Persephone And Hades

Persephone And Hades
Chapter 21 - Ditemukan



Bel istirahat berbunyi nyaring membuatku tersentak kaget mengangkat kepala dari atas meja. Loh, sejak kapan aku tertidur? Padahal tadi aku bermimpi sedang belajar di kelas loh. Aneh sekali.


"Tumben sekali Persephone yang rajin ini tertidur"


Angelica meledek sembari mengedipkan satu matanya. Aku mendelik berharap agar Angelica berhenti menggodaku. Kan malu, biasanya aku yang meledeknya si tukang molor. Sekarang aku malah menjilat ludahku sendiri.


"Ayo, aku lapar"


Aku mengangguk sambil merogoh tasku mencari kotak makan. Kami berjalan beriringan keluar dari dalam kelas dan berhenti tepat di depan pintu 10 IPS 2 untuk menjemput Nasya.


"Ratu, apakah aku boleh ikut makan bersamamu?"


Aku mengernyitkan dahi saat berpapasan dengan Hades yang baru saja keluar dari dalam kelasnya. Ngapain dia sok ijin segala, biasanya langsung ikut nimbrung.


"Persephone, Angelica maaf lama!"


Nasya berlari keluar dan tak sengaja menabrak tubuh Hades yang berada di depan pintu kelas. Aku tertawa dengan keras, begitupun Angelica saat kami melihat bibir Hades yang sudah menempel di lantai. Kenapa dia jatuh dengan pasrah gitu. Orang normal pasti akan menahan tubuhnya dengan tangan, tetapi Hades tidak. Ia membiarkan wajahnya mendarat mulus di lantai. Lucu sekali.


"Aduh, first kissnya sama lantai"


Aku kembali tertawa lebih keras mendengar ucapan Angelica. First Kiss sama lantai kan gak banget.


"NASYA!!"


Hades berteriak geram menatap tajam ke arah Nasya. Nasya bergidik takut segera berlindung di balik tubuhku. Eh, kok aku yang jadi tameng.


"Minggir Persephone!"


Hades menatap tajam ke arahku. Aku ingin mengelak tapi bagaimana, tubuhku di cengkram dengan kuat oleh Nasya membuatku tidak bisa bergerak sedikitpun.


"Ampun Hades"


Nasya mengintip sedikit dari belakang tubuhku. Ia memasang wajah memohon yang dibumbui air mata dramatis. Tak disangka hal itu membuat Hades luluh dan menghela napasnya.


"Kau beruntung karena dilindungi Persephone"


Aku kembali menautkan kedua alisku. Loh, kok jadi aku. Perasaan aku daritadi cuman diam aja deh.


"Apasih Hades"


Aku memutar bola mataku jengkel pada Hades. Angelica masih saja terus tergelak memandangi kelakuan bodoh kami.


"Tidak, yuk ke kantin nanti keburu bel"


Aku segera mengangguk. Kami bertiga berjalan menuju kantin mengabaikan tatapan orang-orang yang masih saja menatapku dengan tatapan jijik. Memangnya aku ini serangga apa! Ingin sekali ku colok mata mereka itu.


"Cih, aku ingin cepat-cepat memberi pelajaran pada orang yang membuatmu seperti ini, Persephone"


Ucapan kejam Nasya kali ini membuatku membulatkan mata tak percaya. Nasya yang terlihat anggun ternyata bisa berekspresi kejam seperti ini juga? Mengejutkan sekali.


"Aku orang pertama yang akan menyiksanya!"


Kini aku beralih menatap Angelica dengan tatapan horor. Entah aku beruntung atau buntung memiliki teman yang sebelas duabelas dengan iblis ini.


"Bukankah pelakunya sudah ditemukan Hazel?"


Aku dan Angelica sontak menggelengkan kepala. Hades menatap kami bingung, sembari menduduki kursi di sampingku.


"Bukan dia pelakunya"


Hades melipatkan kedua tangannya di depan dada. Ia memasang wajah sedatar triplek membuatku merasa penasaran. Susah sekali menebak apa yang sedang Hades pikirkan dengan ekspresi datarnya.


Saat kami asik menikmati bekal, tiba-tiba saja Dylan dan juga Nathan ikut nimbrung duduk di meja kami. Mereka masing-masing membawa semangkuk bakmie yang harumnya membuat kami ikut tergiur.


"Duh, jadi pengen bakmie juga kan!"


Angelica mengerutu kesal pada Dylan yang sudah mengambil tempat duduk di sampingnya. Sebenarnya kalau diliat-liat mereka cocok juga ya. Yang satu Primadona dan yang satu lagi Casanova.


"Kamu mau sayang?"


Dylan dengan genit menyodorkan mangkuk bakmie miliknya di hadapannya Angelica. Angelica menatap bakmie tersebut dengan tatapan berbinar-binar. Air liurnya sudah diambang batas dan hendak menetes.


"Lap dulu air liurmu sayang"


Angelica spontan mengusap sudut bibirnya membuat gelak tawa kami pecah. Ia dengan tatapan kesal bercampur malu menepuk kencang bahu Dylan. Dylan mengadu sakit sambil memasang senyum kemenangan. Cih, playboy yang satu itu benar-benar tidak tau malu. Bagaimana bisa Hades berteman dengan cecunguk ini.


"Louis tidak bersamamu Hades?"


Hades mengangkat bahu merespon pertanyaan yang diajukan Nathan. Benar juga, kemana Louis? Mengapa dia tidak ikut makan bersama kami.


"Tumben anak itu tidak menempel padamu"


"Katanya ada urusan"


Jawaban singkat dari Hades membuat kami kembali melanjutkan makan siang tanpa berniat untuk menanyakannya lebih lanjut. Karena sudah pasti jawabannya akan sama. Raja Es Balok itu benar-benar seperti makhluk yang tidak memiliki emosi. Datar, datar, dan datar.


"Oh ya, bagaimana Persephone, apakah pelakunya sudah ditangkap Hazel?"


Saat aku dan Angelica hendak menggelengkan kepala untuk membantah ucapan Nathan, tiba-tiba saja kami dikejutkan dengan kehadiran Hazel yang sepertinya tampak terburu-buru. Bahkan aku bisa melihat peluh yang menetes di kedua pelipisnya.


"Persephone, aku sudah menemukan pelakunya!"


Kami sontak terdiam menjatuhkan peralatan makan kami. Hazel mengambil tempat duduk yang kosong di samping Nasya sembari menetralkan hembusan nafasnya yang terengah-engah.


"Louis, Louis yang ambil foto kita!"


Aku membulatkan mata tidak percaya. Louis? Teman Hades? Untuk apa dia mengambil foto kami. Mengapa Hazel suka sekali menuduh orang tanpa bukti yang jelas.


"Apa maksudmu!"


Nathan meninggikan suaranya. Ia tidak percaya dengan omong kosong Hazel. Tentu saja ia tidak terima teman akrabnya dituduh tanpa bukti yang jelas begitu.


"Ini nontonlah rekaman CCTV-nya"


Hazel memutarkan rekaman CCTV saat kami sedang mengantri minuman Kokoro di Mall XXX. Aku memicingkan mata, tidak ada tanda mencurigakan. Apa Hazel sedang berhalusinasi.


"Ini, perhatikan disini"


Aku mengikuti arah telunjuk Hazel. Laki-laki berhoodie kuning tampak mengarahkan kameranya ke arah kami. Saat ia berbalik beranjak untuk pergi, aku dengan jelas dapat melihat wajah laki-laki itu. Louis, itu beneran Louis. Ternyata Hazel berkata yang sejujurnya. Ia tidak berhalusinasi seperti yang ku kira.


"Louis!!!"


Kami semua serempak berteriak kaget saat melihat wajah yang tak asing itu. Beberapa pasang mata ikut melirik ke arah kami dengan wajah penasaran. Duh, jadi perhatian publik kalau kayak gini.


"Diem, jangan teriak kenceng-kenceng!"


Sontak mereka terdiam dan kembali duduk dengan tenang di tempat masing-masing. Aku menghela napas lega saat tatapan orang-orang tak lagi mengarah pada kami.


"Untuk apa Louis melakukan hal ini?"


Pertanyaan yang diajukan Nathan sudah mewakili semua yang ada dibenakku. Benar, untuk apa Louis melakukan hal itu. Aku dan Louis tidak memiliki hubungan. Begitupun Hazel dan Louis yang tak saling mengenal satu sama lain.


"Dia, dia ini saudara sepupunya mantan pacarku!"


Aku mengernyitkan dahi. Mengapa banyak sekali perempuan di sekeliling Hazel. Kemarin mantan gebetan, sekarang mantan pacar. Nanti mantan apa lagi yang ia punya!


"Siapa?!"


Angelica menaham geram. Tampak jelas ia sudah tidak sabar untuk menghabisi perempuan itu. Hiih, mengerikan. Kenapa Angelica berubah menjadi sosok yang menyeramkan seperti ini. Wajah seram Valak saja lewat olehnya.


Hazel mengambil kembali ponselnya dari tangan Nathan dan segera menunjukkan sebuah foto perempuan berambut coklat khas cabe-cabean.


"Ini kan!!"


Aku membuka lebar-lebar mulutku. Ini kakak kelas itu! Kakak kelas yang menamparku waktu itu. Apa dia memang sudah merencanakan hal ini sebelumnya? Bukan hanya mempermalukanku, ia juga sudah berniat untuk membullyku.


"Ini yang menampar Persephone waktu itu kan!"


Aku segera menoleh ke arah Angelica yang mengobarkan api amarah. Ia sudah siap meledak kapan saja. Tapi tunggu, bagaimana dia bisa tau bahwa perempuan ini pernah menamparku? Aku tidak pernah menceritakan kejadian itu padanya.


"Ehem!"


Suara dehaman Hades membuatku menatap keduanya bingung. Mereka sedang menyembunyikan sesuatu dariku ya?


"Kami diceritakan oleh Nathan, yakan?"


Angelica menatap tajam ke arah Nathan membuatnya salah tingkah dan dengan cepat menganggukan kepala. Aneh, mereka benar-benar sedang menutupi sesuatu dariku.


"Sudah pokoknya kita harus segera menemui perempuan ini!"


Nasya memecahkan suasana sengit di antara kami. Aku menghela napas, yasudahlah apapun yang sedang mereka sembunyikan saat ini semoga bukanlah hal yang buruk. Lebih baik aku fokus untuk membalaskan dendamku pada perempuan cabe-cabean ini. Seperti janjiku, aku akan membuatnya merasakan hal yang sama dengan yang ku rasakan!


.


.


.


.


Jangan lupa Vote, like, dan komen ya untuk mendukung kisah Persephone dan Hades. Terimakasih! 🖤