
Alarmku berbunyi, aku menatap jam yang menunjukan angka 07.00 AM. Aku bangun terduduk di atas ranjang sembari mengumpulkan nyawaku yang masih berada di dunia mimpi.
Aku bangkit berdiri berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Benar, hari ini aku akan menjalankan misi itu. Misi untuk menjodohkan Hades dengan Angelica.
Selesai membersihkan diri aku membuka lemari pakaianku. Aku menggunakan pakaian yang casual yaitu kaos polos berwarna merah dan celana jeans hitam. Aku juga sedikit merias wajahku agar terlihat lebih cerah.
Setelah puas, aku keluar dari kamarku menuju meja makan. Bibi Zetha sudah menyiapkan sarapan untukku dan Hades di atas meja. Aku mengambil sebuah sandwich dan melahapnya hingga habis. Setelah itu aku juga mengambil segelas susu dan meneguknya.
Aku mengedarkan padanganku ke sekeliling ruangan. Kenapa Hades tak kunjung keluar dari kamarnya, apa dia tidak ingin pergi bersamaku. Aku menghela napas. Sembari menunggu aku mengambil handphone dan membuka pesan masuk dari Angelica.
'Persephone aku sudah tidak sabar!'
'Apa kau sudah bersiap?'
'Beritahu aku kalau kau dan Hades sudah berangkat'
Aku segera mengetikan balasan pesan untuk Angelica.
'Aku belum berangkat, masih menunggu Hades'
Setelah mengirim pesan balasan tersebut, aku kembali mematikan handphone ku dan menaruhnya di atas meja.
"Persephone, kau sudah sarapan?"
Aku menoleh memandang Hades yang mendekat duduk di sebelahku. Aku memperhatikan penampilannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kenapa dia berpakaian keren begini, jadi bertambah tampan.
"Sudah, ini bagianmu"
Aku menyodorkan piring dengan sebuah sandwich di atasnya. Ia segara mengambil sandwich tersebut dan melahapnya.
"Apa kau keberatan kalau aku membawa mobil sendiri?"
Aku menatap Hades bingung.
"Maksud mu?"
"Maksudku biar aku yang membawa mobil, tidak perlu menyuruh Pak Kasim untuk mengantar kita"
Aku mengangguk. Tentu saja aku juga tidak berniat menyuruh Pak Kasim untuk mengantar kita ke taman bermain.
"Mau berangkat sekarang?"
Hades bangkit berdiri dari tempat duduknya. Aku mengangguk mengikutinya menuju parkiran. Aku menatap Hades yang kini memasuki mobil BMW berwarna hitam. Aku tidak tau kalau Hades memiliki mobil secantik ini.
Hades menyalakan mobilnya, sekilas ia melirik ke arahku. Kenapa dia melirik penuh arti begitu, kan aku jadi salah tingkah.
"Hm, pakai seatbeltmu Persephone"
Aku mengangguk dan dengan cepat memakai seatbeltku. Ternyata maksud tatapannya itu adalah ini, hampir saja aku salah mengira.
Hades mulai menjalankan mobilnya. Aku menatap ke arah jalanan yang masih sepi di pagi hari. Aku mengambil handphone dari dalam tasku dan mengabari Angelica bahwa kami sudah berangkat. Sejujurnya aku sendiri bingung harus bereaksi seperti apa bila bertemu dengannya nanti.
Mobil Hades melaju memasuki taman bermain. Setelah sampai di parkiran, kami turun dan mengantri membeli tiket masuk. Tidak banyak orang yang datang karena taman bermain ini baru saja di buka.
"Persephone, Hades!"
Seseorang yang ku kenal berlarian menuju kami. Hades yang bingung akan kehadiran Angelica menatapku penuh tanya. Sekarang sudah waktunya aku memainkan drama ya.
"Loh Angelica? Kenapa kau ada disini?"
Aku berpura-pura terkejut akan kehadiran Angelica.
"Aku mau mencoba taman bermain yang baru di buka ini, katanya mengasyikan!"
Angelica dengan antusias ikut memaikan drama. Aku ingin sekali tertawa, tetapi sekuat tenaga aku menahannya.
"Wah kebetulan sekali, ayo main bersama!"
Aku memasang wajah secerah mentari. Kalau ini adalah audisi casting bermain film, aku rasa aku akan mendapat peran utama.
"Kita harus bareng dia juga?"
Hades berbisik kecil di telingaku. Terselip tanda ketidaksukaannya akan kehadiran Angelica.
"Tentu, Angelica adalah sahabatku"
Aku membalas ucapan Hades dengan kebohongan. Apanya yang sahabat, Angelica hanyalah angsa yang merepotkanku.
"Kau keberatan akan kehadiranku Hades?"
Angelica memasang wajah sedihnya. Wah, gadis ini aktingnya perlu di acuhkan jempol.
"Tidak, aku hanya bertanya saja"
Hades yang merasa tidak enakpun akhirnya menyetujui kehadiran Angelica. Angelica tersenyum puas, ia berhasil mengelabui laki-laki dingin ini.
"Sudah nih tiketnya, ayo masuk!"
Aku menunjukan tiket masuk yang diberikan pelayan kasir. Angelica spontan menarik tanganku untuk segera masuk ke dalam taman bermain.
Aku menatap berbagai wahana di hadapanku. Kini aku tinggal memikirkan cara bagaimana pergi dari pasangan itu.
Aku mengikuti langkah Angelica menuju wahana rollercoaster. Ah, ini bisa ku jadikan alasan untuk pergi dari mereka.
"Maaf, aku takut pada ketinggian. Kalian main saja aku akan menunggu disini"
Hades menatapku kahwatir, membuatku merasa bersalah telah mengelabui dirinya.
"Baiklah, yuk Hades kita mengantri wahana itu"
Angelica menggenggam lengan Hades dan menariknya masuk ke dalam wahana rollercoaster. Melihat tangan Angelica yang menyentuh Hades entah mengapa membuatku merasa panas. Dadaku berdenyut nyeri, ini aneh.
Setelah kedua insan itu menghilang dari pandanganku, aku segera berjalan keluar dari taman bermain. Aku ini benar-benar membuang uang saja masuk dan tidak memainkan wahana apapun. Angelica kau berhutang budi yang banyak padaku.
Aku menghela napas sembari mengeluarkan handphone dari dalam tas. Aku mengirim pesan kepada kedua orang itu bahwa aku harus pergi karena ada sebuah urusan. Kali ini aku hanya bisa berdoa semoga Hades dapat mempercayainya.
Tanpa sadar kakiku melangkah membawaku ke sebuah toko eskrim gelato di sebrang taman bermain. Bangunan toko yang berwarna ungu pastel itu menarik perhatianku. Aku masuk ke dalam toko dan melihat berbagai rasa eskrim yang tersedia di dalam etalase.
Pelayan yang melayaniku menawarkan dua pilihan bentuk eskrim. Aku bingung harus memilih yang mana karena dua-duanya terasa menarik bagiku.
"Pilih yang cone saja lebih enak"
Aku menoleh pada seseorang yang kini berdiri tepat di sampingku. Aku menatapnya tajam, kali ini benar-benar sebuah kebetulan bertemu dengan Hazel, kakak kelas yang menakutkan itu.
Penampilannya di luar sekolah benar-benar terlihat seperti anak brandalan. Ia menggunakan anting di telinga kanannya, kaos polos dengan luaran jaket jeans, serta rambutnya yang ditata naik ke belakang. Aku merasa ia lebih cocok seperti ini, terkesan laki-laki yang kuat dan keren.
"Ehem"
Hazel berdehem menyadarkanku yang sudah terlalu lama menatapnya. Aku memalingkan wajahku dengan cepat, malu sekali tertangkap basah sedang memperhatikannya.
"Baiklah aku mau satu eskrim cone rasa cookie monster"
Aku menyebutkan pesananku pada pelayan yang masih setia menunggu.
"Dua, saya juga mau pesan yang sama sepertinya"
Aku kembali menatap Hazel dengan tajam. Kenapa dia mengikuti pesananku sih. Hazel mengangkat bahu tidak peduli dan berjalan ke kasir meninggalkanku.
"Menyebalkan"
Tanpa sadar aku bergumam dengan kencang. Hazel yang mendengarnya langsung berbalik menatapku bingung.
"Siapa yang menyebalkan?"
Ia bertanya padaku sembari membayar pesanan kami di kasir.
"Tidak kak, kau salah dengar"
Aku spontan menggelengkan kepala dan mengeluarkan selembar uang untuk membayar pesanan eksrimku.
"Tidak usah, biar aku yang traktir"
Aku kembali menggeleng dan bersikukuh untuk membayar sendiri eskrimku. Hazel menghela napas, ia akhirnya pasrah mengambil selembar uang dari tanganku.
"Baiklah, baiklah aku mengalah"
Aku tersenyum puas, kalau beginikan aku jadi tidak berhutang padanya.
"Mau duduk disana bersamaku?"
Hazel menunjuk ke salah satu meja yang kosong. Aku menimang-nimang memikirkan permintaannya. Apa lebih baik aku mengikutinya saja, lagi pula aku sedang tidak ada tujuan.
"Baiklah, ayo kak"
Aku berjalan mendahuluinya dan duduk di bangku meja yang sebelumya ia tunjuk.
"Kau sedang apa sendirian disini?"
Hazel membuka percakapan diantara kami. Sembari melahap eskrim aku menjawabnya.
"Entahlah hanya merasa bosan di rumah"
Tentu saja aku tidak mengatakan yang sejujurnya bahwa aku sedang menjalankan misi mak comblang antara Hades dan Angelica.
"Kalau begitu mau ikut pergi bersamaku?"
Aku menatapnya bingung. Dia mau mengajakku kemana, kalau ke tempat perkumpulan geng premannya sudah pasti aku akan menolak.
"Kemana kak?"
Hazel tersenyum tipis ke arahku. Senyumnya tak secerah Nathan, dan tak seteduh milik Hades. Namun entah mengapa dapat membuat jantungku berdetak dengan cepat.
"Ke mall XXX"
Aku mengangguk antusias mendengar tempat yang baru ia sebutkan. Aku memang ingin sekali berkunjung ke mall yang populer itu.
"Kau tak masalahkan kalau naik motor?"
Aku menggeleng. Tentu saja tidak masalah, aku ini bukan tuan putri yang kemana-mana harus naik mobil. Meskipun aku jarang naik motor sih, hehe.
"Baiklah kalau gitu ayo pergi"
Aku segera melahap habis eskrimku dan mengekori Hazel keluar dari toko gelato.
Aku menaiki motor ninja milik Hazel dengan kesusahan. Pasalnya motor miliknya sedikit tinggi untuk badanku yang mungil ini.
"Pegang saja pundakku"
Setelah mendapat dapat persetujuan darinya, aku segera memegang pundaknya yang mempermudahku menaiki motor.
Hazel mulai manancapkan gas kala aku sudah duduk manis di kursi penumpang. Aku merasa sedikit terganggu dengan terpaan angin yang menusuk wajahku. Tanpa sadar aku menelusupkan dan menyembunyikan wajahku ke punggung lebar miliknya.
Jantungku kembali berpacu dengan cepat, setelah menyadari bahwa tubuhku menempel pada punggungnya. Bahkan sekarang aku dapat menghirup aroma parfumenya.
Aku merasa nyaman berada di dekat laki-laki ini. Tidak mungkinkan aku menyukainya? Aku harap ini hanya perasaan nyaman sebagai teman saja.
.
.
.
.
**Komen kalian berada di kubu yang mana:
Persephone & Hades
Persephone & Nathan
Persephone & Hazel
Jangan lupa beri like juga ya untuk chapter ini, makasih 🖤**