


Aku mengangguk seraya tersenyum tipis pada Tante Zetha. Aku mengambil piring berisi nasi yang disodorkan ibu, dan mengambil beberapa lauk di atas meja.


"Tante rindu sekali padamu, apalagi Hades yang selalu menanyakan kabarmu"


Aku tersipu, sekilas melirik ke arah Hades yang diam tak bergeming. Tunggu Persephone, jangan terlena dulu. Ingat saat ini Hades sangat membencimu. Bahkan dari wajahnya saja aku dapat melihat betapa risihnya dia duduk bersebelahan denganku.


"Aku juga rindu tante dan paman"


ucapku yang masih memaksakan senyum. Dengan kaku aku menyendokkan makanan dan memasukkannya ke dalam mulutku. Dari ujung mataku, aku melihat Hades melakukan hal yang sama. Namun, dengan sedikit gerakan yang enggan. Dia mengunyah makanan dengan tak berselera, sesekali aku juga melihatnya mengaduk-ngaduk makanan di atas piring. Sangat tidak sopan.


"Bagimana kalau pertunangan kalian dipercepat? Sepertinya minggu depan adalah waktu yang pas, tepat pada libur pengambilan rapot semester 1"


Aku tanpa sengaja menjatuhkan alat makanku seraya mendelikkan mata ke arah ayah. Disaat seperti ini ia masih bisa membahas tentang pertunangan, yang benar saja!


"Aku gak setuju"


Aku menoleh pada Hades yang memasang wajah tanpa ekspresi. Dia menyender pada kursi dan melipat kedua tangan di depan dadanya. Sudah pastilah dia menolak, secara dia tidak suka padaku.


"Gak bisa, kami gamau menunda lagi"


Kini Paman Bennedict ikut ngotot sembari menatap tajam anak semata wayangnya. Aku mengerinyit cemas, kenapa orang tua kami jadi memaksa seperti ini. Padahal sebelumnya mereka masih biasa saja.


"Ayah, Hades gamau!"


Aku diam memperhatikan pertengkaran ayah dan anak itu. Sebetulnya hati kecilku ikut sakit mendengar penolakan dari mulutnya. Aku tau dia membenciku, tetapi tingkahnya saat ini seperti menjatuhkan harga diriku ke dasar jurang. Dan sialnya, aku tidak bisa marah. Karena orang sepertiku memang sudah tidak pantas bersanding dengannya. Siapa pula orang yang mau mendampingi manusia setengah gila sepertiku. Aku saja merasa jijik pada diriku sendiri.


"Aku permisi dulu"


Aku segera beranjak dari tempat dudukku dan naik mendekam di dalam kamar. Aku menjatuhkan diriku di atas ranjang sembari menutup wajahku dengan boneka beruang berukuran besar. Aku terisak, mengeluarkan sejuta amarah yang tidak bisa ku luapkan. Aku benci pada diriku sendiri, mengapa orang sepertiku harus hidup?


Apakah lebih baik aku pergi saja dari sini? Bukankah kepergianku sedang dinantikan semua orang? Terutama Hades, bukankah dia lebih bahagia disaat aku tidak ada di sampingnya? Benar, lebih baik aku cepat pergi dari sini. Menghilang di telan bumi, agar orang-orang yang ku sayangi tak lagi menderita karena ku.


Aku segera beranjak memasukkan beberapa baju ke dalam koper. Aku juga membuka kotak perhiasan yang ku kumpulkan dari orangtuaku, kalau ku jual sepertinya akan cukup untuk menghidupiku satu sampai dua tahun ke depan.


Aku melompat keluar lewat balkon lantai dua. Saat ini tempat yang harus ku tuju adalah rumah Sarah. Selebihnya biar ku pikiran setelah sampai disana.


Selamat tinggal orang-orang yang ku kasihi. Selamat tinggal Hades, semoga kau selalu bahagia tanpa kehadiranku. Kalau kita betemu lagi, ingatkan aku untuk mengucapkan pesan dari hati terdalam ini. Aku mencintaimu Hades dan akan selalu merindukanmu. Jaga dirimu baik-baik disini. Kau berhak mencari pengganti yang lebih layak dariku. Sampai jumpa, teman masa kecilku.


.


.


.


.


Bentar lagi novel ini akan tamat, so stay tune ya guys! 🖤